Bagi Kirana, kesetiaan dalam pernikahan adalah impian mutlak. Namun, kebahagiaan yang ia bangun bertahun-tahun runtuh seketika saat sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa suaminya, Rendra. Di saat yang sama, rahasia besar terungkap, Rendra meninggal bersama istri keduanya, meninggalkan seorang putri berusia dua tahun bernama Aura.
Melalui pesan terakhirnya, Rendra memohon agar Kirana sudi mengasuh Aura sebagai anak sendiri. Kirana hancur dan berada di persimpangan jalan yang menyiksa batin. Di satu sisi, ia sangat terluka oleh pengkhianatan suaminya. Di sisi lain, ia sudah memiliki seorang putri kandung berusia empat tahun yang harus ia jaga perasaannya dari kehadiran anak madunya tersebut.
Kini, di bawah satu atap, Kirana harus berjuang menekan rasa sakit hati demi membesarkan dua anak perempuan yang hanya terpaut usia dua tahun tersebut.
Mampukah Kirana berdamai dengan masa lalu dan bersikap adil, ataukah kehadiran Aura justru menjadi luka abadi yang terus mengingatkann
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 22- Rumah baru
Ep. 22- Rumah baru
Selanjutnya...
Truk angkutan barang besar berwarna biru baru saja meluncur pergi meninggalkan halaman depan rumah baru.
Di dalam rumah, suasana masih diwarnai riuk pikuk kepindahan. Tumpukan kardus coklat berstempel berbagai label berjejer rapi di sepanjang dinding ruang keluarga yang lapang. Aroma cat dinding baru berpadu dengan wangi pembersih lantai pinus yang memenuhi udara.
"Mbok Darmi, kardus yang tulisannya 'Peralatan Dapur' langsung dibawa ke area pantry saja ya," instruksi Kirana seraya menyingsingkan lengan kemeja linen putihnya hingga ke siku. "Untuk dus pakaian anak-anak, minta Tuti bawa ke lantai dua."
"Baik, Bu Kirana. Ini barang-barang pecah belah sudah Mbok letakkan di meja makan dulu," sahut Mbok Darmi seraya menyapu keringat di dahi dengan ujung celemeknya.
Selama dua hari berturut-turut, Kirana mencurahkan seluruh tenaga dan pikirannya untuk mengurusi penataan rumah baru mereka.
Kirana adalah tipe wanita yang sangat perfeksionis dalam mengelola hunian. Dari mulai menata letak sofa kulit di ruang tengah, mengatur posisi pajangan kramik, mengatur pencahayaan lampu gantung, hingga memastikan tirai-tirai tebal terpasang sempurna menutupi jendela yang tinggi.
Meski tubuhnya merasa amat lelah, ada satu perasaan yang membuat hati Kirana merasa lega.
Di sini, tidak ada lagi bayang-bayang Bu Siska yang mengintip dari balik pagar. Tidak ada lagi bisik-bisik beracun tetangga saat ia melangkah keluar gerbang, dan tidak ada lagi tatapan prihatin yang menghakimi kemalangan rumah tangganya.
Lingkungan perumahan baru ini sangat tenang, privat, dan menjunjung tinggi norma saling menghormati antartetangga.
Perasaan leganya itu kian lengkap saat Kirana menoleh ke arah pintu kaca geser yang menghubungkan ruang keluarga dengan taman dalam.
Di sana, di atas karpet piknik bernuansa kotak-kotak merah putih yang terhampar di atas rumput jepang, Keisya sedang tertawa riang.
Gadis kecil itu tampak sangat gembira dengan rumah baru mereka. Keisya memegang sebuah buku gambar tebal dan seperangkat krayon baru, sambil sibuk menggoreskan warna-warna cerah di atas kertas.
"Lihat, Aura! Ini Kakak gambarkan rumah baru kita! Ada pohonnya, ada bunganya, terus ada kuenya besar banget!" seru Keisya dengan mata yang berbinar-binar.
Di sampingnya, Aura duduk bersila dengan gaun katun pendek berwarna biru langit. Rambut tipisnya dikuncir dua ke atas memakai pita merah kecil buatan Mpok Yem. Balita dua tahun itu menepuk-nepuk kedua tangan gempalnya, matanya yang bulat berbinar menatap guratan krayon kakaknya.
"Kueee! Owa mau kuee, Kakaaa!" cicit Aura ceria, suaranya yang nyaring dan cadel memantul manis di area taman.
Keisya terkekeh geli melihat tingkah adiknya. Ia lalu menyodorkan krayon warna kuning pada Aura. "Aura mau mewarnai juga? Nih, Aura warnai bagian matahari ya. Tapi jangan dicoret-coret rumahnya!"
"Iyaaa! Mataaliii kuning!" sahut Aura antusias, sambil menerima krayon itu dengan jemari mungilnya dan mulai menggoreskan garis-garis acak di sudut kertas dengan penuh keseriusan.
Sejenak Kirana menghentikan kegiatannya menata vas bunga di atas meja kaca, karena pandangannya terpaku pada kedua anak itu.
Keisya benar-benar langsung betah di rumah tersebut. Keceriaan sang putri yang sempat redup akibat gosip di kompleks lama kini kembali sepenuhnya. Ditambah lagi dengan kehadiran Aura yang setia menemani dan menghiburnya, Keisya tak lagi merasa kesepian atau murung.
Kehadiran balita itu secara tidak langsung menjadi pelipur duka dan teman main yang sangat dirindukan Keisya.
Sejak kepindahan ini, Kirana memang tidak sibuk menolak kehadiran Aura lagi. Ia tak lagi mendelik dingin saat melihat anak itu melintas, tak lagi menegur jika Aura duduk di sekitarnya, dan tak lagi berniat mengusir atau menyingkirkannya.
Kobaran amarah dan cemburu yang dulu membakar dadanya kini telah meluruh menjadi abu. Kirana belajar menerima takdir bahwa Aura akan tinggal di bawah atap yang sama dengannya.
Namun, di balik penerimaan pasif itu, perhatian Kirana pada anak kecil itu tentu saja sangat berbeda jauh dibanding pada Keisya.
Bagi Kirana, ada garis batas yang begitu tebal yang memisahkan kedua bocah tersebut. Keisya adalah darah dagingnya, putri kandungnya dari pernikahan yang sah, buah cintanya yang murni.
Sementara Aura... adalah bukti nyata dari pengkhianatan Rendra, anak dari wanita lain yang telah mengoyak kebahagiaan hidupnya.
Selama ini Kirana tidak pernah mengurusi kebutuhan Aura secara langsung. Ia tak pernah memandikan balita itu, tak pernah menyiapkan porsi makanannya, tak pernah menyuapinya, tak pernah membelikannya pakaian secara khusus, dan tak pernah menidurkannya di malam hari.
Semua urusan dan kebutuhan Aura sepenuhnya ia serahkan pada para ART, khususnya Mbok Darmi, Mbak Yem, dan Tuti.
Bersambung...
Enak banget si Hendra sama si ayu
Yg gk sala Karina nanggung sesak seumur hidup
Tapi emang lukanya belum sembuh...🤗