NovelToon NovelToon
Bayangan Di Atas Atap

Bayangan Di Atas Atap

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam
Popularitas:152
Nilai: 5
Nama Author: Kamal Fajar001

Rendra, mantan polisi jujur yang dijebak dan dicap pengkhianat oleh atasannya sendiri, Inspektur Bagas, yang ternyata pemimpin sindikat kriminal. Rendra kehilangan adik perempuannya yang tewas dalam kebakaran pabrik yang disengaja untuk menutup kejahatan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kamal Fajar001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Hujan deras baru saja reda, menyisakan genangan air yang memantulkan cahaya lampu jalan berwarna oranye pudar di kawasan industri tua Surabaya. Angin malam berhembus kencang, membawa bau oli bekas dan karat yang menyengat ke hidung Rendra. Ia berbaring datar di atas atap gudang beton setinggi empat lantai, napasnya teratur, matanya tak lepas dari pintu besi berat di lantai bawah. Di sampingnya, senapan laras panjang sudah terpasang penekan suara, lensa teropongnya menyorot tepat ke arah pos penjagaan.

“Tiga orang di depan, dua lagi berpatroli di samping bangunan. Tidak ada tanda-tanda pengawas tambahan,” bisik suara dari alat komunikasi di telinganya. Itu suara Dika, rekannya yang sedang memantau dari gedung di seberang jalan. “Misi sama seperti rencana: ambil data di server ruang pusat, jangan sentuh barang lain, dan kabur sebelum jam dua pagi. Ingat, kita tidak datang untuk berkelahi.”

Rendra mengangguk pelan, meski tahu Dika tidak bisa melihatnya. Ia melirik jam tangan: pukul 01.15 pagi. “Dimengerti. Mulai bergerak.”

Ia bangkit perlahan, melangkah hati-hati di atas permukaan beton yang masih licin. Sudah lima tahun ia hidup di dunia di mana aturan hukum terasa lemah, di mana kebenaran sering kali harus diambil dengan tangan sendiri. Dulu ia polisi—salah satu yang terbaik di kota ini—sampai saat ia menemukan bukti bahwa kelompok kriminal yang ia selidiki ternyata bekerja sama dengan orang-orang tinggi di jajaran kepolisian. Hari itu, rekan setimnya tewas di hadapannya, dan ia dicap sebagai pengkhianat yang melarikan diri. Sejak saat itu, ia berjalan sendiri, atau bersama sekelompok kecil orang yang juga tidak percaya lagi pada keadilan resmi.

Ia turun lewat tangga darurat belakang, membiarkan tubuhnya meluncur perlahan dari ketinggian dua lantai sebelum mendarat tanpa suara di atas tumpukan karung kosong. Langkahnya ringan, seperti bayangan yang menyatu dengan kegelapan. Saat melewati lorong sempit, ia mendengar suara langkah kaki mendekat. Cepat ia bersembunyi di balik lemari besi tua, menahan napas saat dua penjaga berjalan lewat sambil mengobrol santai.

“Katanya data di sini penting banget ya?” tanya yang satu. “Bos sampai suruh kita jaga ekstra ketat.”

“Bukan cuma data,” jawab temannya. “Di sini ada bukti semua proyek gelap mereka—mulai dari penimbunan tanah, perdagangan senjata ilegal, sampai soal kebakaran pabrik bulan lalu yang menewaskan belasan pekerja. Kalau bocor, banyak nama besar yang bakal hancur.”

Rendra mengepalkan tangannya erat. Kebakaran pabrik itu—saudara perempuannya adalah salah satu korban yang terperangkap di dalam. Selama ini polisi menyatakan itu kecelakaan akibat korsleting listrik, tapi ia selalu yakin ada yang disembunyikan. Ternyata benar.

Saat penjaga itu berlalu, ia bergerak cepat menuju ruang server. Pintu besi dilindungi kunci elektronik. Ia mengeluarkan alat kecil dari saku, menyambungkannya ke panel kunci, dan menunggu hitungan detik sampai bunyi “klik” terdengar pelan. Pintu terbuka.

Ruangan itu dingin, penuh dengan deretan mesin yang berkedip lampu hijau. Ia segera menghubungkan perangkat penyimpanan ke port utama, proses pengunduhan dimulai. Layar menunjukkan waktu tersisa: empat menit.

Tapi tepat saat hitungan mundur menyentuh angka dua menit, suara alarm tiba-tiba meraung keras. Lampu merah berkedip di seluruh ruangan.

“Rendra! Mereka tahu ada penyusup!” seru Dika lewat alat komunikasi, suaranya terdengar panik. “Ada orang dalam yang mengirim sinyal! Keluar sekarang!”

“Belum selesai unduhannya!” balas Rendra, matanya tetap terpaku pada layar.

“Kau tidak akan sempat! Pasukan bantuan sudah datang, mereka membawa senapan serbu!”

Rendra menggigit bibir. Ia tidak bisa pergi begitu saja—data ini adalah satu-satunya harapan untuk membersihkan namanya dan menuntut keadilan bagi adiknya. Detik berikutnya, persentase unduhan berhenti di angka 98%. Pintu ruang server didorong keras dari luar. Ia segera mencabut perangkat, menyelipkannya ke dalam saku, lalu berlari menuju pintu belakang yang menghadap ke halaman belakang.

Saat ia melompat keluar, peluru pertama menghantam tembok di sampingnya, memecah batu beton menjadi serpihan tajam. Ia berbalik ke arah penyerang—bukan sekadar penjaga biasa, melainkan pasukan khusus dengan seragam gelap dan senjata lengkap. Mereka tidak berniat menangkap hidup-hidup.

Rendra berlari menuju tumpukan peti kayu sebagai pelindung, sambil melepaskan tembakan balasan. Ia berhasil melumpuhkan dua orang, tapi sisanya terus mendekat, jumlah mereka bertambah banyak. Peluru menghujani tempat persembunyiannya, peti kayu mulai hancur berkeping-keping.

“Ke kiri! Ada truk sampah di sana!” teriak Dika.

Rendra menyambar kesempatan itu. Ia berlari sekencang mungkin, melompati pagar besi setinggi dua meter, dan melompat ke dalam bak truk sampah yang baru saja berhenti di depan gerbang belakang. Sopir truk itu—seorang kenalan lama Dika—langsung menginjak gas begitu Rendra mendarat. Peluru menabrak pintu belakang truk saat kendaraan itu melaju kencang menjauh dari lokasi.

Sepanjang jalan, Rendra duduk diam di antara tumpukan sampah, napasnya masih memburu, tapi tangannya erat memegang perangkat data di dalam saku. Ia mengangkat kepala, menatap langit Surabaya yang masih tertutup awan gelap.

“Kau baik-baik saja?” tanya Dika lewat telepon, suaranya tenang kembali.

“Data didapat,” jawab Rendra pelan. “Tapi kita belum selesai. Mereka tahu kita mencari ini.”

“Benar. Dan sekarang mereka tahu kau masih hidup.”

Rendra tersenyum tipis, senyum yang penuh tekad tajam. “Biarkan saja. Sekarang giliran mereka yang harus takut.”

Truk itu melaju menembus jalanan kota yang mulai sepi, membawa Rendra dan bukti yang bisa mengubah segalanya. Ia tahu perjalanan ini baru saja dimulai, dan bahaya terbesar belum datang. Tapi untuk pertama kalinya sejak kejadian lima tahun lalu, ia merasa ada cahaya kecil di ujung lorong gelap yang ia jalani.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!