NovelToon NovelToon
Kisah Cinta Pendekar Pedang

Kisah Cinta Pendekar Pedang

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:228
Nilai: 5
Nama Author: Firdaus Rangkuti

Sebuah kerajaan terbesar punya misi menangkap semua petarung liar untuk kedamaian. Namun semua perguruan seni bertarung pedang menolaknya. Karena mereka tahu kalau kerajaan ingin mengatur masyarakat dengan menguasai sumber daya.

Sepasang pendekar pedang ini menjadi penyelamat untuk melawan sebuah kerajaan besar. Mereka melakukan perjalanan bersama untuk mengumpulkan rahasia teknik pedang tersembunyi dan dua pedang Sakti.

Pedang Zen Xi di Desa Win, lalu pedang Zoi Chu di Desa Hon. Namun mereka harus melewati rintangan dan tempat untuk bisa sampai di tujuan. Lalu mereka kembali untuk mengalahkan Kerajaan Sinpor.

Setelah masalah Kerajaan Sinpor selesai, kisah cinta mereka berdua sempat mendapatkan penolakan dari orang tua perempuan, karena perbedaan kelas sosial. Namun mereka berdua punya cara agar mereka berdua bisa menikah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Firdaus Rangkuti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pria Aneh

"Apa lihat-lihat?" Jinsin menatap Rio tersenyum.

"Tidak ada apa-apa, kau cantik." jujur Rio menoleh malu.

"Apa?" kaget, menoleh malu duduk di depan api unggun.

"Haci, haci." Jinsin berdiri berjalan mendekati Rio duduk, menyentuh kening.

"Kau tidak panas, akan ku buat air panas untukmu." Jinsin pergi mengambil air di sungai. Lalu Jinsin membuat dan menuang air itu ke gelas.

"Ini, minum. Biar tidak kedinginan." Rio melongok melihat gelas panas di berikan berdiri oleh Jinsin. Lalu Rio mengambil dan meminum dengan perlahan.

"Hangat." Malam hari, Rio tertidur di depan api unggun memakai pakaian yang sudah di jemur.

"Haaakh. Haaakh.." Rio mendengkur.

"Cepat sekali dia tidur." Jinsin melihat Rio terlentang beralas kain khas berkelana. Lalu Jinsin berdiri, berjalan ke halaman sungai. Dia berdiri melihat langit malam yang indah penuh banyak bintang.

"Hehehe ada gadis cantik ini." Seorang pria muncul di hutan gelap, berjalan mendekati Jinsin tersenyum genit.

"Siapa kau?" teriak Jinsin.

"Aku pengelana. Kalau kau?" Pria itu terus berjalan mendekati Jinsin.

"Aku pengelana, mundur kau!" teriak Jinsin. Lalu Jinsin perlahan mundur. Pria itu tidak menanggapi Jinsin, dia berjalan mendekatinya.

"Sial, apa dia salah satu prajurit yang baru kami kalahkan. Tapi ini di dalam hutan di arah berbeda." Jinsin terus mundur dari pria yang mendekatinya, wajahnya panik. Namun Rio berada di dalam hutan sedang tidur. Dia terus berpikir tentang keberadaan orang ini tiba-tiba muncul.

"Kau pendekar kan?" tanya Jinsin takut. Lalu dengan cepat tangan kanan Jinsin di pegang pria ini. Wajahnya genit dan menarik tangan ke dalam hutan. Jinsin menebas tangan pria itu dengan pedang kecil.

"Sring." Jinsin kaget pria ini menangkisnya, leher Jinsin menancap di ujung pedang pria ini hingga dia tidak bisa bergerak.

"Sial, Rio.." Jinsin berteriak sekerasnya sampai hutan menggema.

"Tidak ada yang akan mendengarmu." Ayo ikut saya." pria kurus dan cukup tua menarik Jinsin ke dalam hutan yang gelap. Jinsin menolak tubuhnya di tarik sampai kedua kakinya menyeret ke tanah. Wajahnya panik melihat hutan tempatnya istirahat, berharap Rio mendengar teriakannya.

"Tidak mau, Tidak maaaauu......" Jinsin terus menolak ajakan pria itu saat sudah dekat ke hutan yang gelap.

"Haaaaaaaaaaa......" Jinsin berteriak sekerasnya, di dalam hutan. Lalu melempar pria tua itu ke dalam sungai dekat air terjun.

"Beraninya dia!" teriak Jinsin marah.

"Huuuurrrft. Kaget ah." ucap pria tua.

Kepala pria cukup tua itu muncul ke permukaan air. Lalu membasuh wajah pakai tangan kanan, penuh kaget melihat Jinsin di dalam hutan. Jinsin berdiri di pinggir sungai. Lalu Pria itu berenang ke tepian, bangkit berdiri dengan pakaian basah menetes-netes melihat Jinsin. Wajahnya sangat marah.

"Sini kau." ucap Jinsin.

"Heeeeeeee...." Jinsin menarik kepala pria itu. Lalu diseret ke pohon besar. Lalu dia menjedutkan kepala pria itu beberapa kali. Wajahnya sangat kesal.

"Tolong. Tolong. Tolong." pria itu berteriak suara berat. Jinsin membiarkan pria itu terlungkup penuh darah di kepalanya. Lalu mengikat tubuhnya yang diambil dari ransel pria itu dan di dudukan di pohon.

"Sekarang jawab! kau ini siapa dan apa tujuan kamu?" teriak Jinsin memegang wajah pria itu.

Pria itu adalah seorang pendekar pengelana bersama kelompoknya. Namun saat ini dia sedang berada di desa kecil di dekat sini di dalam hutan. Jinsin mendengar cerita itu, langsung menyeret tubuh pria itu ke tempat Rio bersama api unggun dan beberapa perbekalan yang sengaja di tinggal sana. Lalu Jinsin melempar pria ke tanah seperti ranselnya sampai Rio mendadak bangun dan duduk karena kaget.

"Hei, apa itu." Lalu Jinsin duduk kesal di depan api unggun.

"Jinsin, kau kenapa?" Rio bicara merem ke Jinsin.

"Lihat itu." ucap Jinsin. Rio menoleh ke arah benda panjang di lilit tali.

"Apa itu, peti ya?" tanya Rio mata merem melek.

"Itu, musuh." ucap Jinsin.

"Apa?" teriak Rio wajahnya sadar. Rio berdiri menghampiri pria yang di ikat terlungkup ke tanah.

"Siapa dia. Jelaskan kepadaku." tanya serius Rio. Jinsin menoleh kepada Rio, wajah malu.

"Dia menarikku, lalu genit." Rio kaget mendengar ucapan Jinsin.

"Lalu kamu di buat apa sama dia?" tanya Rio jongkok di depan wajah Jinsin sedang duduk.

"Plaaaakkk........"

"Apa-apa'an pikiranmu itu." Jinsin menampar wajah Rio sampai kaget tubuhnya.

"Belum di apa-apain. Langsung ku lempar dia ke sungai."

"Hah..." wajah Rio memerah mendengar ucapan Jinsin. Dia heran, Rio melihatnya dengan ekspresi aneh.

"Kau mau ku lempar ke sungai?" Jinsin mengancam Rio dengan wajah menantang.

"Hah, aku kan bertanya." Rio bangkit, lalu berjalan ke pria itu dengan jongkok. Lalu dia menarik kepala pria itu karena penasaran wajahnya. Rio telah menerima penjelasan dari Jinsin di dengar oleh pria itu.

"Besok kita akan bergerak, hari ini kita istirahat. Kau besok tunjukkan lokasinya." ucap Rio hendak duduk di kasurnya di depan api unggun yang menerangi wajahnya.

"Sebaiknya aku tidur di dekatmu Rio." ucap Jinsin hendak meletakkan matras tidur di samping Rio.

"Heh, ngapain kamu di dekatku?" Rio mendorong matras itu jauh darinya. Wajah Jinsin cemberut saat melihat tindakan Rio menolaknya berdiri di depannya. Rio melihat wajah Jinsin diam tanpa jawaban dan dia mendadak panik.

"Ya sudah, tidurlah kamu di sampingku. Tapi jangan mendorong atau menyenggol ku ya?" Rio memberi goresan garis di tanah antara ranjang mereka berdua sebagai pembatas. Jinsin diam melihat goresan itu di buat Rio.

"Kau ini pendekar pedang, mungkin pemula kali ya, atau mau genit kepada aku." Rio berbaring melihat Jinsin duduk di matras alas tidur sembari melepas ikatan rambut panjang.

"Kau mau ku lempar ke api unggun itu." Jinsin menggenggam tangan kanan, wajahnya kesal karena ucapan Rio. Lalu menutup mata menahan amarah sambil mencoba membuka ikatan rambut di tangan kirinya.

"Haaahh.. jangan. Aku tidur, tidur." Rio berbalik badan dari Jinsin karena ketakutan. Jinsin melepas ikatan rambut, lalu Rio menoleh kembali untuk berbicara kepadanya.

"Wah cantik sekali."

Rio melongo melihat Jinsin pertama kali melepas ikatan rambut di depannya. Rambut panjang Jinsin menyelimuti bahu sampai sebagian punggung. Lalu Jinsin menarik bagian rambut ke dekat dada. Rio semakin tertarik melihat Jinsin bergaya rambut seperti itu.

"Hei, Rio kenapa wajah kamu seperti itu. Lalu apa yang baru saja kau bilang tadi. Apa cantik?" Jinsin menoleh ke Rio sambil menggerak-gerakkan rambut dan melihat Rio wajahnya jadi aneh sambil mengarahkan telinga ke dekatnya karena mendengar kata cantik oleh ucapan Rio.

"Bukan apa-apa."

Rio menoleh ke arah api unggun lalu tidur. Jinsin melihat Rio wajah bingung. Lalu berbaring ke arah sebaliknya untuk tidur. Malam telah berlalu. Api unggun berubah menjadi asap putih mengepul ke luar hutan.

"Haaaakh..." Suara dengkur Rio masih belum bangun. Jinsin juga masih tidur manis walaupun matahari sudah tinggi. Pria itu diam sepanjang malam.

"Haaaah sudah pagi ya." Rio bangun lebih dulu melihat sekeliling dengan mata merem melek.

1
Firdaus Rangkuti
Selamat datang di karya saya berjudul Kisah cinta pendekar pedang. mohon di baca setiap bab atau episode ya. terima kasih.
fnrm
🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!