NovelToon NovelToon
Dibuang Di Jalan Tol, Mantan Suami Memohon Ampun

Dibuang Di Jalan Tol, Mantan Suami Memohon Ampun

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO / Tamat
Popularitas:308.1k
Nilai: 5
Nama Author: Hadid Salman

Hanya karena latar belakangnya yang miskin, Naya selalu menjadi keset kaki di rumah suaminya, Reza. Puncaknya, Ningsih—sang ibu mertua—menuduh Naya mencuri uang puluhan juta rupiah. Tanpa mau mendengarkan penjelasan, Reza yang telanjur murka menurunkan Naya begitu saja di pinggir jalan tol yang sepi dan gelap.
Mereka tidak tahu bahwa Naya bukanlah wanita lemah tanpa kuasa. Di balik penampilannya yang sederhana, Naya adalah pewaris tunggal konglomerat yang sedang menyamar.


Langkah demi langkah, Naya mulai membalas. Mulai dari membekukan rekening, memecat Reza dari posisinya di perusahaan, menyita mobil, hingga mengusir mertuanya dari rumah mewah yang ternyata dibeli dengan uangnya. Di saat Reza dan Ibunya jatuh miskin dan mengemis di jalanan, sebuah kebenaran pahit terungkap: pencuri asli uang Ningsih adalah bukan Naya Saat penyesalan datang, pintu maaf Naya sudah tertutup rapat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengadilan di Bawah Kilatan Cahaya

Bab 28: Pengadilan di Bawah Kilatan Cahaya

Ballroom Hotel Mulia yang semula dipenuhi oleh harmoni gesekan kuartet biola klasik mendadak berubah menjadi arena perburuan yang bising. Di bawah langit-langit kristal yang berkilauan, puluhan jurnalis dan fotografer dari berbagai media nasional yang diundang untuk meliput transisi kepemimpinan Atmadja Group tidak menyia-nyiakan momen drama yang tersaji di hadapan mereka.

Bagai kawanan serigala yang mencium bau darah segar, para wartawan merangsek maju. Lensa-lensa kamera berukuran besar diarahkan serentak ke ujung karpet merah.

Cklik! Cklik! Cklik!

Kilatan lampu blitz menyambar-nyambar tanpa jeda, membelah keheningan malam yang mewah dengan cahaya putih yang menyilaukan dan dingin. Setiap kilatan cahaya itu seolah-olah menguliti satu per satu lapisan martabat yang tersisa pada raga Reza Adijaya dan Ningsih, memamerkan kemelaratan dan keputusasaan mereka ke dalam jutaan piksel digital yang siap disebarkan ke seluruh pelosok negeri.

Reza masih bersujud di atas karpet merah. Kepalanya yang kotor oleh debu jalanan ditekuk dalam-dalam, sementara air matanya mengalir deras, membasahi serat-serat floral emas karpet sutra di bawahnya. Menyadari bahwa dirinya kini dikelilingi oleh puluhan kamera yang terus membidik setiap gerakannya, sebuah insting keputusasaan yang liar mendadak bangkit di dalam dadanya.

Reza mendongak. Di bawah sorotan lampu kamera yang menyengat matanya yang merah dan bengkak, ia menatap Naya dengan tatapan memohon yang teramat sangat—sebuah tatapan anjing liar yang kelaparan di hadapan pemilik barunya.

"Naya... demi Tuhan, dengarkan aku!" teriak Reza, suaranya parau, pecah di tengah riuhnya bisik-bisik para konglomerat yang menatapnya dengan jijik. "Aku salah, Naya! Aku bersumpah aku salah! Aku telah dibutakan oleh kesombongan yang tidak ada harganya! Tolong... beri aku satu kesempatan lagi untuk membuktikan bahwa aku bisa menjadi suami yang baik untukmu..."

Reza merangkak maju beberapa jengkal di atas lututnya, tidak lagi memedulikan rasa sakit akibat gesekan celana usangnya dengan karpet. Tangannya yang gemetar terulur ke depan, mencoba menggapai ujung sepatu beludru Naya.

"Aku memohon kepadamu di hadapan semua orang di sini, Naya! Aku memohon agar kamu menerimaku kembali sebagai suamimu! Aku rela melakukan apa saja... aku rela menjadi pelayan di rumahmu, asalkan kamu tidak membuangku... asalkan kamu memaafkan kebodohanku malam itu di KM 26!"

Mendengar nama "KM 26" dan pengakuan tentang bagaimana seorang suami tega membuang istrinya di bahu jalan tol malam-malam, para jurnalis langsung saling berbisik heboh. Pena-pena digital mulai menari cepat di atas gawai mereka, mencatat setiap detail drama yang melampaui batas kewajaran moral ini.

Di samping anaknya, Ningsih tidak lagi memiliki sisa keangkuhan seorang sosialita Menteng yang dulu gemar memakai berlian palsu dan menghina orang kecil. Tubuh rentanya yang dibalut kebaya sutra tua yang pudar bergetar hebat. Wajahnya yang tirus dan kendur basah kuyup oleh air mata yang bercampur dengan lunturan bedak murah yang retak-retak.

"Naya... menantuku yang paling mulia..." raung Ningsih, suaranya melengking pilu, memecah kesunyian ballroom yang megah. Wanita tua itu memukul-mukul dadanya sendiri dengan kepalan tangan keriputnya, meratapi kejahatan yang kini berbalik mencekik lehernya sendiri. "Ibu yang berdosa, Naya! Ibu yang memfitnahmu demi menutupi rasa malu Ibu! Uang lima puluh juta itu... uang arisan itu... kamu tidak pernah menyentuhnya! Ibu yang menuduhmu tanpa bukti... Ibu yang menyebutmu tikus selokan..."

Tangis Ningsih pecah menjadi lolongan yang menyedihkan di hadapan sorotan kamera jurnalis TV yang menyala merah, menyiarkan penyesalannya secara langsung ke seluruh penjuru kota.

"Ternyata Andi, Naya! Keponakan yang selama ini Ibu banggakan di atas altar kesalehan... Andi yang mencuri semuanya! Dia yang mengambil uang itu subuh-subuh demi judi daring! Kami telah membuang bidadari tulus sepertimu hanya untuk memelihara ular berbisa yang kini menguliti kami hingga telanjang bulat!" Ningsih merangkak mendekat, bersujud dengan dahi menyentuh lantai dingin di samping sepatu para penjaga. "Maafkan Ibu, Naya... maafkan Ibu yang buta ini..."

Bisik-bisik di antara para pengusaha dan istri konglomerat yang berdiri di sekitar mereka kini berubah menjadi badai cemoohan. Tatapan yang semula penuh keheranan kini sepenuhnya berganti menjadi pandangan jijik dan muak yang ditujukan langsung kepada ibu dan anak yang bersujud di lantai tersebut.

"Sungguh kejam... bagaimana bisa seorang suami membuang istrinya di jalan tol malam-malam hanya karena fitnah?" bisik seorang wanita ber-subang berlian di barisan depan dengan nada mencemooh.

"Dulu mereka sombong sekali di Menteng, berlagak seperti bangsawan. Ternyata mereka hidup dari uang yayasan wanita yang mereka usir itu," sahut pengusaha lain dengan senyum ejekan yang tak lagi disembunyikan.

Naya berdiri diam membeku bagai patung giok yang tak tersentuh oleh badai kehinaan di bawah kakinya.

Blazer satin sutra abu-abu arang yang dipakainya memantulkan cahaya lampu ballroom dengan sangat anggun, membingkai postur tubuhnya yang tegak penuh wibawa seorang permaisuri. Wajahnya tetap tenang, tanpa riasan berlebih, namun matanya yang sedingin es utara menatap lurus ke arah dua sosok yang kini meratapi nasib di atas karpet merah miliknya.

Di dalam dadanya, tidak ada sedikit pun gelombang kepuasan yang meledak-ledak. Yang tersisa hanyalah kehampaan yang begitu dingin dan merendahkan. Baginya, air mata dan sujud Reza malam ini tidak lebih dari sekadar debu yang mengotori keindahan ballroom Atmadja.

"Pak Reza Adijaya, Ibu Ningsih," suara Naya mengalun rendah, jernih, dan begitu berkelas lewat mikrofon tersembunyi, membungkam seluruh riuh bisik-bisik di ruangan dalam sekejap. Bahkan para wartawan menahan napas mereka, menunggu kalimat yang akan keluar dari bibir sang CEO baru Atmadja Group.

Naya melangkah maju satu tapak, membiarkan ujung sepatu beludru hitamnya yang bersih berada tepat beberapa sentimeter di depan jemari Reza yang gemetar kotor.

"Aspal jalan tol di KM 26 malam itu memang sangat dingin dan keras," ujar Naya, matanya menatap lurus ke dalam pupil mata Reza yang berkaca-kaca penuh harapan tipis. "Namun, dinginnya aspal malam itu sama sekali tidak sebanding dengan dinginnya hati seorang suami yang tega mendorong istrinya keluar ke dalam kegelapan tanpa arah tujuan."

Naya menjeda kalimatnya, membiarkan setiap kata meresap dan mencabik-cabik ulu hati Reza yang kian sesak.

"Hari ini, kalian datang kemari menggunakan panggung jurnalis ini dengan harapan saya akan merasa kasihan atau takut kehilangan nama baik saya. Kalian berpikir bahwa dengan bersujud di depan umum, saya akan terpaksa menerima kembali orang-orang yang telah membakar rumah saya dengan api kesombongan mereka sendiri."

Naya tersenyum tipis—sebuah senyuman dingin yang membuat bulu kuduk semua orang yang melihatnya meremaj.

"Sungguh sebuah lelucon yang sangat tidak menarik. Nama baik saya tidak dibangun di atas belas kasihan kepada para pengkhianat. Dan pernikahan kita..." Naya menatap Reza dengan keheningan yang mematikan. "...telah resmi mati di KM 26, dua malam yang lalu."

"Naya... tolong... beri aku satu kesempatan lagi... aku akan menebus semuanya..." rintih Reza, mencoba memegang ujung sepatu Naya dengan sisa-sisa kekuatannya yang hampir habis.

Naya menarik mundur kakinya secara perlahan, tatapannya sedingin es utara yang tak pernah tersentuh matahari.

"Paman Baskara," panggil Naya dingin tanpa sekali pun mengalihkan pandangannya dari raga yang tak lagi berharga di hadapannya.

"Ya, Nona Muda Anindya?"

"Bersihkan karpet merah ini. Kehadiran orang-orang asing ini mulai mengganggu kenyamanan para tamu penting kita. Dan pastikan seluruh rekaman konferensi pers hari ini didistribusikan ke seluruh jaringan media. Biarkan dunia melihat wajah asli dari para pencinta dusta ini."

"Baik, Nona Muda," jawab Baskara takzim.

Para pengawal pribadi langsung bertindak dengan tegas. Di bawah sorotan ratusan kamera yang terus merekam setiap detiknya, mereka mencengkeram lengan Reza dan Ningsih, mengangkat tubuh mereka yang lemas tanpa daya dari atas karpet merah, lalu menyeret mereka keluar melewati pintu ganda ballroom.

Suara raungan tangis penyesalan Reza dan jeritan parau Ningsih perlahan-lahan mulai menjauh, digantikan oleh jepretan kamera jurnalis yang masih bersemangat mengabadikan kejatuhan mutlak keluarga Adijaya. Pintu ganda ballroom ditutup rapat kembali, mengembalikan keheningan berkelas dan melodi indah kuartet biola klasik ke dalam istana sang permaisuri yang telah resmi menghapus sisa masa lalunya hingga tak berbekas.

1
djerrih leni
biasa kesombongan harus di kalahkan dgn kejatuhan yg akhirnya br di sadari.... penyesalan slalu ada di belakang, kalau di depan namanya pendaftaran...
djerrih leni
baru sadar ya bu.. kmrn2 kau masih banggakan karena penampilan luarnya dan sandiwara utk mengelabui mu bu Ningsih... daan kau lempar kesalahan pd menantu yg tlah menolong gaya hidupmu
Nurlaila Hidayah
sebenarnya ceritanya sudah bagus ga banyak episode/bab yg kdang suka mles baca'a, tpi yg memang ada typo/ selalu di ulang2. mohon untuk author'a diperhatikan lagi biar nanti pembaca yg lain selalu semangat untuk membaca karya2mu yg lain thor. semangat jangan putus asa karna setiap ada ulasan dari pembaca yg tidak enak dibaca yg sebenarnya hanya untuk author lebih baik lagi dalam membuat cerita2 yg menarik
Nurlaila Hidayah
ya kan Reza sendiri yg mulai menyebut ada hubungan suami istri jdi ya Naya membeberkan alasan'a wlwpun ga etis jg didalam rapat, karna Naya hanya membela diri, kalo ga digituin yg ada mlah ngelunjak nanti c Reza nya
Nurlaila Hidayah
masin untung ga struk kau za msih bsa berdiri wlwpun shok berat
Nurlaila Hidayah
pede kali kau Reza, yg ada kau yg dibawah kaki istrimu yg kau sia2kan dan dipndang rendah olehmu dan slruh kluelargamu. nantikan kehancuranmu🤣🤣🤣
Nurlaila Hidayah
seru euy
Nurlaila Hidayah
widiiiih mntap euy pmbalasan'a ga lgsg, klo lgsg ga seru ya nay ga bsa ngerasain apa yg kamu rasakan dulu. semangat thor
Nurlaila Hidayah
mntap nay, ayo nay tunjukan dirimu yg sesungguhnya pada kluarga benalu yg okb, itu pun berkat dirimu nay
Bonny Liberty
,asal anak sama ibu saudaraan thor?
djerrih leni
harusnya Naya lebih profesional tdk masukan masalh pribadi dlm rapat perusahaan, meski mau menjatuhkan Reza tetap hrs profesional biar tetap ada wibawa nya seorang CEO
djerrih leni
kok bisa lg rapat perusahaan tiba-tiba masuk masalah pribadi di dlm rapat yh notabenebya pasti hadir seluruh jajaran direksi di ktr tersebut
aswati seran
keren pembalasan naya
Rina Arie
good
Fdila Dila
toooobaat rasahin kamu, suami Naya udh mati dua malam yg lalu
Fdila Dila
keringat dingin membanjiri sekujur tubuhmu yg lusuh
Fdila Dila
itulah karma mu
Fdila Dila
tobat kamu org2 sombong dan serakah
Fdila Dila
lanjut seru... aduh reja ternyata km salah. esar ,kamu akan di tengelam kan, jgn sombong fulu
Fdila Dila
terimalah kehancuranmy Reza yg TDK tau diri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!