Fisya Alexander tak pernah menyangka rumah tangga yang ia jaga sepenuh hati justru menjadi awal kehancurannya.
Suaminya, Jason, berselingkuh dengan sahabat yang paling ia percaya namun pengkhianatan itu belum seberapa dibanding rencana keji yang mereka siapkan di ruang bersalin
Saat dua bayi perempuan lahir di hari yang sama, sebuah pertukaran terjadi, mereka yakin telah merebut segalanya dari Fisya.
Sayangnya, mereka tidak pernah sadar bahwa Fisya melihat semuanya
Sejak malam itu, senyum Fisya hanya untuk putrinya, sementara racunnya disiapkan untuk mereka yang telah menghancurkan hidupnya.
Ketika rahasia mulai terungkap, siapa yang sebenarnya sedang menjebak siapa ?
Jangan lupa tekan love sebelum melanjutkan membaca dan tinggalkan komentar dan Vote juga ya besty!🫰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen_Fisya08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesta Perayaan Kelahiran Tina
Sejak hari itu kehidupan Fisya berubah kemana pun ia pergi… Sebastian selalu berada di dekatnya.
Saat Fisya pergi meeting, Sebastian ikut serta? Saat Fisya makan siang di luar kantor, Sebastian berdiri tidak jauh darinya.
Bahkan ketika Fisya pulang kerja malam hari, Sebastian selalu memastikan mobil Fisya aman sampai rumah, semua itu membuat Jason semakin murka.
Beberapa kali Jason mencoba memprotes namun Fisya selalu menjawab santai.
“Dia bekerja untukku.”
Kalimat itu selalu membuat Jason tidak bisa membantah.
Di kantor sendiri mulai banyak karyawan membicarakan kedekatan Fisya dan Sebastian.
Bukan hubungan spesial…
Tetapi lebih karena Sebastian terlihat sangat melindungi Fisya.
Dan hal itu membuat Jason merasa posisinya mulai tergeser.
Sementara Sebastian sendiri tidak pernah banyak bicara, ia hanya fokus menjaga Fisya.
Dan diam-diam… Ia mulai menyadari ada sesuatu yang disembunyikan keluarga itu.
Seminggu kemudian…
Hari pesta kelahiran Tina akhirnya tiba.
Rumah besar keluarga Alexander dihias sangat mewah, lampu gantung menyala indah, dekorasi bunga memenuhi halaman.
Puluhan mobil tamu mulai berdatangan sejak sore.
Relasi bisnis, teman-teman, dan beberapa keluarga besar hadir dalam pesta itu.
Semua orang terlihat kagum dengan kemewahan acara tersebut.
Di dalam rumah…
Fisya sedang bersiap-siap dan ia mengenakan gaun elegan berwarna putih lembut.
Sedangkan Tina memakai gaun bayi kecil yang cantik.
Bik Lili tersenyum haru melihat mereka.
“Ibu cantik sekali.”
Fisya tersenyum kecil.
“Doakan acaranya lancar bik.”
“Pasti lancar Bu.” ucap bik Lili cepat
Tak lama Sebastian masuk ke kamar dengan sopan.
“Bu Fisya. Tamu mulai banyak berdatangan.” ucap Sebastian
Fisya mengangguk.
“Oke.”
Sebastian menatap Tina sekilas dan tatapannya melunak.
“Dia cantik.” puji Sebastian
Fisya tersenyum kecil.
“Terima kasih.”
Sebastian diam sesaat
"Kenapa hatiku tak menentu lihat bayi ini, ada apa dengan perasaanku ini" batin Sebastian
"Ada apa?" tanya Fisya sambil menatap Sebastian
"Tidak apa-apa bu, maaf saya permisi dulu" jawab Sebastian
Sebastian lalu keluar kembali untuk menjaga keadaan.
***
Sementara itu di luar rumah.
Mobil Kasandra akhirnya tiba!
Kasandra turun dengan pakaian mewah dan riasan yang sangat mencolok.
Sedangkan Nisa turun dari kursi belakang sambil menggendong Agnes kecil.
Agnes terlihat tenang di pelukan Nisa.
Kasandra bahkan tidak mau menyentuh bayinya sendiri.
“Nisa.” panggil Kasandra
“Iya bu?” jawab Nisa
“Jangan terlalu dekat sama aku.” ucap Kasandra memperingati
Nisa langsung mengangguk.
“Iya bu”
Kasandra langsung berjalan lebih dulu memasuki rumah sedangkan Nisa berjalan di belakang sambil menggendong Agnes.
Beberapa tamu sempat melihat Agnes dan tersenyum gemas.
“Bayinya lucu sekali.”
Namun Kasandra sama sekali tidak menoleh ke arah anak itu.
Di dalam rumah…
Jason yang sedang menyambut tamu langsung tersenyum saat melihat Kasandra datang.
Tatapannya cepat berubah lembut.
“Kamu akhirnya datang.”
Kasandra tersenyum kecil.
“Iya.”
Jason langsung melihat ke belakang.
“Bawa Agnes?”
Kasandra mengangguk malas lalu menunjuk Nisa.
“Itu.”
Jason hanya melirik sekilas ke arah Agnes sama seperti Kasandra… Ia juga tidak terlalu peduli baginya Agnes itu tidak penting.
Jason kembali mendekat ke Kasandra.
“Hari ini semuanya akan dimulai.”
Kasandra tersenyum penuh arti.
“Aku gak sabar.”
Tak lama kemudian…
Fisya akhirnya turun sambil menggendong Tina.
Semua tamu langsung terpukau.
“Bu Fisya cantik sekali.”
“Tina lucu banget…”
Beberapa orang langsung menghampiri memberi ucapan selamat.
Fisya tersenyum sopan pada semua tamu namun tatapannya akhirnya berhenti pada Kasandra.
Fisya berjalan mendekat.
“Kamu datang juga.”
Kasandra tersenyum manis.
“Pasti aku datang dong"
Fisya lalu melihat sekitar.
“Mana putrimu?”
Kasandra langsung menunjuk Nisa yang berdiri agak jauh.
“Itu.”
Fisya mengernyit kecil.
“Kenapa kamu gak gendong sendiri?”
Kasandra terlihat sedikit tidak nyaman.
“Agnes rewel.”
Fisya menatap Agnes beberapa detik, bayi kecil itu justru terlihat tenang.
Tatapan Fisya sedikit berubah namun ia segera tersenyum tipis.
“Oh begitu.”
Kasandra cepat-cepat mengalihkan pembicaraan.
“Tina cantik sekali.”
Fisya tersenyum kecil.
“Terima kasih.”
Sementara itu…
Jason memperhatikan interaksi mereka sambil merasa puas karena semua berjalan sesuai rencana.
Tak lama kemudian acara resmi dimulai semua tamu berkumpul di aula utama rumah.
Lampu sedikit diredupkan, musik pelan mulai terdengar.
Jason langsung mendekati Fisya sebelum wanita itu naik ke panggung kecil.
“Sayang…” panggil Jason
Fisya menoleh.
“Ya?”
“Jangan lupa soal ahli waris.” lanjut Jason
Fisya tersenyum kecil.
“Tentu.”
Jason langsung puas mendengar jawaban itu.
Sedangkan Kasandra yang berdiri tak jauh dari sana terlihat sangat tidak sabar.
Sebastian berdiri di sudut ruangan sambil memperhatikan semuanya dengan tajam.
Acara dimulai.
MC membuka pesta dengan beberapa ucapan selamat lalu akhirnya mempersilakan Fisya maju.
Semua tamu langsung bertepuk tangan.
Fisya naik ke panggung sambil menggendong Tina.
Wajahnya tenang dan elegan.
“Terima kasih semuanya sudah datang malam ini.”
Semua tamu memperhatikan.
“Hari ini aku mengadakan pesta sederhana untuk merayakan kelahiran putriku.” ucap Fisya
Fisya melihat Tina lalu tersenyum lembut.
“Namanya Tina Callista Alexander.”
Tepuk tangan langsung terdengar.
Jason tersenyum puas.
Sedangkan Kasandra menatap Tina penuh rasa memiliki.
Fisya melanjutkan.
“Dan malam ini… Aku juga ingin menyampaikan sesuatu.”
Jason langsung menegakkan tubuhnya sedangkan Kasandra juga terlihat tegang menunggu.
Fisya menatap seluruh tamu.
“Tina akan menjadi ahli waris keluarga Alexander.”
Suasana langsung riuh.
Beberapa tamu terlihat kagum.
Jason dan Kasandra saling pandang dengan mata berbinar.
Namun Fisya belum selesai.
“Ketika Tina berusia delapan belas tahun nanti…”
“Aku akan menyerahkan seluruh hak waris keluarga Alexander kepadanya.” lanjut Fisya sambil tersenyum
Tepuk tangan kembali terdengar.
Sedangkan Kasandra sedikit kesal.
"Delapan belas tahun, itu waktu yang sangat lama"
Kasandra langsung mendekat ke Jason saat Fisya masih berbicara di depan.
“Aku harus nunggu delapan belas tahun?” bisiknya kesal.
Jason langsung menenangkan.
“Tidak apa-apa.”
Kasandra mendecih pelan.
“Itu lama.”
Jason tersenyum tipis.
“Sebentar kok.”
Kasandra menatap Jason.
“Selama itu… Kamu masih bisa dekat sama Tina" ucap Jason
"Buat dia sayang sama kita kalau nanti dia pegang semua warisan… Dia pasti nurut sama semua yang kita mau.” lanjut Jason
Mata Kasandra perlahan berbinar lagi lalu senyum licik muncul di wajahnya.
“Ya… Kamu benar sayang.”
Jason tersenyum puas sedangkan di atas panggung…
Fisya diam-diam memperhatikan mereka dari jauh.
Tatapannya dingin, ia tahu… Mereka sedang membangun harapan besar dan Fisya sengaja membiarkan itu terjadi.
Setelah sambutan selesai, Fisya turun dari panggung.
Banyak tamu langsung menghampiri memberi selamat.
Sementara itu Kasandra berjalan mendekat perlahan tatapannya terus tertuju pada Tina.
“Boleh aku gendong?” tanya Kasandra lembut.
Fisya menatapnya beberapa detik lalu tersenyum kecil.
“Tentu.”
Kasandra langsung mengulurkan tangan, begitu Tina berpindah ke pelukannya…
Mata Kasandra langsung berkaca-kaca dan perasaan aneh muncul di dalam dirinya, ia merasa benar-benar sedang menggendong anaknya sendiri.
Sedangkan Fisya memperhatikan itu dalam diam, senyum kecil muncul di sudut bibirnya karena hanya dirinya yang tahu…
"Lucu sekali permainan takdir ku ini" batinnya
__Bersambung__