Langit malam menggantung pekat ketika langkah Viona tersandung di gang sempit napasnya memburu, jantungnya nyaris pecah saat suara tawa kasar para pria di belakangnya semakin dekat.
“Jangan lari, manis...kami cuma ingin bersenang-senang bersamamu...”
Air mata Viona jatuh tanpa suara hingga tiba-tiba, langkah lain memecah malam.
Satu sosok berdiri di hadapannya.
Bryan.
Tatapannya dingin, tajam, tak tersentuh. Dalam hitungan detik, teriakan berubah menjadi pekikan. Baku hantam tak terhindarkan, cepat, dan tanpa ampun.
Sunyi kembali turun saat para pria itu terkapar.
Dengan tubuh gemetar, Viona mendekat.
“Te-terima kasih...”
Namun Bryan bahkan tak menoleh lama padanya.
“Gak usah berlebihan,” ucapnya datar.
“Lekas pulang. Area ini bukan untuk gadis kecil sepertimu.”
Dingin. Jauh dari kata ramah. Tetapi sejak malam itu takdir mereka telah saling terikat satu sama lain. Mereka kerap tak sengaja bertemu di tempat yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yogitha Ratnajyoti , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diantara Diam dan Rasa Aman
Malam semakin larut, langkah kaki mereka terdengar pelan di sepanjang jalan menuju apartemen. Viona berjalan di samping Roy masih sedikit gemetar, namun kali ini, ia tidak sendiri.
“Lo yakin nggak mau ke rumah sakit?” tanya Roy tanpa menoleh.
Viona menggeleng pelan, “Nggak apa-apa…gue cuma kaget aja...”
Roy melirik sekilas, pipi Viona masih memerah bekas tamparan. Roy pun rahangnya mengeras menahan emosinya.
“Kalau dia nyentuh lo lagi…”
Ia tidak melanjutkan kalimatnya namun nadanya sudah cukup menjelaskan.
Viona menunduk,“Maaf…”
Roy langsung berhenti, “Kenapa lo yang minta maaf?”
Viona terdiam. Beberapa detik.
“Aku…ngerasa jadi nyusahin orang lain...”
Roy menatapnya dalam.
“Lo hampir diseret paksa...” Nada suaranya tegas.
“Itu bukan nyusahin. Itu…bahaya besar...”
Viona menggenggam tasnya, “Aku cuma…nggak biasa aja ada yang nolongin...”
Kalimat itu membuat Roy sedikit terdiam. Ada sesuatu di sana, sesuatu yang tidak ia sangka. Mereka kembali berjalan, kali ini lebih pelan dan lebih hening.
“Kenapa…Kak Roy ngikutin aku?” tanya Viona pelan.
Roy memasukkan tangan ke sakunya.
“Feeling aja...”
“Feeling?”
“Iya. Jalanan sepi, dan…..”
Ia berhenti sejenak.
“Lo keliatan gampang banget jadi target kejahatan...”
Viona tersenyum tipis, “Makasih ya…udah nolongin aku lagi...”
Roy melirik, “Lagi?”
“Iya…walau yang kemaren beda orang...”
Roy mengernyit.
“Maksud lo?”
Viona langsung tersadar, “Oh…nggak, maksudnya…pernah juga gue ditolong sama orang misterius...”
“Siapa?”
Viona menggeleng, “Nggak tahu. Orangnya dingin banget. Habis nolong langsung pergi gitu aja...”
Roy tersenyum miring, “Pahlawan misterius, ya...”
Viona tertawa kecil, “Iya…mungkin.”
Tak terasa, mereka sudah sampai di depan apartemen.
Viona berhenti, “Udah sampai…”
Roy ikut berhenti, netranya mengamati sekitar, memastikan keadaan aman.
“Lo tinggal di sini?” tanyanya.
Viona mengangguk, “Iya...”
Roy menghela napas pelan, “Keamanan di sini kurang.”
Viona sedikit kaget.
“Hah?”
“Lampunya redup, aksesnya gampang...”
Ia menatap Viona beberapa detik.
“Lo harus lebih hati-hati.”
Viona mengangguk pelan.
“Iya…”
Sunyi sejenak, angin malam berhembus pelan.
“Kalau…” Viona ragu-ragu.
“Kalau nanti dia datang lagi…”
Roy langsung menjawab tanpa jeda, “Telepon gue...”
Viona menatapnya, “Kak Roy…”
Roy mengeluarkan ponselnya, “Kasih nomor lo.”
Viona sedikit canggung, namun akhirnya menurut. Beberapa detik kemudian, ponsel Roy bergetar.
Ia menyimpan nomor Viona.
“Udah ya...” Viona menggenggam ponselnya.
“Aku…beneran makasih buat malem ini...”
Roy menatapnya sebentar. Lalu berkata pelan, “Jangan biasain babe, itu bahaya...”
Kalimat itu sederhana. Namun terasa hangat.
Viona tersenyum, “Iya.”
Viona berbalik melangkah masuk ke dalam gedung namun sebelum pintu tertutup, ia menoleh. Roy masih berdiri di sana menatap ke arahnya sembari tersenyum hangat.
Seperti tengah memastikan, ia benar-benar aman. Hingga akhirnya pintu tertutup, di luar Roy masih berdiri beberapa detik lalu menghela nafas panjang.
“Kenapa jadi kepikiran dia mulu ya…” gumamnya.
Roy memasukkan tangan ke saku dan berjalan pergi. Sementara di lantai atas Viona bersandar di balik pintu apartemennya. Matanya terpejam, nafasnya masih belum stabil. Namun, sekarang barulah ia merasa sedikit aman.
Tanpa ia sadari, di gedung yang sama. Namun di lantai yang berbeda, seseorang berdiri di balik jendela kaca tengah menatap kota malam yang terasa dingin dan tenang. Dan entah kenapa, malam ini terasa qkan mempertemukan mereka lagi.
...****************...
Disiai lain dentuman suara musik menggema keras. Lampu neon berkelip tanpa henti, tawa, alkohol, dan tatapan liar bercampur dalam satu ruang yang penuh kepalsuan. Di atas panggung seorang wanita menari.
Anggun...
Memikat...
Namun matanya…
Kosong...
Dia adalah Alvania.
Gaun ketat berkilau membalut tubuhnya, senyumnya terlukis sempurna, senyum yang dipelajari, bukan dirasakan. Sorak sorai pria-pria hidung belang di bawah panggung menggema.
Namun bagi Alvania, semua itu hanya suara bising di telinganya. Di belakang panggung, ia duduk di depan cermin, menghapus lipstik yang mulai pudar. Tangannya berhenti sejenak menatap pantulan dirinya sendiri.
“Masih hidup ya ternyata…” gumamnya lirih.
Pintu terbuka tiba-tiba seorang wanita lain masuk.
“Alva, lo dipanggil ke VIP room...”
Alvania menghela napas, “Siapa lagi sekarang?”
“Orang baru. Katanya penting gitu...”
Alvania tersenyum tipis, “Semua juga bilang hal yang sama, orang penting hah...”
Ia berdiri merapikan rambutnya, memasang kembali topengnya. Sementara itu, di club lain yang tak kalah mewah, suasana lebih eksklusif, lebih tenang, namun jauh lebih berbahaya.
Bryan duduk di sofa sudut dengan segelas minuman di tangannya. Netranya mengamati ruangan, dingin dan sangat terukur.
“Udah tiga tempat malam ini, Tuan,” ujar Arlian pelan.
Bryan tidak menjawab tatapannya tetap menyapu kerumunan.
“Belum ada tanda-tanda?” tanya Arlian lagi.
Bryan akhirnya berbicara.
“Belum...”
Singkat, padat dan jelas. Namun ada sesuatu yang berbeda, ia tidak biasanya melakukan ini. Mencari seseorang, tanpa nama lengkap, tanpa latar belakang, hanya dari ingatan singkat. Seorang gadis yang ketakutan.
“Kenapa harus dia, Tuan?” tanya Arlian hati-hati.
Bryan meneguk minumannya.
“Karena dia berbeda...”
Jawaban yang tidak biasa keluar darinya Arlian sedikit terdiam. Seorang wanita penghibur mendekat ke meja Bryan.
“Sendirian, Mas?”
Bryan bahkan tidak menoleh.
“Pergi!”
Suaranya terdengar datar, tanpa emosi. Wanita itu pun langsung pergi, Arlian kembali berbicara.
“Kami bisa cari lewat jalur lain tuan...”
Bryan menggeleng.
“Dia bukan tipe yang mudah ditemukan...”
Ia berdiri perlahan.
“Kita pindah...”
...****************...
Kembali ke club tempat Alvania, langkah kakinya memasuki ruang VIP room. Pintu tertutup, lampu lebih redup, udara lebih berat. Seorang pria duduk di sana namun wajahnya masih samar Alvania mendekat seperti biasa dengan pembawaan yang tenang.
“Selamat malam…”
Suaranya sangat lembut, terlatih namun, langkahnya terhenti seketika. Matanya melebar sedikit seolah ada firasat buruk. Di luar sana tak jauh dari lokasi itu mobil hitam Porsche berhenti Bryan turun, tatapannya langsung tertuju ke arah club.
“Yang ini,” ucapnya singkat.
Arlian mengangguk, “Iya, Tuan...”
Dua dunia, dua arah mulai mendekat tanpa mereka sadari benang takdir mulai saling terikat. Alvania yang terjebak, Bryan yang mencari dan Viona yang menjadi alasan semuanya mulai bergerak pada satu tujuan yang sama.
BERSAMBUNG.