Di sebuah kota yang dikuasai geng-geng jalanan dan kekuasaan gelap, sekelompok pemuda memilih bertahan hidup sambil melindungi warga lemah. Di markas tua mereka, tersembunyi sebuah rahasia berusia puluhan tahun — sebuah benda yang bisa mengubah nasib banyak orang, sekaligus menjadi sumber malapetaka kalau jatuh ke tangan yang salah.
Ketika kelompok berbahaya bernama Elang Darah mulai memburunya, identitas tersembunyi dan masa lalu kelam setiap tokoh perlahan terungkap. Arda yang terlihat malas ternyata menyimpan kekuatan dan tanggung jawab besar, sementara Kael dan kawan-kawannya harus memilih: ikut berebut kekuasaan, atau tetap memegang prinsip di tengah pertarungan yang melibatkan banyak pihak rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ArdaKings, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Pilihan di Balik Kegelapan
Udara di dalam terowongan terasa makin sesak dan dingin. Bau debu batu, darah kering, dan keringat bercampur menjadi satu, menekan hidung siapa saja yang menghirupnya. Cahaya yang masuk hanya dari celah-celah kecil di atap, membuat sebagian besar ruangan tetap terbenam dalam bayangan gelap.
Di balik tumpukan batu besar, Niko dan Bastian saling bertukar pandang. Keringat dingin mulai membasahi dahi mereka, bukan karena panas, tapi karena tekanan yang terasa membebani dada. Mendengar perintah tadi, waktu terasa menyempit drastis. Kalau menunggu sampai besok, nyawa Pak Rian sudah pasti melayang. Tapi menyerang sekarang juga berarti melawan lebih dari enam orang yang sudah siap tempur, di tempat yang sempit dan tidak menguntungkan.
Bastian menggenggam gagang tongkatnya sampai urat-urat di lengannya menonjol. Matanya menyala menahan amarah, napasnya terasa sedikit memburu. Dia menoleh ke Niko, suaranya hanya berbisik setengah tertekan.
“Kita nggak bisa diam saja sampai besok. Kalau dia dibawa ke alun-alun, kita akan kehilangan kesempatan selamanya. Kita serang sekarang, sekalipun jumlah mereka lebih banyak.”
Niko menggeleng pelan, matanya tetap mengamati gerakan orang-orang di ruangan depan. “Aku juga nggak mau membiarkannya mati. Tapi pikirkan lagi — tempat ini tertutup rapat. Begitu pertarungan dimulai, suara akan bergema sampai ke ujung terowongan. Bisa jadi ada lebih banyak orang yang berjaga di bagian dalam yang belum kita lihat. Kita bisa terjebak dan malah membawa bahaya pada Pak Rian juga.”
Dia berhenti sejenak, lalu menunduk sedikit, seolah sedang menimbang-nimbang sesuatu yang berat di dalam hatinya. “Tapi aku mengerti perasaanmu. Dulu… ada seseorang yang menolongku saat aku terjebak dalam situasi seperti ini. Kalau saat itu dia memilih diam demi keselamatan dirinya sendiri, aku sudah mati bertahun-tahun yang lalu. Jadi ya, kita bertindak — tapi tidak dengan cara membabi buta.”
Bastian mengerutkan dahi, menunggu penjelasan lebih lanjut.
“Lihat mereka,” lanjut Niko sambil menunjuk sedikit dengan ujung dagunya. “Mereka merasa aman di sini. Tidak ada jalan keluar lain selain pintu depan dan lorong kecil yang kita lewati tadi. Mereka lengah. Kita manfaatkan itu.”
Sementara itu, di tengah ruangan, sosok berjubah hitam itu berdiri diam beberapa saat seolah memastikan kata-katanya cukup membekukan hati Pak Rian. Setelah itu, dia berbalik dan melangkah pergi menuju lorong yang lebih dalam, meninggalkan kedua penjaga untuk menjaga lelaki tua itu.
Begitu sosok itu menghilang dari pandangan, suasana di ruangan itu terasa sedikit lebih longgar. Salah satu penjaga menguap lebar, lalu duduk bersandar di tiang batu sambil memutar sebilah pisau di antara jari-jarinya. Temannya yang lain berjalan mendekati mulut terowongan depan, memeriksa keadaan luar sebentar sebelum kembali ke tempat duduknya.
“Ini kesempatan kita,” bisik Niko cepat. “Yang satu menjauh, yang satu lagi lengah. Kita lumpuhkan mereka secepat mungkin, jangan sampai ada yang berteriak memberi tanda bahaya.”
Mereka bergerak perlahan, merayap mendekati ujung tumpukan batu. Saat jarak sudah cukup dekat, Niko memberi isyarat dengan jari. Bersamaan, mereka melompat keluar dengan gerakan yang cepat dan senyap.
Bastian melesat lebih dulu, ujung tongkat kayunya diarahkan tepat ke sisi leher penjaga yang sedang duduk bersandar. Pukulannya terukur, tidak sampai melukai parah tapi cukup membuat orang itu pingsan seketika sebelum sempat mengeluarkan suara.
Saat penjaga kedua menoleh terkejut, Niko sudah ada di belakangnya. Dia memeluk lengan orang itu kuat-kuat, menekan titik di bahunya sehingga pisau yang dipegang terlepas dan jatuh ke lantai dengan bunyi klang yang tertahan. Dengan satu gerakan lincah, dia memutar tubuh lawannya dan menekannya ke dinding batu sampai napasnya terhenti dan matanya terpejam.
Semua berlangsung dalam hitungan detik. Tidak ada teriakan, tidak ada benturan keras yang menggema jauh.
Bastian segera melangkah ke arah Pak Rian, melepaskan ikatan tali yang melilit pergelangan tangan dan kakinya. Tali itu kasar dan sudah memotong kulit, meninggalkan bekas luka yang berdarah.
“Pak Rian, tahan sebentar. Kami datang menyelamatkan,” ucap Bastian pelan sambil menopang tubuh lelaki tua itu yang langsung terkulai lemas.
Pak Rian membuka matanya perlahan, pandangannya masih kabur karena kelelahan dan rasa sakit. Saat melihat wajah Bastian, dia mengerjap berkali-kali, seolah tidak percaya.
“Kalian… kenapa datang ke sini?” suaranya serak dan nyaris tak terdengar. “Ini jebakan… mereka ingin memancing kalian keluar…”
“Kami tahu,” jawab Niko sambil memeriksa keadaan sekitar dengan waspada. “Tapi kami tidak bisa membiarkan mereka membawamu ke alun-alun. Sekarang kita harus cepat keluar sebelum mereka sadar ada yang salah.”
Mereka berdua memapah tubuh Pak Rian yang lemah itu, berjalan tergesa-gesa kembali menuju lorong sempit tempat mereka masuk tadi. Langkah mereka terburu-buru tapi tetap berusaha tidak menimbulkan suara keras.
Saat mereka baru saja merangkak masuk ke dalam lorong sempit itu, tiba-tiba suara langkah kaki cepat terdengar dari bagian dalam terowongan. Suaranya semakin mendekat, disertai suara teriakan kasar.
“Kemanakah penjaganya? Ada apa dengan keributan tadi?”
Jantung mereka berdegup kencang. Niko mendorong tubuh Pak Rian masuk lebih dalam, memberi isyarat agar semua tetap diam. Dia menutup mulut lubang masuk itu dengan tumpukan batu kecil dan debu, berusaha menyembunyikan jejak sebaik mungkin.
Dari celah kecil di antara batu, mereka melihat beberapa orang lain masuk ke ruangan tadi. Salah satunya adalah orang berjubah hitam yang baru saja pergi tadi. Dia melihat kedua kawannya yang tergeletak pingsan, lalu melihat ikatan tali yang terputus dan tempat duduk Pak Rian yang kosong.
Wajahnya yang tertutup bayangan terlihat semakin dingin. Dia menunduk sedikit, mencium bau udara yang masih berubah, lalu menoleh ke arah lorong sempit tempat mereka bersembunyi.
“Mereka tidak pergi lewat pintu depan,” ucapnya dengan suara rendah tapi jelas terdengar sampai ke telinga mereka. “Ada jalan lain. Cari! Jangan biarkan mereka lolos hidup-hidup.”
Beberapa orang segera menyebar mencari-cari ke seluruh sudut ruangan. Satu orang mulai mendekati tumpukan batu tempat lubang masuk itu tersembunyi. Jari-jarinya menyentuh tumpukan batu itu, seolah ingin memindahkannya.
Di dalam lorong, Bastian sudah menggenggam tongkatnya erat-erat, siap menyerang kalau sampai ketahuan. Niko menahan lengannya dengan pandangan tegas, mengisyaratkan untuk tetap sabar sebentar lagi.
Namun saat itu juga, suara teriakan datang dari arah pintu depan.
“Tuan! Ada orang menyerang pos penjagaan di luar! Pagar depan sudah rusak!”
Orang berjubah itu langsung menoleh, matanya menyipit tajam. Dia ragu sejenak, lalu memberi perintah cepat.
“Tinggalkan pencarian ini dulu! Kumpulkan semua orang ke depan! Jangan sampai ada yang masuk lebih jauh lagi!”
Mereka semua berbalik dan bergegas keluar, meninggalkan ruangan itu kembali sunyi senyap.
Niko dan Bastian saling pandang, sama-sama bingung tapi merasa lega. Siapa yang menyerang pos penjagaan luar? Tidak mungkin Kael atau Mikhael meninggalkan markas tanpa kabar. Bahkan Arda pun jarang bergerak kecuali terpaksa.
“Kita nggak punya waktu untuk bertanya sekarang,” bisik Niko. “Kita harus keluar dari sini selagi kesempatan masih terbuka.”
Mereka kembali merangkak dengan lebih cepat, membawa Pak Rian yang sudah mulai sadar sedikit demi sedikit. Begitu keluar dari celah batu dan sampai di balik semak belukar, mereka melihat sekilas sosok yang sedang berlari menjauh dari mulut terowongan — sosok kecil yang lincah, mengenakan baju lusuh dan topi lebar yang menutupi wajahnya.
“Itu Lio!” seru Bastian pelan, matanya melebar tak percaya. “Dia yang membuat keributan tadi?”
Niko mengangguk sambil mengatur napasnya yang terengah-engah. “Anak itu lebih berani dari yang kita duga. Mungkin dia mengikuti kita diam-diam dari tadi, dan melihat kita terjebak, lalu membuat pengalihan agar kita bisa lolos.”
Mereka segera membawa Pak Rian menjauh dari area tambang, menyusuri jalan setapak yang lebih tersembunyi menuju arah sungai yang lebih lebar. Saat mereka sudah cukup jauh dan aman untuk beristirahat sejenak, Pak Rian mengangkat kepalanya sedikit, menatap wajah mereka dengan pandangan yang penuh rasa terima kasih tapi juga kekhawatiran.
“Terima kasih sudah menyelamatkan aku,” ucapnya dengan suara yang sudah agak lebih kuat. “Tapi kalian harus tahu satu hal… mereka benar, aku tahu barang apa yang mereka cari. Dan tempat persembunyiannya… tidak jauh dari lokasi pabrik kalian sendiri.”
Kalimat itu membuat Niko dan Bastian terdiam seketika. Jantung mereka berdegup lagi, kali ini bukan karena bahaya yang baru lewat, tapi karena kenyataan yang justru lebih mengerikan. Selama ini mereka merasa aman di dalam pabrik tua itu, ternyata di situlah letak rahasia yang menjadi sumber seluruh masalah ini.
Dan di kejauhan, di balik pepohonan yang lebat, sepasang mata mengawasi mereka pergi. Sosok itu berdiri diam, memegang selembar kertas catatan di tangannya, lalu tersenyum tipis sebelum menghilang kembali ke dalam kegelapan.
Bersambung...