NovelToon NovelToon
Drummer Cantik, Istri Rahasia Ketos Tampan

Drummer Cantik, Istri Rahasia Ketos Tampan

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Ketos / Nikahmuda / Tamat
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: Moora Lunatia

"Kita butuh ground rules, Al," kata Akram
"Aturan apa?" Almeera bersedekap, memasang posisi bertahan.
Akram mengangkat satu jarinya. "Satu, nggak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu soal ini. Temen band lo, temen geng gue, siapapun."
"Gue juga nggak sudi ngasih tahu orang-orang," potong Almeera cepat.
Akram mengangguk tipis, "Dua. Di sekolah, kita tetep musuh. Nggak ada tegur sapa manis, nggak ada perhatian. Lo urus urusan lo, gue urus urusan gue."
"Bagus,"
"Dan yang ketiga..." Akram memajukan wajahnya sedikit, "...jangan sampai jatuh cinta. Karena gue nggak mau ribet kalau nanti setelah lulus kita harus pisah."
"Tenang aja, Kram. Selera gue bukan cowok tukang perintah dan manipulatif kayak lo. Cukup lo bayangin aja muka gue jadi setan, dan lo bakal aman dari jatuh cinta."
Akram terkekeh sinis. "Oke. Deal."
"Deal."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Dua minggu berlalu sejak insiden di rooftop dan kencan pertama mereka di Kemang. Sejak hari itu, kehidupan Almeera Azzahra benar-benar berubah 180 derajat.

Bukan hanya karena kini ia resmi memegang status sebagai 'pacar' sang Ketua OSIS di sekolah, tapi karena rutinitas hariannya yang dulunya diisi dengan memukul drum hingga tangannya kapalan, kini digantikan oleh memelototi angka-angka hingga otaknya rasanya ingin meledak.

Ujian Tengah Semester (UTS) tinggal menghitung hari. Janji berdarah Akram kepada Kepala Sekolah benar-benar ditagih secara nyata.

"Kram, sumpah, kalau otak gue ini hardisk, sekarang udah muncul pop-up 'Storage Full'. Nggak muat lagi masukin rumus Sin Cos Tan ini!" keluh Almeera, menjatuhkan kepalanya ke atas meja pantry dengan bunyi buk yang nyaring.

Malam itu, jam sudah menunjukkan pukul 21.30 WIB. Apartemen 2507 masih benderang. Akram duduk di sebelah Almeera, mengenakan kacamata bacanya, sibuk mengoreksi lembar jawaban try out Fisika yang ia buat sendiri khusus untuk Almeera.

Mendengar keluhan istrinya, Akram meletakkan bolpoin merahnya. Ia menoleh, menatap ujung kepala Almeera yang tergeletak pasrah di atas meja. Tangannya terulur, mengelus rambut gadis itu dengan gerakan ritmis yang entah sejak kapan menjadi kebiasaan barunya.

"Bangun, Al. Sisa lima soal lagi," bujuk Akram, suaranya rendah dan serak. "Kalau lo nyerah sekarang, besok pagi gue sita stik drum lo."

Almeera langsung mengangkat kepalanya, mendelik garang dengan rambut yang berantakan seperti singa bangun tidur. "Diktator! Lo itu beneran reinkarnasi guru killer zaman kolonial ya?! Gue udah belajar dari jam tujuh malam!"

"Ini demi nilai 80 lo, Sayang," Akram tersenyum miring, menyebutkan kata panggilan itu dengan sangat mulus hingga membuat perut Almeera kembali bergejolak. "Ayo, kerjain. Soal nomor 15. Jarak titik ke bidang. Kemarin lo udah bisa."

"Nggak mau! Gue butuh reward! Tadi siang lo janji kalau gue nembus KKM di soal latihan, lo bakal beliin gue seblak level dewa!" tuntut Almeera, melipat tangannya di dada.

Akram terkekeh. Ia menarik kertas buram Almeera, menatap lima soal terakhir. "Oke. Kalau lo bisa ngerjain satu soal ini dengan benar dalam waktu lima menit..." Akram menggantung kalimatnya, mencondongkan wajahnya mendekati Almeera, "...gue kasih reward yang lebih enak dari seblak."

Wajah Almeera seketika memanas. Jarak wajah mereka hanya terpaut beberapa inci. Wangi mint maskulin dari tubuh Akram benar-benar merusak konsentrasinya. "R-reward apaan?"

Tanpa menjawab, mata Akram turun menatap bibir Almeera sekilas, lalu kembali menatap matanya dengan kilat jail.

Mata Almeera membelalak sempurna. Ia langsung menarik kertas soalnya dengan panik, menyembunyikan wajahnya yang sudah semerah tomat. "G-GUE KERJAIN SEKARANG! MINGGIR LO!"

Akram tertawa lepas melihat reaksi salah tingkah Almeera. Ia menyandarkan punggungnya di kursi, menikmati pemandangan itu. Menjadi tutor Almeera ternyata tidak menyiksa sama sekali, melainkan menjadi hiburan paling menyenangkan di penghujung harinya.

Tiga menit kemudian, Almeera meletakkan bolpoinnya dengan napas terengah-engah seolah habis lari marathon. "Nih! Selesai! Dan pasti bener!"

Akram mengambil kertas itu, menelitinya sejenak. Angkanya dimasukkan dengan tepat, perhitungannya logis, dan hasil akhirnya sempurna. Ia menatap Almeera dengan senyum bangga. "Seratus. Lo emang pinter kalau lagi kepepet."

"Tuh kan! Mana reward-nya?!" tagih Almeera, menengadahkan tangannya dengan gaya menantang, meski jantungnya berdebar tak karuan menanti apa yang akan dilakukan cowok itu.

Akram menyingkirkan kertas-kertas di antara mereka. Ia menggeser kursinya hingga kakinya mengurung kursi Almeera. Tangannya terangkat, namun tidak menyentuh bibir gadis itu seperti yang ditakutkan (sekaligus diam-diam diharapkan) oleh Almeera.

Sebaliknya, Akram menangkup kedua pipi Almeera dengan telapak tangannya yang besar dan hangat. Ia menunduk, lalu mengecup kening Almeera cukup lama.

Kecupan itu begitu lembut, hangat, dan penuh kasih sayang.

Almeera membeku. Matanya terpejam secara refleks. Sengatan listrik menjalar dari keningnya hingga ke ujung jari kakinya. Seluruh kelelahan belajarnya menguap tanpa sisa.

Saat Akram menarik wajahnya, senyum lembut terukir di bibirnya. "Itu reward-nya. Besok pagi gue beliin seblak level dewa buat sarapan."

Almeera hanya bisa mematung, pipinya memanas hebat. "S-sarapan seblak bikin sakit perut, bego..." cicitnya pelan, merutuki dirinya sendiri yang kehilangan kemampuan untuk marah.

"Ya udah, sarapan nasi goreng buatan gue aja," Akram mengusap puncak kepala Almeera, lalu berdiri membereskan buku-buku. "Tidur gih. Lo udah kerja keras hari ini."

Malam itu, Almeera berbaring di atas ranjang dengan senyum yang tidak bisa luntur dari wajahnya. Jarak di antara mereka di atas kasur kini tidak lagi dipisahkan oleh guling. Saat ia memejamkan mata, lengan Akram perlahan melingkar di pinggangnya, menariknya ke dalam pelukan hangat yang kini menjadi tempat favoritnya di dunia.

Ya, menjadi istri Akram Pradana ternyata sangat, sangat membahagiakan.

Keesokan Harinya. Pukul 08.00 WIB, SMA Bina Bangsa.

Suasana kelas XI IPS 2 pagi itu sedikit berbeda. Guru wali kelas mereka, Bu Nita, masuk lima menit sebelum bel pelajaran pertama berbunyi, diikuti oleh seorang siswa laki-laki yang belum pernah terlihat sebelumnya.

Almeera yang sedang menyalin PR Geografi milik Sophia (karena semalam ia terlalu sibuk belajar Fisika), langsung menghentikan gerakannya.

Seluruh siswi di kelas itu menahan napas.

Cowok yang berdiri di depan kelas itu memiliki aura yang sangat mencolok. Ia mengenakan seragam yang rapi, namun ada kesan rebel yang memancar kuat dari gaya rambutnya yang sedikit gondrong dan berantakan—*messy mullet yang sangat trendi. Matanya tajam namun sayu, dan di telinga kirinya terdapat bekas tindikan yang sengaja disembunyikan di balik rambut. Ia memancarkan aura anak seni yang bebas, tenang, dan cool.

"Anak-anak, mohon perhatiannya sebentar," sapa Bu Nita. "Hari ini kita kedatangan murid pindahan dari Bandung. Devan, silakan perkenalkan dirimu."

Cowok itu memasukkan satu tangan ke saku celana, lalu tersenyum tipis—senyum yang langsung membuat separuh siswi di kelas itu meleleh.

"Halo semuanya. Gue Devan Alvaro. Pindahan dari SMA Taruna Bakti Bandung. Salam kenal, semoga kita bisa temenan baik." Suaranya berat, serak-serak basah, tipe suara vokalis band indie yang sering Almeera dengarkan di Spotify.

"Gila, Al," bisik Sophia sambil menyikut lengan Almeera dengan heboh. "Saingan berat Akram nih. Auranya damage banget. Tipe cowok fiksi dari Wattpad yang hidup di dunia nyata."

Almeera hanya mengangkat bahu, meski matanya tanpa sadar mengamati penampilan cowok itu. Devan mengenakan jaket varsity berwarna navy-putih, dan dari balik kerah seragamnya, menyembul sebuah kalung tali hitam dengan bandul pick gitar.

Pick gitar? Anak band? batin Almeera penasaran.

"Devan, kamu bisa duduk di kursi kosong di barisan ketiga, tepat di belakang Almeera," tunjuk Bu Nita.

Devan mengangguk sopan. Ia melangkah menyusuri lorong antar meja. Saat ia melewati meja Almeera, cowok itu tiba-tiba berhenti. Matanya menangkap totebag kanvas milik Almeera yang tergeletak di samping kursi, menampilkan pin logo band Arctic Monkeys berukuran besar.

"Lo suka Arctic Monkeys?" tanya Devan tiba-tiba, menunduk sedikit menatap Almeera.

Almeera mendongak, sedikit terkejut karena tiba-tiba diajak bicara. Jarak sedekat ini membuat Almeera bisa mencium aroma parfum cowok itu—campuran kopi hitam, vanilla, dan buku lama. Wangi yang sangat... menenangkan.

"Eh? Iya. Suka banget dari SMP," jawab Almeera canggung.

Devan tersenyum lebih lebar, matanya berbinar tertarik. "Album AM atau Favourite Worst Nightmare?"

"AM, jelas," balas Almeera cepat, insting musiknya otomatis menjawab. "Do I Wanna Know? itu masterpiece."

"Selera lo bagus," Devan mengedipkan sebelah matanya dengan santai, tanpa terlihat menggoda atau mencari perhatian, murni memuji. "Gue Devan." Ia mengulurkan tangannya.

"Almeera," jawab Almeera menyambut uluran tangan itu sekilas.

"Gue bakal sering nanya PR ke lo, Almeera. Jangan pelit-pelit ya," kekeh Devan sebelum akhirnya berjalan ke kursi di belakang Almeera.

Sophia di sebelah Almeera sudah menahan napas sejak tadi. "Al, demi kerang ajaib... dia tipe lo banget! Anak seni, musisi, selera musik sama, dan auranya bebas! Ini mah versi upgrade-nya Kak Reyhan!"

Almeera buru-buru memukul lengan Sophia di bawah meja. "Diem lo! Gue udah punya pawang kalau lo lupa!"

"Oh iya, lupa gue kalau lo udah dihak patenkan sama Ketos tiran itu," Sophia terkikik geli. "Tapi awas aja, insting gue bilang cowok baru ini bakal bikin pawang lo itu kebakaran jenggot."

Pukul 12.00 WIB, Kantin Sekolah.

Almeera, Sophia, dan anak-anak NOISE sedang duduk di meja kebesaran mereka. Jam istirahat selalu menjadi momen di mana band kebanggaan sekolah itu berkumpul membahas aransemen atau sekadar menggosip.

"Nin, keyboardist tambahan buat manggung di pensi luar bulan depan udah dapet belum?" tanya Darren sambil menyantap siomaynya.

Nino menggeleng lemas. "Belum, Ren. Anak-anak ekskul musik pada sibuk semua. Susah nyari yang feel-nya cocok sama musik rock alternatif kita."

"Gue bisa main keyboard. Butuh audisi kapan?"

Sebuah suara bariton yang berat tiba-tiba menyela pembicaraan mereka. Seluruh anggota NOISE menoleh.

Devan berdiri di ujung meja sambil memegang nampan makanannya. Jaket varsity-nya disampirkan di bahu, gaya khas anak cowok populer. Ia menatap ke arah Nino dengan wajah santai, seolah ia sudah berteman dengan mereka selama setahun.

"Eh? Lo anak baru yang tadi pagi itu kan?" tanya Nino sedikit kaget. "Lo bisa main keyboard? Genre apa?"

"Gue di Bandung pegang keyboard sekaligus synthesizer buat band rock indie sekolah gue," jawab Devan. Matanya beralih menatap Almeera yang sedang mengunyah batagor, lalu ia tersenyum. "Boleh gabung duduk? Meja lain udah penuh."

"Boleh, boleh! Duduk sini, Bro!" Nino yang terlalu antusias dengan prospek mendapat keyboardist baru langsung menggeser kursinya. Devan duduk tepat berhadapan dengan Almeera.

Obrolan mengalir begitu saja. Devan ternyata sangat nyambung diajak bicara soal musik. Referensinya luas, dari classic rock hingga britpop. Hanya dalam waktu sepuluh menit, cowok itu berhasil berbaur dengan anak-anak NOISE.

"Gila, chord progression yang lo usulin tadi jenius sih, Dev," puji Darren yang biasanya sangat rasional dan jarang memuji orang. "Nanti sore pulang sekolah kita langsung jamming di ruang band ya, sekalian audisi."

"Boleh," Devan mengangguk, lalu menopang dagunya menatap Almeera. "Lo pegang drum, kan, Al? Gue denger ketukan lo di YouTube. Cukup brutal buat ukuran cewek. I like it."

Pujian terang-terangan itu membuat anak-anak NOISE saling pandang. Baim berdeham keras, sementara Nino pura-pura sibuk mengaduk es tehnya. Sophia di sebelah Almeera sudah menendang kaki sahabatnya itu di bawah meja.

Almeera tersenyum kaku. "T-thanks. Tapi chord buatan lo juga keren kok."

Devan memajukan wajahnya sedikit, menatap Almeera dengan intensitas yang tenang namun memikat. "Gimana kalau nanti sore habis audisi, kita..."

Kalimat Devan terpotong di udara.

Suasana kantin yang tadinya riuh, tiba-tiba mengalami pergeseran suhu secara drastis.

Dari arah pintu masuk kantin, Akram berjalan membelah kerumunan. Seragamnya rapi seperti biasa, namun auranya hari ini seratus kali lebih mengintimidasi. Matanya yang tajam bak elang langsung mengunci target: meja anak-anak NOISE, dan tepatnya, sosok cowok asing yang sedang mencondongkan tubuh ke arah istrinya.

Bastian yang berjalan di belakang Akram sudah memijat pelipisnya. Baru juga kelar urusan sama Kak Reyhan, sekarang muncul lagi spesies baru, batin Bastian meratap.

Langkah kaki Akram berhenti tepat di belakang kursi Almeera. Tanpa berkata apa-apa, tangan besar Akram bertumpu di sandaran kursi gadis itu, sangat posesif. Ia menundukkan wajahnya, aroma mint dan musk maskulin langsung mengusir aroma kopi milik Devan di penciuman Almeera.

"Makanannya dihabisin, Al," suara bariton Akram terdengar lembut namun penuh penekanan di setiap suku katanya. Ia lalu mendongak, menatap lurus ke arah Devan dengan tatapan sedingin es kutub utara. "Siapa?"

Nino buru-buru menengahi sebelum perang dunia ketiga meletus di kantin. "E-eh, Kram! Kenalin, ini Devan. Anak baru di kelas Almeera. Dia calon keyboardist tambahan buat band kita."

Akram memicingkan matanya. Ia menatap Devan dari atas ke bawah, menilai rival barunya. Dan insting Ketua OSIS-nya langsung membunyikan alarm bahaya. Berbeda dengan Reyhan yang cenderung arogan dan tengil, cowok bernama Devan ini memancarkan ketenangan yang lebih berbahaya. Tipe cowok cool yang tidak peduli pada aturan, persis seperti kriteria idaman Almeera sejak dulu.

Devan tidak terlihat terintimidasi sedikit pun oleh tatapan mematikan sang Ketua OSIS. Ia justru menyandarkan punggungnya ke kursi, membalas tatapan Akram dengan senyum tipis yang sarat akan tantangan.

"Lo pasti Akram. Ketua OSIS yang lagi ramai digosipin itu, kan?" sapa Devan santai.

"Bukan gosip. Fakta," jawab Akram mutlak, tangannya secara natural turun dari sandaran kursi dan beralih mengusap puncak kepala Almeera, memberikan pesan visual yang sangat jelas: Dia milik gue.

Beberapa siswi di meja sekitar yang melihat gerakan romantis Akram itu langsung memekik tertahan.

Namun, Devan justru tertawa pelan. Tawanya terdengar meremehkan. "Fakta, ya? Menarik."

Devan mengalihkan pandangannya dari Akram, kembali menatap Almeera yang kini sedang menunduk kaku seperti patung batu.

"Al," panggil Devan dengan suara seraknya, mengabaikan eksistensi Akram sepenuhnya. "Seperti yang mau gue bilang tadi. Habis audisi nanti sore, gue traktir lo es krim matcha di depan sekolah sekalian bahas beat drum. Kosong, kan?"

Hening yang mencekam langsung jatuh menyelimuti meja itu. Sophia menutup mulutnya dengan kedua tangan. Darren dan Baim menelan ludah serempak.

Berani-beraninya anak baru ini mengajak kencan 'pacar' Ketua OSIS, tepat di depan wajah Ketua OSIS itu sendiri!

Urat di pelipis Akram berkedut. Cengkeraman tangannya di bahu Almeera mengencang. "Dia nggak kosong."

"Gue nanya ke Almeera, bukan ke elo, Ketos," balas Devan dengan nada luar biasa santai, matanya memancarkan provokasi murni. "Gimana, Al? Lo kan pegang drum, masa hidup lo diatur-atur kayak robot OSIS?"

Kalimat itu menohok ego kebebasan Almeera.

Di satu sisi, Almeera sangat ingin membahas musik dengan musisi sehebat Devan. Di sisi lain, aura membunuh dari arah belakangnya sudah terasa membakar tengkuknya.

Akram menunduk, bibirnya nyaris menyentuh telinga Almeera. "Jawab, Sayang," bisik Akram sangat pelan. Suaranya terdengar lembut, namun ada ancaman mengerikan di baliknya. "Kasih tahu dia, jadwal lo sepulang sekolah itu punya siapa."

Almeera memejamkan mata, merutuki nasibnya yang selalu terjebak di antara cowok-cowok dominan. Ia menarik napas panjang, lalu mendongak menatap Devan dengan tatapan meminta maaf.

"S-sori, Dev. Gue nggak bisa," jawab Almeera akhirnya, meruntuhkan harapan Devan dan menyelamatkan nyawa anak baru itu dari amukan sang tiran. "Habis sekolah, gue harus... belajar. Gue ada janji belajar Fisika sama Akram."

Jawaban itu membuat senyum kemenangan yang sangat arogan terbit di bibir Akram. Ia menegakkan tubuhnya, menatap Devan dengan pandangan merendahkan.

"Lo dengar sendiri, kan? Dia sibuk," ucap Akram dingin. Ia menepuk bahu Almeera pelan. "Lima menit lagi bel. Habiskan sotonya, Al. Nanti sore gue tunggu di parkiran."

Tanpa mempedulikan balasan dari siapa pun, Akram berbalik dan berjalan pergi bersama Bastian, meninggalkan aura ketegangan yang masih menguar di udara.

Devan menatap punggung Akram yang menjauh, lalu beralih menatap Almeera yang sedang menghela napas lega. Bukannya mundur, senyum di bibir Devan justru semakin lebar.

"Protektif banget ya pacar lo, Al," komentar Devan santai, mengaduk minumannya. "Tapi tenang aja. UTS kan bentar lagi kelar. Setelah itu, lo pasti punya banyak waktu luang buat gue, kan?"

Sophia menyenggol lengan Almeera dengan brutal. Perang dunia ketiga beneran is coming, Al! isyarat mata Sophia berbicara.

Almeera hanya bisa memijat keningnya yang mulai berdenyut nyeri. Lulus dengan nilai 80 di UTS Fisika saja sudah seperti mission impossible, kini ia harus menghadapi cowok baru yang terang-terangan mengibarkan bendera perang pada suaminya yang luar biasa posesif.

Masa SMA Almeera Azzahra benar-benar jauh dari kata tenang.

1
Sri Musdalefi
dasar orang tua ngak punya otak...
Khusnul Khotimah
bukannya Shofia sudah tahu yah rahasia pernikahan waktu ngasih sufres ke apartemennya.
ini kok baru tahu apa kakak salah tulis atau lupa .maaf ya kak cuma mengingatkan kan saja
Aidil Kenzie Zie
sampai jumpa di cerita selanjutnya thor 🥰🥰💓💓💓
Aidil Kenzie Zie
bukannya Shopia udah tau y tor pas bab21 apa pura-pura aja🤔🤔🤔tapi kok histeris gitu
Khusnul Khotimah: iya di baba 21 kan udah tahu shopia
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
Astaga ini orang tuanya kok ndk ngerti posisi anaknya masih sekolah sich 😡😡
Aidil Kenzie Zie
udah mau lulus ternyata 🤭🤭🤭 kirain masih kls 2🤣🤣🤣
Aidil Kenzie Zie
nggak usah mikir kariernya Al takutnya kalian di DO dari sekolah gara-gara nikah masih sekolah 😭😭😭tapi kalo pake kekuasaan papanya Akram mungkin masih lolos 🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
Al terima aja perlakuan Akram disekolah toh wajarlah dia kan suami kamu 🤣🤣🥰🥰
Murni Dewita
👣
Aidil Kenzie Zie
bukannya begitu mereka masuk pintu dikunci?kok datang oma bilangnya nggak dikunci apa pake remote y tor🤔🤔🤔🤔
Aidil Kenzie Zie
penasaran itu si Devan emang siswa murni pindahan atau ada campur tangan Heera🤔🤔
Emi Sudiarni
kren kak critanya
Aidil Kenzie Zie
jangan sampai Akram nekat unboxing kamu Al gara-gara cemburu 🥰🥰🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
Heera cari mati 😡😡😡
apa nggak bisa pakai kekuasaan papanya Akram untuk ditoleransi oleh Kepsek tentang hubungan mereka 🤔🤔
Aidil Kenzie Zie
jujur Al
lily
cerita yang menarik semoga sampai tamat
Aidil Kenzie Zie
lha si Mak mak nggak paham apa kalo anak sekolah belum boleh nikah kecuali kuliah nggak mungkinkan ngaku kalo mereka suami istri 🤦🏻🤦🏻🤦🏻🤦🏻
Aidil Kenzie Zie
kok Shopia tau tentang Riwayat Bluetooth di Apartemennya mereka 🤔🤔kan dia bukan anak Osis🤔🤔🤔
Enz99
bagus
Aidil Kenzie Zie
kok bisa Shopia masuk ke apartemen mereka 🤔🤔
Moora: Jawabannya ada di bab selanjutnya 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!