NovelToon NovelToon
DEWA ABSOLUT BANGKIT DI PONTIANAK

DEWA ABSOLUT BANGKIT DI PONTIANAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem
Popularitas:715
Nilai: 5
Nama Author: Arrofy

Raka Pratama hanyalah pemuda yatim piatu dari Pontianak yang terbiasa diremehkan oleh dunia.
Namun pada malam ketika darahnya menetes di tepi Sungai Kapuas, langit Pontianak retak, para dewa terbangun, dan sebuah suara agung menyatu dengan jiwanya.
[Sistem Dewa Absolut aktif.]
[Selamat datang kembali, Tuan.]
Sejak malam itu, Raka bukan lagi manusia biasa.
Makhluk asing dari Dunia Immortal mulai turun ke Pontianak. Para kultivator menyusup ke kota. Keluarga-keluarga besar diam-diam bekerja sama dengan mereka demi kekuasaan.
Mereka semua mengira Raka menyimpan pusaka dewa.
Padahal yang bangkit dalam tubuhnya bukan pusaka.
Melainkan pemilik takhta yang dulu membuat para dewa berlutut.
Pontianak pun berubah menjadi medan perang antar dunia.
Dan Raka Pratama… adalah pusat dari kebangkitan itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7

Pagi datang ke Pontianak dengan langit yang masih menyimpan sisa mendung.

Cahaya matahari menembus tipis dari balik awan, jatuh ke jalanan basah, atap rumah, dan genangan air yang tertinggal di sudut-sudut gang. Suara motor mulai ramai. Pedagang membuka lapak. Orang-orang berangkat bekerja. Kota kembali bergerak seperti tidak ada apa pun yang berubah.

Tapi bagi Raka Pratama, semuanya sudah berbeda.

Ia berdiri di depan cermin kecil di kamar kontrakannya.

Kamar itu sempit. Dindingnya lembap di beberapa bagian. Kasur tipis tergeletak di sudut ruangan. Di dekat jendela, ada meja kecil dengan gelas bekas kopi semalam, beberapa pakaian yang belum sempat dilipat, dan sebuah kipas angin tua yang kadang berputar, kadang berhenti sendiri.

Biasanya, pagi seperti ini hanya berarti satu hal bagi Raka.

Bangun. Mencari kerja. Bertahan hidup.

Namun pagi ini, ia hanya berdiri diam menatap pantulan dirinya.

Wajahnya bersih dari luka.

Tidak ada lebam.

Tidak ada darah kering.

Tidak ada bekas pukulan.

Padahal ia masih ingat jelas tubuhnya dihajar sampai hampir mati di tepi Sungai Kapuas. Ia masih ingat rasa sakit di tulang rusuknya. Ia masih ingat napasnya yang nyaris putus.

Tapi sekarang, semua itu hilang.

Seolah tidak pernah terjadi.

Raka mengangkat tangannya dan menyentuh sudut bibirnya. Kulitnya mulus. Tidak ada luka.

“Ini tidak masuk akal,” gumamnya.

Suara wanita itu terdengar di dalam jiwanya.

[Logika manusia tidak cukup untuk menjelaskan penyatuan takhta.]

Raka memejamkan mata sebentar.

Ia masih belum terbiasa.

Setiap kali suara itu muncul, dadanya terasa seperti disentuh sesuatu yang dingin dan agung. Bukan menyeramkan seperti Hei Yan yang belum ia temui, bukan pula hangat seperti nasihat Pak Harun. Suara itu punya wibawa yang membuat Raka merasa dirinya sedang berbicara dengan sesuatu yang berdiri sangat jauh di atas manusia.

Raka membuka mata kembali.

“Jadi kau benar-benar sistem?”

[Benar.]

“Sistem seperti di cerita-cerita itu?”

[Tidak.]

Raka mengerutkan kening.

Ia menarik kursi plastik kecil dan duduk menghadap cermin. Di luar jendela, suara anak-anak kecil lewat sambil tertawa. Ada suara ibu-ibu memanggil tukang sayur. Ada bunyi klakson motor. Semua terdengar biasa, tetapi telinga Raka menangkapnya terlalu jelas.

Terlalu tajam.

Ia bisa mendengar percakapan orang di depan gang meski jaraknya cukup jauh. Ia bisa mendengar tetesan air dari talang rumah sebelah. Ia bahkan bisa mendengar detak jantungnya sendiri, pelan dan stabil.

Raka menekan pelipisnya.

“Kau bilang sistem, tapi tidak ada layar? Tidak ada pilihan? Tidak ada... apa itu... status?”

Beberapa detik hening.

Lalu sistem menjawab dengan nada yang terdengar hampir seperti meremehkan.

[Tuan membutuhkan angka untuk memahami diri sendiri?]

Raka terdiam.

Kalimat itu membuatnya sedikit tersinggung, tapi ia tidak bisa membantah sepenuhnya.

“Aku hanya ingin tahu apa yang terjadi padaku.”

[Yang terjadi adalah penyatuan awal.]

[Segel pertama telah runtuh.]

[Tubuh Tuan mulai menyesuaikan diri dengan otoritas lama.]

“Otoritas lama?”

[Kekuatan yang pernah menjadi milik Tuan.]

Raka menatap pantulan dirinya lagi.

Di cermin, ia masih melihat pemuda biasa. Rambut hitam berantakan. Wajah sedikit lelah. Mata yang tampak lebih tajam dari sebelumnya. Tidak ada mahkota. Tidak ada sayap. Tidak ada tanda bahwa ia adalah sesuatu yang disebut sistem sebagai Dewa Absolut.

Ia menarik napas panjang.

“Kalau begitu apa yang harus kulakukan?”

Tidak ada jawaban langsung.

Raka menunggu.

Satu detik.

Dua detik.

Lima detik.

Sistem tetap diam.

Raka mengerutkan kening. “Hei.”

[Aku mendengar.]

“Kenapa diam?”

[Karena pertanyaan Tuan keliru.]

Raka menahan napas, mencoba bersabar.

“Keliru bagaimana?”

[Tuan bertanya seolah menunggu perintah.]

[Tuan bukan prajurit.]

[Tuan bukan murid sekte.]

[Tuan bukan pemain dalam permainan kecil manusia.]

Raka diam.

Suara sistem terdengar lebih dalam.

[Tuan tidak membutuhkan misi.]

[Tuan tidak membutuhkan poin.]

[Tuan tidak membutuhkan hadiah dari siapa pun.]

Raka perlahan menurunkan tangannya dari pelipis.

[Sistem Dewa Absolut tidak diciptakan untuk menyuruh Tuan mengejar angka.]

[Sistem ini diciptakan untuk membimbing kepulangan Tuan.]

Kamar kecil itu terasa hening.

Raka menatap lantai.

Sejak tadi, sebagian dirinya memang menunggu sesuatu. Mungkin perintah. Mungkin aturan. Mungkin penjelasan sederhana yang membuat semua ini terasa lebih mudah dipahami.

Jika ada misi, ia tinggal menjalankannya.

Jika ada poin, ia tinggal mengumpulkannya.

Jika ada level, ia tinggal menaikkannya.

Tapi sistem ini tidak seperti itu.

Tidak ada angka yang bisa ia hitung.

Tidak ada tugas yang bisa ia jadikan pegangan.

Hanya suara agung yang terus memanggilnya Tuan dan mengatakan bahwa ia sedang pulang kepada sesuatu yang bahkan tidak ia ingat.

“Lalu bagaimana kekuatanku terbuka?” tanya Raka pelan.

[Kekuatan Tuan tidak diberikan.]

[Kekuatan Tuan dibangunkan.]

“Apa bedanya?”

[Pemberian bisa dicabut.]

[Ingatan hanya perlu dipulihkan.]

Raka terdiam.

Sistem melanjutkan.

[Setiap segel akan merespons keadaan tertentu.]

[Darah.]

[Kehendak.]

[Amarah.]

[Perlindungan.]

[Penghakiman.]

[Dan ingatan yang belum mampu ditanggung tubuh manusia ini.]

Raka mengangkat wajah.

“Jadi kalau aku marah, kekuatanku terbuka?”

[Tidak semua amarah layak menjawab takhta.]

“Kalau aku dalam bahaya?”

[Tidak semua bahaya pantas mengganggu tidur kekuatan Tuan.]

“Kalau begitu apa ukurannya?”

[Kehendak.]

Raka mengulang kata itu dalam hati.

Kehendak.

Sistem berbicara lebih pelan.

[Saat Tuan benar-benar ingin melindungi, menghukum, menolak, atau memanggil sesuatu dari dalam jiwa Tuan, segel akan merespons.]

[Semakin kuat kehendak Tuan, semakin dalam takhta mengingat pemiliknya.]

Raka memandang kedua telapak tangannya.

Ia teringat tadi malam.

1
Alia Chans
keren banget plisss😖
Rayzent
menarik nih, lagi gabut 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!