NovelToon NovelToon
Ponsel Dewa Si Reno

Ponsel Dewa Si Reno

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Komedi / Romansa
Popularitas:299
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Berbekal ponsel hitam tanpa merek dengan AI yang sangat sarkastis, Reno mendadak menjadi peretas paling dicari oleh komplotan mafia teknologi. Di tengah pelarian yang menegangkan, Reno tidak hanya harus menghindari peluru, tetapi juga harus menahan malu karena asisten digital di ponselnya yang justru sering menjebaknya dalam situasi paling absurd

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: Merusak Suasana Romantis

​Langkah angkuh Dika bergema mendominasi seluruh penjuru ruang utama Kafe Senja Syahdu.

​Pemuda kaya raya itu membusungkan dadanya dengan penuh rasa bangga yang teramat sangat.

​Setelan jas putihnya terlihat sangat rapi tanpa ada satu pun lipatan kain yang berantakan di tubuhnya.

​Lima orang musisi sewaan di belakangnya terus menggesek senar biola mereka tanpa henti.

​Melodi instrumen klasik itu terdengar luar biasa nyaring mengalahkan musik latar kafe tersebut.

​Para pengunjung lain terpaksa menghentikan aktivitas makan mereka demi menonton pertunjukan mendadak yang sangat mengganggu ini.

​Dika sama sekali tidak memedulikan puluhan pasang mata yang menatap sinis ke arah rombongan kecilnya.

​Fokus utama matanya hanya tertuju lurus pada meja sudut tempat Luna sedang duduk menyendiri bersama Reno.

​Senyum arogan langsung tersungging di bibirnya saat melihat kehadiran musuh bebuyutannya di meja yang sama.

​Ia mempercepat langkah kakinya mendekati meja kayu jati tersebut dengan gaya berjalan seorang pemenang.

​"Sungguh sebuah kejutan besar melihat mahasiswa abadi sepertimu mampu membayar segelas air putih di tempat semahal ini."

​Dika meletakkan kedua telapak tangannya di atas tepian meja dengan gerakan yang sengaja dibuat sangat mengintimidasi.

​Matanya menatap rendah ke arah kemeja kasual Reno yang warnanya sudah memudar termakan usia.

​Reno mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di bawah meja, berusaha keras menahan amarah yang mulai memuncak menuju ubun-ubun.

​{Orang sombong ini benar-benar tahu cara menghancurkan suasana hati seseorang hanya dengan satu tarikan napas pendek.}

​"Aku sedang menemani Luna menyelesaikan tugas pemrograman penting yang tidak akan mungkin bisa dipahami oleh otak cetek sepertimu."

​Reno membalas sindiran itu dengan nada suara datar namun memiliki penekanan suku kata yang sangat tajam.

​Dika hanya mendengus meremehkan, lalu segera memutar posisi tubuhnya untuk menghadap langsung ke arah Luna.

​Ekspresi wajah pemuda itu berubah drastis menjadi luar biasa lembut dalam hitungan detik.

​"Luna, aku sengaja menyewa kelompok musisi ini khusus untuk merayakan selesainya tugas beratmu pada hari ini."

​Dika menjentikkan jari kanannya ke udara dengan sebuah gaya teatrikal murahan yang sangat menyebalkan untuk dilihat.

​Kelima pemain biola itu langsung mengubah melodi lagu menjadi sebuah komposisi musik klasik bernuansa romantis.

​Suara gesekan senar biola yang berlebihan itu mendadak mendominasi telinga setiap orang di dalam ruangan.

​Luna memijat pangkal hidungnya perlahan, menunjukkan raut wajah yang sangat tidak nyaman dengan kejutan norak tersebut.

​"Kamu benar-benar tidak perlu melakukan hal berlebihan seperti ini di tengah tempat umum."

​Gadis bergaun biru dongker itu mencoba menghentikan aksi konyol Dika dengan sebuah kalimat penolakan yang sangat halus.

​Dika mengabaikan peringatan tersebut dan justru mulai merogoh saku bagian dalam jas putih mewahnya perlahan.

​||||

​Ponsel hitam X-Phreak 9000 di dalam saku Reno kembali memberikan sebuah getaran mekanik yang sangat menyengat paha.

​Reno buru-buru menarik perangkat tersebut secara diam-diam, lalu menyembunyikannya secara aman di bawah permukaan meja kayu.

​Layar gelap ponsel itu mendadak hidup menampilkan deretan teks biru yang bergulir sangat cepat tanpa ampun.

​Reno menatap antarmuka layar tersebut dengan ujung ibu jari yang sudah bersiaga penuh menekan tombol virtual.

​"Hancurkan harga dirinya sampai ke akar-akarnya tanpa melukai siapa pun di dalam ruangan ini."

​Reno mengetikkan perintah balasannya dengan kecepatan penuh menggunakan pergerakan lincah dari kedua ibu jarinya.

​Sebuah antarmuka canggih berupa cetak biru bangunan kafe langsung terpampang melayang secara holografis di atas layar ponsel.

​Jaringan pipa air yang berada di balik langit-langit kafe tergambar sangat jelas dengan garis-garis pemetaan berwarna hijau neon.

​Reno memiringkan bodi ponselnya perlahan, mengintip dari celah lengannya agar kamera belakang mengarah lurus ke arah plafon kafe.

​Sebuah kotak kuning digital muncul merespons pergerakan itu, lalu mengunci perangkat penyiram otomatis yang terpasang tepat di atas posisi Dika berdiri.

​Reno segera menggambar sebuah pola lingkaran virtual yang melingkupi posisi meja sudut mereka di atas antarmuka layar sentuh.

​"Kunci area meja ini sebagai zona aman mutlak, lalu lepaskan seluruh tekanan air ke arah rombongan sirkus dadakan itu."

​Ia menekan tombol eksekusi berwarna merah yang berkedip menantang di tengah layar sentuhnya dengan gerakan sangat mantap.

​||||

​Suara desisan mekanik yang sangat keras seketika terdengar menggema dari arah celah perangkat pemadam di langit-langit kafe.

​Dika menghentikan gerakan tangannya yang baru saja mengeluarkan sebuah kotak perhiasan kecil berlapis beludru dari dalam sakunya.

​Pemuda pewaris harta itu mendongak ke atas dengan kening berkerut dalam mencari sumber gangguan suara aneh tersebut.

​Belum sempat otaknya mencerna keberadaan lubang sprinkler, ribuan galon air mendadak menyembur deras layaknya air terjun dadakan.

​Pancaran air berkekuatan tinggi itu meluncur bebas menghantam lantai kafe dengan suara gemuruh yang memekakkan telinga siapa saja.

​Dika menerima guyuran air terhebat tepat di atas kepalanya, merusak total gaya rambut yang sudah disisir rapi menggunakan pomade mahal.

​Setelan jas putihnya langsung basah kuyup seketika, menempel ketat secara memalukan pada lekuk tubuhnya yang mulai menggigil kedinginan.

​Kelima pemain biola di belakangnya berteriak panik secara serentak melihat instrumen bernilai fantastis mereka tersiram semburan air deras.

​Melodi romantis yang sedari tadi mengalun merdu langsung berubah menjadi bunyi decitan sumbang yang sangat menyakiti gendang telinga.

​Para musisi bayaran itu berlarian kocar-kacir membubarkan diri tanpa memedulikan sisa kontrak kerja mereka dengan Dika hari ini.

​Mereka berlomba-lomba mencari tempat berteduh di sudut ruangan lain sambil memeluk biola basah masing-masing dengan wajah pucat pasi.

​Dika berdiri mematung kaku di tengah guyuran hujan buatan, matanya membelalak lebar melihat kotak perhiasan di tangannya kini terendam genangan air.

​Kemeja bagian dalamnya mulai menjiplak jelas menembus bahan jas putih yang kini berubah menjadi tembus pandang akibat penyerapan air masif.

​Beberapa pengunjung kafe yang duduk cukup jauh mulai tertawa terbahak-bahak melihat penderitaan konyol pemuda arogan tersebut.

​Tampilan Dika saat ini benar-benar terlihat persis seperti seekor kucing malang yang baru saja tercebur ke dalam selokan kota.

​Ia menutupi separuh wajahnya menggunakan kedua telapak tangan, berusaha menyembunyikan rasa malu yang luar biasa menghancurkan sisa harga dirinya.

​Langkah kakinya terseret mundur dengan gerakan yang sangat canggung, perlahan menjauhi meja sudut tersebut tanpa berani menatap wajah Luna sedikit pun.

​Pemuda malang itu akhirnya berlari ke luar kafe menerobos pintu kaca otomatis, meninggalkan seluruh rencana romantis gilanya yang berakhir hancur berantakan.

​Reno tersenyum puas di balik telapak tangannya yang sengaja bertumpu menutupi bibir, menikmati pemandangan komedi fisik paling menghibur sepanjang sejarah hidupnya.

​Teks konfirmasi dari Siri-usly kembali bergulir di layar ponsel, memberikan kepuasan ekstra bagi ego maskulin Reno yang sedari tadi tertekan.

​||||

​Suara gemuruh air dari langit-langit akhirnya perlahan mereda hingga menyisakan tetesan kecil yang berhenti sepenuhnya dalam waktu kurang dari satu menit.

​Genangan air membanjiri lantai kayu jati di sekitar area pertunjukan tadi, meninggalkan jejak kekacauan yang sangat masif bagi kebersihan kafe.

​Beberapa pelayan kafe berlarian membawa kain pel raksasa dengan wajah kebingungan, berusaha segera membersihkan sisa-sisa bencana hidrolik mendadak tersebut.

​Namun, sebuah keanehan geometris yang sangat tidak wajar terjadi tepat di tengah area yang baru saja dilanda badai air buatan itu.

​Meja sudut tempat Reno dan Luna duduk terbukti benar-benar kering kerontang tanpa ada satu tetes air pun yang menodai permukaannya.

​Layar laptop Luna masih menyala terang menampilkan kode pemrograman dengan aman, sementara pakaian mereka berdua sama sekali tidak tersentuh partikel air basah.

​Sistem peretasan canggih Reno telah berhasil menciptakan sebuah kubah perlindungan digital yang mengatur sudut semprotan air sprinkler secara luar biasa presisi.

​Reno perlahan memasukkan ponsel hitamnya kembali ke dalam saku celana jins, berusaha memasang raut wajah sepolos mungkin menghadapi situasi ajaib ini.

​Ia menatap Luna yang saat ini sedang memperhatikan lantai basah di sekeliling meja mereka dengan mata yang sedikit menyipit.

​Gadis berprestasi itu mengedarkan pandangannya ke arah sisa-sisa air yang menetes dari pinggiran meja terdekat, lalu kembali menatap tajam ke arah Reno.

​Otak cerdas Luna mulai merangkai kepingan-kepingan logika dari serangkaian kejadian mustahil yang entah mengapa selalu melibatkan pemuda berkemeja kotak ini.

​Kedua tangannya perlahan bertumpu menekan tepian meja, mencondongkan tubuh langsingnya ke depan untuk mendekatkan jarak pandang antara mereka berdua.

​"Ini adalah insiden malfungsi mesin mekanik yang sangat aneh sekaligus terlalu kebetulan untuk ukuran standar keamanan sebuah kafe semewah ini."

​Luna memulai kalimat interogasinya dengan nada bicara yang sangat pelan namun sarat akan tingkat kecurigaan analitis yang tinggi.

​Reno menelan ludah kasarnya dalam satu gerakan susah payah, jantungnya kembali berdetak dengan ritme tidak wajar menyadari posisinya kini sedang terancam hebat.

​{Gadis ini terlalu cerdas untuk bisa dikelabui dengan alasan keberuntungan semata, aku harus segera mencari alibi darurat yang sangat masuk akal sekarang juga.}

​Luna memiringkan kepalanya sedikit ke sebelah kiri, mengamati wajah Reno yang mulai terlihat memucat dan salah tingkah menghadapi pertanyaan tajamnya.

​"Dari sekian banyak luas meja yang ada di area ini, kenapa semburan air dari atap tadi membentuk pola lingkaran sempurna yang sengaja menghindari area tempat duduk kita?"

​Gadis idaman jutaan umat itu menyilangkan kedua lengannya di depan dada, menuntut sebuah penjelasan logis yang sama sekali tidak bisa dihindari oleh logika.

​"Kamu... kok bisa tahu airnya nggak akan menyiram kita saat kamu sama sekali tidak berusaha beranjak kabur dari kursimu tadi?"

1
M Amir
kurang greget aghhh
Khusus Game: gigit...kurang gereget mah.
total 1 replies
Aisyah Suyuti
good
Dragonovic#
let's gooooo
semoga happy ending thor jangan bad ending im already tired for bad ending
Khusus Game: siappp. Abang first komen, LANGSUNG SAJA, ACC.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!