NovelToon NovelToon
Ramuan Ajaib: Bangkitnya Bumi

Ramuan Ajaib: Bangkitnya Bumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Diusir dari desa karena fitnah kemiskinan, Bumi terdampar di kerasnya ibu kota sebagai kuli panggul pasar yang kerap. Satu-satunya alasan ia bertahan hidup adalah Alya, gadis sederhana yang tulus merawat luka-lukanya.

Nasib Bumi berubah total setelah ia di beri ramuan ajaib oleh kakek misterius yang membuat perubahan pada tubuh dan otaknya. Terbangun dengan kecerdasan mutlak sekelas superkomputer, Bumi bertransformasi menjadi The Ghost Trader—raja saham baru yang ditakuti di dunia bisnis. Ia bahkan berhasil menyelamatkan perusahaan milik Kirei, seorang CEO wanita dingin yang akhirnya jatuh hati pada harga diri Bumi.

Namun, berdiri di puncak takhta berarti mengundang badai. Adrian, konglomerat kejam sekaligus rival asmaranya, siap menghancurkan Bumi lewat sabotase berdarah. Di tengah perang bisnis yang mematikan, hati Bumi juga terkoyak dalam dilema pelik antara ketulusan Alya dari masa lalunya, atau pengorbanan Kirei yang mempertaruhkan nyawa demi masa depannya.

Mampukah mantan ku

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23. Modal Sendiri

Keesokan harinya, suasana di koridor kosan Mak Surti terasa agak lengang sejak pagi. Bumi terbangun dengan kondisi tubuh yang luar biasa bugar. Hari ini, ia tidak memiliki jadwal untuk bertemu dengan Dika maupun Alya. Sejak subuh tadi, Alya sudah mengirimkan pesan singkat ke handphone baru Bumi, mengabarkan bahwa jadwal kuliahnya dan Dika sangat padat dari pagi sampai menjelang sore, sehingga mereka tidak bisa mengadakan sesi belajar kelompok seperti biasanya.

Bumi duduk bersila di atas kasur busa tipisnya. Kamar kos petak yang sempit itu tampak sunyi, hanya diterangi seberkas cahaya matahari pagi yang menerobos masuk dari celah ventilasi di atas pintu triplek. Di genggamannya, handphone android baru berwarna hitam legam sudah menyala. Layarnya menampilkan aplikasi trading saham yang proses registrasi akunnya telah diselesaikan Bumi tadi malam dengan sangat lancar.

Bumi membuka menu portofolio dan menatap saldo modalnya. Sisa uang tunai dari amplop cokelat pemberian Dika setelah dipotong harga beli handphone kemarin telah ia setorkan seluruhnya ke rekening dana nasabah. Jumlahnya tertera rapi di layar ponsel.

"Uang modal sendiri udah siap," gumam Bumi pada diri sendiri, matanya menatap tajam ke arah pergerakan angka-angka yang mulai berkedip dinamis seiring dibukanya jam perdagangan pasar modal tepat pukul sembilan pagi.

Otak supernya yang telah menguasai seluruh ilmu analisis fundamental dan teknikal tingkat tinggi langsung bekerja dengan kecepatan penuh. Bumi mulai memindai daftar emiten saham satu per satu. Indranya yang tajam dan fokusnya yang mutlak membuat deretan grafik lilin (candlestick) dan volume perdagangan yang rumit itu terbaca seperti buku cerita anak-anak di matanya. Ia menyaring informasi pasar, menganalisis sentimen berita global, hingga menghitung probabilitas pergerakan bandar dalam hitungan detik.

"Emiten sektor infrastruktur ini polanya lagi akumulasi. Terus yang sektor konsumsi ini kayaknya bakal koreksi dulu," analisis Bumi secara mandiri, jarinya bergerak lincah menggeser-geser layar ponsel. "Nah, ini dia. Saham perusahaan energi skala medium ini volumenya mendadak lonjak tipis. Menurut kalkulasi gua, siang ini harganya bakal meroket karena ada pengumuman kontrak baru."

Bumi bersiap menekan tombol beli pada emiten saham pilihan analisanya itu. Namun, tepat saat jarinya berada di atas opsi buy, Bumi menahan gerakannya sejenak. Ia terdiam, memandangi langit-langit kamarnya yang agak berdebu, lalu melihat kembali ke arah saldo modalnya di layar.

Sebagai seorang pemuda yang terbiasa hidup susah dan pernah merasakan pahitnya kehilangan seluruh uang akibat dirampok preman, mental awal Bumi sebagai pemula di dunia investasi ini masih sangat melekat kuat. Ia sadar betul bahwa ia tidak boleh bersikap serakah atau gegabah, meskipun otaknya memiliki tingkat akurasi prediksi yang sangat tinggi.

"Gua gak boleh langsung all in," ucap Bumi lirih, menasihati dirinya sendiri dengan bijak. "Walaupun gua yakin banget sama analisa otak gua, tapi ini pertama kalinya gua spekulasi pake duit modal sendiri. Gua musti tetep hati-hati dan disiplin sama manajemen risiko."

Bumi akhirnya memutuskan untuk bertransaksi dengan penuh perhitungan. Ia memasukkan nominal pembelian yang hanya menggunakan tepat setengah dari total uang modal sisa beli handphone miliknya untuk melakukan trading hari ini. Setengah modal sisanya sengaja ia simpan di dalam rekening sebagai dana pengaman.

Klik.

"Oke, order beli berhasil dieksekusi," kata Bumi dengan senyuman puas setelah melihat lot sahamnya resmi masuk ke dalam daftar portofolio mandirinya.

Sepanjang hari itu, dari pagi menjelang siang hingga matahari bergeser tepat ke atas kepala, Bumi tidak beranjak dari kamarnya. Dengan ketekunan yang luar biasa dan kepintarannya yang jenius dalam membaca pergerakan fluktuasi harga saham, Bumi terus memantau posisi investasinya dari jam ke jam.

Prediksi otaknya terbukti sangat jitu. Tepat saat sesi kedua perdagangan dibuka setelah jam istirahat siang, harga emiten saham energi yang dibeli Bumi mendadak melesat tinggi karena sentimen pasar yang sangat positif. Angka persentase keuntungan di layar handphonenya merangkak naik dengan sangat cepat dari lima persen, sepuluh persen, hingga menembus batas atas perdagangan hari itu.

Bumi yang melihat pergerakan hijau meroket itu tidak membuang-buang waktu. Ia langsung melakukan eksekusi jual (take profit) secara cepat dan taktis sebelum harga sahamnya kembali mengalami koreksi turun.

Ting! Notifikasi aplikasi menyatakan bahwa transaksi penjualan sahamnya telah sukses seratus persen.

Bumi langsung menyandarkan punggungnya ke dinding triplek kamar kosan dengan napas yang teratur. Ketika ia membuka kembali menu portofolionya untuk melihat hasil akhir setelah jam penutupan pasar saham sore itu, matanya berbinar-binar penuh takjub. Uang modal yang ia pertaruhkan tadi pagi telah membuahkan keuntungan yang berkali-kali lipat hanya dalam hitungan jam. Jumlah saldo totalnya kini melonjak drastis, jauh melampaui upah kuli panggulnya selama berbulan-bulan di pasar.

Bumi buru-buru meletakkan handphonenya di atas kasur, lalu melipat kedua tangannya di depan dada dengan raut wajah yang dipenuhi rasa syukur yang amat sangat mendalam.

"Alhamdulillah... Ya Allah, terima kasih banyak atas rezeki hari ini," ucap Bumi dengan suara yang tulus dan bergetar penuh haru. "Ternyata... ternyata dengan ilmu warisan dari leluhur gua ini, mencari uang dalam jumlah besar tidak harus lewat kerja keras yang capek dan menguras fisik lagi seperti dulu di pasar. Cuma duduk di kamar sempit ini sambil mikir pakai otak, hasilnya bisa sebegini besarnya."

Namun, di tengah rasa bahagia dan syukur yang luar biasa atas kesuksesan finansial mandirinya sore itu, senyuman di wajah tampan Bumi perlahan-lahan memudar. Pandangan matanya mendadak berubah menjadi agak sayu saat menatap ke arah luar jendela kamarnya yang mengarah ke kawasan pasar induk di kejauhan.

Bumi mendadak teringat pada sosok Kang Bendot, Mandor Badrun, dan teman-teman sesama kuli panggul sayur di blok barat yang tadi pagi sempat menyapanya dengan candaan akrab. Bayangan wajah-wajah lelah mereka yang legam terbakar matahari, pundak-pundak mereka yang lecet akibat menahan beban ratusan kilogram keranjang sawi setiap subuh, serta keluhan mereka tentang kecilnya upah harian yang sering kali habis hanya untuk sekadar menyambung makan esok hari, kini berputar dengan sangat jelas di dalam ingatan Bumi.

"Gua sekarang bisa dapet duit puluhan juta dengan gampang cuma bermodalkan handphone di dalam kamar adem begini," batin Bumi, dadanya mendadak terasa agak sesak karena rasa empati yang mendalam. "Sementara Kang Bendot sama kuli-kuli yang lain... mereka musti mandi keringat, jalannya diseret-seret karena encok, bahkan sampai bertaruh nyawa diancam preman kayak si Garong cuma demi bawa pulang uang puluhan ribu buat keluarga mereka di rumah."

Bumi menghela napas panjang, hatinya dipenuhi rasa kasihan yang sangat besar kepada rekan-rekan lamanya di perantauan itu. Mereka adalah orang-orang baik yang pertama kali menyambut dan menerimanya saat ia terlantar tanpa arah di ibu kota.

"Kekuatan dan kecerdasan dari leluhur ini terlalu besar kalau cuma gua nikmatin sendiri buat bikin gua kaya raya sendirian," kata Bumi tegas pada diri sendiri, suaranya terdengar penuh komitmen. "Pesan leluhur di memo itu udah jelas, gua musti tetep rendah hati dan nolong sesama yang lemah."

Bumi bangkit berdiri dari kasurnya, berjalan ke arah jendela, lalu mengepalkan tangan kanannya dengan sangat kuat di atas kusen kayu. Sorot matanya kini memancarkan sebuah visi masa depan yang sangat kokoh dan mulia.

"Gua bertekad, suatu hari nanti kalau modal gua udah terkumpul jauh lebih besar dan posisi gua di kota ini udah bener-bener kuat, gua bakal balik ke pasar itu bukan buat jadi kuli lagi," ucap Bumi dengan nada penuh keyakinan. "Gua bakal bantu Kang Bendot, Pak Mandor, dan temen-temen kuli yang lain. Gua bakal bikin usaha atau lapangan kerja baru yang layak buat mereka, biar mereka bisa keluar dari lingkaran kemiskinan dan hidup lebih sejahtera. Gua bakal pastiin kalau ilmu warisan leluhur ini bisa membawa kebangkitan dan kebaikan buat orang-orang kecil di sekitar gua."

Dengan tekad mulia yang kini tertanam kuat di dalam jiwanya, Bumi kembali mengambil handphone android barunya. Langkah kecil pertamanya hari ini dengan modal sendiri telah sukses besar, dan ia siap untuk melangkah ke level investasi yang jauh lebih tinggi demi mewujudkan impian besarnya menjadi manusia yang lebih berguna bagi sesama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!