Aminah dipaksa Bekerja banting tulang untuk kesejahteraan semua anggota keluarganya tapi tak pernah dianggap sama sekali.
Bahkan lelaki yang dia cintai dan dia bantu mencapai cita-cita nya pun menusuknya dari belakang dengan memanfaatkan dirinya,
Mampukah dia bangkit setelah semua kesakitan yang dia terima
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Lisa bersorak dalam hati karena lelaki pujaan hatinya ini percaya kepada kebohongan ibunya dan juga dirinya, dia sangat tahu jika Fadil orang yang sangat mencintai kelaurga terutama ibunya, dia tidak tahu saja jika nantinya lelaki itu akan membawa petaka karena lebih mencintai ibunya dibandingkan dirinya
"Benar itu kak, jangan percaya tampang polos dan apa adanya kak Aminah, dia menyimpan bom yang bisa menghancurkan ornag disekitarnya".
Fadil menggeleng merasa muak mendengar nya, walau dia tidak begitu mencintai Aminah tapi wanita itu shalat baik dan royal kepadanya dan ibunya selama ini, tentu saja dia tidak akan tinggal diam jika akhirnya Aminah seperti itu.
"Kalau begitu aku pamit bu, lagian aku tidak bertemu Aminah, ada yang harus aku bahas dengannya nanti aku hubungi dia saja, aku masih tidak menyangka dia tidak sepolos yang dilihat".
"Iya nak, nanti beritahu tante dimana dia tinggal, tante harus memberinya pelajaran karena berani mempermalukan kelaurga kami".
Fadil hanya mengangguk keluar dari rumah itu dengan perasaan campur aduk, ada rasa tidak percaya sekaligus senang dihatinya jika Aminah kelaur dari rumah ini, itu artinya gaji Aminah akan utuh dia pegang sendiri dan itu adalah kesempatan bagi dirinya untuk memanfaatkan itu.
"Aku harus tahu dimana dia tinggal, ini kesempatan bagus untuk memerasnya". Ucapnya sambil tersenyum licik
Sedangkan didalam kos Aminah kini termenung seorang diri, perkataan sahabatnya sebelum dia pergi terus berputar-putar dikepalanya.
"Jangan biarkan siapapun tahu tempat tinggalmu Mina, jangan sampai keluargamu datang kesini kembali mengusikmu, jika kamu bertemu dengan pacarmu cukup diluar saja, tidak ada yang benar-benar bisa dipercaya dari mereka termasuk pacarmu itu, entah kenapa aku merasa dia juga memanfaatkanmu".
Aminah memejamkan matanya berusaha berpikir jernih tentang apa yang dikatakan sahabatnya itu. Jika diperhatikan lebih jauh selama mereka berhubungan Fadil sang kekasih selalu meminjam uang tanpa dikembalikan, dia memang mencatat semua yang dia keluarkan walau dia berusaha menepis perkataan sahabatnya itu tapi kenyataan didepan matanya terus berputar.
"Dia bukan seperti itu, dia tulus mencintai aku, aku harap seperti itu terus". Ucapnya seperti mantra untuk dirinya sendiri walau dia sendiri tidak yakin.
Handphonenya berdering, melihat itu entah mengapa nama itu tidak membuatnya se antusias biasanya.
"Ya hallo". Ucapnya datar saat mengangkat telponnya.
"Hallo sayang, kamu dimana? ". Tanya sang kekasih dari seberang telpon.
"Aku ada di kos, ada apa? ". Tanyanya dengan datar.
"Aku ingi ketemu kamu, bisa nggak? ". Jawabnya dengan antusias.
Dia sama sekali tidak menyadari perubahan nada bicara Aminah sejak tadi, dia sibuk dengan rencana memerasnya setelah ini.
"Aku sedang sibuk baru pindahan, besok saja ketemunya, aku yakin kamu sudah ketemu keluargaku kan? ".
" Tapi kan sayang aku kangen".
"Jika bukan karena uangmu dan aku butuh ogah deh". Sungutnya dalam hati.
"Maaf aku tidak bisa, aku ingin menikmati waktu istirahat ku, besok saja, Assalamu'alaikum". Ucapnya mematikan telpon sepihak.
Fadil menggeram kesal, nyaris saja handphone nya dia banting karena emosi.
"Sialan perempuan jelek itu, bisa-bisanya menolak ajakan ku dan mematikan telpon seenaknya seperti ini, awas saja kalau kamu sudah tidak berguna, akan kubuang kamu".
Aminah menggeleng pelan, entah mengapa dirinya merasa perkataan sahabatnya itu benar adanya, biasanya jika Fadil memintanya bertemu seperti itu selain jalan menggunakan uangnya, lelaki itu juga membujuknya untuk membeli sesuatu, entah untuk dirinya atau orangtuanya padahal dia sendiri tahu jika gajinya hampir dikuasai penuh oleh ibunya.
"Sudahlah besok saya aku pikirkan, aku selesaikan ini saja lalu istirahat dengan tenang karena besok akan pergi kerja".
" Bu aku akan mendapatkan kak Fadil, apa ibu mau dukung aku? ". Tanya Lisa dengan yakin.
"Kamu yakin bisa mendapatkan nya kak, dia lelaki tampan dan cukup mapan tapi masalahnya dia kekasih kakak kamu". Jawab dang ibu dengan ragu
Lisa menyunggingkan senyum penuh kemenangan karena dia yakin ibunya mendukung dirinya.
"Tentu saja bu, siapa yang tidak tertarik dengan gadis cantik dan terawat serta menggoda seperti ku, aku yakin kak Fadil pasti akan memilihku". Jawabnya begelayut manja pada ibunya.
Halimah tersenyum lebar hingga matanya menyipit dia sangat senang jika lelaki itu bisa menjadi menantunya, lelaki mapan dan punya gaji besar dia pasti akan kecipratan uang itu.
"Tentu nak, kamu harus mendapatkan nya, sekarang kakakmu pelit dan tidak mau berbakti kepada kita lagi".
Emosinya kembali tersulut mengingat bagaimana anak sulungnya bertindak kurang ajar padanya dan suaminya itu di hadapan semua tetangga rumahnya.
"Tentu bu, akan kubuat kak Aminah menyesal mempermalukan kita semua tadi".
"Iya kak, besok ibu akan buat perhitungan padanya di tempat kerjanya biar dia dipecat sekalian, baru kerja begitu saja sudah sombong dan tidak mau berbakti, anak seperti itu tidak akan ibu anggap lagi". Sungutnya dengan kesal.
Lida menanggung tersenyum sinis penuh rencana licik, dia akan pastikan kakaknya itu harus kembali tunduk kepada kedua orangtuanya agar dia tetap bisa menikmati gaji kakaknya untuk bisa menunjang gaya hidupnya.
Keesokan harinya Aminah pergi kerja dengan perasaan luar biasa lega, dia tidak bangun terburu-buru seperti saat dia tinggal dirumah ibunya, dia bisa menikmati waktu santai dirinya sendiri.
"Maaf bos, bisakah saya bicara dengan bos sebentar? ". Ucapnya kepada bosnya.
Bos perempuan pemilik toko ini memang sangat baik, dia bisa memahami banyak perasaan karyawannya itu sebabnya dia berani untuk mengatakannya.
"Masuklah Mina, jelaskan apa yang ingin kamu katakan agar ibu mengerti keinginanmu itu". Jawabnya tersenyum lembut.
Aminah sungguh beruntung karena bosnya ini sangat baik kepada semua karyawannya termasuk dirinya.
"Maaf Bu, sebenarnya aku malu mengatakannya, aku takut ibu akan marah nanti". Ucapnya menunduk takut.
Sang bos bernama Elisa itu menatap Aminah dengan kening mengkerut tidak mengerti.
"Apa itu Mina?, kayaknya serius sekali? ". Tanyanya penasaran.
"Begini bu, aku semalam pergi dari rumah orangtuaku karena tidak tahan tinggal disana, selama ini seluruh gajiku hampir dikuasai oleh ibuku, dan sejak kecil aku haru bekerja untuk membantu rumah dan membesarkan semua adikku".
Dia menarik nafasnya dalam, dia yakin ibunya pasti akan datang kesini membuat keributan jadi dia harus mengatakannya pada bosnya agar bosnya tidak terkejut nanti.
"Aku khawatir mereka akan datang kesini membuat keributan menuntut dan menyalahkan aku kembali, aku tidak mau ibu salah paham pada aku, aku takut ibu memecat ku karena kesalahan orangtua ku nanti".
Elisa menatap karyawan terbaik miliknya ini dengan helaan nafas kasar, dia tahu bagaimana perasaan gadis ini karena dia dulu juga merasakannya dan dia sangat tahu rasanya.
"Baiklah, aku akan memberi mereka pelajaran kalau mereka berani datang kesini".