NovelToon NovelToon
Balas Dendam Sang Putri Buangan

Balas Dendam Sang Putri Buangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi Wanita / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: novi niajohan

Jiang Qiuye, putri tabib Jiang begitu sedih setelah tahu bahwa dirinya bukanlah putri kandung dari orang yang telah membesarkannya selama lima belas tahun.

Apalagi saat ia tahu bahwa ayah kandungnya tidak menginginkannya bahkan tega membuangnya begitu saja.

Untuk itu Qiuye berusaha agar bisa masuk ke dalam istana dan berharap mendapatkan informasi mengenai dirinya dan keluarga aslinya itu.

Akan tetapi perjuangannya tidak lah mudah, Qiuye harus menghadapi berbagai macam rintangan. Bahkan ayah kandungnya yang telah mengetahui bahwa dirinya masih hidup pun, menjadikannya sebagai buronan istana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novi niajohan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7. Ketakutan Tabib Jiang

Istana Kaisar Song, kamar putri Xu.

"Hamba memberi hormat kepada Yang Mulia Putri Xu," salam Dayang penjahit pakaian istana sambil membawa sesuatu untuk diberikan.

"Siapa dia? Dan mau apa datang kesini?" tanya Putri Xu kepada dayang kepercayaannya bernama dayang Han tanpa mau menoleh.

"Melihat dari pakaiannya sepertinya dia dayang dari penjahit istana," jawab dayang Han.

"Dayang dari penjahit istana?" ucap Putri Xu menoleh.

"Ya Yang Mulia Putri, hamba adalah dayang penjahit pakaian dari istana timur. Maksud kedatangan hamba adalah hamba ingin memberikan ini kepada anda sesuai perintah yang mulia permaisuri," jawab dayang penjahit.

"Apa itu pakaian ku untuk perayaan ulang tahunku besok?" tanya Putri Xu antusias.

"Ya Putri, ini adalah pakaian yang sudah disiapkan secara khusus oleh yang mulia permaisuri untuk anda kenakan besok diperayaan ulang tahun anda," ucap seorang dayang istana membawakan sebuah pakaian yang masih tersusun rapi.

"Bawa kesini, cepat pakaikan kepadaku!" titah Putri Xu tidak sabar.

"Baik Putri Xu," balas dayang Han.

Tidak butuh waktu lama, Putri Xu telah mengenaikan pakaian hanfu mewah berwarna hijau zamrud. Setiap jahitannya berajut benang emas dan setiap corak bertakhtakan intan permata berkilauan.

Tidak lupa juga memakai mahkota dan satu set perhiasan baru yang sudah disiapkan.

"Baju ini bagus sekali, kombinasinya juga sangat cocok dengan perhiasan dan mahkota ini. Hmm.. Aku menyukainya," ucap Putri Xu.

"Ya Yang Mulia Putri, semua ini sangat cocok dengan anda. Anda terlihat begitu cantik dan sangat menawan hati, wujud anda seperti seorang dewi kahyangan dan hamba yakin aura kecantikan anda semakin terpancar kuat apabila anda memakai riasan ini besok," puji dayang Han seperti biasanya.

Putri Xu tersenyum puas, sambil menatap penampilannya yang terpantul dalam cermin. "Dengan penampilanku ini, aku yakin jenderal muda Guan Yu tidak akan bisa memalingkan wajahnya dariku."

"Benar Yang Mulia Putri, bukan hanya jenderal muda Guan Yu saja. Hamba sangat yakin, semua pria tidak akan bisa melepaskan pandangannya dari anda."

Putri Xu tertawa senang. "Dayang Han kau paling bisa memujiku," ucapnya lalu memberikan sekantung uang. "Ini untukmu."

Dayang Han pun tidak dapat menyembunyikan kegembiraannya. "Terima kasih Yang Mulia, berkah berlimpah untuk putri!"

...----------------...

Kediaman Tabib Jiang.

Sementara itu, semenjak pulang dari kediaman perdana menteri Ayah nampak muram memikirkanku yang akan pergi ke istana besok pagi.

"Ada apa dengan Ayahmu? Kenapa dia sama sekali tidak mau bicara?" tanya ibu ingin tahu.

Aku pun menceritakan semuanya pada ibu dan reaksinya pun tidak beda jauh dengan ayahku.

"Kau mau pergi ke istana? Kenapa harus ke istana? Bagaimana kamu bisa menjaga diri disana?" cecar ibuku bertubi-tubi.

Seolah-olah akan terjadi hal besar jika aku mengunjungi tempat tersebut.

"Bu, aku pergi bersama putri perdana menteri. Dia memintaku untuk menemaninya besok," jawabku.

"Ya, tapi kenapa harus kamu?" tanya ibuku tidak habis pikir.

"Ya, karena nona muda Huang yang memintanya." Tentu saja aku tidak bisa menjawab semua kebenaran disetiap pertanyaannya, karena aku yakin ayah dan ibu tidak akan mengijinkanku memiliki sebuah pedang. Apalagi aku yang memintanya sendiri.

"Sudah jangan dibahas lagi, kalau dia mau pergi ke istana. Silahkan, biarkan dia pergi! Biarkan dia merasakan sendiri bagaimana sebenarnya kondisi di istana itu!" pangkas Ayah dengan nada kesal. Lalu mengibaskan lengannya dan pergi meninggalkan kami berdua.

Ibu menghela nafasnya pasrah dan hanya menyayangkan keputusanku yang ingin ikut pergi ke istana. "Harusnya kamu menolak, Ye. Harusnya kamu tidak pergi kesana," keluhnya.

"Memangnya kenapa aku tidak boleh ke istana Bu? Apa ada sesuatu disana? Atau ayah dan ibu mungkin menyembunyikan sesuatu dariku?" cecarku menyelidik.

Ibu seketika terdiam dan menatapku dalam-dalam, lalu membuang wajahnya. "Tidak Ye, tidak ada sesuatu. Hanya saja ibu mencemaskan keadaanmu apabila pergi kesana."

"Ibu, aku hanya pergi selama dua hari. Aku pergi kesana dengan satu tujuan, yaitu menjaga nona muda Huang. Aku juga tidak pergi sendiri, ada nona muda Huang dan juga bibi Lan bersamaku. Dan satu hal lagi, keluarga Huang sudah menjamin keamananku. Lalu untuk apa Ibu cemas tanpa alasan?" balasku. Namun ibu tetap terdiam seperti memikirkan sesuatu.

Bagaimana ibu bisa tenang Ye? Bagaimana kalau kau sampai tahu kebenarannya kalau kau itu bukanlah putri kandungku? Kalau kau berasal dari dalam istana, kau putri kaisar yang sesungguhnya.

Bukan hanya keluarga ini yang terancam bahaya, tapi dirimu juga, Ye.

Selama ini ayahmu mencoba menemukan penawar racun untuk mengobatimu, namun dirinya masih belum berhasil mengobatimu sepenuhnya karena memang membutuhkan waktu yang lama agar racunnya benar-benar hilang.

Ditambah kau juga pernah menolak meminum obat yang diberikan, sehingga pengobatanmu tertunda dan harus dimulai dari awal lagi.

"Bu, aku berjanji tidak akan merepotkan semua orang. Termasuk Ayah dan ibu," sambungku agar ibu yakin.

"Baiklah, tapi berjanjilah pada Ibu. Jangan pernah mencari sesuatu apapun itu, baik benda, maupun informasi apapun walau kau merasa sangat ingin mengetahuinya," balas Ibu membuatku semakin penasaran saja.

"Ibu, apa maksudmu?"

"Turuti saja Ye, berjanjilah pada Ibu."

Aku hanya bisa menuruti permintaan Ibu saat ini, membuatnya percaya pada diriku agar mendapat ijin darinya.

"Baiklah Bu, aku berjanji. Aku datang ke istana hanya untuk merawat Nona muda, memastikannya meminum obatnya secara teratur dan menjaga Nona Muda agar kejadian keracunan kemarin tidak terulang kembali padanya dan aku juga berjanji tidak akan merepotkan semua orang disana," janjiku pada ibu.

Ibu menatapku dengan linangan air mata, seolah yang ia takutkan bukanlah keamanan Nona muda, melainkan keamanan diriku sendiri.

Dan dengan berat hati, akhirnya ibu mengijinkanku pergi keistana.

...----------------...

Ruang kerja Tabib Jiang.

Pada malam harinya ...

Setelah memastikan putrinya terlelap, Nyonya Jiang menghampiri suaminya yang berada di ruang kerja. Ia lantas mengeluh dan mengutarakan kecemasan hatinya.

"Besok Qiuye akan pergi ke istana, bagaimana kalau ketakutan kita sampai terjadi?"

Tabib Jiang menghela nafasnya panjang sekali, "Apa boleh buat, jika ketakutan kita sampai terjadi, itu mungkin adalah takdir Qiuye sendiri," balas Tabib Jiang berusaha menerima apapun yang akan terjadi kedepannya.

"Lalu kita sebagai orang tua harus apa? Apa kita harus diam saja seperti ini?"

"Aku memang tidak bisa berbuat banyak, setelah berhenti menjadi tabib istana, aku sudah tidak punya hak memasuki istana lagi tanpa seijin pihak istana. Dan sebagai seorang Ayah, aku hanya bisa berdoa agar putriku baik-baik saja," balas Tabib Jiang.

"Semoga saja Qiuye tidak menghadapi masalah besar dan ku harap semoga keluarga Huang bisa menepati janjinya," harap Nyonya Jiang.

"Aku percaya keluarga Huang akan melindungi Qiuye walau mereka belum tahu yang sebenarnya tentang Qiuye," ucap Tabib Jiang yakin.

"Semoga saja," harap Nyonya Jiang juga.

"Dan setelah semua ini selesai kita harus segera mencari tempat baru, jauh dari semua hal yang berbau istana," ucap Tabib Jiang dan Nyonya Jiang pun setuju.

Namun apakah keinginan mereka akan terwujud, sementara keinginan Qiuye begitu kuat akan mencari kebenaran dirinya didalam istana.

Entah usahanya itu akan berhasil atau malah sebaliknya?

...Bersambung....

1
Noviyanti
terima kasih sudah membaca karyaku, jangan lupa berikan like dan komen ya.
Joan
keren thor satu persatu mulai terungkap. gk sabar sama reaksi qiuye pas dia tahu guan yu ngerawat dia🤣
Joan
semakin seru lanjut thor
Joan
semakin pnasran. lanjut thor💪
Joan
parah banget kaisarnya /Panic/
Joan
makin seru thor, lanjutkan💪
Joan
lanjut thor
Noviyanti
Selama menunggu kelanjutan cerita ini, kalian bisa baca karya yang lain dulu ya
Lina Zascia Amandia: Sama2 Kak Nov.... selamat aktif menulis kembali ya.
total 3 replies
Joan
ceritanya bagus dan cukup menarik. terus semngat
Noviyanti: terima kasih semangatnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!