Elara Sterling, seorang agen lapangan CIA yang tangguh dan perfeksionis, mengemban misi paling berbahaya dalam kariernya: mendekati dan menghancurkan Dante Moretti, pewaris tunggal kekaisaran mafia Moretti yang kejam dan sulit diprediksi.
Rencana Elara sederhana menyusup, mengumpulkan bukti silsilah keluarga yang ilegal, lalu menghancurkan organisasi Dante dari dalam. Namun, saat Elara terjerat dalam situasi hidup dan mati di tengah udara, di mana pengkhianatan muncul dari rekan terdekat Dante sendiri, garis batas antara musuh dan sekutu mulai kabur.
Dante Moretti bukanlah monster tanpa hati seperti yang digambarkan oleh laporan agensinya. Ia adalah seorang pria yang jiwanya telah dipaksa mati oleh kekejaman ayahnya sendiri, Franco Moretti. Di balik ancaman senjata dan rahasia kelam masa lalu yang menghantui mereka, Elara menemukan bahwa dirinya bukan hanya sekadar mengamati target, melainkan terjebak dalam obsesi yang membakar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hais Tauahh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 | PESTA
Elara mematung di ambang pintu, menelan bulat-bulat rasa sakit yang muncul entah dari mana. Ia tidak menoleh lagi. Dengan langkah yang dipaksakan tegak, ia meninggalkan Penthouse* Dante dan bergegas kembali ke unit apartemennya sendiri. Begitu pintu tertutup, ia melepaskan topeng ketenangannya dan menghempaskan diri ke sofa.
" Selingkuhan? Batinnya bergejolak. Dia pikir aku wanita macam apa?*
Namun, insting agennya tiba-tiba mengambil alih. Ia mencium sesuatu yang tidak beres aroma parfum maskulin yang samar dan asing, bukan milik Dante, melainkan aroma tembakau clove yang tajam. Seseorang telah menyusup ke tempat Perlindungannya.
Elara bangkit dengan gerakan senyap. Ia memeriksa laci rahasia di bawah meja riasnya. Benar saja, tumpukan dokumen misi yang ia susun berdasarkan abjad kini berantakan. Seseorang telah mencari sesuatu, dan mereka tidak cukup rapi untuk menutup jejak.
Dengan tangan gemetar namun terlatih, ia melakukan forensik mandiri. Taburan serbuk hitam, kuas khusus, dan selotip pengangkat sidik jari bekerja di tangannya. Ia berhasil mendapatkan cetakan sidik jari yang jernih di sisi logam laci.
Ini bukan pekerjaan orang suruhan Dante " pikirnya. Ini profesional. Seseorang dari badan intelijen lain atau mungkin rival Dante yang lain.*
Elara menyimpan bukti itu di ruang bawah tanah rahasianya sebuah bunker kecil di balik dinding apartemen yang hanya bisa diakses dengan pemindai retina. Ia sedang membasuh wajahnya di kamar mandi saat bel pintu berbunyi, diikuti oleh gedoran kasar yang membuat pintu apartemennya bergetar.
Ia mengabaikannya, namun gedoran itu tak kunjung berhenti. Dengan mengenakan bathrobe sutra, Elara mengintip dari lubang pintu. Dante berdiri di sana, penampilannya tampak kacau kancing kemejanya terbuka, rambutnya berantakan, dan matanya menyorotkan urgensi yang tidak biasa.
Begitu pintu terbuka, Dante tidak menunggu. Ia langsung menarik pergelangan tangan Elara, menyeretnya keluar menuju lobi gedung.
"Lepaskan! Apa yang kau lakukan?" teriak Elara, merasa sangat terhina karena hanya mengenakan jubah mandi di depan umum.
Dante mengabaikan Protesnya, memasukkan Elara ke dalam mobil lapis baja yang sudah menunggu. Begitu pintu mobil tertutup, Dante memberi isyarat kepada sopirnya.
" Ke bandara pribadi Sekarang."
"Bandara?" Elara menatap Dante dengan tatapan tidak percaya. "Dante, kau gila? Aku tidak bisa pergi! Aku punya urusan penting besok malam di Washington!"
Dante menoleh, menatap Elara dengan intensitas yang mencekam. "Urusanmu dengan Sterling sudah selesai. Aku baru saja membatalkan kontrak mereka di pasar gelap. Mereka tidak akan pernah lagi mencoba menghubungimu."
Elara terkesiap. "Kau melakukan itu?"
" Kita menuju ke Tokyo " ucap Dante datar, mengabaikan keterkejutan Elara.
" Apa? Kenapa Jepang? Aku tidak bisa pergi ke sana!"
Dante meraih helaian rambut Elara yang basah dan menyelipkannya ke belakang telinga. "Apartemenmu sudah tidak aman. Seseorang telah menyusup ke sana, bukan? Aku tahu siapa yang mencari dokumen itu, Elara. Dan satu-satunya tempat di mana kau akan aman sekaligus bisa menyelesaikan misi ini adalah di bawah pengawasanku langsung di wilayah yang tidak bisa dijangkau oleh intelijen Amerika."
Elara menatap pria itu dengan benci sekaligus takjub. Dante tidak hanya mengawasinya dia selangkah lebih maju.
"Aku tidak ada niat untuk kembali ke Amerika dalam waktu dekat, Elara," Dante berbisik, suaranya sedingin es yang merayap di sepanjang tulang belakang Elara. "Jadi, lupakan Washington, lupakan perjodohan itu, dan lupakan kehidupan lamamu. Mulai saat ini, kau adalah properti eksklusifku di sisi lain dunia."
Elara tersentak terbangun saat ban pesawat menyentuh landasan pacu yang sunyi. Ia mengedarkan pandangan, menyadari bahwa mereka bukan di Amerika, melainkan di sebuah hanggar privat yang tertutup oleh kabut tipis di pinggiran Tokyo.
"Keluar," perintah Dante singkat.
Elara turun dari mobil dengan perasaan campur aduk. Angin malam Jepang menusuk kulitnya yang hanya terbalut jubah mandi tipis. Saat mereka melangkah ke dalam jet pribadi yang megah, staf kabin yang berpakaian rapi menunduk dalam, mencoba menyembunyikan keterkejutan mereka saat melihat Elara seorang wanita yang tampak seperti pelarian dengan bathrobe melangkah masuk di samping pria paling ditakuti di dunia bawah tanah.
Elara sengaja memilih kursi di sudut terjauh, membelakangi Dante. Ia menolak untuk menjadi boneka yang duduk manis di sisi pria itu.
Dante mendengus, bangkit dari kursinya, dan tanpa basa-basi pindah ke kursi di sebelah Elara, mempersempit jarak hingga Elara bisa merasakan hawa panas yang memancar dari tubuh pria itu.
"Jika kau ingin marah, lakukan dengan benar," bisik Dante, suaranya sedingin baja. " Duduk di sana tidak akan membuatmu terlihat lebih berkuasa."
Tak lama kemudian, seorang pria berbaju hitam masuk ke kabin, memberikan sebuah koper kulit kecil kepada Dante, lalu pergi secepat kilat. Dante membuka koper itu dan melemparkannya ke pangkuan Elara.
"Pakai itu," perintahnya.
Elara membuka koper tersebut dan mendapati satu set gaun malam backless berwarna merah darah, lengkap dengan stiletto setinggi lima inci dan perhiasan berlian yang berkilau dingin.
Elara menatap gaun itu, lalu menatap Dante dengan tatapan yang menyiratkan kemuakan. " Gaun? Sepatu hak tinggi? Kau benar-benar sudah kehilangan akal. Kita akan ke Jepang untuk urusan berbahaya, bukan untuk pesta dansa."
Dante menyesap minumannya, matanya tidak berkedip menatap Elara. " Kau pikir dunia mafia hanya soal peluru dan darah? Di Tokyo, kekuasaan tidak diraih dengan senjata di tangan, tapi dengan negosiasi di balik pintu yang terkunci."
Dante mendekat, jemarinya menyentuh dagu Elara dengan lembut namun memaksa agar gadis itu menatap matanya. " Malam ini, kau bukan agen CIA. Kau bukan Elara yang pemberontak. Malam ini, kau adalah pendampingku dalam gala makan malam dengan para taipan teknologi dan yakuza. Jika kau tidak ingin rencanaku berantakan, pakai gaun itu."
" Aku tidak bisa berjalan dengan stiletto di medan perang, Dante," bantah Elara, suaranya bergetar karena emosi.
" Maka belajarlah," balas Dante datar.
" Karena di dunia yang sedang kubangun ini, kau harus bisa membunuh seseorang dengan gaun sutra sekaligus dengan peluru kaliber 9mm secara bersamaan. Jika kau tidak bisa melakukannya, maka kau memang tidak layak berada di sisiku."
Elara menatap gaun merah itu gaun yang terlihat seperti noda darah di atas kursi mewah pesawat itu. Ia sadar, Dante tidak sedang memintanya menjadi pendamping Dante sedang mendidiknya untuk menjadi cermin dari kegelapan yang ia miliki. Dan yang paling menakutkan, Elara merasa sedikit bagian dari dirinya justru tertantang untuk menerima peran itu.
●●●●