Saat ia pikir hidupnya berakhir, seorang pria tiba-tiba mendapatkan sistem. Namun, bukannya menjadi kaya, ia justru terbangun di masa lalu... di dalam tubuh ayahnya saat masih muda.
Kini, dengan sistem di tangannya dan mengetahui masa depan, ia harus mengubah takdir keluarganya.
Mampukah ia menyelamatkan keluarganya... tanpa menghapus keberadaannya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Hari sudah malam. Raka dan pekerja lainnya bersiap-siap pulang setelah selesai makan bersama.
"Nih, Rak, bayaranmu," kata Budi sambil menyodorkan selembar uang seratus ribu rupiah.
Raka menerimanya dengan senang hati. "Makasih, Om."
Tidak lama kemudian, para pekerja proyek mulai membubarkan diri satu per satu.
"Duluan ya semua, sampai ketemu besok!"
"Yo, hati-hati Pak, ntar digigit ular kadut, wkwk."
Raka memperhatikan keakraban mereka sambil tersenyum. Selama bekerja di masa depan dulu, dia belum pernah merasakan kebersamaan sehangat ini.
Budi yang lagi mengikat tali sepatu botnya mendongak. "Ayo balik, lumayan bisa merem bentar sebelum masuk shift malam di pabrik."
"Yuk," jawab Raka. Budi berdiri lalu menepuk pundak Raka. "Jalan kita."
Mereka berdua berjalan beriringan. Dari kejauhan, Raka bisa melihat lampu-lampu dari gedung tinggi mulai menyala. Suasana jalanan kota juga makin ramai.
Di momen ini, Raka melihat kontras penampilannya yang kotor penuh noda semen dengan orang-orang kantoran berpakaian rapi dan bersih yang asyik mengobrol bersama pasangan mereka.
Melihat perbedaan kelas sosial itu, Raka cuma bisa tersenyum getir dalam hati. "Ternyata hidup gua yang dulu nggak seburuk itu," pikirnya.
Saat melewati sebuah toko roti modern yang wangi, langkah Raka mendadak terhenti.
"Kenapa berhenti?" tanya Budi heran, ikut melihat ke arah etalase toko. "Mau beli? Udah beli aja, sesekali ini."
"Bener juga. Bentar ya, Om," kata Raka.
Sadar bajunya kotor, Raka sengaja nggak masuk ke dalam toko dan cuma memesan dari konter luar.
Tapi begitu tahu harga roti paling murah di sana pas seratus ribu, wajah Raka langsung drop. Budi yang memperhatikan dari tadi langsung menaikkan alisnya melihat muka kusut Raka.
"Kenapa mukanya gitu? Rotinya nggak enak?"
"Belum dicobain, Om. Cuma lemes aja, duit hasil keringat gua seharian langsung ludes," curhat Raka.
Budi terdiam sebentar, lalu tertawa keras sambil merangkul pundak Raka. "Hahaha! Ya itulah hidup, Rak. Kita kerja banting tulang dari pagi sampe malam demi seratus ribu, sementara di luar sana, ada orang yang gampang banget ngabisin duit jutaan atau miliaran tanpa perlu kerja keras. Itu realitanya."
Raka tersenyum kecut. "Bener juga sih, Om. Namanya juga hidup." Raka membuka sedikit kotak rotinya. "Mau nggak, Om?"
"Nggak usah, buat anak istrimu aja di rumah."
Mereka pun melanjutkan perjalanan. Sebenarnya Raka sudah tahu rasa roti ini karena di masa depannya dia sering beli, cuma beda harga karena faktor inflasi saja.
Nggak lama kemudian, mereka berdua sampai di persimpangan jalan menuju rumah masing-masing.
"Nanti jam delapan malam aku jemput ya. Awas aja kalau belum siap kayak tadi," ancam Budi.
"Siap, Om!"
Raka berjalan sendirian menuju rumahnya sambil menatap kantong kresek berisi roti. "Hei, ayah... kalau gua berhasil mengubah nasib lu di masa ini, ntar pas gua gede jangan lupa beliin mobil sport ya," bisiknya bercanda, meski matanya agak berkaca-kaca karena terharu.
Ding!
[Hadiah: Anda mendapatkan uang tunai Rp100.000.]
Layar biru mendadak muncul tepat di depan mukanya. Raka langsung mengelus dadanya karena kaget.
"Kan udah dibilang jangan hobi ngagetin! Copot nih jantung lama-lama!" omel Raka pelan. "Lagian, katanya tadi lu nggak bisa ngasih cheat kekayaan? Kok sekarang malah ngasih duit?"
Ding!
[Itu kan tadi.]
"Sialan, random banget nih sistem. Ya sudahlah," gerutu Raka pasrah sambil mengantongi uang seratus ribu itu ke saku celananya.
Dia mempercepat langkahnya agar bisa cepat sampai. Tubuhnya mulai terbiasa dengan ritme fisik ayahnya yang tangguh.
Begitu sampai di depan rumah, Raka membuka pintu pelan-pelean. Suasana di dalam sepi banget, padahal jam baru menunjukkan pukul tujuh kurang.
"Jadi gini rasanya jadi bokap? Sepi banget. Nyokap sama gua kecil ke mana ya?" batin Raka.
Ada rasa kecewa dan kesepian yang mendadak muncul di dadanya. Raka tahu, ini pasti sisa-sisa perasaan emosional dari pemilik tubuh asli yang rindu kehangatan keluarga.
Raka berjalan ke dapur dan menaruh kotak roti di atas meja makan. Matanya tertuju pada sebuah tudung saji. "Ibu masak?" gumamnya penasaran sambil mengangkat tudung saji itu.
Ternyata ada sepiring lauk yang kelihatan baru selesai dimasak. Raka tersenyum tipis. "Sebenarnya kalian berdua tuh saling peduli, cuma sama-sama gengsi dan keras kepala aja," pikirnya.
Walaupun perutnya masih agak kenyang karena makan bareng para kuli tadi, Raka tetap mengambil piring dan menyendok nasi.
Begitu suapan pertama masuk ke mulutnya, air matanya mendadak menetes.
Sebagai anak yatim piatu yang sudah lama melupakan rasa masakan ibunya, momen ini terasa sangat emosional buat Raka. Dia buru-buru menyeka air matanya. "Enak banget..."
Selesai makan, Raka buru-buru mandi dan menyempatkan diri untuk tidur selama sekitar satu jam. Tepat jam delapan malam, dia terbangun sendiri tanpa alarm. Jam biologis tubuh ayahnya ini memang luar biasa disiplin.
Di luar rumah, Budi sudah menunggu. Sambil berjalan kaki menyusuri jalanan malam menuju pabrik sepatu, Budi membuka obrolan.
"Gimana, Rak?"
"Apanya yang gimana, Om?"
"Roti yang kamu beli tadi sore. Si Nadia seneng nggak?"
Raka sempat berpikir sebentar. Tadi pas dia pulang, dia nggak sempat berpapasan karena Nadia sudah masuk kamar bareng Reno kecil akibat kelelahan. "Ya... gitu deh, Om."
"Lah, kok gitu doang jawabnya? Aneh banget kamu," sahut Budi heran.
Sementara itu di rumah, Nadia yang sedang memeluk Reno kecil di kasur perlahan membuka matanya. Ternyata dari tadi dia cuma pura-pura tidur karena pikirannya lagi kacau.
Dia beranjak bangun dari kasur dan berjalan ke arah pintu kamar. Pikirannya mendadak melayang ke sosok pria kaya yang menemuinya sore tadi. "Mas Riko..." gumamnya lirih sambil menghela napas berat.
Nadia kemudian melangkah ke dapur untuk mengambil minum. Di atas meja, pandangannya langsung tertuju pada sebuah bungkusan asing. "Apa ini?" tanyanya heran sambil membuka kotak tersebut.
"Roti mahal? Tumben banget Mas Raka beli ginian. Uangnya pasti habis hanya untuk beli ini," ucap Nadia dengan ekspresi campur aduk.
Namun, saat matanya beralih ke atas tudung saji, langkah Nadia terhenti. Di sana tergeletak selembar uang seratus ribu rupiah yang masih baru. "Loh? Mas Raka dapat uang dari mana? kalau uang dari kerja tadi di pakai beli roti.. uang ini dari mana? Dan bukannya jatah gajian pabrik masih beberapa hari lagi?"
Nadia mengambil uang itu dengan bingung. Dia tahu suaminya sengaja meninggalkan uang tersebut untuk dirinya belanja. Saat membuka tudung saji, Nadia melihat piring lauknya sudah kosong melompong bersih dimakan suaminya tanpa sisa.
Melihat semua itu, seulas senyum tipis akhirnya terukir di wajah Nadia.