NovelToon NovelToon
Aku Tak Sanggup Lagi

Aku Tak Sanggup Lagi

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / CEO / Tamat
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Mengisahkan rumah tangga Anjani dan Malik yang harus kandas dengan hadirnya sosok Dara, wanita yang merupakan sahabat baik Anjani yang menjadi pelakor dalam rumah tangganya. Hinaan kasar dari mertuanya juga membuat Anjani menyerah dan memutuskan untuk berpisah hingga takdir mempertemukannya dengan bule tampan asal Inggris Oliver Jones yang mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penghinaan yang Mengubah Segalanya

Bau hangus sisa-sisa ledakan masih menggantung pekat di udara malam Jakarta, bercampur dengan aroma bensin yang menguap dan debu bangunan yang berserakan. Di dalam ruang tamu utama yang sebagian besar kaca jendelanya telah pecah berkeping-keping, suasana justru terasa jauh lebih panas dari kobaran api di luar.

Tuan Jones berdiri tegak dengan wajah pucat pasi akibat syok, namun sorot matanya dipenuhi oleh kemarahan yang membara. Di sampingnya, Vivian Mercedes merangkul lengan suaminya dengan tubuh yang masih gemetar hebat, sementara di dekat mereka, Adele berdiri dengan napas memburu dan tatapan mata yang memancarkan kebencian murni. Mobil mereka hancur, nyawa mereka nyaris melayang, dan bagi keluarga aristokrat Inggris itu, seluruh malapetaka ini hanya memiliki satu sumber: wanita lokal yang berdiri di hadapan mereka.

"Kau lihat apa yang terjadi?!" bentak Tuan Jones, suaranya menggelegar memecah keheningan malam, memecut udara ruangan yang dingin. Telunjuknya menunjuk tepat ke arah Anjani dengan gestur yang penuh penghinaan. "Wanita gila itu datang dan meledakkan tempat ini karena kau! Gara-gara keberadaanmu di sini, seluruh keluarga kami terancam maut!"

​Anjani berdiri tegak di samping Oliver. Meskipun hatinya bergeming dan tubuhnya masih merasakan sisa getaran ledakan tadi, ia menolak untuk menundukkan kepala. Namun, sebelum ia sempat membuka suara untuk membela diri, Adele melangkah maju dengan gerakan teatrikal yang dramatis.

​Wanita berambut pirang itu mendengus tajam, melipat tangannya di dada dengan senyuman sinis yang terukir jelas di bibirnya. Matanya membelalak lebar—menampilkan ekspresi permusuhan yang begitu pekat, layaknya tokoh antagonis wanita dalam drama sinetron layar kaca yang kejam.

​"Kau dengar itu, Anjani?" suara Adele melengking tinggi, penuh dengan cemoohan yang tajam. Ia melangkah mendekati Anjani dengan langkah menghentak, sengaja memperkecil jarak di antara mereka. "Kau ini benar-benar wanita sial! Dari hari pertama kau menginjakkan kaki di dunia Oliver, tidak ada satu pun hal baik yang kau bawa. Yang ada hanyalah kekacauan, kehancuran, dan teror berdarah!"

****

​Adele menatap Anjani dari atas sampai bawah dengan tatapan jijik yang tidak ditutup-tutupi. "Malik mantan suaminya mati bunuh diri, keluarganya hancur, dan sekarang? Psikopat gila itu datang membakar rumah ini dan nyaris merenggut nyawa Tuan dan Nyonya Jones! Kau adalah pembawa sial, Anjani! Parasit yang menempel pada pria kaya demi mengubah nasibmu yang murahan!"

​"Cukup, Adele!" bentak Oliver dengan suara yang menggelegar, urat-urat di lehernya menonjol menahan amarah yang sudah mencapai puncaknya. Ia segera menarik Anjani ke belakang punggungnya, melindungi istrinya dari pandangan penuh racun itu. "Jangan pernah berani berbicara seperti itu kepada istriku!"

​Namun, kemarahan Oliver justru membuat Adele semakin kehilangan kendali atas emosinya. Keangkuhannya sebagai wanita dari kalangan elit London yang terbiasa mendapatkan segalanya membuatnya merasa memiliki hak mutlak untuk menghancurkan siapa pun yang berani merebut posisinya.

​"Kau membela wanita ini, Oliver?!" teriak Adele histeris, air mata kemarahan mulai menggenang di pelupuk matanya. "Setelah semua yang keluargamu korbankan untukmu, kau memilih pelacur kampung ini?! Dia tidak level denganmu! Dia cuma wanita murahan yang hidup dari khayalan murahan!"

​PLAK!

Suara tamparan itu begitu keras, menggema nyaring di seluruh ruangan yang porak-poranda.

​Bukan Oliver yang melakukannya. Adele, dengan gerakan kilat yang didorong oleh kemarahan yang membabi buta, melayangkan tangannya sendiri secara sadis ke pipi Anjani. Tenaga yang ia curahkan begitu besar hingga kepala Anjani terhuyung ke samping, meninggalkan bekas kemerahan yang mencolok di kulit putihnya, disusul oleh tetesan darah kecil yang keluar dari sudut bibir Anjani akibat benturan giginya sendiri.

​"ANJANI!" teriak Oliver histeris.

Suasana seketika membeku. Tuan Jones dan Vivian terkesiap melihat tindakan nekat Adele, sementara Adele sendiri berdiri dengan napas tersengat, telapak tangannya terasa panas akibat tamparan keras yang ia daratkan. Di dalam hatinya, Adele merasa puas—ia merasa baru saja menegakkan keadilan versi keluarganya.

****

Oliver Jones perlahan berbalik. Wajah pria bule berdarah Inggris itu tidak lagi memancarkan amarah yang meledak-ledak; wajahnya berubah menjadi sangat dingin, begitu datar, namun mengerikan. Tatapan matanya yang biru menatap Adele bagaikan tatapan seekor predator yang bersiap mencabik-cabik mangsanya. Suhu di dalam ruangan itu seolah merosot drastis dalam hitungan detik.

​"Kau... menampar istriku," bisik Oliver, suaranya sangat pelan, namun bergetar hebat karena amarah yang tertahan di balik dada bidangnya.

​Adele, yang tadinya merasa di atas angin, mendadak merasakan sensasi dingin merayap di tulang punggungnya saat melihat ekspresi di wajah Oliver. Ia mundur satu langkah ke belakang. "O-Oliver... aku... aku hanya menyadarkannya..."

​BUGH!

​Tanpa aba-aba, sebuah pukulan telak melayang dari tangan Oliver, menghantam rahang Adele dengan kekuatan penuh. Wanita itu terpental hebat, jatuh tersungkur di atas lantai marmer yang berserakan pecahan kaca, menjerit kesakitan sambil memegangi pipinya yang langsung membiru dan membengkak.

​"OLIVER!" teriak Vivian histeris melihat wanita dari kalangan mereka diperlakukan seperti itu. "Apa kau sudah gila?! Kau memukul Adele demi wanita murahan itu?!"

****

Oliver menatap kedua orang tuanya dengan mata yang menyala-nyala penuh kebencian. Tidak ada lagi rasa hormat di wajahnya; yang tersisa hanyalah kemutlakan seorang pria yang telah kehilangan seluruh kesabarannya.

​"Dengar baik-baik, Ayah, Ibu, dan kau, Adele," ucap Oliver dengan suara menggelegar yang membuat seisi rumah terdiam gemetar. "Aku tidak peduli dengan perusahaan di London. Aku tidak peduli dengan warisan keluarga Jones. Dan aku paling tidak peduli dengan status sosial apa pun yang kalian banggakan!"

Oliver melangkah maju, berdiri tepat di depan orang tuanya sendiri. "Kalian datang ke sini, menghina istriku, menyalahkannya atas teror yang tidak ia perbuat, dan sekarang wanita gila itu berani menyentuhnya di rumahku sendiri? Cukup!"

​Anjani, dengan tangan yang meraba sudut bibirnya yang berdarah, menatap Oliver. Ada rasa haru yang luar biasa di dalam dadanya, bercampur dengan rasa takut melihat betapa jauh konflik ini telah merusak segalanya. Ia meraih lengan jas Oliver yang basah oleh keringat, menggelengkan kepala pelan. "Sudah, Oliver... jangan melawan keluargamu sendiri..."

****

"Tidak, Jani," ujar Oliver lembut, suaranya melunak saat menatap istrinya, sebelum kembali mengeras saat ia menoleh ke arah Adele yang masih merintih kesakitan di lantai. "Mulai detik ini, orang-orang seperti kalian tidak memiliki tempat lagi di hidupku. Keluar dari rumah ini. Sekarang!"

​Tuan Jones menatap putranya dengan napas memburu, wajahnya merah padam karena amarah dan rasa malu yang luar biasa. "Kau akan menyesal, Oliver! Kau telah membuang keluargamu sendiri demi wanita ini! Kau bukan lagi bagian dari keluarga Jones!"

'Silakan," jawab Oliver tanpa ragu sedikit pun. "Aku tidak butuh nama besar Jones untuk hidup bersama wanita yang kucintai."

​Dengan tertatih-tatih dan dibantu oleh Vivian yang menangis histeris karena ketakutan, Adele bangkit berdiri. Wajahnya yang dulunya anggun kini hancur lebur, baik secara fisik maupun harga diri. Sebelum ia melangkah keluar menuju mobil jemputan darurat yang dipanggil pengawal, Adele menatap Anjani dengan mata yang dipenuhi sumpah serapah.

​"Kau pikir kau menang, Anjani?" bisik Adele dengan suara serak penuh kebencian. "Kau belum menang... neraka yang sebenarnya baru saja dimulai untukmu."

1
Arieee
bagus👍👍👍👍👍👍👍
Serena Muna: terima kasih kak
total 1 replies
Adi Sudiro
cerita dibikin dramatis tapi penuh cela dan kebodohan
di rumah sakit kenapa tidak di bius atau di suntik mati misalkan...... tapi cerita ya tetap cerita....
Serena Muna: EMANG DIBIKIN DRAMATIS NAMANYA JUGA CERITA!
total 1 replies
Siti M Akil
g mati² ky tom Jery 🤣🤣
Heriyani Lawi
ceritanya ky film India, meskipun ditangkap bbrp kali msh aja lolos. klo aku mungkin dah kutembak mati aja tuh si dara, ngapain diserahkn ke polisi klo ujung2nya lepas lg
Heriyani Lawi
ceritanya agak aneh menurutku thor. sdh tau dara melarikan diri dan bersifat licik, knp ayahnya Anjani tidak dikawal dan dibiarkan sendiri
Dew666
👍
Iffanaya 😽
dara tu gk bisa dimasukin penjara lg, orang mcm dara lbih baik dimusnahkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!