Tahun 2042.
Manusia hidup seperti biasa dengan teknologi modern. Tidak ada yang tahu bahwa energi spiritual di Bumi mulai bangkit kembali setelah menghilang selama ribuan tahun.
Arkana Wijaya, mahasiswa berusia 20 tahun, menjalani hidup biasa hingga menemukan cincin kuno peninggalan kakeknya. Saat darahnya menyentuh cincin itu, jiwa seorang kultivator legendaris dari ribuan tahun lalu terbangun.
Namun, alih-alih mengambil alih tubuh Arkana, jiwa itu justru menghilang setelah mewariskan seluruh ingatan dan teknik kultivasinya.
Arkana menjadi satu-satunya orang yang mengetahui cara kultivasi sejati.
Sementara dunia mulai berubah, organisasi rahasia, keluarga kuno, dan makhluk yang selama ini bersembunyi juga mulai bergerak.
Bumi ternyata hanyalah dunia tingkat terendah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Rahasia Glodok dan Peta Makam Purba
Bab 15: Rahasia Glodok dan Peta Makam Purba
Arkana menyelinap keluar melalui pipa saluran pemeliharaan kota yang berkarat, muncul di sebuah gang sempit yang gelap di kawasan Glodok, Jakarta Barat. Begitu menapakkan kaki di permukaan, kebisingan kota masa depan langsung menghantam indra pendengarannya. Tahun 2042 telah mengubah Glodok menjadi pusat distrik siber yang padat, namun kini, keindahan lampu neon holografik itu tampak kontras dengan barikade kawat berduri dan pos pemeriksaan militer yang berjaga di setiap sudut jalan.
Arkana menarik dalam-dalam tudung jaketnya, mengunci Teknik Kamuflase Napas Kaisar di dalam jiwanya. Seketika itu juga, fluktuasi energi kuat milik ranah Spirit Gathering Tingkat Dua menyusut hingga ke titik nadir, membuatnya tampak persis seperti pemuda fana biasa dengan tingkat adaptasi partikel E-01 yang sangat rendah.
Di ujung jalan utama, sebuah pos pemeriksaan Biro Keamanan Khusus berdiri dengan ketat. Beberapa tentara berzirah taktis tampak memegang perangkat genggam berbentuk pistol dengan lampu indikator pemindai berwarna biru—Aura-Meter generasi terbaru.
"Hei, kau! Berhenti di sana!" bentak seorang prajurit saat Arkana melangkah mendekat.
Prajurit itu mengarahkan moncong lensa Aura-Meter tepat ke arah dada Arkana. Alat itu mengeluarkan suara mendengung pendek sebelum memproyeksikan layar teks holografik kecil di udara:
HASIL SKRINIING:
Kepadatan Partikel E-01: 5.2%
Kategori: Manusia Fana / Risiko Rendah
Prajurit itu menguap bosan, menurunkan senjatanya, dan mengibaskan tangan dengan malas. "Hanya mahasiswa fana biasa. Cepat jalan, jangan berkeliaran di luar selama jam malam militer!"
"Terima kasih, Pak," ucap Arkana dengan nada gemetar yang dibuat-buat, lalu segera melangkah pergi melintasi barikade. Di balik tudung jaketnya, sepasang mata peraknya berkilat penuh kemenangan; teknik kamuflase warisan kakeknya bener-bener sempurna mengecoh teknologi tercanggih milik Aditia Pramono.
Arkana berjalan menyusuri tangga beton menuju lantai bawah tanah ketiga dari sebuah plaza elektronik tua yang sudah setengah terbengkalai. Di sinilah letak pasar gelap siber Glodok yang sesungguhnya. Tempat ini dipenuhi oleh uap dari pipa pendingin yang bocor, bau oli mesin, dan aroma aneh dari tanaman-tanaman liar yang mulai tumbuh mutan di sela-sela kabel optik.
Di sepanjang koridor bawah tanah, para pedagang ilegal tidak lagi hanya menawarkan suku cadang drone atau implan siber bajakan. Di atas meja-meja besi mereka, kini terpajang botol-botol kaca berisi cairan tanaman yang memancarkan pendaran cahaya redup, serta pecahan batu meteorit yang mengandung sisa-sisa energi spiritual murni.
Arkana mengedarkan indra batinnya secara halus, menyapu seluruh lapak dagangan. Sebagian besar herbal yang dijual di sini hanyalah tanaman liar biasa yang kebetulan terpapar sedikit kabut Qi, tidak memiliki nilai esensial bagi kultivator sejati.
Langkah Arkana akhirnya terhenti di depan sebuah toko paling pojok dengan papan nama holografik yang berkedip rusak: "Klinik Siber & Herbal Ko Tio".
Di balik meja konter, seorang pria paruh baya keturunan Tionghoa berkacamata siber tebal sedang teliti membersihkan akar sebuah tanaman berbentuk seperti ginseng berurat darah. Menggunakan pandangan batin ranah Tingkat Dua, Arkana langsung bisa melihat bahwa pria bernama Ko Tio ini memiliki aliran energi yang sedikit lebih teratur daripada manusia biasa—dia adalah seorang praktisi independen di ranah Body Tempering Tingkat Tiga.
"Mau cari apa, Anak Muda?" tanya Ko Tio tanpa mendongak, suaranya serak khas perokok berat. "Suku cadang neuro-link atau... suplemen energi baru?"
Arkana melangkah mendekat, mengetukkan jarinya di atas meja konter dengan irama tertentu yang ia pelajari dari Jade Slip peninggalan kakeknya—sebuah kode ketukan kuno di antara sesama praktisi spiritual.
Ketukan itu seketika membuat gerakan tangan Ko Tio membeku. Ia perlahan mendongak, menatap Arkana dengan jeli dari balik kacamata sibernya. Meskipun pemindai energinya mendeteksi pemuda di depannya hanya memiliki bakat lima persen, insting lamanya sebagai pengelana pasar gelap mendeteksi ada sesuatu yang tidak biasa dari ketenangan Arkana.
"Ikut aku ke belakang," bisik Ko Tio pendek. Ia membalik papan nama tokonya menjadi CLOSED lalu menuntun Arkana masuk ke dalam ruang kerja pribadinya yang dipenuhi oleh monitor siber kuno dan aroma ramuan herbal yang pekat.
"Kau tahu kode ketukan faksi pengawas kuno... Siapa kau sebenarnya?" tanya Ko Tio langsung, menyandarkan tubuhnya pada kursi besi sembari melipat tangan di dada.
"Aku hanya seorang kultivator independen yang sedang mencari sumber daya murni," jawab Arkana tenang, mengubah suaranya menjadi sedikit lebih berat menggunakan manipulasi Qi di tenggorokannya. "Aku dengar Ko Tio punya pasokan informasi paling cepat tentang pergerakan energi di sekitar Jawa Barat."
Ko Tio terdiam sejenak, lalu terkekeh pelan. "Kultivator independen, ya? Di era gila seperti sekarang, bertindak sendiri tanpa perlindungan militer atau klan besar adalah cara tercepat buat mati. Tapi, karena kau tahu kode rahasia itu... aku punya sesuatu yang bisa jadi sangat menarik buatmu, atau justru jadi kuburanmu."
Ko Tio mengambil sebuah data-drive siber berbentuk kristal segitiga dari dalam laci besi berenkripsi tinggi, lalu menancapkannya ke salah satu monitor. Layar di dinding seketika memproyeksikan peta topografi tiga dimensi dari kawasan perbukitan Sentul, Bogor.
Di tengah-tengah peta perbukitan tersebut, tampak sebuah titik merah besar yang dikelilingi oleh pola lingkaran spiral energi yang sangat masif.
"Dua belas jam yang lalu, terjadi gempa tektonik lokal di koordinat ini," jelas Ko Tio, matanya berkilat serius. "Pemerintah bilang itu cuma pergeseran tanah akibat kelembapan tinggi. Tapi satelit siberku menangkap hal lain: sebuah patahan spasial alami terbuka karena lonjakan partikel E-01 dari dalam perut Bumi. Di dalam patahan itu, runtuhan sebuah bangunan kuno yang sangat besar mencuat ke permukaan."
Arkana menyipitkan matanya menatap proyeksi tersebut. Struktur bangunan kuno itu memiliki pola arsitektur pertahanan yang sangat familier di ingatannya. "Itu... bukan sekadar bangunan kuno. Itu adalah Makam Kultivator Kuno (Ancient Cultivator's Tomb) dari Era Kejayaan Primordial!" batin Arkana, jantungnya berdegup kencang.
"Makam itu memancarkan radiasi energi spiritual yang luar biasa padat," lanjut Ko Tio dengan suara berbisik. "Bahkan dari jarak jauh, radar mendeteksi keberadaan fluktuasi yang setara dengan ratusan tanaman herbal tingkat spiritual tinggi dan kemungkinan adanya sisa-sisa pusaka kuno yang masih utuh."
"Siapa saja yang sudah tahu informasi ini?" tanya Arkana tajam.
Ko Tio menghela napas panjang, wajahnya dipenuhi kecemasan. "Itu masalah utamanya. Informasi ini sudah bocor. Klan Gagak Hitam—kelompok bajingan berjubah hitam yang berbasis di Jakarta—sudah mengirimkan tim elit mereka ke lokasi sejak tiga jam lalu. Bukan cuma mereka, Biro Keamanan Khusus di bawah komando Mayor Jenderal Aditia Pramono juga sedang memobilisasi dua batalyon pasukan elit berzirah berat lengkap dengan drone penghancur bertenaga energi untuk mengepung seluruh area Sentul besok pagi."
Ko Tio mencabut data-drive tersebut lalu melemparkannya ke arah Arkana. Arkana menangkapnya dengan mudah.
"Peta koordinat lengkap dan analisis perimeter militer ada di dalam drive itu. Harganya gratis, anggap saja ini bentuk penghormatanku pada garis keturunan yang kau bawa," ucap Ko Tio dengan pandangan penuh arti. "Tapi ingat, Anak Muda. Tempat itu sekarang sudah berubah jadi ladang pembantaian sebelum pintunya bahkan terbuka. Jangan nekat ke sana kalau basis kekuatanmu belum siap."
Arkana menggenggam erat kristal segitiga itu di telapak tangannya. Di bawah tudung jaketnya, senyuman tipis kembali terukir di wajah pemuda berusia dua puluh tahun itu.
Bagi praktisi biasa, konfrontasi antara militer bersenjata mutakhir dan klan kuno adalah neraka yang harus dihindari. Namun bagi Arkana yang memiliki pondasi murni dari Kitab Primordial Kaisar Abadi dan Teknik Kamuflase Napas, ini adalah air keruh yang sangat sempurna untuk memancing komoditas terbesar yang ia butuhkan untuk menerobos ke ranah berikutnya.
"Terima kasih atas informasinya, Ko Tio," ucap Arkana pendek, sebelum tubuhnya berbalik dan kembali menghilang ke dalam kegelapan lorong pasar gelap Glodok, bersiap memburu takdirnya di perbukitan mistis Sentul.