NovelToon NovelToon
Sistem Cashback 10x: Semakin Boros, Semakin Kaya!

Sistem Cashback 10x: Semakin Boros, Semakin Kaya!

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Sistem / Kaya Raya / Tamat
Popularitas:53.3k
Nilai: 5
Nama Author: Galih Lestari

"Dikhianati istri, diperas mertua, membesarkan anak yang bukan darah dagingnya.

Raka Pratama hidup bak budak — sampai ia terlahir kembali dengan Sistem Cashback 10x. Sekarang, setiap rupiah yang ia habiskan kembali sepuluh kali lipat.

Perceraian? Ia yang memulai. Konglomerat yang mengancam? Hancur. Pejabat korup? Ditangkap hidup-hidup. Dari nol menuju jajaran orang terkaya dunia — ini bukan dongeng. Ini balas dendam.
"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Bab 16 - Karisma +100%

[Selamat! Hadiah khusus telah dibuka: Peningkatan Karisma +100%. Aktifkan sekarang?]

Raka menatap panel biru itu di dalam Alphard.

Di luar kaca mobil, orang-orang keluar masuk Pengadilan Agama dengan wajah berbeda-beda. Ada yang menangis. Ada yang kosong. Ada yang menunduk sambil memegang map seperti memegang pecahan hidup.

Raka baru saja keluar dari satu neraka kecil.

Sistem menawarkan hadiah.

"Aktifkan."

Tidak ada cahaya menyilaukan. Tidak ada rasa tubuh dibakar seperti saat Peningkatan Fisik 10x aktif. Yang muncul hanya rasa hangat tipis di wajah, leher, dan punggung. Seperti mandi air hangat setelah bertahun-tahun tidur di lantai dingin.

Panel itu berkedip.

[Peningkatan Karisma +100% aktif.]

[Efek: peningkatan harmoni wajah, postur, kualitas suara, ekspresi, dan kesan pertama.]

[Batasan: bukan hipnosis. Tidak menghapus kehendak bebas orang lain. Tidak menggantikan kepercayaan, kemampuan, atau persetujuan.]

Raka membaca batasan itu dengan puas.

Bagus.

Ia tidak butuh dunia dipaksa menyukainya.

Ia hanya butuh orang melihatnya tanpa lumpur yang dulu ditempelkan Ratna dan keluarganya.

Keesokan paginya, Raka berdiri di depan cermin kamar mandi.

Wajah di cermin masih wajahnya.

Hidungnya tidak berubah menjadi milik aktor drama. Rahangnya tidak tiba-tiba seperti patung. Matanya tetap mata Raka Pratama, pria yang pernah kurang tidur karena mengejar bug produksi dan membayar cicilan orang lain.

Tetapi semuanya lebih rapi.

Kulitnya tampak lebih sehat. Lingkar gelap di bawah mata menipis. Bahunya lebih terbuka. Cara ia berdiri tidak lagi seperti orang yang siap meminta maaf sebelum bicara.

Ia mengangkat dagu sedikit.

Pantulan itu membalas dengan tenang.

"Jadi begini rasanya tidak dibebani parasit," gumamnya.

Ia mengenakan kemeja putih baru, celana gelap, dan jam tangan yang sederhana tetapi mahal. Bukan untuk pamer. Ia hanya ingin pakaiannya akhirnya mengikuti posisi hidupnya.

Siang itu, ia pergi ke mall.

Efeknya langsung terasa.

Petugas parkir menyapanya dua kali lebih sopan. Seorang penjaga toko membukakan pintu sebelum ia menyentuh gagang. Dua perempuan muda di dekat eskalator melirik, lalu cepat-cepat menunduk sambil berbisik.

Raka tidak memperlambat langkah.

Perhatian bukan kemenangan.

Ia masuk ke toko pakaian pria dan memilih beberapa setelan kasual bisnis, sepatu, tas kerja kulit, serta koper dokumen. Seorang sales perempuan bernama Lia membantunya dengan wajah sedikit gugup.

"Pak, ukuran ini sepertinya pas. Kalau Bapak mau, kami juga bisa siapkan tailoring cepat."

"Siapkan."

"Baik, Pak."

Lia beberapa kali menjatuhkan hanger. Bukan karena bodoh. Ia jelas hanya terlalu sadar sedang diperhatikan oleh pelanggan yang membuat ruang toko terasa lebih terang.

Seorang sales pria lain mendekat menawarkan jam tangan edisi terbatas. Nadanya terlalu halus, seolah satu pembelian besar bisa membuka pintu ke pembelian lain.

"Pak Raka cocok sekali dengan model ini. Banyak direktur muda memilih seri ini."

Raka melihat jam itu. Bagus, mahal, dan tidak ia butuhkan.

"Tidak hari ini."

"Kami bisa beri prioritas pelanggan khusus."

"Saya bilang tidak."

Sales itu langsung mundur sopan.

Raka mencatat reaksi itu dalam kepala. Karisma membuat penolakan terdengar lebih final. Orang lebih cepat memberi ruang. Lebih cepat menganggap ucapannya penting. Itu berguna, tetapi juga berbahaya.

Jika ia bicara tanpa berpikir, orang mungkin akan mengikuti kesalahan dengan wajah percaya.

Jika ia memberi harapan kosong, orang mungkin akan menganggapnya janji.

Kekuatan semacam ini harus dipakai seperti tanda tangan di kontrak.

Sedikit saja ceroboh, akibatnya nyata.

Saat tagihan dicetak, Raka melihat angka di struk.

Rp 74.300.000.

Ia membaca daftar barang, lalu mengangkat alis.

"Ini salah."

Wajah Lia langsung pucat. "Maaf, Pak?"

"Sepatu cokelat tidak masuk dua pasang. Saya hanya ambil satu."

Lia memeriksa layar kasir, lalu menutup mulut. "Aduh, benar. Maaf sekali, Pak. Saya hapus sekarang."

"Tenang. Perbaiki saja."

Kasir di sebelah ikut gelisah. "Maaf, Pak. Biasanya tidak begini."

"Semua orang bisa salah."

Tagihan akhir menjadi Rp 62.800.000.

Raka membayar.

[Transaksi tervalidasi.]

[Pengeluaran sah kepada pihak ketiga: Rp 62.800.000.]

[Cashback 10x diproses: Rp 628.000.000.]

Saldo: Rp 18.684.633.900.

Lia menyerahkan struk dengan dua tangan. "Terima kasih, Pak Raka. Barangnya kami antar ke alamat Bapak sore ini."

"Terima kasih, Lia."

Nama itu ia baca dari name tag, tetapi Lia tampak seperti baru saja menerima penghargaan.

Raka keluar dari toko dengan napas pelan.

Karisma memang bekerja.

Tetapi jika ia membiarkan efek itu membuatnya malas, ia akan menjadi jenis pria yang dulu ia benci: merasa pantas dihormati hanya karena wajah, uang, atau aura.

Kepercayaan harus tetap dibayar dengan tindakan.

Persetujuan harus tetap jelas.

Kemampuan tetap harus dibuktikan.

Ia membeli kopi di kios kecil dekat atrium. Barista muda itu hampir salah menulis namanya di gelas karena terlalu sering mencuri pandang.

Raka hanya tersenyum sopan dan menunggu seperti pelanggan biasa.

Kehidupan baru tidak berarti semua orang di sekitarnya harus berputar mengelilinginya.

Ia duduk di sebuah restoran kecil di lantai atas mall, memesan makan siang dan membuka tablet. Ada pesan baru dari Sari.

Pelayan yang mengantar makanan tersenyum terlalu lama.

"Kalau Bapak butuh apa-apa lagi, panggil saya saja."

"Terima kasih."

"Saya Rina, Pak."

Raka mengangguk sopan, lalu kembali menatap tablet.

Ia tidak memberi nomor. Tidak memberi kalimat menggantung. Tidak memberi senyum yang bisa dibaca sebagai undangan.

Perempuan itu bekerja. Ia pelanggan. Batasnya sesederhana itu.

Dulu, Raka begitu lapar dihargai sampai satu senyum ramah bisa membuatnya merasa berutang balas. Sekarang ia tahu, tidak semua perhatian harus diambil. Tidak semua pintu harus dibuka. Seorang pria yang baru bebas dari manipulasi seharusnya tidak belajar menjadi manipulator versi baru.

Sari: Aku punya waktu besok sore. Kalau kamu sudah siap bicara soal rencana bisnis, kita ketemu.

Raka mengetik, lalu berhenti.

Ia sadar sesuatu.

Dengan wajah dan aura barunya, ia bisa saja datang dan membiarkan kesan pertama bekerja terlalu banyak. Tetapi Sari bukan orang yang pantas didekati dengan efek sistem. Perempuan itu melihat angka, risiko, dan struktur.

Ia menjawab.

Besok sore bisa. Aku akan bawa data, bukan cerita.

Balasan Sari muncul satu menit kemudian.

Sari: Bagus. Aku juga akan bawa pertanyaan yang tidak nyaman.

Raka tersenyum.

Itu lebih menarik daripada pujian.

Beberapa menit kemudian, Sari mengirim satu pesan lagi.

Sari: Untuk riset pasar dan latar belakang beberapa orang, kamu mungkin butuh investigator independen. Ada satu nama. Anak Bandung, agak menyebalkan, tapi tajam. Jangan minta dia memalsukan apa pun.

Raka menatap pesan itu.

Di bawahnya, Sari mengirim kartu kontak.

Sari jarang memberi rekomendasi tanpa alasan. Jika nama itu muncul, berarti urusan Raka sudah melewati bantuan biasa.

Nama itu tertulis di sana: Yuli Andriani.

1
Wega Luna
ka,rumah kita dekat dong ,saya tinggal di belakang perumahan Citraland🤣🤣🤣🤣, sawah saya sudah dibeli Citraland,,cuma masih boleh ditanami belum dibangun🤭🤭🤭
casanova
kurang suka bacanya
Tyo Reanu
bener2...dont judge a book by its cover....
Tyo Reanu
Awalnya, sempat mengira cerita ini hanya akan seperti cerita2 sistem pada umumnya, cheesy,dendam,absurd...dan saya mintamaaf yang sebesar2nya untuk penulis akan itu.
mungkin sepertinya, baru kali ini aku baca cerita di platform online yang punya alur, bahasa dan kekuatan cerita kaya gini.
terimakasih untuk cerita luarbiasa nya Gan....
irena
bagus banget ceritanya thor
Anonim
ceritanya menarik
Zidan Official
knp GK ceraiii aja woii
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
Aang Reza
bagus👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!