Setelah lima tahun berjuang tanpa hasil, Ardiah akhirnya menyerah pada desakan keluarga suaminya. Ia meminta Ferdi menceraikannya demi memenuhi keinginan ibunya untuk menikah lagi.
Dengan hati hancur, mereka pun berpisah. Namun dari rasa sakit itu, Ardiah bangkit dengan penampilan baru, memakai hijab dan kembali bekerja sebagai desainer interior di sebuah perusahaan besar.
Di sana, ia bertemu Haikal Akram, CEO muda yang dulu sering mengganggunya saat kuliah. Awalnya Ardiah tak suka padanya, tapi seiring waktu, sikap Haikal berubah menjadi lebih dewasa dan penuh perhatian.
Sementara itu, Ferdi mulai menyadari kesalahannya setelah melihat Ardiah tumbuh menjadi wanita kuat dan mandiri.
Apakah cinta pertama bisa kembali? Atau justru Ardiah akan menemukan kebahagiaan sejati bersama Haikal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LEMBUR BERSAMA.
“Hujan deras sekali.”
Ardiah menatap jendela kaca kantor yang kini buram oleh guyuran air. Jam di dinding menunjukkan pukul sembilan malam. Hanya lampu meja kerjanya dan satu lampu lain di ruang CEO yang menyala. Sisanya gelap gulita, menciptakan suasana hening yang hanya diisi suara ketikan keyboard dan deru hujan.
Haikal keluar dari ruangannya, membawa dua kotak pizza besar. Wajahnya datar, mencoba terlihat santai meski matanya sesekali melirik Ardiah dengan waspada.
“Makan,” perintah Haikal, meletakkan kotak-kotak itu di meja Ardiah. “Sisa rapat direksi siang tadi. Sayang kalau dibuang.”
Ardiah menghentikan ketikannya. Ia menatap kotak pizza itu, lalu menatap Haikal. “Rapat direksi jam sembilan malam? Dan mereka makan pizza durian?”
Haikal terbatuk kecil, wajahnya sedikit memerah. “Bukan durian. Itu... edisi spesial. Cepatlah makan sebelum dingin. Kamu butuh energi.”
Ardiah ragu, namun perutnya memang berbunyi keras. Ia membuka kotak pizza. Aroma aneh langsung menyerbu hidungnya. Manis, tajam, dan agak busuk. Di atas potongan keju meleleh, terpampang jelas irisan buah nanas kuning cerah dan daging durian yang lembek.
Ardiah mengerutkan hidung jijik. “Pak Haikal, ini kombinasi apa?”
“Itu Hawaiian Durian Fusion,” jawab Haikal cepat, menghindari tatapan Ardiah. Dia mengambil satu potong dan menggigitnya dengan wajah datar, meski alisnya berkedut menahan rasa muak. “Enak. Kreatif. Seperti desainmu.”
Ardiah menelan ludah. Dia lapar, sangat lapar. Dengan keberanian nekat, ia mengambil satu potong kecil. Saat masuk ke mulut, rasanya seperti ledakan konflik. Asin, manis, lengket, dan bau. Lidahnya memberontak.
“Ini...” Ardiah menutup mulutnya rapat-rapat, matanya berkaca-kaca karena jijik. “Ini menjijikkan, Pak.”
Haikal berhenti mengunyah. Dia menelan paksa potongan pizza itu, lalu menghela napas panjang. Topeng kewibawaannya retak. “Maaf,” akunya pelan. “Aku salah pesan. Aku gugup saat memilih menu di aplikasi. Tanganku gemetar. Aku kira itu topping biasa.”
Ardiah menatap Haikal tak percaya. CEO Artha Design, pria yang selalu sempurna, mengaku gugup memesan pizza?
“Jadi, Anda tidak makan sisa rapat?” tanya Ardiah.
“Tidak ada rapat,” aku Haikal jujur, bahunya merosot. “Aku cuma ingin menemanimu. Tapi aku bodoh. Maafkan aku, Kak Ardiah.”
Melihat Haikal yang tampak kecil dan menyesal, rasa kesal Ardiah luntur. Dia tertawa kecil, tawa lelah yang melegakan. “Baiklah. Buang pizza itu. Kita cari makanan lain.”
Mereka turun ke lantai dasar, menuju mesin penjual otomatis di sudut koridor yang sepi. Haikal memasukkan koin, membeli dua cup mie instan rasa ayam bawang. Mereka duduk di lantai karpet, bersandar pada dinding dingin, sambil menunggu air panas mendidih di dispenser.
Suara hujan di luar semakin kencang, menciptakan isolasi dunia kecil bagi mereka berdua.
“Kenapa kamu bekerja begitu keras, Diah?” tanya Haikal tiba-tiba, suaranya lembut. Dia tidak lagi memanggilnya ‘Kak’ atau ‘Nona’.
Ardiah mengaduk mie-nya dengan garpu plastik. “Karena saya harus mandiri. Saya tidak punya siapa-siapa lagi untuk diandalkan.”
Haikal menunduk, menatap uap panas dari cangkir mienya. “Aku juga sering merasa sendiri. Menjadi CEO berarti semua orang mengharapkan kekuatan dariku. Tidak ada tempat untuk lemah. Kadang, aku iri padamu. Kamu bisa menangis karena pedas, bisa marah karena pizza buruk. Aku... aku bahkan tidak bisa mengeluh.”
Ardiah menoleh, memandang profil Haikal yang terlihat rapuh dalam cahaya remang-remang. Untuk pertama kalinya, dia melihat Haikal bukan sebagai bos yang tengil, tapi sebagai manusia yang kesepian.
“Kamu tidak sendirian, Kal,” bisik Ardiah tanpa sadar menggunakan nama panggilan akrab.
Haikal menoleh, matanya berbinar. Senyum tipis terbentuk di bibirnya. “Terima kasih, Diah.”
Mereka memakan mie instan itu dalam hening yang nyaman. Tiba-tiba, Haikal tersedak. Mie yang belum sepenuhnya dingin tersangkut di tenggorokannya. Dia batuk-batuk dramatis, wajahnya merah padam, air mata keluar.
“Astaga! Pak!” Ardiah panik, menepuk punggung Haikal.
Haikal terus batuk, suaranya nyaring di lorong sepi. Image CEO dinginnya hancur lebur dalam sekejap. Ardiah berusaha menahan tawa, tapi gagal. Dia tertawa lepas, sementara Haikal akhirnya berhasil menelan mie itu dengan napas tersengal-sengal.
“Jangan... jangan ceritakan ini pada siapa pun,” gagap Haikal, wajahnya masih merah.
“Rahasia aman,” janji Ardiah sambil tersenyum.
Setelah selesai, hujan mulai reda. Ardiah berdiri, membereskan sampah. “Saya pulang dulu, Pak. Terima kasih untuk temannya.”
“Aku antar,” tawar Haikal sigap, berdiri dan merapikan jasnya.
“Tidak perlu,” tolak Ardiah tegas. “Saya sudah memesan taksi online.”
“Diah, sudah larut. Bahaya.”
“Saya bisa menjaga diri sendiri,” potong Ardiah dingin. Tembok profesionalismenya kembali naik. Dia tidak mau berhutang budi lebih banyak lagi. Dia berjalan menuju lobi, meninggalkan Haikal yang berdiri terpaku dengan wajah kecewa.
Ardiah mendapatkan taksi dan segera pergi. Haikal menatap mobil itu menghilang dalam kegelapan. Rasa khawatir menggerogoti hatinya. Dia tidak bisa membiarkan Ardiah pulang sendirian ke tempat yang mungkin tidak aman.
Haikal segera masuk ke mobil mewahnya, mengikuti lampu belakang taksi dari jarak jauh. Dia menjaga jarak agar tidak ketahuan, perasaannya bercampur antara keinginan melindungi dan rasa bersalah karena melanggar privasi Ardiah.
Taksi itu berbelok masuk ke gang sempit di pinggiran kota. Jalanan berlubang, lampu jalan banyak yang mati. Haikal memperlambat laju mobilnya, jantungnya berdebar kencang. "Tempat seperti ini tidak cocok untuk Ardiah." gumamnya.
Taksi berhenti di depan sebuah rumah kos tua yang catnya sudah mengelupas. Pagar besinya berkarat, dan suasana sekitarnya terasa suram. Ardiah turun, membayar supir, dan berjalan masuk ke halaman kos dengan langkah lelah.
Haikal mematikan mesin mobilnya, parker di ujung gang yang gelap. Dia menatap Ardiah yang hilang di balik pintu gerbang besi yang berderit. Rasanya sakit melihat wanita yang ia kagumi hidup dalam kondisi seperti itu. Sementara dia tinggal di apartemen mewah, Ardiah berjuang di tempat yang bahkan terlihat tidak layak huni.
“Aku akan mengubah ini,” gumam Haikal pada dirinya sendiri, tangannya mencengkeram setir mobil erat-erat. “Aku tidak akan membiarkanmu hidup begini selamanya, Diah.”
Dia tidak turun dari mobil. Dia hanya duduk di sana, memastikan lampu kamar Ardiah menyala, tanda bahwa wanita itu sudah sampai dengan selamat. Baru setelah itu, Haikal menyalakan mobilnya dan perlahan pergi, meninggalkan gang kumuh itu dengan tekad baru yang membara di dadanya.
udah tak kasih kopi buat temen begadang...