Di dunia di mana para penyihir saling pamer ledakan dan mantra panjang, Kaelen Vance mantan pakar cybersecurity yang bereinkarnasi menjadi putra bangsawan miskin memilih menjadi anomali yang tak terlihat. Melihat sihir kuno tak lebih dari sistem jaringan yang penuh celah keamanan, Kael dengan sengaja memasukkan "kode rusak" pada ujian masuk Akademi Sihir. Tujuannya satu: dibuang ke Kelas F, sebuah gedung tua dengan sistem keamanan magis kedaluwarsa yang menjadi titik buta sempurna untuk meretas arsip kerajaan.
Publik mencapnya sebagai "Sampah Akademi". Mereka tidak tahu bahwa Kael tidak butuh merapal mantra; ia menyimpan struktur sihir di otaknya secara permanen layaknya NVRAM, dan menggunakan cincinnya sebagai router untuk meretas dan membelokkan serangan musuh di udara. Kael tidak butuh validasi atau menjadi pahlawan—ia menghancurkan musuhnya secara diam-diam dari balik layar.
Namun,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YANDRI HS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 8: Log Analisis
Riuh rendah kebingungan masih menggema di penjuru arena saat pengumuman kemenangan Bax dikumandangkan. Para bangsawan berbisik-bisik, saling melempar pandangan curiga ke arah artefak pelindung utama yang terletak di dinding utara stadion. Di tribun kehormatan, Master Therion terlihat memarahi para teknisi akademi dengan urat leher yang menonjol keluar, menuntut penjelasan mengapa sistem pelindung bisa mengalami *glitch* fatal yang memantulkan sihir pewarisnya sendiri.
Di tengah kekacauan itu, Kael bangkit dari tempat duduknya dengan tenang.
"Pertunjukan selesai," ucap Kael datar. Ia merapikan jubahnya. "Target utama kita, yaitu memetakan celah komunikasi antara artefak arena dan server inti, sudah tercapai seratus persen. Kita tidak punya alasan untuk tinggal di sini."
Elara ikut berdiri, melipat kipasnya dengan gerakan elegan. Matanya menyapu sekeliling, menikmati kepanikan faksi Therion dengan senyum tipis penuh kepuasan. "Kau baru saja mempermalukan keluarga bangsawan terkuat di akademi ini di depan seluruh dewan pengawas, Kaelen. Dan hebatnya, tidak ada satu pun dari mereka yang bisa membuktikan itu adalah perbuatanmu."
"Itu bukan pamer," balas Kael tanpa menoleh, berjalan menuruni tangga tribun. "Itu efisiensi. Menggunakan kekuatan musuh untuk menghancurkan pertahanan mereka sendiri adalah cara paling hemat energi."
Mereka berjalan berdampingan meninggalkan area stadion, menyusuri koridor batu yang mulai sepi karena para penonton beralih fokus mengerumuni arena. Di ujung koridor yang remang-remang, Bax tiba-tiba berlari tergopoh-gopoh menghampiri mereka. Napas remaja berambut ikal itu terengah-engah, jubah abu-abunya dipenuhi debu arena, namun matanya bersinar terang penuh keajaiban.
"Vance! Sumpah, demi apa tadi?!" seru Bax histeris sambil mencengkeram bahu Kael. "Gue berdiri di sana pas bola api Valerius meluncur ke arah muka gue, gue udah pasrah mikir besok nama gue tinggal nisan! Tapi tiba-tiba api itu muter balik kayak punya GPS sendiri! Itu... itu sihir apa? Jangan bilang lo diem-diem penyihir legendaris?!"
Kael menatap tangan Bax di bahunya dengan dingin. Bax yang merasakannya langsung menarik tangannya sambil tersenyum canggung.
"Kau hanya berada di jalur pantulan data yang salah, Baxley," jawab Kael monoton. "Keberuntungan statistik. Kembalilah ke Kelas F dan jangan berisik."
Sebelum Bax sempat protes, Elara memotong dengan nada sarkastis, "Dengarkan saja kata-kata anak jenius ini, Baxley. Kalau kau terus banyak tanya, sistem bisa-bisa menghapus memorimu karena dianggap memuat *bug* berlebihan."
Bax menelan ludah, memilih mundur perlahan sambil mengangkat kedua tangan. "O-oke, oke! Yang penting gue menang dan nggak jadi fosil! Gue duluan ke asrama!" Remaja itu langsung ngibrit meninggalkan mereka berdua.
Setelah bayangan Bax menghilang di balik tikungan, Elara menoleh ke arah Kael. Ekspresinya berubah lebih serius, nada suaranya merendah menjadi bisikan. "Penyusupan ke artefak arena tadi meninggalkan jejak residu data yang sangat tipis di server inti. Master Therion mungkin bodoh, tapi para tetua di Dewan Agung tidak akan tinggal diam. Mereka akan menyelidiki anomali ini."
"Biarkan mereka menyelidiki," kata Kael tenang, melangkah menyusuri lorong menuju sayap barat akademi. "Mereka mencari pelaku sihir destruktif atau lingkaran mantra terlarang. Mereka tidak akan pernah menemukan apa pun, karena tidak ada satupun mantra yang dirapal. Aku hanya mengubah rute paket yang sudah ada."
Elara menyamakan langkahnya di sisi Kael. "Lalu, apa langkahmu selanjutnya, Arsitek? Faksi Therion pasti sedang merencanakan tindakan balasan. Mereka tidak akan membiarkan kekalahan memalukan ini lewat begitu saja."
Kael berhenti di depan pintu masuk sayap Kelas F. Ia menoleh menatap Elara sejenak. "Mereka punya kekuasaan dan jaringan aristokrasi. Tapi infrastruktur akademi ini sepenuhnya berada di bawah kendali logika."
Kael mengeluarkan cincin peraknya dari saku, memutarnya perlahan di bawah cahaya obor dinding yang berkedip. "Saat mereka sibuk memperketat *firewall* fisik di luar, aku sudah menanamkan *backdoor* permanen di dalam server pusat mereka lewat turnamen tadi. Fase *Reconnaissance* sudah selesai. Kita memasuki fase berikutnya."
Elara menaikkan sebelah alisnya, senyum tipis terkembang di bibirnya. "Dan apa nama fase itu?"
Kael membuka pintu reyot Kelas F, memperlihatkan kegelapan ruangan di baliknya. "Eskalasi hak akses. Kita akan mengambil alih sistem mereka dari dalam, sebelum mereka sadar bahwa server utama mereka sudah lama diretas."