Setelah mengorbankan kuliah, rumah warisan, dan masa mudanya demi membuat Daril sukses, Vira malah dibunuh oleh suami yang dicintainya itu.
Lebih menyakitkan lagi, sepupu yang ia tampung ternyata berselingkuh dengan suaminya. Hatinya makin hancur saat tahu, suami, sepupu dan ibu mertua yang selama ini ia rawat dengan baik, ternyata sudah lama menantikan kematiannya.
Takdir memberinya kesempatan kedua: kembali ke masa lalu. Ia bertekad tidak akan pernah menikahi Daril.
Namun saat ia mengubah satu keputusan untuk selamat, rahasia demi rahasia keluarga terbuka. Rahasia yang mengubah arti cinta dan memaksa Vira memilih antara balas dendam atau memaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Rezeki Pertama, Balasan Pertama
Adzan Zuhur telah selesai berkumandang sekitar tiga puluh menit yang lalu ketika suara motor berhenti di halaman rumah Vira.
Brumm...
Arvin mematikan mesin motornya, lalu melepas helm yang menutupi kepalanya. Wajahnya tampak begitu berseri.
Vira yang baru keluar dari rumah langsung tersenyum ketika melihat tak ada lagi satu pun kantong pakaian di atas motor.
"Udah ketitip semua?" tanyanya.
Arvin mengangguk mantap. "Iya, Ra. Habis semua."
"Serius?"
"Iya." Senyum Arvin semakin mengembang. "Bahkan ada beberapa orang yang beli cash. Aku jual sedikit lebih mahal dari harga yang kamu tentuin."
"Wah, bagus!" Mata Vira ikut berbinar. "Ada berapa potong yang laku tunai?"
"Lima potong." Arvin mengeluarkan beberapa lembar uang dari saku jaketnya, lalu menyerahkannya kepada Vira. "Nih uangnya."
Vira menerimanya sambil mengangguk puas. "Ayo masuk dulu. Kita hitung sama-sama di dalam."
"Iya."
Mereka pun masuk ke rumah. Di ruang tengah, Arvin mulai menceritakan satu per satu barang yang berhasil terjual. Ia menjelaskan berapa potong yang dibeli secara kredit, siapa saja yang mengambilnya, serta lima potong yang berhasil dijual tunai.
Vira mencatat semuanya dengan teliti di buku pembukuan, lalu menghitung keuntungan yang menjadi hak Arvin.
"Nih," katanya sambil menyerahkan beberapa lembar uang.
Arvin menerimanya dengan ragu.
"Ini buatku?"
"Iya. Itu bagian keuntunganmu."
Yanti yang hendak ke dapur dan sengaja menguping melihat lembaran uang di tangan Arvin. "Banyak juga," batinnya iri.
Arvin memandangi uang di tangannya cukup lama. Seketika dadanya terasa hangat.
Selama menjadi buruh kasar, ia harus bekerja seharian penuh di bawah terik matahari untuk mendapatkan upah yang bahkan belum tentu sebesar uang yang kini berada di genggamannya.
Sedangkan hari ini...
Baru setengah hari berkeliling menawarkan pakaian, penghasilannya hampir menyamai upah satu hari penuh menjadi buruh.
Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat. "Terima kasih, Ra."
Suara Arvin terdengar bergetar. "Aku jadi makin semangat."
Vira ikut tersenyum. "Itu baru hari pertama. Jangan cepat puas."
Arvin mengangguk mantap. "Aku mau ambil barang lagi. Siapa tahu sore nanti masih ada yang mau nitip."
"Bagus."
Vira kembali membuka buku stoknya, lalu mencatat barang yang akan dibawa Arvin. Setelah selesai, ia menyerahkan dua kantong plastik besar berisi pakaian.
"Ini buat putaran berikutnya."
"Siap." Arvin mengangkat kedua kantong itu dan melangkah menuju pintu.
Namun, baru saja ia keluar dari rumah, sebuah sepeda motor berhenti di depan halaman. Yang datang adalah Pak RT.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam," jawab Vira sambil menghampiri.
Pak RT mengangguk pelan. "Vira, nanti sore kamu diminta datang ke balai desa."
Vira sedikit mengernyit. "Ada apa ya, Pak?"
"Pak Kades ingin bertemu." Pak RT lalu mengalihkan pandangannya ke arah Yanti yang baru saja keluar dari dalam rumah. "Yanti juga diminta ikut."
Mendengar namanya disebut, tubuh Yanti seketika menegang. Jantungnya berdetak lebih cepat.
"Balai desa...?"
Entah kenapa, firasatnya tiba-tiba berubah tidak enak. "Jangan-jangan... Soal gosip itu?" batinnya panik.
Sementara itu, Vira dan Arvin saling berpandangan. Tak satu pun dari mereka mengucapkan sepatah kata.
Namun keduanya sama-sama mengerti. Kemungkinan besar, pemanggilan itu berkaitan dengan fitnah yang selama ini merusak nama baik Vira.
***
Daril baru saja memarkir motornya di halaman rumah. Dengan wajah kusut, ia melepas helm lalu menggantungkannya di stang motor.
"Sial," gerutunya pelan. "Setengah hari muter-muter, tapi cuma dapet penumpang satu."
Ia masuk ke dalam rumah dengan langkah lesu, lalu menjatuhkan tubuhnya ke sofa usang di ruang tengah.
Tak lama kemudian, Mirna keluar dari dapur sambil membawa segelas air putih. "Nih, minum dulu."
Daril langsung menghabiskan hampir seluruh isi gelas itu dalam sekali teguk.
Mirna mengembuskan napas panjang. "Ril... beras tinggal sedikit."
Daril mengusap wajahnya kasar.
"Kulkas juga hampir kosong," lanjut Mirna. "Besok paling cuma cukup buat sekali masak."
Ucapan itu membuat suasana rumah semakin muram.
"Kalau keadaan terus begini, lama-lama kita jual lagi tanah peninggalan bapakmu," gumam Mirna pelan.
Daril langsung menggeleng. "Jangan. Aset yang tersisa tinggal itu."
Mirna mendecak kesal. "Semua ini gara-gara Vira."
Daril mengangkat wajah. "Dulu kalau butuh uang tinggal bilang. Sekaran oig kita harus banting tulang begini."
Mirna ikut menggerutu. "Kalau saja dia masih seperti dulu, kita gak mungkin sesusah ini."
Daril mengepalkan tangan. "Dia berubah sejak kenal sama Arvin." Tatapannya berubah dingin. "Dia lebih memilih mengangkat hidup orang lain daripada membantu orang yang dulu dia cintai."
Belum sempat Mirna menanggapi, terdengar suara ketukan di pintu.
Tok... tok... tok...
Keduanya saling berpandangan.
"Siapa yang datang siang-siang begini?" gumam Mirna. Ia berjalan menuju pintu dan membukanya.
Di depan rumah berdiri Ketua RT bersama seorang perangkat desa.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam," jawab Mirna, meski senyumnya tampak dipaksakan. "Ada perlu apa ya, Pak?"
Ketua RT berdeham pelan.
"Bu Mirna, Pak Kades meminta Ibu dan Daril datang ke balai desa sore nanti."
Senyum di wajah Mirna langsung lenyap. "Ke... ke balai desa?"
"Iya."
"Ada urusan apa, Pak?"
Ketua RT menggeleng. "Saya hanya diminta menyampaikan pesan. Katanya ada beberapa hal yang perlu diklarifikasi."
Jantung Mirna seketika berdegup lebih cepat.
Daril yang mendengar dari dalam rumah segera menghampiri. "Pak... ini soal apa?"
Perangkat desa menatap keduanya bergantian. "Nanti akan dijelaskan langsung di balai desa."
Setelah menyampaikan pesan itu, Ketua RT dan perangkat desa berpamitan.
Mirna menutup pintu dengan tangan sedikit gemetar. Ia menelan ludah berkali-kali.
"Ril..."
Daril menatap ibunya.
"Kamu ingat 'kan? Waktu itu... Ibu pernah cerita ke kamu, Ibu gak sengaja denger Pak Kades nyuruh semua Ketua RT nyari siapa yang pertama kali nyebarin gosip tentang Vira."
Daril tidak menjawab. Wajahnya perlahan menegang.
"Kamu pikir..." suara Mirna mulai bergetar, "...apa mereka sudah tahu?"
Daril mengepalkan tangan. Entah mengapa, firasat buruk tiba-tiba memenuhi dadanya. Kalau benar penyelidikan itu sudah menemukan pelakunya...
Berarti keadaan mereka sebentar lagi akan berubah menjadi jauh lebih buruk.
...✨"Orang yang sibuk membangun masa depan akan selangkah lebih maju daripada mereka yang sibuk menjatuhkan orang lain."...
..."Kepercayaan melahirkan kesempatan, sedangkan iri hati hanya melahirkan kehancuran."...
..."Kerja keras menghadirkan harapan, sementara kebencian hanya mewariskan penyesalan."✨...
.
To be continued
Ayahnya sebagai penyebab dari penderitaan yang mereka alami.
Sebagai suami selingkuh, sebagai seorang Ayah perlakuannya sangat biadap.
Mereka diusir. Menghina Ibunya. Ayahnya membawa perempuan yang katanya istri barunya.
Ibunya kena mentalnya. Arvin menjadi pincang.
Arvin akan menjaga Ibunya, yang menjadi tameng hidup baginya ketika angkara murka merasuki Ayahnya.
Arvin pergi ke warung untuk membeli obat flu. Tiba di warung langkahnya terhenti ketika ia mendengar pembicaraan di dalam warung.
Lagi-lagi gosip tentang Vira ??
Hartato juga sudah mendengar. Dia tidak percaya. Vira bukan perempuan seperti yang digosipkan.
Pak Kades juga belum tentu percaya.
Mengingat Bapaknya Hartato masih menjabat sebagai kepala desa, setiap keputusan yang di ambil pasti menjadi perhatian banyak orang.
Kebenaran dari gosip itu belum terbukti. Niat lamaran di tunda.
Hartato hanya bisa berdoa, semoga gosip tentang Vira hanya fitnah. Dia lebih baik menunggu daripada mempercayai gosip tanpa bukti.
Sembarangan Tari bicara dengan mengatakan Tuhan pun membantuku. Mana ada Tuhan membatu orang jahat.
Jadi orang jahat itu pilihanmu, Tari. Tuhan itu memberi pilihan - mau menjadi orang baik atau menjadi orang jahat. Nantinya tinggal menunggu mau mendapat karma baik atau karma buruk.
Jangan senang dulu Tari. Ditunggu saja karma menjemputmu.
Memang Daril ini tidak pantas menjadi suami Vira. Hidupnya seperti benalu, juga pengkhianat.
Di kesempatan kehidupan kedua Vira, jangan sampai menjalin hubungan dengan Daril lagi.
Terimakasih kak Nana...semoga sehat selalu
Yanti langsung tersedak mendengarnya.
Dia mengelak, tidak tahu.
Begitu Vira mau lapor polisi, Tari melarang. Vira tanya kenapa. Salah taruh katanya.
Tari mengelak tidak mengambil. Melarang Vira melihat lemarinya. Tetap kekeh tidak mengambil.
Tari langsung panik ketika Vira mau panggil Ketua RT. Baru mempersilahkan Vira mencari di lemarinya.
Vira nenemukan empat kotak skibcare miliknya.
Tari mengaku itu miliknya.
Ditanya beli di mana, harganya berapa.
Kebohongannya sudah tak ada obatnya ini Tari.
Tari menolak usulan salah satu ibu-ibu untuk melaporkan ke polisi. Ya jelas menolak. Orang dia berkata bohong.
Baru mendengar sepihak, semoga ibu-ibu itu ada yang bertanya baik-baik pada Vira kebenaran yang sesungguhnya. Benar menurut cerita bohong Tari atau benar Tari bohong 😄.
Es kelapa muda sudah di tangan masing-masing satu.
Bukannya merasa prihatin mendengar sepupunya di gibahin, ini bocah malah punya ide licik.
Waduuuuuh...Tari malah bikin fitnah, mengarang bebas tentang Vira. Berapa laki-laki yang tidur sama Vira, Tari ? Kok bisa ngomong suara laki-lakinya tidak sama. Fitnah yang sungguh amat kejam. Pakai nangis segala untuk meyakinkan kebohongannya.
Ibu-ibu, cari bukti dulu ya. Jangan percaya begitu saja.
Ucapan terima kasih cuma di bibir. Hatinya tetap busuk.
Naah ketahuan Tari telah mencuri krim siang, krim malam, pelembap, juga serum milik Vira.
Vira tidak sembarangan menuduh Tari yang mencuri. Dia butuh bukti.
Disuruhnya Tari membeli dua es kelapa muda.
Yanti pergi naik motor.
Vira masuk ke kamar Yanti. Ia menemukan barang-barang yang telah raib dari meja rias di kamarnya. Beberapa kotak skincare tersusun rapi di laci paling bawah lemari pakaian.
Vira masih bersabar untuk tidak menuduh Tari. Masih butuh bukti yang tidak bisa dibantah.
Sehat selalu untuk author, lancar rejekinya juga 😘🤲
Semangat selalu bikin karya² yang baru 💪
Ujung-ujungnya Yanti minta diberi kesempatan. Dia bakal belajar masak yang benar.
Di depan Vira memelas pasti wajahnya. Coba nanti di belakangnya Vira. Ngedumel.
Yanti dasar perempuan tidak tahu diri. Setiap masak disengaja tidak enak supaya Vira tidak menyuruhnya masak lagi.
Vira jadi curiga dengan Yanti yang tidak pernah ikut makan. Alasannya sudah makan lebih dulu.
Sukurin gajinya dipotong. Kalau tidak sanggup masak yang benar, berhenti kerja sama Vira. Dan pergi dari rumah Vira.
Sepupu mau enak numpang tanpa bekerja. Maunya jaga toko biar bisa ngutil uang. Itu maunya Yanti.
Vira tidak membiarkan Yanti hidup gratis di rumahnya.
Mirna langkahnya terhenti ketika mendengar dari dalam warung beberapa ibu sedang mengobrol tentang Hartato yang mau melamar Vira.
Dia mendengar semua pembicaraan ibu-ibu itu. Pikiran liciknya timbul demi kepentingan pribadi.
Mirna mulai beraksi dengan bicara bohong bahkan cenderung memfitnah Vira.
Mirna mengatakan Vira sudah tidak perawan. Itu terjadi sebelum pacaran sama Daril.
Gawat nih Mirna, cari masalah. Perlu di lakban sama Vira nih mulutnya.