Dunia yang tidak hanya dihuni oleh manusia, kini juga terdapat "Astra" yang dapat membantu setiap orang mencapai kesuksesan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zapdos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTEMUAN TAK TERDUGA
Sinar matahari pagi menerpa gerbang megah Akademi Astra Nusantara, memantulkan cahaya keemasan dari logo tiga cincin kontrak yang terukir indah di atas marmer putih. Hari ini adalah hari yang sangat krusial; hari pendaftaran ulang sekaligus pembagian kelas bagi seluruh Kontraktor Pemula yang baru saja mengaktifkan energi spiritual mereka kemarin siang. Kompleks akademi yang terletak di pusat kota ini tampak seperti sebuah benteng modern yang dikelilingi gedung-gedung pencakar langit. Ratusan remaja berumur lima belas tahun memadati koridor terbuka, menciptakan keriuhan yang luar biasa.
Arkan berjalan membelah kerumunan itu dengan langkah yang tenang dan ritmis, meskipun perhatian beberapa pasang mata sesekali tertuju ke arahnya. Di dalam dekapan hangat lengan kanannya, Volt—si anak serigala petir yang ditemukannya di Sektor Liar—sedang tertidur sangat pulas. Napasnya teratur, memicu dengkuran halus yang terdengar menggemaskan. Luka cakar yang cukup besar di punggung kecilnya sudah dibalut dengan kain bersih yang rapi. Sisa-sisa energi listrik statis dari bulu birunya sesekali masih berderak kecil, memberikan sensasi menggelitik yang hangat di kulit tangan Arkan.
Pemandangan Arkan yang menggendong Astra liar berwujud bayi itu tentu saja kontras dengan murid-murid di sekitarnya. Sebagian besar dari mereka berjalan dengan angkuh sambil menenteng kotak inkubator transparan berteknologi tinggi yang menjaga suhu telur Astra mereka tetap stabil. Telur-telur itu memiliki corak elemen murni yang indah, dibeli dengan harga selangit dari pusat penangkaran legal milik pemerintah kota. Bagi mereka, apa yang dibawa Arkan hanyalah seekor hewan cacat yang tidak jelas asal-usulnya.
Arkan tidak peduli dengan pandangan meremehkan itu. Dia berhenti di depan sebuah papan pengumuman digital berukuran raksasa di tengah selasar, mencoba memindai peta holografis untuk mencari letak ruang administrasi utama. Namun, baru saja dia hendak melangkah mengikuti petunjuk arah, sebuah suara yang sangat familier tiba-tiba melengking memecah kebisingan di sekitarnya.
"Arkan? Kamu... benar-benar Arkan, kan?!"
Arkan seketika tertegun. Suara itu begitu akrab di telinganya, memicu memori masa kecil yang sudah lama terkubur. Dia membalikkan badan dengan perlahan dan mendapati seorang gadis berambut kuncir kuda sedang berdiri beberapa langkah di depannya. Gadis itu mengenakan seragam akademi yang sangat pas dan rapi, lengkap dengan lambang awan berukir perak murni di bagian kerah bajunya. Lambang itu bukan hiasan biasa, melainkan simbol dari Keluarga Skyborn, salah satu keluarga elit kota yang terkenal memiliki afinitas genetik terhadap elemen Angin murni.
"Sky?" mata Arkan melebar karena terkejut. "Kamu... sekolah di sini juga?"
Sky tidak langsung menjawab dengan kata-kata. Dengan mata yang berbinar terang, dia melangkah cepat memangkas jarak di antara mereka, lalu memukul pelan bahu Arkan dengan wajah yang merupakan perpaduan antara setengah kesal dan gembira luar biasa.
"Ih, kamu ke mana saja sih selama ini?! Setelah keluarga kamu pindah rumah waktu kita masih kecil dulu, kamu benar-benar hilang kontak sama sekali! Aku berulang kali nyariin kamu tahu!" omel Sky sambil melipat kedua tangannya di dada, meskipun senyuman di wajahnya sama sekali tidak bisa menyembunyikan rasa rindunya.
Arkan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa agak bersalah sekaligus canggung. "Maaf, Sky. Banyak hal yang terjadi setelah kepindahan itu, dan keadaan ekonomiku agak sulit. Aku sama sekali enggak menyangka kalau kita bakal ketemu lagi di satu akademi yang sama seperti ini."
Mata jernih Sky tiba-tiba beralih ke bawah, tertuju tepat pada makhluk berbulu biru murni yang ada di dalam pelukan Arkan. Detik berikutnya, kedua mata gadis itu membulat sempurna. "Eh, tapi tunggu dulu... itu Astra petir? Wujud bayi level nol? Arkan, jangan bilang kalau kamu... kamu mendapatkannya dari Sektor Liar?!" Sky refleks menutup mulutnya dengan kedua tangan, suaranya naik satu oktav karena panik sekaligus tak percaya. Beberapa murid yang berjalan di dekat mereka langsung menoleh dengan dahi berkerut.
"Sstt, jangan keras-keras, Sky," bisik Arkan sambil buru-buru memberi isyarat dengan kepalanya. Senyum tipis yang penuh arti terukir di wajahnya yang tegang. "Iya, namanya Volt. Kemarin malam kami resmi membuat ikatan kontrak di dekat jalur kereta bawah tanah tua."
Sky menatap Arkan dengan pandangan yang sulit diartikan—perpaduan antara rasa kagum yang mendalam atas kenekatannya, sekaligus rasa khawatir yang besar. "Kamu ini benar-benar nekat ya dari dulu, enggak pernah berubah sama sekali. Masuk ke Zona Merah tanpa pelindung itu namanya cari mati! Tapi... di sisi lain, aku senang banget. Ini artinya kita bisa berjuang bareng lagi dari bawah!"
Sebelum Arkan sempat membalas perkataan teman masa kecilnya itu, atmosfer di sepanjang koridor luas itu mendadak berubah secara drastis. Udara di sekitar mereka terasa menjadi sangat berat, dingin, dan pekat, seolah-olah ada beban tak kasat mata yang tiba-tiba menekan pundak setiap orang. Volt yang semula tertidur pulas langsung terbangun, menegakkan telinganya, dan mengeluarkan geraman rendah yang sarat akan kewaspadaan dari dalam dekapan Arkan. Tubuh kecilnya kembali memercikkan aliran listrik biru yang tidak stabil.
Ratusan murid yang tadinya ribut langsung membisu seketika. Mereka bergegas merapat ke dinding-dinding koridor, menundukkan kepala mereka dalam-dalam sebagai bentuk penghormatan sekaligus rasa takut yang instingtif.
Dari ujung selasar, beberapa sosok berjalan dengan langkah kaki yang tegap dan berwibawa. Di barisan paling depan, tampak seorang pria paruh baya berambut klimis dengan jubah formal akademi berwarna biru tua bersulam benang emas. Pria itu adalah Wakil Kepala Akademi, seorang Kontraktor Agung berkekuatan tinggi yang reputasinya sudah melegenda di seluruh penjuru kota. Setiap langkah kakinya seolah membawa aura tekanan spiritual yang mampu mengintimidasi siapa saja. Di belakangnya, beberapa guru senior berpangkat Kontraktor Elit mengikuti seperti pengawal setia.
Saat rombongan itu berjalan melewati Arkan dan Sky, pandangan mata Wakil Kepala Akademi yang tajam seperti elang sempat menyapu area sekitar. Matanya tertuju sesaat—hanya sekitar dua detik—pada Arkan, atau lebih tepatnya pada Volt yang ada di pelukannya, sebelum pandangannya beralih ke arah Sky. Kerutan tipis muncul di dahi pria paruh baya itu, seolah indra spiritualnya yang tajam merasakan adanya distorsi atau ketidakselarasan energi yang aneh dari arah mereka berdua. Namun, dia tidak berhenti dan tetap melanjutkan langkah kakinya menuju aula utama.
"Tekanan energinya... benar-benar kuat banget, sampai aku susah napas," bisik Sky dengan suara yang sangat pelan setelah rombongan petinggi akademi itu menjauh dan berbelok di ujung koridor. Dia mengembuskan napas lega yang sedari tadi tertahan di tenggorokan, sambil mengusap dadanya sendiri. "Itu baru Wakil Kepala Akademi, Arkan. Kudengar dari ayahku, Kepala Akademi dan Rektor kita jauh lebih mengerikan lagi kalau sudah memanggil tiga Astra utama mereka ke dunia nyata."
Arkan tidak menundukkan kepalanya seperti murid lain. Dia justru menatap lurus ke arah punggung rombongan yang mulai menghilang itu dengan mata yang berbinar terang. Alih-alih merasa takut atau terintimidasi, tekanan energi yang masif tadi justru memicu letupan ambisi yang membakar garis darahnya. Tangan kanannya mengepal kuat.
"Suatu hari nanti, Sky... kita berdua juga bakal berdiri di posisi yang sama dan menjadi sekuat mereka," ucap Arkan dengan nada suara yang penuh keyakinan mutlak.
Sky tertegun mendengar perkataan Arkan, lalu sedetik kemudian senyum lebarnya kembali merekah. Dia membusungkan dadanya dengan penuh percaya diri, membuat kuncir kudanya bergoyang pelan. "Tentu saja! Kita pasti bisa! Ayo, sekarang kita buru-buru ke aula utama. Pengumuman pembagian kelas baru saja dimulai di layar monitor utama. Aku berdoa dengan sungguh-sungguh semoga kita berada di kelas yang sama lagi!"
Keduanya pun kembali berjalan berdampingan, melangkah mantap menuju aula besar. Di dalam dunia urban yang dipenuhi oleh persaingan politik yang kejam antar-keluarga elit ini, Arkan tahu betul bahwa jalan yang akan ditempuhnya tidak akan pernah mudah. Statusnya sebagai anak biasa akan selalu diremehkan. Namun, saat dia melirik Sky yang berjalan dengan ceria di sampingnya, dan merasakan detak jantung Volt yang berdegub selaras dengan energinya sendiri, Arkan tahu satu hal pasti di dalam hatinya: dia tidak akan pernah lagi berjuang sendirian. Perjalanan panjang mereka untuk melampaui batas level seratus baru saja membuka lembaran pertamanya.
pukul 12.00 Wib dan 15.00 Wib. Saran dan dukunganmu sangat membantu karya ini menjadi lebih baik!