"Pernikahan ini adalah benteng, dan rahasia adalah senjataku."
Bagi dunia luar, Mike Raharja adalah lambang kesempurnaan sekaligus kutukan. Sang tirani korporat yang dingin, tak tersentuh, dan dirumorkan tidak bisa memberikan keturunan bagi dinasti bisnis raksasa Raharja Group. Demi menjaga takhtanya dan melindungi sebuah rahasia besar dari musuh-musuh dalam selimut, Mike merancang sebuah skenario gila: pernikahan kontrak selama empat tahun dengan pengacara ambisius, Anita.
Namun, ketika masa kontrak berakhir dan topeng-topeng mulai berjatuhan, sebuah kejutan besar yang sesungguhnya baru saja dimulai. Di balik dinding sangkar emas yang penuh manipulasi, ada satu jiwa yang selama ini disembunyikan Mike dari radar dunia—sebuah pelabuhan hati rahasia yang menjadi alasan di balik semua kelicikan dan pengorbanannya.
Saat badai korporasi mengancam dan masa lalu menuntut balas, akankah skenario yang disusun Mike berakhir sebagai kemenangan mutlak, atau justru menjadi bumerang untuknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shee Lyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 (Di bawah sorot lampu Publik)
Suasana di luar gedung Raharja Group berangsur-angsur kondusif setelah pihak kepolisian membawa Paman Hardi melalui pintu belakang. Namun, puluhan mobil van dari stasiun televisi masih terparkir rapi di area lobi, dan para jurnalis masih setia menunggu dengan kamera yang tetap menyala. Mereka tidak akan pergi sebelum mendapatkan pernyataan langsung dari sang CEO utama, Mike Raharja.
Di dalam ruang kerja CEO, Anita duduk di sofa kulit sembari menyilangkan kakinya dengan elegan. Di seberangnya, Mike dan Alisha duduk berdampingan, saling menggenggam tangan.
"Mike, Alisha," Anita membuka suara setelah menyesap air mineralnya. "Aku menyarankan agar kalian berdua turun dan menemui para awak media di bawah. Kita tidak bisa hanya mengandalkan rilis berita dari tim humas."
Mike mengernyitkan dahi, tatapan matanya kembali menegang. "Untuk apa? Pihak kepolisian sudah mengeluarkan pernyataan resmi tentang sabotase Hardi. Itu sudah cukup untuk memulihkan sentimen pasar."
"Bagi pasar saham, itu cukup. Tapi bagi reputasi sosial kalian, itu belum selesai," sela Anita dengan nada tak terbantahkan khas seorang konsultan hukum berpengalaman. "Publik saat ini masih mengira Alisha adalah korban manipulasi pernikahan kontrak, atau lebih buruk lagi, mereka mengira Alisha terlibat dalam sandiwara ini demi harta. Jika kalian membiarkan narasi itu berkembang liar tanpa ada klarifikasi tatap muka, pemberitaan akan semakin simpang siur dan liar. Turunlah bersama, tunjukkan pada mereka bahwa pernikahan kalian nyata dan didasari oleh komitmen penuh."
Alisha melirik Mike, melihat kekhawatiran yang masih membayang di wajah suaminya. Ia mengencangkan genggaman tangannya pada jemari Mike. "Mike, Kak Anita benar. Aku tidak ingin terus bersembunyi di belakangmu. Jika kita menghadapi mereka bersama, mereka tidak akan bisa membuat spekulasi yang aneh-aneh lagi."
Mike menatap Alisha cukup lama, mencari keyakinan di mata istrinya. Setelah melihat kemantapan di sana, Mike akhirnya mengembuskan napas panjang dan mengangguk. "Baiklah. Kita adakan konferensi pers singkat di lobi utama."
Sebelum Mike beranjak untuk menghubungi tim humas, Anita menahan langkah mereka dengan wajah yang mendadak berubah menjadi lebih serius dan melembut.
"Satu hal lagi, Mike... Alisha," ucap Anita pelan. "Setelah konferensi pers selesai, aku ingin meminta izin kepada kalian berdua untuk pergi ke Menteng. Aku ingin bertemu dengan Kakek Surya."
Mike menaikkan sebelah alisnya. "Bertemu Kakek? Untuk apa, Anita? Masalah kontrak kita sudah selesai."
Anita tersenyum tipis, ada gurat rasa bersalah yang jarang ia tunjukkan melintas di matanya. "Aku tahu. Tapi bagaimanapun juga, selama empat tahun ini Kakek Surya sangat menyayangiku dan memperlakukanku seperti cucu menantunya sendiri. Beliau tadi syok bukan hanya karena tahu kamu tidak mandul, tapi juga karena tahu pernikahan kita dahulu hanyalah sebuah kontrak bisnis. Aku ingin meminta maaf secara pribadi kepada beliau atas kebohongan yang ikut kulakukan. Aku ingin beliau tenang dan tahu bahwa tidak ada permusuhan di antara kita."
Alisha yang mendengar hal itu merasa hatinya tersentuh. Ia melepaskan pegangannya dari Mike, lalu berjalan mendekati Anita dan menggenggam tangan wanita itu. "Terima kasih, Kak Anita. Kakek Surya pasti akan sangat menghargai kejujuran Kakak. Silakan temui Kakek, aku dan Mike akan menyusul setelah urusan di sini selesai."
Anita tersenyum hangat, mengangguk penuh rasa terima kasih pada kedewasaan Alisha.
Sepuluh menit kemudian, lobi utama Raharja Group seketika riuh dengan suara jepretan kamera dan kilatan lampu *flash* yang membabibuta saat Mike dan Alisha melangkah keluar dari lift privat. Puluhan mikrofon langsung disodorkan ke arah meja podium yang telah dipersiapkan oleh tim pengamanan.
Mike berdiri dengan tegap, satu tangannya merangkul posesif pinggang Alisha, seolah mendeklarasikan kepada seluruh dunia bahwa wanita di sampingnya adalah wilayah kekuasaan yang tidak boleh diusik oleh siapa pun.
"Selamat sore kepada rekan-rekan media sekalian," Mike membuka suara, baritonnya yang tegas menggema melalui pengeras suara, seketika membungkam kegaduhan di aula lobi. "Saya berdiri di sini bersama istri saya, Alisha Raharja, untuk meluruskan pemberitaan simpang siur yang beredar sejak pagi tadi."
Seorang jurnalis senior langsung mengangkat tangan dan bertanya dengan lantang, "Pak Mike, apakah benar dokumen medis yang beredar itu asli dan Anda sebenarnya tidak mandul? Dan bagaimana dengan rumor pernikahan kontrak dengan mantan istri Anda, Ibu Anita?"
Mike menatap jurnalis tersebut dengan pandangan lurus tanpa keraguan. "Dokumen medis yang beredar adalah benar asli milik saya. Mengenai masa lalu saya dengan Anita, itu adalah murni hubungan profesional di masa lalu yang telah selesai dengan baik secara hukum dan kekeluargaan. Namun, yang perlu saya tegaskan di sini..." Mike menjeda kalimatnya, menoleh menatap Alisha dengan binar mata yang sarat akan cinta dan komitmen yang murni. "...pernikahan saya dengan Alisha adalah pernikahan yang sah, nyata, dan didasari oleh komitmen seumur hidup. Tidak ada kontrak, tidak ada manipulasi bisnis."
Jurnalis lain menyela, "Tapi bagaimana dengan perasaan Ibu Alisha yang menikahi Anda saat mengira Anda mandul? Apakah Anda tidak merasa telah memanipulasi istri Anda sendiri?"
Sebelum Mike sempat menjawab dengan nada dinginnya, Alisha menarik mikrofon mendekat ke arahnya. Ia melangkah satu tapak maju, menatap langsung ke arah kamera dengan kepala tegak yang anggun.
"Saya ingin menjawab pertanyaan itu," ucap Alisha, suaranya jernih dan mantap, membuat seluruh atensi ruangan terpusat padanya. "Saat saya memutuskan untuk menerima lamaran Mike, saya menerimanya dengan segala apa yang ada pada dirinya, termasuk kekurangannya yang sempat saya percayai. Dan hari ini, ketika saya mengetahui kebenaran bahwa suami saya ternyata sehat dan tidak memiliki kekurangan tersebut, bagi saya itu bukanlah sebuah manipulasi... melainkan sebuah berkah yang luar biasa dari Tuhan."
Alisha menoleh pada Mike, mengulas senyuman paling manis yang pernah ia miliki. "Saya mencintai suami saya, baik dalam kekurangannya maupun dalam kelebihannya. Pernikahan kami tidak goyah hanya karena masa lalu atau dokumen yang sengaja disebarkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab demi menjatuhkan keluarga kami. Jadi, saya mohon kepada publik untuk berhenti membuat spekulasi yang menyakitkan bagi keluarga besar Raharja."
Jawaban Alisha yang begitu cerdas, dewasa, dan penuh perlindungan terhadap suaminya seketika membuat seluruh ruangan hening, sebelum akhirnya gemuruh tepuk tangan apresiasi terdengar dari beberapa sudut lobi. Para wartawan tahu, mereka tidak akan bisa menggoyahkan benteng pertahanan pasangan ini. Di balik sorot lampu publik hari itu, Alisha telah membuktikan bahwa dirinya bukan lagi gadis polos yang bisa dipermainkan, melainkan seorang Ratu Raharja sejati yang siap membela rajanya dari badai apa pun.