Tiga tahun menjalani pernikahan tanpa cinta, Alya bertahan hanya karena menghormati wanita yang telah menyatukan mereka.
Namun, tepat setelah sang nenek meninggal dunia, suaminya menjatuhkan talak dan mengakhiri hubungan yang selama ini hanya dianggap sebagai kewajiban.
Dengan satu kaki palsu dan hati yang hancur, Alya meninggalkan rumah yang tak pernah benar-benar menerimanya. Ia tak menyadari bahwa di dalam rahimnya sedang tumbuh kehidupan baru.
Saat dunia seolah menutup semua pintu untuknya, Alya memilih bertahan demi seorang anak yang bahkan belum lahir. Anak itu ia beri nama Senja.
Ini adalah kisah tentang seorang ibu yang berjuang melawan keterbatasan, kesepian, dan kerasnya kehidupan. Sebab bagi Alya, Senja bukan sekadar anak. Senja adalah alasan mengapa ia terus hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Buku diary yang tertinggal di kamar
Setelah turun dari bus, Alya kembali melangkah dengan membawa kopernya tanpa peduli dengan panasnya sinar matahari yang membuat matanya sedikit silau. Kali ini ia sudah membulatkan tekad menuju ke sebuah tempat di mana dulu ia dibesarkan, namun langkahnya terhenti sesaat. Ketika tulisan besar terpampang cukup jelas di depan pagar.
Panti ini sudah ditutup.
Dada Alya bergetar hebat, bagaimana mungkin panti ini bisa ditutup padahal dua bulan yang lalu ia masih berhubungan baik dengan pemilik panti yang baru.
"Panti ditutup dan aku tidak tahu apa-apa," ucapnya dengan tatapan kosong.
Kali ini harapan Alya benar-benar runtuh, padahal tempat itu satu-satunya tujuan setelah ia ditalak suaminya. Alya memejamkan mata perlahan tubuhnya yang sedari lemas perlahan terduduk di emperan.
"Tuhan harus kemana lagi aku pulang," gumamnya lirih.
Alya pun mencoba menghubungi nomor ibu panti, yang tertera di handphonenya, namun tidak ada sambungan, sepertinya nomor itu sudah tidak aktif.
Alya menurunkan ponselnya dengan tangan bergetar. padahal tadi pagi ia masih menjadi seorang istri dan masih tinggal di rumah yang aman. Dan di detik berikutnya ia kehilangan tempat tinggal itu tanpa direncanakan. Bahkan salah satu tempat yang menjadi tujuannya pun sudah tidak ada.
Setelah cukup beristirahat di depan gerbang panti. Perempuan itu mulai melanjutkan perjalanannya meskipun hanya mengikuti kata hati saja. Karena saat ini ia benar-benar sendiri.
Alya akhirnya berjalan menyusuri gang kecil yang tidak terlalu jauh dari panti. Di ujung gang sana, seingatnya ada sebuah kos-kosan barang kali saja masih ada yang kosong.
Langkah Alya sudah sampai di gerbang kost. Nampaknya di situ tertera tulisan. "Masih menerima kost perempuan". Entah kenapa mata Alya sedikit berbinar, setidaknya untuk sekarang ia bisa mempunyai tempat tinggal meskipun tidak semewah rumah suaminya.
"Mbak mau cari apa?" sapa seseorang dari depan gerbang.
Alya yang memang membutuhkan seseorang untuk bertanya. Ia langsung menjawabnya. "Aku mau cari kost-kostan. Di tempat ini apa masih membutuhkan penghuni kos?"
Perempuan muda itu tersenyum sumringah. "Masuk dulu Mbak, kebetulan di tempat kami masih banyak kamar kosong, jadi kalau mbaknya berminat monggo," sahut gadis itu ramah.
Alya pun mengangguk kecil perempuan itu mulai bersedia dan masuk ke dalam rumah pemilik kost tersebut.
"Perkenalkan Mbak," kata gadis itu. "Namaku Emilia pemilik kost ini."
"Aku Alya."
"Oh ya Mbak Alya, di tempat kami masih ada tiga kamar kosong, kalau memang Mbak Alya minat silahkan pilih salah satunya, tentunya dengan harga cukup terjangkau," ujar Emilia.
Alya pun langsung menimpali. "Aku bersedia Mbak, kalau bisa ditempati sekarang," pinta Alya.
"Oh boleh kebetulan tiga kamar kosong setiap harinya selalu dibersihkan," sahut Emilia.
Setelah negosiasi cukup panjang, dan Alya sudah selesai membayar untuk satu bulan kedepan. Akhirnya wanita cantik itu memutuskan memilih kamar kos paling ujung, karena terlihat sepi dan mungkin bagi Alya tempat itu cukup damai.
"Ini kuncinya Mbak, dan semoga betah tinggal di tempat ini," kata Emilia.
Alya sedikit tersenyum lalu, mulai bertanya sesuatu. "Oh ya Mbak, di kost ini kebanyakan penghuninya kerja apa?" tanya Alya.
"Oh di sini kebanyakan perantau dan mereka kerja di pabrik," sahut Emilia. "Memangnya kenapa Mbak?"
Alya sedikit menggeleng. "Tidak apa-apa, aku hanya pingin tahu saja, barang kali bisa ikut kerja, ternyata tidak," ucap perempuan itu.
"Kenapa tidak, bahkan kerja di pabrik kalau ada orang dalam gampang masuknya," sahut Emilia.
"Aku punya keterbatasan Mbak, dan setiap perusahaan pasti ada aturannya," ungkap Alya.
Sejenak pandangan Emilia jatuh pada kaki kiri Alya, gadis itu tidak berkata apa-apa, tapi detik berikutnya senyumnya melebar. "Mbak semangat ya, keterbatasan tidak akan membatasi semua gerak anda," ujarnya dengan nada semangat.
"Makasih banyak ya," sahut Alya.
"Ya sudah kalau gitu aku tinggal dulu, dan Nex kalau ada apa-apa jangan sungkan ya," ujar Amelia.
"Sekali lagi terima kasih ya," ucap Alya.
Setelah kepergian Emilia kamar itu kembali sunyi, Alya menatap bangunan sempit yang di dalamnya hanya isi lemari kecil dan karpet karakter. Sangat berbanding balik dengan rumah yang selama tiga tahun ini ia tempati.
Perlahan ia mulai membuka kopernya, lalu mengeluarkan satu persatu bajunya, dan di sela-sela baju itu terselip foto Nenek Ratih yang membuat air matanya terjatuh lagi.
"Nek, kali ini Alya benar-benar sendiri," ucapnya sambil mendekap foto itu dengan erat.
Selesai beberes, Alya duduk di sisi karpet sambil memijat kakinya yang sudah terlepas dari kaki palsunya, tangannya perlahan meremas ujung kakinya dengan kuat. Karena rasa nyeri kembali datang.
"Maaf ya, hari ini terlalu membuatmu lelah," ujarnya pelan.
☘️☘️☘️☘️☘️
Sementara di kota lain. Saat ini Arlan untuk pertama kalinya datang ke kamar mereka. Kamar yang sejak tiga tahun itu terasa dingin kini berubah menjadi sunyi.
Entah kenapa Arlan seperti merasakan keanehan di dalam kamar ini. Biasanya setiap kali ia membuka pintu suara lembut Alya selalu menyambutnya meskipun tak ada tanggapan darinya tapi suara lembut itu sekarang tidak terdengar kembali.
Senyum tulusnya selalu terukir, tangannya begitu cepat melepas dasi di lehernya seolah paling memahami lelahnya. Namun semua itu sudah menghilang dan anehnya kenapa baru sekarang ia mulai merasakan itu.
"Alya," panggilnya pelan.
Tidak ada jawaban dan kamar ini benar-benar sunyi. Beberapa menit kemudian ia seolah tersadarkan dengan sebuah fakta. Bukannya selepas pemakaman neneknya tadi ia baru saja menalaknya. Bukannya siang tadi perempuan itu sudah pergi tanpa ia cegah sama sekali.
Lantas kenapa ia baru merasakan sekarang?
"Aneh," gumamnya pelan.
Perlahan Arlan melangkah ke sudut kamar di situ ada lemari khusus untuk Alya, tangannya tergerak cepat membukanya. Dan ya, semua pakaian sudah di bawa dan lemari itu kosong sama sekali.
Arlan memijat pelipisnya dengan kuat. Kenapa hal seperti ini terjadi, seharusnya ia bisa lega dan bahagia karena sudah terbebas dari pernikahan sandiwara yang diciptakan sendiri. Namun sesal itu belum berhenti saat tangannya mulai mengambil buku diary kecil di dalam almari paling bawa.
Arlan segera membuka buku itu dan pas di halaman pertama ia mulai membacanya.
Hari ini aku sudah sah menjadi istri Arlan Abimana. Semoga saja aku berhasil menjadi istri yang baik, dan mendapatkan cinta suamiku."
Deg!
Tubuh Arlan membeku melihat tulisan indah itu. Tanpa sadar tangannya perlahan meremas ujung buku itu. Namun belum sempat ia membaca lembar berikutnya. Tiba-tiba handphone-nya bergetar. Arlan segera mengangkatnya.
"Temui aku malam ini," ucap suara dari seberang sana.
Malam ...
Maaf ya hari ini double up agak telat karena sedari tadi di sini mati lampu 🙏🙏🙏😂😂😂