NovelToon NovelToon
Janda Tampil Menarik

Janda Tampil Menarik

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Single Mom / Romansa Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: aurora23

Menjadi janda di usia muda bukanlah pilihan yang pernah diinginkan Maya. Setelah kehilangan suami tercinta karena sakit, ia harus menjalani kehidupan baru sebagai ibu tunggal yang membesarkan anaknya seorang diri. Di tengah keterbatasan ekonomi dan pandangan sinis masyarakat, Maya berusaha bangkit dari keterpurukan yang hampir menghancurkan semangat hidupnya.

Berawal dari keputusan sederhana untuk kembali mencintai dirinya sendiri, Maya mulai merawat penampilan, membangun kepercayaan diri, dan membuka lembaran baru dalam hidupnya. Namun perubahan itu justru mengundang berbagai gosip dan prasangka. Banyak orang menganggap seorang janda tidak pantas tampil menarik dan percaya diri.

Tidak ingin menyerah pada penilaian orang lain, Maya membuktikan kemampuannya melalui dunia kerja. Dengan ketekunan dan kerja keras, ia berhasil meraih kesempatan yang mengubah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aurora23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 – Bos Baru yang Tegas

Hari pertama bekerja akhirnya tiba.

Maya terbangun bahkan sebelum alarm di ponselnya berbunyi. Untuk beberapa saat ia hanya berbaring sambil menatap langit-langit kamar.

Perasaan gugup dan antusias bercampur menjadi satu.

Sudah bertahun-tahun sejak terakhir kali ia bekerja di lingkungan kantor secara tetap.

Kini ia harus memulai semuanya dari awal.

Dari kamar sebelah terdengar suara Dika yang mulai bangun.

Maya segera turun dari tempat tidur dan memulai rutinitas paginya.

Ia menyiapkan sarapan sederhana, memastikan seragam sekolah Dika rapi, lalu membantu putranya bersiap seperti biasa.

Namun pagi itu terasa berbeda.

Ada semangat baru yang mengalir di dalam dirinya.

Dika yang menyadarinya hanya tersenyum.

"Ibu gugup, ya?"

Maya tertawa kecil.

"Sedikit."

"Tenang saja. Ibu pasti hebat."

Ucapan sederhana dari anaknya membuat Maya tersenyum hangat.

Kadang-kadang, dukungan terbesar datang dari orang yang paling kecil.

Setelah mengantar Dika ke sekolah, Maya langsung menuju kantor Aruna Kreasi.

Sepanjang perjalanan, ia berusaha menenangkan pikirannya.

Ia mengingat kembali semua yang telah dilalui untuk sampai ke titik ini.

Rasa takut yang dulu selalu menghalangi langkahnya.

Keraguan yang terus membisikkan bahwa dirinya tidak cukup baik.

Kini semuanya terasa sedikit lebih jauh.

Masih ada.

Namun tidak lagi mengendalikan dirinya.

Gedung Aruna Kreasi tampak lebih sibuk dibanding saat ia datang untuk wawancara.

Karyawan keluar masuk dengan langkah cepat.

Beberapa membawa dokumen.

Beberapa sibuk berbicara melalui telepon.

Maya menarik napas panjang sebelum melangkah masuk.

Di bagian resepsionis, seorang staf menyambutnya dengan ramah.

"Selamat pagi, Bu Maya."

"Selamat pagi."

"Ibu bisa langsung ke lantai dua. Tim administrasi sudah menunggu."

Maya mengangguk dan mengucapkan terima kasih.

Sesampainya di lantai dua, ia diperkenalkan kepada beberapa rekan kerja baru.

Suasana kantor terasa cukup nyaman.

Tidak terlalu formal, tetapi tetap profesional.

Ada Dina yang ramah dan mudah tersenyum.

Ada Wulan yang tampak tenang dan teliti.

Ada juga Bagas yang sering melontarkan candaan ringan hingga membuat suasana menjadi lebih santai.

Maya merasa sedikit lega.

Setidaknya lingkungan kerjanya tidak seseram yang ia bayangkan.

Pagi itu sebagian besar waktunya dihabiskan untuk orientasi.

Ia mempelajari sistem yang digunakan perusahaan.

Mengenal alur administrasi.

Serta memahami tugas-tugas yang nantinya akan menjadi tanggung jawabnya.

Meski banyak hal baru, Maya cukup cepat memahami penjelasan yang diberikan.

Pengalaman bekerja selama bertahun-tahun ternyata masih sangat membantu.

Menjelang siang, saat mereka sedang berada di ruang kerja bersama, Maya mendengar beberapa orang tiba-tiba menjadi lebih tenang.

Suasana yang sebelumnya santai mendadak berubah.

Bagas yang sejak tadi bercanda langsung duduk tegak.

Wulan segera kembali fokus pada layar komputer.

Dina bahkan tanpa sadar merapikan posisi duduknya.

Maya memperhatikan perubahan itu dengan heran.

"Ada apa?" bisiknya pelan.

Dina menoleh.

Suaranya dibuat lebih pelan lagi.

"Pak Arga datang."

Maya mengernyit.

"Pak Arga?"

"Direktur perusahaan."

Maya langsung teringat nama yang pernah disebut saat wawancara.

Namun saat itu ia belum pernah bertemu langsung dengan orang tersebut.

Beberapa detik kemudian, seorang pria memasuki ruangan.

Langkahnya tenang.

Tegas.

Dan memancarkan wibawa yang membuat orang-orang secara otomatis memperhatikannya.

Usianya mungkin sekitar pertengahan tiga puluhan.

Tubuhnya tinggi dengan penampilan yang sangat rapi.

Kemeja putih yang dikenakannya tampak sederhana, tetapi memberi kesan profesional yang kuat.

Wajahnya tampan dengan garis rahang yang tegas.

Namun yang paling mencolok adalah sorot matanya.

Tajam.

Tenang.

Dan sulit ditebak.

Pria itu berjalan melewati beberapa meja sambil sesekali memeriksa pekerjaan karyawan.

Tidak banyak bicara.

Tetapi kehadirannya saja sudah cukup membuat suasana berubah.

"Itu Pak Arga?" tanya Maya pelan.

Dina mengangguk.

"Beliau memang begitu."

"Gimana maksudnya?"

"Disiplin."

Bagas yang mendengar percakapan mereka ikut menimpali.

"Kalau ada yang terlambat lima menit saja, beliau langsung tahu."

Dina terkekeh.

"Itu masih mending."

"Masih mending?"

"Beliau hafal hampir semua pekerjaan bawahannya."

Maya sedikit terkejut.

"Hafal semuanya?"

"Kurang lebih."

Bagas mengangguk.

"Makanya jangan coba-coba asal kerja di sini."

Maya kembali memperhatikan pria yang sedang berjalan di ujung ruangan.

Tidak heran jika banyak orang tampak segan kepadanya.

Namun anehnya, ia tidak melihat kesombongan dalam sikap pria itu.

Yang terlihat justru profesionalisme yang sangat tinggi.

Saat sedang memperhatikan, tiba-tiba Arga menoleh ke arahnya.

Tatapan mereka bertemu sesaat.

Maya langsung mengalihkan pandangan karena refleks.

Entah mengapa jantungnya sedikit berdebar.

Mungkin karena gugup.

Atau mungkin karena ia merasa sedang diperhatikan oleh seseorang yang terbiasa menilai banyak hal dalam waktu singkat.

Beberapa menit kemudian, Arga menghampiri meja tempat Maya bekerja.

Dina dan Bagas langsung kembali fokus.

Maya ikut menegakkan posisi duduknya.

Arga berhenti di dekat mejanya.

"Anda Maya?"

Suaranya rendah dan tenang.

"Iya, Pak."

"Pegawai baru bagian administrasi?"

"Iya."

Arga mengangguk singkat.

"Saya sudah membaca hasil wawancara Anda."

Maya menahan napas.

"Ada beberapa pengalaman yang cukup menarik."

"Terima kasih, Pak."

"Saya harap kemampuan yang tertulis di sana bisa terlihat juga dalam pekerjaan sehari-hari."

Nada bicaranya tidak kasar.

Tetapi tetap tegas.

Maya mengangguk.

"Saya akan berusaha sebaik mungkin."

Untuk sesaat Arga memperhatikannya.

Kemudian berkata,

"Jangan hanya berusaha."

Maya sedikit bingung.

Arga melanjutkan,

"Lakukan dengan baik."

Setelah itu ia pergi begitu saja menuju ruangan lain.

Maya berkedip beberapa kali.

Bagas langsung menghela napas panjang.

"Nah, itu dia."

Dina tertawa kecil.

"Selamat datang di bawah kepemimpinan Pak Arga."

Maya ikut tersenyum.

Meski singkat, pertemuan pertama itu meninggalkan kesan yang cukup kuat.

Pria itu jelas bukan tipe pemimpin yang suka berbasa-basi.

Namun ia juga tidak terlihat semena-mena.

Hari-hari berikutnya berjalan cukup sibuk.

Maya mulai menyesuaikan diri dengan ritme pekerjaan kantor.

Setiap pagi ia mengantar Dika ke sekolah sebelum berangkat kerja.

Sore hari ia pulang dan kembali menjalankan perannya sebagai ibu.

Awalnya cukup melelahkan.

Tetapi perlahan ia menemukan keseimbangan.

Di kantor, ia juga mulai mendapatkan kepercayaan lebih.

Kemampuannya dalam mengelola data membuat beberapa pekerjaan administratif menjadi lebih rapi dan efisien.

Hal itu tidak luput dari perhatian para atasan.

Termasuk Arga.

Suatu sore, hampir semua karyawan sudah pulang.

Maya masih berada di meja kerjanya karena harus menyelesaikan laporan bulanan.

Ia ingin memastikan semuanya selesai tepat waktu.

Ruangan mulai sepi.

Hanya terdengar suara ketikan keyboard dan pendingin ruangan.

Saat sedang fokus memeriksa data, sebuah suara tiba-tiba terdengar.

"Masih di sini?"

Maya menoleh.

Arga berdiri beberapa langkah darinya.

Maya langsung berdiri.

"Maaf, Pak."

Arga mengernyit.

"Maaf untuk apa?"

"Saya kira saya mengganggu."

Arga tampak sedikit heran.

"Saya hanya bertanya."

Maya merasa malu sendiri.

"Maaf."

Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, Maya melihat sedikit senyum tipis di sudut bibir Arga.

Sangat tipis.

Hampir tidak terlihat.

"Laporan bulanan?"

"Iya, Pak."

Arga berjalan mendekat dan melihat layar komputer di hadapannya.

Beberapa detik ia membaca data yang ditampilkan.

Kemudian ia berkata,

"Formatnya lebih rapi dibanding sebelumnya."

Maya terkejut.

"Pak tahu laporan sebelumnya?"

"Tentu."

Jawaban itu keluar begitu saja.

Seolah merupakan hal yang wajar.

Dan mungkin memang wajar bagi seseorang yang mengetahui hampir semua detail perusahaan yang dipimpinnya.

"Saya hanya mencoba menyusunnya agar lebih mudah dibaca."

Arga mengangguk.

"Itu keputusan yang baik."

Maya tidak menyangka akan menerima pujian, sekecil apa pun, dari orang yang dikenal sangat tegas.

Sebelum pergi, Arga kembali berkata,

"Jangan terlalu sering lembur."

Maya sedikit bingung.

"Saya ingin menyelesaikan pekerjaan ini."

"Pekerjaan penting."

Arga menatapnya sejenak.

"Tapi keluarga juga penting."

Kalimat itu membuat Maya terdiam.

Untuk beberapa alasan, ia tidak menyangka akan mendengar hal seperti itu darinya.

Setelah Arga pergi, Maya kembali duduk.

Namun pikirannya tidak lagi sepenuhnya berada pada laporan di depan mata.

Ada sesuatu yang berbeda dari pria itu.

Di balik sikap dingin dan disiplin yang dikenal banyak orang, tampaknya ada sisi lain yang jarang diperlihatkan.

Hari-hari berikutnya, Maya semakin sering melihat bagaimana Arga bekerja.

Ia datang lebih awal dibanding sebagian besar karyawan.

Ia memeriksa banyak hal sendiri.

Ia tidak suka pekerjaan asal-asalan.

Tetapi ia juga tidak pernah meminta sesuatu yang tidak mampu ia lakukan sendiri.

Perlahan, rasa segan Maya berubah menjadi rasa hormat.

Sementara itu, tanpa disadari Maya, Arga juga mulai memperhatikannya.

Bukan karena penampilannya.

Bukan pula karena cerita yang pernah didengarnya dari orang lain.

Melainkan karena cara Maya bekerja.

Ia jarang mengeluh.

Cepat belajar.

Dan selalu berusaha menyelesaikan tugas dengan baik.

Karakter seperti itu tidak mudah ditemukan.

Suatu siang, ketika sedang berada di ruang rapat, Arga menerima laporan mengenai beberapa proyek baru perusahaan.

Di antara banyak nama karyawan yang disebut, nama Maya kembali muncul.

Arga mendengarkan dengan tenang.

Namun dalam hati ia mulai mengingat sesuatu.

Beberapa minggu sebelumnya, ia pernah mendengar nama perempuan itu dalam percakapan yang tidak disengaja.

Saat itu ia tidak terlalu memperhatikannya.

Kini nama yang sama terus muncul di berbagai laporan pekerjaan.

Dan untuk pertama kalinya, rasa penasaran mulai tumbuh.

Siapa sebenarnya Maya?

Perempuan yang tampak biasa itu ternyata memiliki keteguhan yang tidak biasa.

Namun Arga tidak membiarkan rasa penasarannya terlihat.

Ia tetap menjadi pemimpin yang sama.

Tegas.

Disiplin.

Dan sulit didekati.

Sementara Maya terus berusaha menata kehidupan barunya.

Ia belum menyadari bahwa pertemuannya dengan Arga bukan sekadar hubungan antara atasan dan bawahan.

Takdir perlahan sedang menyusun jalannya sendiri.

Dan tanpa diketahui keduanya, setiap hari yang mereka lalui di bawah atap kantor yang sama membawa mereka selangkah lebih dekat pada perubahan besar yang akan datang.

Perubahan yang sekali lagi akan menguji keberanian Maya untuk melangkah maju.

Dan mungkin, untuk membuka kembali bagian hatinya yang selama ini ia kunci rapat sejak kepergian Rendi.

1
Rian Moontero
mampiiirr😍
Aurora23: makasih supportnya😍
total 1 replies
Aurora23
yukk di baca guyss
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!