NovelToon NovelToon
Pelakor Merebut Suamiku, Aku Merebut Suaminya

Pelakor Merebut Suamiku, Aku Merebut Suaminya

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Pelakor / CEO / Penyesalan Suami / Selingkuh / Balas Dendam
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Mengetahui suaminya berselingkuh, Raina memilih tidak menangis. Baginya, pengkhianatan harus dibalas dengan cara yang sama.

Nyawa bayar nyawa. Selingkuh balas selingkuh.

Target balas dendamnya adalah Hadiraksa Gautama... suami dari Monica, wanita yang merebut rumah tangganya.

Raina mendekati Hadi yang selama ini dianggap pria gagal oleh istrinya sendiri: miskin, tak punya masa depan, dan hidup dari belas kasihan keluarga. Namun siapa sangka, di balik penampilan sederhananya, Hadi menyimpan identitas sebagai pengusaha muda kaya raya yang sengaja menyembunyikan status demi menguji cinta Monica.

Saat permainan balas dendam dimulai, perasaan ikut berubah.

Robby mulai menyesali perselingkuhannya. Monica panik setelah mengetahui pria yang ia buang ternyata jauh lebih berharga dari yang ia kejar.

Mereka ingin kembali pada pasangan masing-masing.

Tapi terlambat...

Karena dua hati yang awalnya dipersatukan oleh luka, perlahan berubah menjadi candu dan saling cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bawah Pohon

Angin malam bergerak pelan di antara daun-daun pohon mahoni.

Hadi masih duduk di bangku yang sama, punggung bersandar, kaki sedikit terbuka, ponsel sudah dimasukkan kembali ke saku jaketnya. Tubuhnya diam tapi kepalanya tidak berhenti bergerak sejak tadi.

Ia mencoba mengingat kapan tepatnya Monica berubah.

Bukan perubahan besar yang terjadi dalam semalam... tidak seperti itu. Lebih seperti air yang menetes ke batu: perlahan, konsisten, tidak terasa sampai suatu hari kamu melihat dan batu itu sudah berlubang.

Hadi tidak bisa menunjuk satu momen. Hanya ada rangkaian perubahan kecil yang ia pilih untuk tidak persoalkan.. karena ia percaya, karena ia pikir semua pernikahan punya fase sulit, karena setiap kali ia hampir bertanya ada sesuatu dalam dirinya yang memilih untuk menunggu dulu, memberi waktu dulu, mempercayai dulu.

Kepercayaan.

Ia sudah memberinya terlalu banyak, dan terlalu lama. Dan malam ini, setelah Monica menyebut angka sepuluh juta dari seseorang yang tidak ingin disebutkan namanya, kepercayaan itu terasa seperti sesuatu yang ia pegang erat-erat tapi dindingnya sudah retak dari dalam... masih berdiri, tapi tidak butuh banyak lagi untuk runtuh.

Ia menutup matanya sebentar.

---

"Mas Hadi."

Hadi membuka matanya.

Di ujung bangku, berdiri seorang perempuan yang ia kenali.

Istri Robby.

Raina.

Hadi duduk tegak. "Mbak Raina?"

Raina tersenyum, bukan senyum basa-basi biasa. Ada sesuatu di dalamnya yang lebih tenang dari yang Hadi harapkan dari seseorang yang muncul tiba-tiba di bangku sepi malam hari untuk menemui tetangganya. "Maaf, tiba-tiba."

"Nggak, nggak..." Hadi menggeser duduknya, isyarat mempersilakan. "Duduk."

"Sebentar saja." Raina duduk di ujung bangku, meletakkan tasnya di pangkuannya, dan menatap Hadi yang membuatnya merasa seperti orang yang sedang dibaca. "Mas Hadi tidak perlu kaget. Aku ke sini bukan untuk hal yang aneh."

"Terus?"

"Aku ke sini untuk jawab kebingungan Mas Hadi." Raina berkata tenang. "Kenapa istri Mas Hadi berubah belakangan ini."

Hadi menatapnya.

Dua detik. Tiga detik.

"Mbak tahu soal Monica?" tanya Hadi cepat dan penasaran.

"Cukup tahu." Raina tetap tenang.

"Dari mana Mbak tahu kalau aku..." Hadi berhenti di tengah kalimat. Ia mengusap rahangnya. "Dari mana Mbak tahu kalau aku sedang bingung soal istri aku?"

"Karena," kata Raina pelan, "perubahan Monica ada hubungannya dengan Robby. Suamiku."

Ruang di antara mereka menjadi sangat diam.!Hadi menarik napas pelan. "Maksudnya?"

Raina sudah mengeluarkan ponselnya. Ia membuka sesuatu, mengatur layarnya, kemudian menyodorkannya ke arah Hadi.

"Lihat ini dulu." titah Raina, merasa jika lebih baik jika Hadi melihat bukti terlebih dahulu sebelum ia menjelaskan.

Video itu berdurasi sekitar tiga puluh detik.

Tapi tiga puluh detik itu cukup.

Hadi menatap layar ponsel yang ada di tangannya, menatap gambar yang bergerak di dalamnya, gambar yang diambil dari seberang jalan dengan zoom yang cukup untuk memperlihatkan wajah dengan jelas. Ia mengenali lokasi itu bahkan sebelum melihat papan namanya. Grand Serena. Taksi yang berhenti. Seorang perempuan turun dengan tas cokelat yang sangat ia kenal, dengan gaun yang ia ingat Monica pakai pagi itu ketika pergi tanpa menjawab pertanyaannya.

Dan laki-laki yang turun di belakangnya.

Dan apa yang terjadi di depan pintu hotel itu,

tidak meninggalkan ruang untuk interpretasi lain.

Hadi tidak bergerak.

Layar video menggelap, sudah selesai.

Ia masih menatap layar yang sudah hitam itu selama beberapa detik sebelum menyodorkan ponselnya kembali ke Raina.

"Ada lagi," kata Raina. Ia memasukkan ponselnya, membuka tasnya, dan mengeluarkan dua lembar kertas yang dilipat rapi. Menyerahkannya ke Hadi.

Hadi membukanya.

Struk hotel. Tanggal yang tertera. Nama yang tertera.

Lembar kedua... bukti transfer. Nominal yang membuat matanya berhenti bergerak sebentar. Nama penerima yang sudah ia kenal tapi tidak pernah ingin ia lihat dalam konteks seperti ini.

Monica. Rp 10.000.000.

Hadi melipat kedua kertas itu. Mengembalikannya ke Raina. Kemudian ia meletakkan kedua sikunya di lutut dan menunduk, menatap tanah di bawah sandal jepitnya.

Tidak ada yang berbicara selama hampir satu menit penuh.

"Jadi," Hadi akhirnya bersuara... rendah, berat, seperti kata yang harus dipaksa keluar. "Selama ini..."

"Sudah beberapa bulan," jawab Raina. "Dari yang aku temukan, mereka sering check in di hotel yang sama. Grand Serena. Dan sepuluh juta yang Mas Hadi cari tahu tadi malam..." ia berhenti sebentar, membiarkan Hadi menyambung sendiri.

Hadi menyambungnya dalam kepalanya.

Monica yang meremehkan lima ratus ribunya. Monica yang bilang cuma-cuma. Monica yang tidak mau menyebut nama karena nama itu adalah nama suami tetangga sendiri, laki-laki yang tinggal di seberang jalan, di rumah yang bisa dilihat dari jendela kamar mereka.

Hadi memejamkan matanya.

Di dalam gelap di balik kelopak matanya, ada sesuatu yang bergolak... bukan satu emosi tapi banyak sekaligus, menabrak satu sama lain seperti ombak yang datang dari arah berbeda. Marah. Ya, marah yang sangat besar dan sangat panas. Tapi juga sesuatu yang lebih dingin di bawahnya... sesuatu yang terasa seperti pengakuan pahit bahwa tanda-tanda itu sudah ada, bahwa ia sudah melihat beberapa di antaranya, bahwa sebagian dari dirinya mungkin sudah tahu dan memilih untuk tidak mengikuti pikiran itu sampai ke ujungnya.

Ia menghitung sampai sepuluh di dalam kepalanya.

Membuka matanya.

"Mbak Raina." panggil Hadi kembali bicara

"Ya." Raina menoleh.

"Mbak terlihat..." Hadi menatap perempuan di sebelahnya... wajah yang tenang, duduk tegak, tangan yang tidak gemetar. "Santai."

Raina tidak langsung menjawab.

"Mbak tidak marah?" lanjut Hadi. "Mbak baru saja tunjukkan ke aku bukti kalau suami Mbak selingkuh. Dengan istri aku. Dan Mbak duduk di sini seperti orang yang baru selesai belanja sayur."

Sisi bibir Raina bergerak... naik sedikit, bukan senyum senang tapi senyum yang lebih dalam dari itu. *m"Bohong kalau aku bilang tidak marah."

"Tapi?"

"Tapi untuk apa?" Raina menatap jalanan di depannya. "Mau marah seperti apapun, Mas Hadi... mau aku menangis, mau aku teriak, mau aku lempar piring... Robby tidak akan mau mengakhiri hubungannya dengan Monica. Yang ada aku kelihatan kalah. Kelihatan lemah. Dan aku tidak mau itu."

Hadi menatapnya beberapa detik.

Kemudian mengangguk pelan, seperti seseorang yang baru saja mendengar sesuatu yang masuk akal meski tidak enak.

"Jadi Mbak mau apa?"

Raina menoleh ke arahnya. Matanya tenang... bukan tenang kosong, tapi tenang yang ada isinya, ada sesuatu yang sedang bergerak di baliknya meski permukaannya tidak beriak.

"Tidak mau melakukan apa-apa." jawab Raina mengendikkan bahunya.

"Maksudnya?" Hadi tidak mengerti.

"Aku tidak akan meledak. Tidak akan konfrontasi malam ini. Tidak akan banting pintu atau kirim pesan panjang ke Monica." Raina menarik napas pelan. "Tapi aku pastikan... mereka berdua akan menyesal."

Kalimat itu keluar ringan. Terlalu ringan untuk isinya.

Hadi menatapnya satu detik lebih lama dari biasanya, kemudian memalingkan pandangannya ke depan.

Mereka duduk diam sebentar, dua orang yang baru saja berbagi sesuatu yang tidak seharusnya perlu dibagi, di bawah pohon mahoni yang daunnya terus gugur satu-satu.

Hadi berdiri lebih dulu.

"Terima kasih," katanya. "Untuk memberitahu aku."

Raina mengangguk. "Mas Hadi berhak tahu."

Hadi menatapnya sebentar dari atas, ada sesuatu di wajahnya yang ingin ia tanyakan tapi ia putuskan untuk tidak. Belum waktunya. Ada terlalu banyak yang harus ia proses terlebih dahulu, terlalu banyak yang harus ia pikirkan sebelum bisa memikirkan hal lain.

"Hati-hati," katanya akhirnya. Kemudian ia berjalan... ke arah rumah nomor 9, ke arah pintu yang di baliknya ada istri yang tidak akan menjawab kalau ia bertanya, ke arah malam yang tidak akan lebih mudah dari malam-malam sebelumnya.

Raina menontonnya pergi.

Langkah Hadi semakin jauh, semakin samar di kegelapan ujung blok, sampai akhirnya menghilang di balik tikungan.

Raina masih duduk di bangku yang sama.

Ia tidak buru-buru pergi... membiarkan malam di sekitarnya bergerak dengan ritmenya sendiri, suara jangkrik dari kebun kosong di balik tembok belakang, angin yang sesekali membawa aroma tanah basah dari hujan sore tadi yang sudah ia hampir lupa terjadi.

Pikirannya bergerak pelan.

Monica bisa masuk ke pernikahan orang lain semudah itu. Bisa berdiri di depan pintu hotel dengan lengan bergelayut di suami orang, bisa mencium laki-laki yang bukan miliknya di depan umum tanpa repot-repot memeriksa siapa yang mungkin melihat, bisa menerima sepuluh juta sebulan dari laki-laki itu sementara suaminya di rumah mengulurkan amplop lima ratus ribu dengan harapan yang bahkan tidak sempat terbaca sebelum diremehkan.

Monica bisa melakukan semua itu karena ia pikir tidak ada konsekuensinya.

Raina menatap ujung jalan tempat Hadi tadi menghilang.

Dan Hadi... suami yang kata orang-orang kerjanya serabutan, suami yang dianggap tidak bisa memberikan apa-apa, suami yang dipermalukan di depan tetangga karena tidak mampu menafkahi istrinya dengan cukup, ternyata bukan pria biasa.

Jauh dari itu.

Pengusaha muda yang menyamar.

"Mengapa," pikir Raina, "masih menjadi pertanyaan yang belum terjawab." Tapi itu urusan nanti. Yang penting sekarang adalah satu hal yang sudah jelas...

Monica pergi meninggalkan suaminya yang kaya demi berselingkuh dengan suami orang yang gajinya enam juta.

Dan Raina... sudah terlalu lama berdiri di sisi yang salah dari ketidakadilan ini.

Raina berdiri dari bangku.

Menepuk sedikit bajunya, merapikan tas di bahunya.

Bibirnya bergerak pelan... bukan untuk siapapun, hanya untuk angin malam dan pohon mahoni dan langit yang mulai penuh bintang di atasnya:

"Kalau Monica bisa merebut suamiku... maka aku juga bisa merebut suaminya."

Kalimat itu keluar tenang. Tanpa drama. Seperti kesimpulan dari perhitungan panjang yang akhirnya menemukan angka yang tepat.

"Apalagi..."

Raina memandang sekali lagi ke arah ujung jalan yang sudah sepi.

"Aku tahu Hadi bukan pria biasa."

1
sunaryati jarum
upnya jangan lama- lama Thoor
sunaryati jarum
Robby nanti tahu- tahu dapat surat cerai jika yang mengurusi perceraian asisten Hadi,Mbak Laras.Sekaligus dapat anak hasil celap- celup dengan Monica.Setelsj hidupnya

Robby dan Monica mungkin akan kacau, karena Monika tahunya hanya menahan uang
partini
kenapa ga langsung bilang Monica sih
Surati Dewi
Thor kamu di mana
Bunda SB: lagi sakit kak, tapi Nenti diusahakan untuk up
total 1 replies
sunaryati jarum
Mana upnya
sunaryati jarum
Kok Robby to yang meninggalkan Monica itu Hadi,plong saat Hadi meninggalkan Monica.Kutunggu Rania meninggalkan Robby,dan ibunya Robby ,jadi sakit.
sunaryati jarum
Nah benar jangan kebablasan , segera pisah dari Pasangan kalian .Rania jangan pikirin ibunya Robby.Robby saja tidak memikirkan
Iam Just
up lagi thor
Surati Dewi
kapan up thor Pumpung lagi jadi pengangguran biar bisa baca malah gak muncul muncul thor
sunaryati jarum
Semoga orang tua Hadi langsung tertarik pada Raina.Dan Robby juga ingin segera menikahi Monica.
sunaryati jarum
Semoga lancar Hadi , untuk menerima Monika begitu pula Robby juga lancar
Iam Just
up tiap hari lah thor🤧
Bunda SB: diusahakan ya kak
total 1 replies
Surati Dewi
kenapa gak up thor
Titien Prawiro
Waktu mau berangkat kekantor Robby masuk kedalam mobil, knp pulang naik motor?
sunaryati jarum
Suka
sunaryati jarum
Segera cerai dari pasangan kalian dulu jika sudah mantap melanjutkan hubungan antara pria dan wanita
Surati Dewi
dabel up thor
sunaryati jarum
Tak usah lama -lama Hadi dan Rania segera mengajukan cerai jangan balas selingkuh ,jalin hubungan setelah sama- sama bebas tak terikat pernikahan
Surati Dewi
kapan up kak
sunaryati jarum
Semoga cepat terwujud ,Hadi telah menyebut kamu yang sangat dicintai ,Rania.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!