Di balik parasnya yang secantik lukisan Renaisans, hidup Alessa bagaikan neraka dunia. Sejak kecelakaan tragis merenggut kedua orang tuanya, rumah yang seharusmya menjadi tempat berlindung berubah menjadi tempat penyiksaan. Kakak kandungnya, Rian, menjelma menjadi monster yang digerakkan oleh judi, alkohol, dan dendam tak beralasan. Setiap hari, Alessa kenyang akan cacian, makian, dan sabetan ikat pinggang. Di tengah penderitaan yang menguras air mata dan memantik amarah terdalam, Alessa bertahan dengan humor-humor sarkas yang absurd bersama sahabatnya, menjadikannya perisai agar jiwanya tidak sepenuhnya hancur.
Hingga malam itu, saat ia melarikan diri dengan tubuh penuh lebam, ia menabrak seorang pria berjas buatan penjahit terbaik Italia. Giovanni Alberto, the undisputed king of global wealth, pria terkaya di dunia yang terkenal dingin dan tak tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cacian Pagi Hari Sebagai Menu Sarapan
Udara fajar masih diselimuti oleh kabut tipis dan embun yang dingin ketika Alessa terbangun. Rencana nekatnya untuk mendobrak jendela belakang semalam gagal total bukan karena dia kehilangan keberanian, melainkan karena fisiknya yang terlampau lemah telanjur ambruk ke atas lantai kamar sebelum dia sempat menyentuh grendel kayu jendela. Rasa sakit yang menjalar dari luka sabetan di punggung serta efek pusing akibat vertigonya membuat kesadaran Alessa padam begitu saja. Dia tertidur dalam posisi meringkuk di lantai, beralaskan selembar kain sisa gorden yang berdebu, tanpa selimut, tanpa kehangatan.
Ketika kelopak matanya yang terasa seberat timah perlahan terbuka, hal pertama yang menyambut indra pendengarannya bukanlah kicau burung gereja atau suara kokok ayam jago yang damai. Melainkan sebuah benturan keras dari arah ruang tamu, disusul oleh derap langkah kaki yang tergesa-gesa dan penuh amarah.
Brak!
Pintu kamar Alessa dihantam dengan tendangan sepatu bot yang kasar. Daun pintu yang terbuat dari tripleks murah itu bergetar hebat, mengeluarkan bunyi derit seolah-olah akan copot dari engselnya yang berkarat. Siluet tinggi besar Rian langsung berdiri di ambang pintu, menghalangi cahaya remang-remang pagi yang baru saja hendak masuk. Wajah Rian tampak luar biasa kusut, rambutnya berminyak, dan sepasang matanya yang merah melotot gila dengan kantung mata yang menghitam pekat. Dia baru saja pulang dari warung kopi remang-remang setelah semalaman menyusun strategi busuk bersama para penagih utang.
"Heh! Anak haram! Masih enak-enakan tidur kamu ya?!" raung Rian. Suaranya yang serak dan menggelegar seketika memecah kesunyian pagi, membuat jantung Alessa melompat ke tenggorokan.
Sebelum Alessa sempat mengumpulkan kesadarannya sepenuhnya atau sekadar menegakkan posisi duduknya, Rian sudah melangkah maju dengan beringas. Tanpa belas kasih sedikit pun, tangan kekar kakaknya itu mencengkeram kerah kemeja biru pudar yang dikenakan Alessa, lalu menyentaknya ke atas. Alessa terangkat paksa, kakinya yang lemas terseret di atas lantai semen, sementara rasa perih di punggungnya kembali berdenyut luar biasa hebat akibat gesekan pakaian dengan luka yang belum mengering.
"Lepas, Kak... Per favore (tolong), lepaskan..." bisik Alessa dengan suara yang sangat parau, menahan rasa sakit yang membuat pandangannya mendadak berkunang-kunang.
"Lepas? Enak saja kamu bicara!" Rian mendorong tubuh Alessa hingga punggungnya menghantam dinding kamar dengan keras.
Bugh!
"Arghhh!" Jeritan kesakitan lolos begitu saja dari bibir Alessa yang pecah. Hantaman pada dinding itu tepat mengenai jalur luka sabetan ikat pinggang semalam. Rasanya laksana ratusan jarum panas ditusukkan sekaligus ke dalam dagingnya, membuat air matanya refleks merembes keluar membasahi pipinya yang masih lebam keunguan. Kesedihan yang teramat mendalam dan rasa putus asa kembali mencengkeram dada Alessa hingga dia merasa sesak, nyaris tidak bisa bernapas. Mengapa setiap pagi yang datang harus selalu diawali dengan neraka seperti ini? Mengapa dia tidak diizinkan untuk membuka mata dengan ketenangan sekecil apa pun?
Rian tidak peduli dengan tangisan adiknya. Dia justru mencondongkan wajahnya ke depan, menatap Alessa dengan pandangan penuh kebencian dan kejijikan yang mutlak. "Dengar ya, Alessa! Hari ini adalah hari terakhirmu berada di rumah ini! Utang judiku sudah membengkak menjadi dua ratus juta rupiah gara-gara bunga dari bandar pasar! Dan tahu tidak apa yang mereka katakan tadi subuh? Mereka bilang, kalau hari ini aku tidak bisa membawa uang tunai, kepala kakakmu ini yang akan dipenggal!"
Rian mencengkeram rahang Alessa dengan sangat kuat menggunakan jemarinya yang kasar, memaksa Alessa untuk terus menatap sepasang matanya yang dipenuhi kegilaan.
"Jadi, karena kamu anak tidak berguna yang tidak bisa menghasilkan sepeser uang pun untukku, dan kamu sengaja menyembunyikan sisa harta peninggalan Ibu, aku tidak punya pilihan lain! Nanti malam, tepat jam delapan, orang-orang dari pelabuhan akan datang menjemputmu! Kamu akan dibawa pergi naik kapal besar, dan kamu harus melayani mereka di sana sampai seluruh utangku lunas! Paham kamu?!"
Makian, cacian, dan kata-kata kotor mengalir deras dari mulut Rian laksana air bah dari selokan yang meluap. Dia mengata-ngatai Alessa sebagai pembawa sial, anak haram jadah, beban hidup, hingga parasit yang telah menghancurkan masa depannya. Setiap untaian cacian itu mendarat di telinga Alessa, berfungsi sebagai "menu sarapan pagi" yang dipaksakan untuk ditelan mentah-mentah ke dalam jiwanya yang sudah penuh dengan luka.
Amarah yang luar biasa pekat mulai membubung di dalam dada Alessa, bercampur dengan rasa sakit fisiknya. Rasa hangat dari darah baru yang merembes di punggungnya memantik sebersit keberanian yang dingin di dalam kepalanya. Mengapa dia yang harus menanggung akibat dari keserakahan judi Rian? Mengapa dia yang harus dijual ke pelabuhan seperti seekor ternak demi menyelamatkan nyawa seorang pecundang yang tidak pernah memperlakukannya sebagai manusia? Keberatan dan pemberontakan mental yang hebat bergolak di dalam batin Alessa. Dia ingin sekali meludahi wajah Rian, ingin berteriak membalas setiap cacian busuk itu. Namun, cengkeraman pada rahangnya dan posisi tubuhnya yang terhimpit di dinding membuatnya tidak bisa bergerak.
Di titik nadir penderitaan verbal dan fisik itu, ketika otaknya hampir saja menyerah pada kegelapan depresi, sekring pertahanan psikologis Alessa yang absurd kembali menyala secara otomatis. Komedi gelap dan sarkasme radikal adalah satu-satunya perisai gaib yang bisa dia gunakan agar jiwanya tidak retak menjadi berkeping-keping di depan monster ini.
Alessa menatap mata Rian yang melotot gila. Dia menahan rasa sakit pada rahangnya, lalu mengatur napasnya yang tersengal-sengal agar suaranya bisa keluar dengan jelas.
"Kak..." desis Alessa, nadanya mendadak berubah datar, kehilangan seluruh aksen ketakutan yang semata-mata diharapkan oleh Rian.
Rian mengencangkan cengkeramannya. "Apa?! Mau memohon-mohon kamu sekarang?! Sudah terlambat, Alessa!"
Alessa memaksakan salah satu sudut bibirnya untuk terangkat, membentuk sebuah senyuman kecut yang terlihat sangat aneh di wajahnya yang babak belur. "Kagak... Gue cuma mau bilang... terima kasih banyak buat menu sarapan paginya hari ini. Cacian dan makian lu tadi bener-bener padat gizi, kaya akan karbohidrat dosa, dan penuh dengan asupan vitamin kehancuran akhlak."
Rian mengerutkan dahi, ekspresi kemarahan di wajahnya mendadak terhenti sejenak karena kebingungan yang luar biasa. "Kamu... kamu bicara apa, bangsat?!"
"Maksud gue," Alessa terbatuk kecil, namun matanya menatap lurus ke dalam bola mata Rian dengan pandangan sarkasme yang kental. "Lu kalau ngomong dari tadi kuahnya banyak banget, Kak. Ludah lu ke mana-mana, sebagian besar mendarat di muka gue. Ini namanya penularan bakteri alkohol secara langsung. Lagipula, lu bilang utang lu dua ratus juta? Terus lu mau jual gue ke pelabuhan buat melunasi itu semua?"
"Iya! Memangnya kenapa?!" bentak Rian, wajahnya kembali memerah karena merasa dipermainkan.
"Gue cuma mau ngingetin lu aspek ekonomi makro, Kak," kata Alessa dengan nada yang sangat tenang, seolah-olah dia sedang memberikan kuliah teori akuntansi di universitas, bukan sedang disekap di dinding kamar. "Muka gue ini emang cantik banget, warisan murni dari garis keturunan Mamma yang orang Italia asli. Tapi di pasar pelabuhan, harga komoditas jaminan kayak gue itu ada fluktuasinya. Lu kalau jual gue buru-buru malam ini di bawah tekanan debt collector, yang ada lu dapet harga dumping—alias harga murah karena lu butuh duit cepat. Potongan komisinya pasti gede banget, Kak. Lu yakin sisa duitnya cukup buat bayar bunga utang lu? Jangan-jangan besok pagi kepala lu tetep dipenggal karena kurang bayar seribu perak. Kan rugi bandar namanya."
"Kurang ajar!!! Kamu benar-benar sudah gila ya!!!"
Amarah Rian meledak ke tingkat tertinggi yang pernah ada setelah mendengar analisis ekonomi sarkas dari korbannya sendiri. Rasanya seperti ditampar secara intelektual oleh seorang gadis yang sedang dia siksa. Rasa malu yang bercampur dengan murka membuat Rian kehilangan seluruh kendali dirinya.
Rian melepaskan cengkeraman rahangnya, lalu dengan gerakan kasar, dia mendorong tubuh Alessa hingga terjerembab ke lantai kamar mandi di luar kamar.
"Hari ini sampai nanti malam jam delapan, kamu jangan pernah berani keluar dari rumah ini! Aku akan mengunci semua pintu dari luar! Jangan harap kamu bisa kabur bersama sahabat gilamu itu lagi!" teriak Rian dengan napas yang memburu laksana lokomotif uap tua.
Rian melangkah mundur, keluar dari rumah, lalu membanting pintu depan dengan kekuatan penuh. Suara anak kunci yang diputar berkali-kali dari luar terdengar menggema di dalam rumah yang sepi, disusul oleh suara rantai besi yang digembok pada gagang pintu luar. Rian benar-benar telah menyegel rumah ini menjadi sebuah penjara mati bagi Alessa.
Di dalam rumah yang kembali sunyi, Alessa duduk bersandar pada pintu kamar mandi yang dingin. Air matanya yang sejak tadi dia tahan dengan tameng sarkasme akhirnya runtuh juga, mengalir deras membasahi pipinya, menghapus sisa-sisa bedak murah yang menutupi luka lebamnya. Tubuhnya bergetar hebat. Rasa sakit di punggungnya yang berdarah kembali terasa membakar kulitnya laksana disiram cuka.
Kesedihan yang teramat mendalam, rasa kesepian sebagai anak yatim piatu, dan amarah yang menggumpal menjadi satu racun yang pekat di dalam hatinya membuat Alessa memeluk lututnya erat-erat, menyembunyikan wajahnya di sana sambil terisak tanpa suara. Jam digital di kepalanya terus berdetak mundur menuju pukul delapan malam—waktu di mana dia akan diserahkan kepada orang-orang kejam dari pelabuhan.
"Ibu... Ayah..." bisik Alessa di sela-sela tangisnya yang memilukan, memanggil memori orang tuanya yang telah tiada. "Alessa takut... Alessa harus gimana..."
Namun, di tengah-tengah lautan keputusasaan yang mencekik itu, Alessa tiba-tiba melihat bayangan dirinya sendiri di cermin wastafel dapur yang berada tidak jauh dari posisi duduknya. Lapisan bedak di wajahnya sebagian besar telah luntur oleh air mata, memperlihatkan rona keunguan yang kontras dengan kulit putihnya yang pucat.
Alessa menghentikan tangisnya secara mendadak. Dia menatap pantulan wajahnya sendiri, lalu mengembuskan napas panjang melalui mulut dengan nada kesal.
"Hebat," gumamnya dengan nada suara yang kembali datar dan sarkas. "Air mata gue hari ini bener-bener gak suportif sama sekali. Baru juga mau akting sedih biar dapet simpati dari alam semesta, malah ngerusak lapisan foundation yang sudah susah-susah gue poles dari kemarin. Sekarang muka gue resmi mirip badut sirkus gagal yang habis kena begal di terminal."
Dia memaksakan dirinya untuk berdiri kembali, meskipun harus berpegangan pada kusen pintu karena kakinya yang gemetar. Amarah di dalam dadanya kini tidak lagi berbentuk letupan emosi yang sia-sia, melainkan telah bermutasi menjadi sebuah keputusan yang dingin, setajam pisau belati. Menu sarapan pagi berupa cacian dari Rian tadi telah memperjelas satu hal: jika dia tetap berada di rumah ini sampai jam delapan malam, hidupnya akan berakhir di dasar jurang kegelapan yang paling dalam.
Alessa menatap pintu depan yang digembok rantai dari luar, lalu beralih menatap jendela dapur. Waktu yang dia miliki tinggal beberapa jam lagi. Berbekal sisa keberanian yang lahir dari rasa sakit yang membakar kulit dan jiwanya, Alessa tahu dia tidak bisa lagi menunggu keajaiban datang dari langit yang bisu. Dia harus menggunakan sisa waktu ini untuk merencanakan pelarian yang sesungguhnya—sebuah pelarian murni demi mempertahankan hak paling mendasar atas tubuh dan hidupnya sendiri, tidak peduli seberapa besar rintangan yang harus dia hancurkan di luar sana.