NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua

Kehidupan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Reinkarnasi
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

Menggambarkan kemegahan hidup Doni Salman di usia 46 tahun, puncak kekuasaan Salman Group, hingga tragedi malam berdarah saat racun melumpuhkan sarafnya.

Konfrontasi kejam Amanda dan Andreas, pengakuan mengejutkan tentang anak gelap mereka, serta fakta mengerikan bahwa Zahra diperkosa dan dibunuh atas perintah Amanda.

Doni mati dalam murka, memicu keajaiban langit yang melempar jiwanya kembali ke tahun saat ia berusia 26 tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 18: Detak Jantung Menara Thamrin

Kawasan Sudirman-Thamrin pada pertengahan tahun 2006 adalah panggung unjuk gigi bagi para raksasa finansial dan korporasi properti yang sedang naik daun.

Gedung-gedung tinggi bermaterial kaca reflektif dan beton kokoh menjulang membelah langit ibu kota yang terik, memantulkan siluet kemegahan semu dari perputaran uang miliaran rupiah setiap detiknya.

Di sinilah, di lantai lima belas Menara Thamrin, kantor pusat PT Santoso Karya berdiri dengan angkuh.

Lantai marmer putih mengkilap yang menyambut setiap tamu mencerminkan ambisi tak terbatas dari sang pemilik, Devan Santoso.

Tepat pukul sembilan lewat lima puluh menit pagi, Doni Salman melangkah keluar dari dalam lift ber-AC yang dingin.

Penampilannya masih sama dengan malam sebelumnya; kemeja batik lengan panjang yang disetrika rapi dan sepatu pantofel kulit lokal yang solnya sudah agak menipis.

Di antara para staf eksekutif yang berlalu-lalang mengenakan setelan jas impor dan membawa tas kerja mahal, Doni tampak seperti anomali yang asing.

Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang tahu bahwa di balik cangkang pemuda miskin itu, terdapat jiwa seorang titan korporat yang kelak akan meruntuhkan menara ini hingga ke fondasi terdalamnya.

Doni berjalan menuju meja resepsionis dengan langkah kaki yang konstan dan ritmis.

"Saya Doni Salman."

"Ada janji temu dengan Pak Devan Santoso dan Pak Andreas pukul sepuluh tepat,"

katanya kepada sang sekretaris wanita yang sedang sibuk menerima telepon.

Wanita itu melirik Doni sejenak melalui kacamata berbingkai tipisnya, lalu memeriksa agenda digital pada komputer tabung di mejanya.

"Ah, ya. Pak Doni Salman."

"Anda sudah ditunggu di ruang rapat utama di sebelah kanan koridor."

"Silakan langsung masuk."

Doni mengangguk pelan tanpa senyuman.

Ia melangkah menyusuri koridor berdinding kayu mahoni yang dipenuhi oleh foto-foto peresmian proyek infrastruktur yang pernah dikerjakan oleh PT Santoso Karya.

Di setiap foto tersebut, wajah Devan Santoso selalu tampak berdiri paling depan dengan senyuman pongah, memegang gunting atau sekop berlapis emas.

Doni memandangi foto-foto itu satu per satu dengan ketenangan yang mematikan.

Nikmatilah sisa-sisa kebanggaan ini, Devan, bisik batinnya yang sedingin es.

Ketika Doni mendorong pintu kaca patri ruang rapat utama, ia mendapati ruangan itu sudah diisi oleh beberapa orang.

Devan Santoso duduk di kepala meja oval panjang, masih dengan setelan safari hitam andalannya.

Di sebelah kanannya, Andreas duduk sambil memegang beberapa lembar berkas dokumen bermeterai.

Namun, yang menarik perhatian Doni adalah kehadiran seorang pria paruh baya berkacamata tebal yang duduk di sebelah kiri Devan.

Dia Hendra, kepala tim legal dan penasihat hukum utama keluarga Santoso.

"Kamu tepat waktu, Doni."

"Duduklah,"

kata Devan tanpa basa-basi, suaranya parau namun tetap membawa nada dominasi yang kuat.

Doni menarik kursi kulit hitam di seberang mereka, lalu duduk dengan tenang.

Ia meletakkan kedua tangannya di atas meja kaca, menatap lurus ke arah Hendra yang sedang menatapnya dengan pandangan penuh selidik dari balik kacamata tebalnya.

"Doni, ini Pak Hendra, kepala tim legal kami,"

Andreas membuka suara dengan nada yang sedikit dipaksakan ramah.

"Dia yang menyusun draf kontrak kerja sama kita berdasarkan poin-poin yang kita sepakati di Menteng semalam."

"Termasuk... klausul opsi saham kosong yang kamu minta."

Andreas memberikan penekanan khusus pada kata 'saham kosong', masih menyimpan rasa tidak suka yang mendalam atas kelancangan Doni.

Hendra menggeser dua bendel dokumen tebal berlogo PT Santoso Karya ke hadapan Doni.

Di atas halaman pertama, selembar meterai enam ribu rupiah sudah tertempel rapi di dekat kolom tanda tangan.

"Sebelum Anda menandatanganinya, Saudara Doni, saya wajib menjelaskan kembali implikasi hukum dari kontrak ini secara eksplisit,"

kata Hendra dengan nada suara yang monoton dan formal khas seorang pengacara korporat.

"Silakan, Pak Hendra."

"Saya mendengarkan," jawab Doni rileks,

melipat tangannya di dada tanpa ada gestur gugup sedikit pun.

Hendra membetulkan posisi kacamata tebalnya, lalu membuka halaman tengah dokumen tersebut.

"Sesuai permintaan Anda, Anda diberikan hak prerogatif mutlak untuk memutus dan menunjuk vendor logistik pihak ketiga di lapangan untuk proyek sektor utara."

"Namun, di bawah Pasal 7 Ayat 4, jika terjadi keterlambatan pasokan material yang mengakibatkan berhentinya aktivitas konstruksi melebihi batas toleransi empat puluh delapan jam,"

"Anda secara pribadi bertanggung jawab penuh atas denda ganti rugi operasional sebesar lima puluh juta rupiah per hari keterlambatan kepada perusahaan."

Hendra menjeda kalimatnya sejenak, menatap Doni untuk melihat apakah pemuda ini akan gemetar setelah mendengar angka denda yang begitu besar bagi ukuran seorang buruh pelabuhan.

Namun, wajah Doni tetap sedatar air di dalam tempayan tua.

"Selanjutnya,"

Hendra melanjutkan dengan dahi berkerut, merasa agak heran dengan ketenangan Doni.

"Mengenai klausul insentif khusus di Pasal 12."

"Opsi saham kosong sebesar dua persen akan aktif dan sah demi hukum hanya jika Anda berhasil membuktikan penghematan biaya distribusi logistik sebesar minimal dua puluh persen dari anggaran berjalan saat ini,"

"terhitung dalam jangka waktu sembilan puluh hari kalender sejak kontrak ini ditandatangani, dengan syarat zero-delay pada performa pengiriman."

"Jika target dua puluh persen itu meleset bahkan hanya nol koma satu persen saja pada hari ke-sembilan puluh, maka hak opsi saham tersebut hangus demi hukum tanpa kompensasi apa pun."

Devan Santoso bersandar di kursinya, menyilangkan kakinya, lalu menatap Doni dengan senyuman licik yang penuh kemenangan.

"Bagaimana, Doni?"

"Angka-angka itu sangat riil."

"Ini adalah dunia bisnis yang keras, bukan sekadar teori di atas kertas manifest gudangmu."

"Jika kamu merasa denda itu terlalu berat untuk punggungmu yang kurus, kamu masih punya waktu untuk membatalkannya sekarang dan kembali bekerja sebagai kuli angkut di bawah Subagja."

Andreas ikut tersenyum sinis, menanti momen di mana Doni akan menyerah atau meminta penurunan nominal denda.

Di mata mereka, mereka telah memasang sebuah jaring laba-laba hukum yang sempurna.

Mereka mendapatkan otak jenius Doni untuk merapikan jalur logistik mereka yang berantakan, sementara mereka memagari kepemilikan saham mereka dengan target yang mustahil dicapai oleh orang biasa dalam waktu tiga bulan.

Namun, di dalam kepala Doni Salman, sebuah algoritma masa depan yang jauh lebih canggih sedang bekerja dengan kecepatan penuh.

Sembilan puluh hari kalender? Bagi orang biasa yang tidak tahu apa-apa, memotong biaya logistik sebesar dua puluh persen di sektor utara yang dikuasai oleh preman pelabuhan dan oknum aparat korup adalah misi bunuh diri.

Namun bagi Doni, yang memegang memori masa depan mengenai tanggal presisi pembersihan besar-besaran premanisme pelabuhan oleh kepolisian pusat sebulan lagi, serta jalur alternatif tol baru yang belum dipetakan oleh siapa pun saat ini, target dua puluh persen itu adalah hal yang sangat mudah untuk dilewati.

Doni tidak meraih pulpen yang disediakan di atas meja.

Sebaliknya, ia menarik dokumen tersebut ke dekatnya, membuka halaman demi halaman dengan gerakan jari yang lambat namun pasti.

Matanya membaca setiap pasal dengan ketelitian seorang auditor keuangan ulung.

Ia memastikan tidak ada frasa-frasa jebakan tersembunyi yang sengaja dimasukkan oleh Hendra untuk membatalkan hak opsinya secara sepihak di kemudian hari.

Setelah memastikan semuanya bersih dan mengikat secara mutlak bagi kedua belah pihak, Doni baru mengambil pulpen hitam miliknya dari saku kemeja batik bekasnya.

"Saya tidak pernah mundur dari taruhan yang sudah saya rancang sendiri, Pak Devan,"

kata Doni dengan nada suara yang begitu stabil dan tajam.

Dengan tiga gerakan tangan yang mantap dan tegas, Doni membubuhkan tanda tangannya di atas kertas segel bermeterai tersebut, tepat di atas tulisan namanya: Doni Salman.

Sret... Sret... Sret...

Suara gesekan ujung pulpen di atas kertas putih itu terdengar begitu nyaring di dalam ruang rapat yang sunyi.

Begitu tanda tangan itu selesai, Doni menggeser kembali dokumen tersebut ke hadapan Devan Santoso.

"Kontrak resmi berlaku mulai hari ini,"

Doni berdiri dari kursinya, merapikan letak kemejanya, lalu menatap Devan dan Andreas bergantian dengan sepasang mata sumur tuanya yang kini berkilat mematikan.

"Mulai besok pagi, saya akan berkantor di area lapangan sektor utara."

"Pastikan tim keuangan Anda tidak terlambat mencairkan anggaran operasional pertama yang saya minta melalui memo internal nanti."

Devan Santoso menerima dokumen itu, lalu ikut membubuhkan tanda tangannya dengan senyuman puas.

"Bekerjalah dengan baik, Doni."

"Jangan mengecewakan kepercayaan yang sudah saya dan Andreas berikan kepadamu."

Doni hanya memberikan sebuah senyuman tipis yang sangat misterius sebagai jawaban, lalu membalikkan badannya dan melangkah keluar dari ruang rapat utama tanpa menoleh lagi. Pintu kaca patri tertutup rapat di belakangnya.

Sembari berjalan menuju lift Menara Thamrin, Doni Salman merasakan kepuasan emosional yang luar biasa masif menjalar di dalam rongga dadanya.

Di atas kertas segel yang baru saja ditandatanganinya, keluarga Santoso mengira mereka telah berhasil mengikat seekor kuda beban yang murah untuk kesuksesan proyek mereka.

Mereka sama sekali tidak pernah menduga bahwa dengan goresan tinta tersebut, mereka baru saja meletakkan sumbu peledak pertama tepat di bawah fondasi kekaisaran bisnis mereka sendiri, dan Doni Salman adalah orang yang memegang korek apinya di dalam kegelapan.

Perburuan di sarang ular telah resmi dimulai, dan langkah sang singa kini tidak akan pernah bisa dihentikan lagi oleh siapa pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!