Bagi Adista, barang antik bukan sekadar benda mati; mereka memiliki jiwa, cerita, dan keindahan tersendiri. Hobinya mengoleksi barang-barang unik dan kuno selalu berhasil membawa kepuasan tersendiri, hingga suatu malam di sebuah ruang pelelangan rahasia, matanya terpaku pada sebuah mahakarya yang unik.
Sebuah lukisan tua berbingkai emas kusam yang menggambarkan sosok perempuan dengan air mata darah.
Ada daya tarik magis yang tak kasat mata, seolah lukisan itu sengaja memanggil namanya. Tergiur oleh keunikan dan aura mistisnya, Adista berhasil memenangkan lelang tersebut tanpa tahu harga yang harus ia bayar bukan sekadar uang.
Sejak lukisan itu tergantung di dinding rumahnya, atmosfer berubah mencekam. Langkah kaki misterius, bau anyir yang menguap di udara, hingga bisikan ghaib yang menyayat hati mulai meneror malam-malam Adista. Sosok perempuan dalam kanvas itu seolah hidup, dan tangisan darahnya perlahan mulai merembes keluar dari bingkai, menuntut balas yang mengerikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 24
Deru mesin mobil Adista perlahan mati saat memasuki halaman rumah. Langit sudah sepenuhnya gelap, dan rintik hujan mulai turun membasahi bumi. Adista menghela napas panjang sambil mematikan mesin mobilnya. Rasa lelah setelah seharian penuh mengurus bisnis garmen membuat kepalanya terasa agak pening. Namun, di balik rasa lelah itu, ada rasa rindu untuk segera mengistirahatkan tubuh di dalam rumah.
Adista keluar dari mobil, membuka payung, dan berjalan cepat menuju teras depan. Saat kakinya menginjak lantai teras, ia menyadari sesuatu yang aneh. Pintu rumahnya sedikit terbuka, menyisakan celah kecil yang mengeluarkan cahaya terang dari dalam. Perasaan Adista mendadak tidak enak. Ia ingat betul pesannya kepada Bik Sumi untuk selalu mengunci pintu, terutama menjelang malam.
Dengan jantung yang mulai berdegup agak kencang, Adista mendorong pintu kayu besar itu perlahan.
"Bik Sumi?" panggil Adista dengan suara pelan.
Tidak ada jawaban. Rumah itu terasa sangat sunyi, namun ada sesuatu yang berbeda di dalam udaranya. Adista melangkah masuk lebih dalam ke arah koridor utama. Baru beberapa langkah berjalan, indra penciumannya langsung menangkap sebuah aroma yang sangat ia kenali sekaligus ia takuti.
Aroma wangi bunga mawar yang sangat manis bercampur dengan bau anyir darah yang luar biasa menyengat. Bau busuk itu begitu pekat hingga membuat Adista harus menutup hidung dan mulutnya dengan sapu tangan. Bulu kuduknya seketika berdiri tegak.
"Tidak... tidak mungkin," bisik Adista dengan tubuh yang mulai gemetar. Teror itu kembali lagi.
Adista mempercepat langkah kakinya menuju ke ruang tengah, tempat sumber bau busuk itu berasal. Namun, begitu ia melewati pembatas ruangan, langkah kaki Adista mendadak berhenti total. Matanya membelalak lebar, dan tas kerja yang ia pegang terlepas begitu saja dari genggamannya, jatuh mencium lantai kayu dengan suara keras.
BRAK!
Di tengah-tengah ruangan, tepat di bawah lukisan perempuan menangis darah, berdiri sesosok pria. Pria itu adalah Rian, mantan pacarnya yang sangat ia benci.
Adista benar-benar kaget dan syok melihat kehadiran Rian di dalam rumahnya. Namun, yang membuat rasa takut Adista mencapai puncaknya adalah kondisi Rian saat ini. Pria arogan yang biasanya selalu bertingkah sok berkuasa dan berisik itu kini berdiri mematung dengan posisi yang sangat aneh.
Rian berdiri tegak dengan kedua tangan yang menggantung kaku di sisi tubuhnya. Kepalanya mendongak penuh ke atas, menatap lurus ke arah lukisan di dinding tanpa berkedip sedikit pun. Wajah Rian tampak pucat pasi, matanya melotot sangat lebar hingga urat-urat merah di matanya terlihat jelas, memancarkan rasa ngeri yang sangat dahsyat. Mulutnya terbuka sedikit, namun tidak ada suara apa pun yang keluar dari sana.
"Rian? Bagaimana bisa kamu ada di sini?!" seru Adista dengan suara bergetar bercampur marah dan takut.
Rian sama sekali tidak bergerak. Ia tetap diam membeku seperti patung lilin yang mati. Jangankan menjawab pertanyaan Adista, menggerakkan seujung jarinya pun Rian tampak tidak mampu. Pria itu seperti sedang dikunci oleh sebuah kekuatan ghaib yang sangat besar dan tidak kasat mata.
Adista melangkah mundur, air mata ketakutan mulai mengalir di pipinya. Ia melihat ke atas, ke arah lukisan koleksinya. Di sana, sosok perempuan di dalam kanvas tampak seperti sedang tersenyum penuh kemenangan. Cairan merah dari matanya mengalir semakin deras, menetes jatuh tepat ke atas lantai kayu di dekat sepatu Rian.
TIK... TIK...
Suara tetesan darah itu terdengar begitu jelas di dalam kesunyian ruangan yang mencekam. Adista menyadari situasi gila ini dengan sangat cepat. Rian telah melanggar larangan keras yang ia buat. Pria ini telah masuk ke dalam rumah dan memicu kembali kutukan maut dari hantu wanita yang menyimpan dendam kesumat kepada kaum laki-laki.
"Rian! Pergi dari sana! Keluar dari rumah ini sekarang!" teriak Adista histeris, mencoba menyadarkan mantan pacarnya itu.
Namun, semuanya sudah terlambat. Tepat ketika Adista hendak maju untuk menarik tubuh Rian keluar dari ruang tengah, lampu gantung di atas kepala mereka tiba-tiba berkedip dengan sangat liar sebelum akhirnya mati total, meninggalkan ruangan itu dalam kegelapan yang sunyi dan mencekam.
soookorrr
apa ya g gmn gtu smpe teror siang hari pun ada lho
mau lwrtahanin lukisan mu apa mau buang dan bakar gtu
trus piye yo saiki
nah jadi misteri bget sih tp sadis cara bantai nya hiss ngeri ya