NovelToon NovelToon
My Favorite Customer

My Favorite Customer

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:775
Nilai: 5
Nama Author: Rygobii_15

Gimana rasanya suka sama customer sendiri?
Kalau customer-nya jomblo, oke lah... masih bisa dideketin pelan-pelan.

Lah, aku?

Aku ajah kerja di toko bunga.

Yang artinya, sebagian besar customer-ku datang buat beli bunga untuk pacarnya, calon istrinya, atau bahkan istrinya beneran.

Sial banget nggak sih?

Gini nih kalau kelamaan jomblo. Sekalinya suka sama cowok, malah suka sama cowok yang kemungkinan besar udah ada yang punya.

Huhuhu.

Tapi tenang, aku tahu diri kok.

Aku cuma mengaguminya dari jauh.

Lagian, mana mungkin ada kisah cinta antara karyawan toko bunga biasa sepertiku dengan customer yang cuma datang sesekali?

...kan?

Atau jangan-jangan, semesta memang sedang menyiapkan sesuatu yang nggak pernah aku duga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rygobii_15, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

healing

Langit belum terlalu terik, angin pagi masih pelan lewat di antara pepohonan.

Wulan menunduk, jari-jarinya sibuk menggulir layar ponsel, Ia menunggu di depan rumahnya dengan outfit healing-nya.

Semalam ia sudah izin pada Sarah, dan untungnya masih ada jatah cuti bulanan, jadi bisa diambil tanpa ribet.

"LAN!"

Suara klakson kecil disertai teriakan Siwi dari depan gang membuat Wulan langsung menoleh.

"telat dikit mati lo ya," omel Wulan sambil naik ke motor.

"bukan telat, ini namanya fashionably late," jawab Siwi santai.

Wulan hanya menggeleng "iya iya, Sok Inggris."

Mereka melaju pelan menyusuri jalan desa menuju pusat kota,

Angin pagi menerpa wajah, bikin suasana jadi lebih ringan dari biasanya.

"nanti kita ke mana dulu?" tanya Siwi.

"yang penting makan dulu," jawab Wulan tanpa pikir panjang.

"fix. Perut lo emang prioritas hidup."

Wulan terkekeh "yaa iya lah, kalau perut bahagia, hidup juga ikut bahagia boyy "

Tujuan pertama mereka adalah sebuah café kecil yang lagi rame di hari libur. Tempatnya aesthetic, banyak tanaman gantung dan cahaya masuk dari kaca besar.

"wah, cakep banget sukakk," Wulan  melihat sekitar.

"makanya gue ajak ke sini," Siwi menyenggolnya.

Mereka duduk dekat jendela.

Wulan langsung sibuk lagi dengan HP, foto-foto makanan, lalu upload story.

"lo tuh healing apa update kehidupan?"celetuk Siwi.

" dua-duanya juga bowlehh"

pintu café terbuka, Seorang pria masuk bersama satu orang lain.

Langkahnya pelan, seperti biasa tenang.

Saka.

Dia sedang tidak sendirian hari ini. Ada urusan singkat dengan rekan kerja "di sini aja,"ucap rekan Saka.

Saka mengangguk, lalu duduk

Tapi sebelum membuka laptopnya, matanya tanpa sengaja melirik sekitar.

Dan berhenti.

Di dekat jendela.

Seorang gadis duduk santai, tangan memegang ponsel, sesekali tersenyum kecil ke layar.

Wulan.

Saka tidak langsung bereaksi,

Dia hanya… melihat.

Cara gadis itu tertawa kecil sendiri.

Cara dia tidak terlalu peduli dengan sekitar, tapi tetap terlihat hadir

"pak, kita mulai bahas?" suara rekannya memecah.

"sebentar," jawab Saka singkat.

Matanya masih di sana sepersekian detik lebih lama dari seharusnya.

Di sisi lain, Wulan sama sekali tidak sadar.

"sawi foto gue dong" kata Wulan sambil pose.

"Dasar seleb dadakan."

"Cepet."

Klik.

" ampun dah cakep banget gila "

" pastinya dong siapa dulu wulan gitu loh"

Saka akhirnya menoleh kembali ke laptopnya,Tapi pikirannya sudah sedikit bergeser, Bukan karena café itu Bukan juga karena meetingnya.

Tapi karena seseorang yang kebetulan duduk di sana, tanpa tahu kalau ia sedang diperhatikan.

"silakan lanjutkan" kata Saka akhirnya.

Tapi kali ini…

matanya sesekali masih sempat melirik ke arah jendela.

Setelah cukup lama di kafé, Wulan dan Siwi akhirnya berdiri.

"gue kenyang… tapi dompet gue ikut kurus," keluh Siwi.

"makanya jangan lapar mata," jawab Wulan cepat, sambil langsung pose kecil.

" kan gue emang lapar mata tapi kan  lo juga gitu tapi siapa yahh yang foto minuman 15 kali padahal cuma satu minuman doang? "

" itu namanya dokumentasi hidup, wi DOKUMENTASI!! " Wulan tertawa sendiri, lalu buru-buru melangkah keluar kafe.

Di sisi lain jalan, Saka juga baru selesai dari urusannya.

Rekannya sudah lebih dulu pergi.

Saka berdiri sebentar di depan kafé, menatap sekitar.

Tenang.

Tapi entah kenapa pikirannya masih kembali ke momen tadi,

Gadis di dekat jendela itu.

Dia sendiri tidak tahu kenapa hal kecil itu bisa nyangkut di kepalanya.

" bes, kita mau lanjut ke mana?" tanya Siwi.

" random aja ngga sih Yang penting jalan!" jawab Wulan langsung semangat.

" okey lets go, eh lu tapi jangan tiba-tiba beli yang aneh-aneh ya."

" nggak janji wlee "

Mereka menyeberang jalan, masuk ke area pedestrian yang tidak terlalu ramai.

Wulan jalan sambil nengok kanan kiri kayak anak kecil " Wi! Wi! Liat itu lucu banget!"

"lo tuh ya, bisa heboh cuma gara-gara hal kecil."

"namanya juga hidup, harus apresiasi hal kecil!"

Wulan tiba-tiba berhenti di depan sebuah etalase kecil, "WI… WI… LIAT ITU!”

" apalagi bess" Siwi ikut berhenti, agak malas.

Wulan menunjuk heboh "ITU LOH! TANAMAN KECIL YANG DITARO DI POT MINI! GEMES BANGET!"

Siwi melongo "…Lo teriak cuma gara-gara itu? ambil dah lan"

" IYA LAH! LIAT DEH, UDAH KECIL, LUCU, TERUS WARNANYA MATCH SAMA VIBE JALAN INI!" Wulan langsung nempel ke kaca etalase, mukanya serius banget kayak lagi review barang mahal.

"Ini tuh aesthetic banget tau nggak sih… kalau di foto tuh bakal cakep banget."

Siwi menghela napas.

" kalo dipikir-pikir standar hidup lo tuh gampang banget bahagia yaa" Wulan langsung nyengir.

" its the poin makanya hidup gue nggak stres."

Tanpa mereka sadari, dari arah berlawanan…

Saka juga sedang berjalan pelan di jalur yang sama.

Langkahnya tenang seperti biasa,

Tapi matanya sempat menangkap keramaian kecil di depan.

Wulan masih sibuk sendiri.

" eh wi kalau gue beli ini satu, rumah gue bakal jadi garden kecil nggak sih?”

“Rumah lo bakal jadi kebun gagal.”

"ehh " reflek siwi

Hanya beberapa langkah lagi—

"LAN, AWAS—"

"HA?! APA?!" Wulan refleks berhenti mendadak.

Terlambat setengah detik.

Wulan baru saja melangkah sedikit ke depan saat seseorang juga berhenti tepat di depannya.

Jarak mereka cuma beberapa langkah.

Terlalu dekat.

Wulan refleks mundur setengah langkah kecil, tapi sudah terlambat.

Sebuah buku kecil terlepas dari tangan Saka dan jatuh ke tanah.

"EH, MAAP MAAP!" Wulan langsung jongkok cepat, hampir panik.

Tangannya bergerak cepat mengambil buku itu, dan tanpa sengaja hampir menyentuh tangan Saka yang juga ingin mengambilnya.

Mereka sama-sama berhenti.

Diam.

Sepersekian detik terasa seperti freeze.

Wulan mengangkat wajahnya.

Dan di saat itu... dia baru sadar siapa yang ada di depannya.

Saka juga terdiam sepersekian detik.

Wulan langsung kaget dalam hati.

" nii orang yahhh kok bisa ketemu mulu jirss"

"Ekhem… maaf ya, Kak," ucap Wulan cepat, berdiri lagi.

Tapi langsung salah tingkah sendiri, tangannya refleks merapikan rambut.

" sumpah sorry banget, aku nggak sengaja—eh bukan, maksudnya aku nggak lihat tadi, jadi aku…"

Dia berhenti sendiri.

"yaampun wulan, STOP NGOMONG DEH"

Siwi dari belakang langsung bisik pelan sambil nahan ketawa " anjay, ketabrak takdir.”

" paan sih " Wulan langsung jawab cepat, tapi masih panik sendiri.

Saka mengambil bukunya kembali.

" its okey "katanya tenang seperti biasa, Tapi matanya sempat berhenti sedikit lebih lama dari biasanya.

" kamu ada yang luka?,” lanjutnya pelan.

Wulan menggeleng cepat, masih belum stabil ekspresinya, " ngga, ngga ada yang luka kok kaa"

"Maaf tadi hampir jatuh…" lanjut Wulan lagi.

Saka menggeleng pelan, " ngga ada yang jatuh kok " Hening sebentar.

Tapi kali ini bukan canggung.

Lebih ke… anehnya familiar.

Saka melirik jam tangannya.

" yaudah saya duluan ya "

"Oh iya iya, silakan Kak!" jawab Wulan terlalu cepat.

Saka berjalan pergi.

Tapi sebelum benar-benar menjauh, dia menoleh sebentar.

Singkat Lalu lanjut lagi.

Wulan masih berdiri di tempat.

"wi…"

"hmm? "

"gue barusan kenapa sih…

"Lo jatuh cinta?"

" ngotak jirr yakali "

Wulan masih melihat arah Saka pergi.

" nih customer satu kok bikin gue blank mulu ya"

" yaa mana gue tau " jawab siwi

Dan untuk pertama kali healing Wulan berubah jadi overthinking ringan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!