NovelToon NovelToon
Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

menceritakan seorang pemuda bernama Erlang mencari keadilan dan menuntut balas dendam, dan menemukan cinta sejatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Pesona Pertama: Roro Wilis

Setelah punggung Ki Jatmiko dan anak buahnya hilang di kelokan jalan luar pasar, riuh rendah tepuk tangan langsung pecah membelah keheningan Pasar Desa Kaliwungu. Warga dan para pedagang berbondong-bondong mendekati Erlang, berniat mengelus pundak atau sekadar mengucapkan terima kasih. Namun, Erlang yang pemalu justru melangkah mundur, buru-buru membetulkan letak pikulan bambunya yang sempat ia geletakkan di dekat tiang lapak.

Di tengah kegaduhan itu, kerumunan warga di bagian utara pasar tiba-tiba menyibak secara teratur. Dari sana, berjalan seorang gadis muda didampingi oleh dua orang acang-acang atau pelayan perempuan paruh baya.

Gadis itu mengenakan kain jarik bermotif parang dengan kemben hijau tua yang membungkus tubuhnya dengan anggun. Rambut hitam lebatnya disanggul rapi ke belakang dengan hiasan sekuntum bunga kantil yang aromanya langsung merebak harum, mengalahkan bau amis pasar ikan. Wajahnya ayu, berkulit langsat bersih, dengan sepasang mata bulat yang berbinar teduh. Dia adalah Roro Wilis, putri tunggal dari Ki Demang Wijaya, kepala desa Kaliwungu.

Roro Wilis berjalan mendekat, matanya langsung tertuju pada Erlang. Sejak awal keributan Ki Suroto tadi, sebenarnya Wilis sudah berdiri di kejauhan, mengamati seluruh kejadian dengan jantung yang berdebar kencang.

"Nyuwun sewu, Kangmas Pendekar," sapa Roro Wilis lembut, suaranya terdengar jernih seperti gemercik air sendang, sembari membungkuk pelan memberikan penghormatan.

Erlang yang sedang membersihkan debu di celananya langsung menegakkan tubuh. Begitu melihat sosok gadis jelita di hadapannya, lidah pemuda lima belas tahun itu mendadak kelu. Wajahnya yang rupawan seketika merona merah karena salah tingkah. Selama hidup di hutan Lawu, ia belum pernah melihat gadis seanggun dan secantik ini.

"E-eh... nggih, Nimas. Tapi, maaf, saya bukan pendekar. Nama saya Erlang, cuma pengembara biasa," sahut Erlang gugup, tangannya menggaruk tengkuk yang sama sekali tidak gatal.

Roro Wilis tersenyum simpul melihat kepolosan pemuda di depannya. Rasa kagum di hatinya kian tumbuh. Jarang ada pesilat sakti yang berwajah tampan sekaligus memiliki pembawaan serendah hati ini. "Kangmas Erlang tidak perlu sungkan. Saya Roro Wilis, putri dari kepala desa di sini. Saya mewakili ayahanda dan seluruh warga Kaliwungu ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kebaikan hati Kangmas."

"Ah, tidak usah dipikirkan, Nimas Wilis. Saya cuma kebetulan lewat dan merasa tidak tega melihat kakek penjual gerabah tadi diperlakukan kasar," jawab Erlang, suaranya perlahan mulai kembali santai.

Salah seorang pelayan perempuan Roro Wilis maju selangkah, membawa sebuah kantong kain rajutan yang tampak menggembung tebal. Dari bunyinya yang gemerincing, bisa dipastikan isinya adalah puluhan koin perak tingkat tinggi, bukan sekadar koin tembaga lusuh.

"Kangmas Erlang," panggil Roro Wilis lagi, mengambil kantong itu dari tangan pelayannya lalu menyodorkannya ke hadapan Erlang dengan kedua belah tangan. "Ini ada sedikit imbalan tanda terima kasih dari keluarga kademangan. Ayahanda selalu berpesan, budi baik dan keringat seorang penolong harus dihargai dengan layak. Tolong diterima, Kangmas. Ini bisa digunakan untuk bekal perjalanan atau membeli pakaian baru yang lebih pantas."

Erlang menatap kantong rajutan di depan dadanya. Pikirannya sempat melayang pada sisa dua keping koin tembaga di sakunya dan perutnya yang sedari tadi terus berdemo minta diisi. Uang di dalam kantong itu pasti bisa membelikannya makanan mewah dan penginapan nyaman selama berbulan-bulan. Namun, bayangan wajah mendiang ayahnya dan pesan luhur Ki Suro kembali terbayang di benaknya.

"Jangan pernah menukar ketulusan menolong dengan kepingan logam, Erlang," begitu kata Paman Suro dulu.

Erlang tersenyum tulus, lalu dengan halus mendorong kembali tangan Roro Wilis menggunakan ujung jemarinya. "Maturnuwun sanget atas kebaikan Nimas Wilis dan Ki Demang. Tapi, mohon maaf yang sebesar-besarnya, saya tidak bisa menerima uang ini."

Roro Wilis tertegun, sepasang mata bulatnya melotot kecil karena terkejut. "Lho? Kenapa, Kangmas? Apakah jumlahnya kurang? Jika kurang, saya bisa meminta pelayan saya mengambil lagi ke rumah."

"Bukan, bukan karena kurang, Nimas," potong Erlang cepat sambil melambaikan tangan, takut menimbulkan kesalahpahaman. "Uang ini justru terlalu banyak bagi orang seperti saya. Alasan saya tidak bisa menerimanya karena sejak kecil paman saya selalu mengajarkan, kalau kita menolong orang lalu meminta atau menerima imbalan materi, maka nilai kebaikan itu akan hilang dan berubah menjadi urusan dagang. Saya menolong kakek tadi murni karena rasa kemanusiaan, bukan karena mengincar koin-koin ini."

Mendengar penjelasan itu, jantung Roro Wilis serasa berhenti berdetak sesaat. Ia menatap lekat-lekat ke dalam mata Erlang yang jernih, jujur, dan sama sekali tidak memancarkan hawa keserakahan. Di dunia persilatan yang penuh dengan tentara bayaran dan jawara yang gila harta, sosok Erlang terasa seperti oase air murni yang sangat langka. Pesona kebaikan hatinya yang tulus seketika merasuk dalam ke lubuk hati Roro Wilis, memicu getaran asmara pertama yang belum pernah dirasakan gadis desa itu sebelumnya.

Wajah Roro Wilis mendadak memerah jambu, ia menundukkan kepalanya yang terasa agak hangat. "Gusti... Kangmas Erlang benar-benar seorang pendekar sejati. Hatimu seindah wajahmu."

"Ah, Nimas bisa saja. Saya jadi makin malu," canda Erlang sambil tertawa kecil, mengira gadis itu hanya sedang memujinya secara berlebihan sebagai basa-basi.

"Lalu... kalau uang ini Kangmas tolak, bagaimana caranya Kangmas melanjutkan perjalanan?" tanya Roro Wilis penuh perhatian, matanya melirik buntalan kain Erlang yang kempes. "Setidaknya, izinkan saya menjamu Kangmas makan siang di pendopo kademangan. Perut Kangmas pasti lelah setelah bertarung tadi, kan?"

Erlang meraba perutnya, lalu tersenyum kecut karena perutnya mendadak berbunyi kruuuk cukup keras, membuat Roro Wilis dan kedua pelayannya spontan tertawa renyah.

"Wah, sepertinya isi perut saya tidak bisa diajak berbohong, Nimas," ujar Erlang pasrah sambil ikut tertawa. "Kalau untuk tawaran makan siang, dengan senang hati saya terima. Kebetulan singkong bakar bekal saya sudah habis sejak kemarin."

"Mari, Kangmas Erlang. Sebuah kehormatan bagi kami bisa menjamu pendekar berhati mulia seperti dirimu," kata Roro Wilis dengan binar mata yang penuh bunga, membalikkan badannya untuk memimpin jalan menuju pendopo kademangan yang terletak di ujung pasar.

Erlang memikul kembali bambunya, melangkah santai berjalan di samping Roro Wilis. Sepanjang jalan setapak pasar, Roro Wilis sesekali mencuri pandang ke arah rahang tegas dan senyuman polos Erlang. Gadis itu benar-benar telah terpesona, tidak hanya oleh ketangkasan silat luar biasa yang diperlihatkan Erlang saat menundukkan Ki Jatmiko tadi, melainkan oleh keluhuran budi dan ketampanan alaminya yang memancar tanpa buat-buatan. Dan Erlang, dengan segala kepolosannya sebagai pemuda gunung, berjalan begitu saja tanpa menyadari bahwa dirinya baru saja menanam benih cinta yang mendalam di hati sang putri kepala desa Kaliwungu.

1
anggita
novel laga lokal yg cukup menghibur 👌
anggita
nama jurus yg sederhana namun tetap keren👌👍
Rokok Remik
sampai bab ini ceritanya bagus.
erlang terlalu polos, untung bukan ltipe musang birahi /Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!