NovelToon NovelToon
Mendapatkan Sistem 271 Triliun

Mendapatkan Sistem 271 Triliun

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Mafia
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

"Cukup, Repan! Aku sudah benar-benar muak menghadapi situasi ini! Hubungan kita selesai!" Sasa melemparkan tatapan penuh rasa jijik ke arah pemuda di hadapannya.

Repan menetap di Kota Bogor.

Kota hujan ini menyuguhkan panorama alam yang sejuk dan asri di permukaan, namun menyimpan sisi kelam yang pekat di sudut-sudut tersembunyinya.

Di balik rimbunnya pepohonan dan kabut tipis, kota ini juga menjadi rumah bagi menjamurnya organisasi massa liar, kelompok kriminal jalanan, hingga oknum-oknum berseragam yang kerap memanfaatkan hukum demi keuntungan pribadi.

Bagaimana kelanjutannya..?

"Cerita ini sepenuhnya fiksi. Nama, tokoh, tempat, dan kejadian adalah karangan penulis."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Repan dan Angga berdiri saling berhadapan tepat di tengah lapangan, dikelilingi riuhnya kerumunan siswa SMA 09 Cimanggu yang bersorak seraya sibuk mengabadikan momen tersebut menggunakan kamera ponsel mereka.

'Sistem, kalkulasikan tingkat kekuatan orang ini,' perintah Repan di dalam hati, bersikap tenang namun tetap waspada.

[Angga - Tingkat Kekuatan: 51]

Susunan data sistem melayang di atas kepala lawannya.

Repan menyipitkan sepasang matanya.

'Dia memang lumayan kuat... Kalau gue nggak menaikkan atribut kekuatan sebelumnya, mungkin duel ini bakal sedikit merepotkan. Tapi sekarang...'

Repan merasa jauh lebih dari sekadar siap. 'Dengan tingkat kekuatan 60, gue bisa meratakannya tanpa masalah.'

Ukiran senyuman tipis muncul di wajahnya.

Angga mulai mengayunkan langkah mendekat. Postur tubuhnya yang kekar dan berotot memancarkan tekanan intimidasi yang membuat hawa udara di sekeliling lapangan berhembus kian pekat.

"Baiklah... ayo kita lihat, seberapa kuat lo sebenarnya," pukas Angga seraya mengepalkan kedua tinjunya rapat-rapat.

Repan tak bergeming sedikit pun. "Lo beneran ngebet banget mau dihajar? Kalau gitu, ayo kita mulai."

WUUUSSH!

Tanpa aba-aba, Angga melesat bagaikan peluru merangsek ke arah Repan.

Rentetan pukulan kerasnya meluncur deras, menunjukkan gaya bertarung boxing yang sangat agresif.

WUUSSH! WUUSSH! WUUSSH!

Namun Repan meloloskan diri dengan sangat ringan. Tubuhnya meliuk fleksibel, bagaikan menari di antara celah gempuran musuh. Gerakan Wing Chun-nya mengalir luwes, presisi, dan tenang.

Akan tetapi Angga tak menyerah begitu saja. Gelombang serangannya terayun kian deras dan brutal.

TAK! TAK! TAK! BUK!

Repan mulai mengunci serangan demi serangan. Siku, lengan, dan bahunya bergerak secepat kilat membentuk barikade pertahanan yang sangat kokoh.

Begitu mendapati adanya celah, Repan melayangkan serangan balasan. Namun Angga masih sanggup membendungnya.

WUUSSH!

Angga kembali menerjang, kali ini posisi badannya mencondong ke depan, meliuk-liuk lincah menerapkan teknik Peek-a-boo ala Mike Tyson. Pukulan-pukulan jarak pendek yang sarat akan bobot tenaga meluncur deras dari berbagai arah.

Repan tetap mempertahankan ketenangannya. 'Serangannya memang cepat dan bertenaga, tapi masih belum selevel sama gue.'

TAK! TAK! BUK! BUAK!

Mengandalkan refleks bertarung yang luar biasa, Repan menghempaskan siku tajamnya tepat membentur kepalan tangan Angga.

BRAAAK!

Angga terdorong mundur satu langkah, menggerak-gerakkan jemari tangan kanannya yang mendadak diselimuti rasa nyeri hebat.

'Pertahanannya keras banget kayak benteng baja... Sialan! Ini kagak masuk akal!' batin Angga, rasa frustrasi mulai merayapi benaknya.

Repan menatapnya lempeng. "Kenapa lo? Kemana perginya kesombongan lo yang tadi?"

"Nggak usah banyak bacot lo, Bangsat!" teriak Angga penuh emosi, lalu kembali merangsek menerjang.

'Celahnya kelihatan...' batin Repan seraya bergerak maju menerapkan peragaan Wing Chun Level 3. Tangan dan sikunya berayun secepat kilat menyerupai bayangan semu.

TAK! TAK!

Dua pukulan Angga berhasil ditangkis sempurna.

BUK!

Siku Repan mendarat telak di area wajah Angga.

BRAK!

Hantaman susulan mendarat telak mengincar ulu hati ketua geng tersebut.

"ARGHH!" Angga tersentak kaget. Saluran nafasnya mendadak terasa amat sesak.

Namun Repan belum selesai.

Kedua tangannya melayang secepat kilat—terlampau cepat untuk sanggup ditangkap oleh mata telanjang. Teknik otentik Wing Chun: Chain Punches, gelombang pukulan beruntun dalam tempo sangat singkat.

BUK! BUK! BUK! BUK!

Hantaman demi hantaman mendarat telak menghantam dada, perut, lengan, bahu, hingga area wajah Angga dalam hitungan detik. Tubuh kekar Angga terombang-ambing tak berdaya.

Langkahnya terhuyung kaku. Ia mundur beberapa langkah... hingga akhirnya ambruk berlutut dengan satu kaki menekan tanah berdebu.

'Sialan! Dia terlalu cepat! Pukulan beruntunnya bikin seluruh tubuh gue mati rasa...' batin Angga terengah-engah, tatapannya dipenuhi rasa tak percaya.

Repan berjalan mendekat secara perlahan. Tatapannya dingin dan datar.

"Ini peringatan terakhir dari gue... Kalau lo masih nekat muncul di hadapan gue lagi, lain kali bakal gue hancurkan lo sampai kagak tersisa."

Lalu, tanpa ragu sedikit pun...

BUAAAK!!

Sebuah tendangan keras melayang mendarat telak di wajah Angga yang masih berlutut. Tubuh besarnya mencelat terpelanting bagaikan karung beras kosong.

BRAAAK!!

Tubuh Angga menghantam pagar besi di tepi lapangan, tempat di mana puluhan siswa menyaksikan dan merekam seluruh adegan pembantaian itu dengan histeris.

Suasana hening mencekam sejenak... sebelum akhirnya riuh sorak-sorai siswa membahana mengocok udara sore.

Pertempuran antara Repan dan Jhonson melawan 120 anggota Geng GBA resmi berakhir dengan kemenangan mutlak.

Dengan santai, Repan memungut tas sekolahnya yang tergeletak di tanah tengah lapangan.

Tanpa tergesa-gesa, ia mengayunkan langkah menjauh, seolah tak memedulikan pemandangan mengerikan di belakang punggungnya.

Sebanyak 120 personel Geng GBA masih terkapar tak berdaya, berserakan bagaikan sampah jalanan yang baru saja disapu bersih oleh badai.

Langkah kaki Repan terasa ringan, tenang, dan tanpa beban— mengabaikan tubuh-tubuh memar yang merintih kesakitan.

"Tunggu dulu, Repan... Jadi, apa permintaan lo dari gue? Gue kan udah kalah taruhan," panggil Jhonson yang masih terduduk di tengah lapangan dengan wajah dipenuhi lebam. Vokalnya berat, namun sorot matanya tetap tenang.

Repan tak menoleh. "Gue belum memikirkannya. Nanti bakal gue kasih tahu... kalau gue udah terpikirkan sesuatu."

"Ah, dancok!" Jhonson mendengus jengkel.

"Gue paling benci punya utang! Sebaiknya lo cepetan pikirkan apa permintaan lo!"

Repan tak merespons lagi. Ia terus melangkah meninggalkan area lapangan pertarungan yang kini mulai berangsur sepi.

'Dengan begini, urusan gue sama berandalan Geng GBA resmi selesai. Sekarang waktunya balik ke restoran itu buat merampungkan dokumen kepemilikan,' batin Repan seraya melangkah santai menuju bangunan restoran mewah yang berdiri megah tepat di area depan SMA 09 Cimanggu.

Suasana di dalam restoran tampak cukup ramai. Para pekerja kantor, keluarga, hingga rombongan siswa berbaur menikmati santap sore.

Namun Repan, dengan gaya santainya, langsung mengarahkan langkah menuju ke koridor ruangan VIP—area khusus yang hanya diperuntukkan bagi pemilik atau tamu sangat penting.

"Tunggu sebentar!" Sebuah vokal tegas menghentikan langkah kakinya.

Seorang wanita berparas cantik berusia sekitar 24 tahun berdiri menghadang jalan. Matanya menatap tajam dengan gestur tubuh yang sangat tegas.

Dia adalah Amelia—manajer restoran yang direkrut khusus karena rekam jejak prestasinya yang luar biasa dalam mengelola bisnis kuliner.

"Kamu anak sekolah! Mau apa kamu nekat masuk ke ruangan itu? Itu bukan tempat yang bisa dimasuki sembarangan!" tegur Amelia tajam.

Repan menatapnya tenang. "Aku mau ketemu sama Pak Danu."

"Apa?! Tuan Danu sedang sangat sibuk! Lagipula sebentar lagi bakal ada tamu sangat penting yang datang! Kalau kamu mau makan, silakan pesan di area depan!" vokal Amelia naik satu oktaf, raut wajahnya mulai memperlihatkan kejengkelan.

"Mbak... sebaiknya Kamu menyingkir dari pintu. Tamu penting yang ditunggu itu... Aku."

Amelia terkekeh sinis, sama sekali tak percaya.

"Kamu lagi bercanda ya? Anak SMA ngaku-ngaku jadi tamu penting? Jangan mimpi deh. Kamu berusaha mau menipu saya, ya?"

"Pak Satpam!" teriak Amelia memanggil bantuan.

Seorang petugas keamanan senior, Pak Dadang, segera bergegas mendekat dengan langkah cepat.

"Iya, Nona Amelia?" ucap Pak Dadang seraya memberi hormat.

"Tolong usir anak sekolah ini. Dia nekat mau menerobos masuk ke ruang CEO," perintah Amelia tegas.

Pak Dadang menoleh ke arah Repan dan seketika itu juga langkahnya terhenti kaku.

Ia mengenali wajah pemuda itu dengan sangat jelas—Repan adalah sosok yang secara resmi membeli seluruh aset restoran mewah ini tadi pagi. Tangan Pak Dadang mendadak gemetaran.

"Tapi... Nona Amelia..."

"Nggak ada tapi-tapian! Cepat usir dia sekarang juga!" bentak Amelia.

Tiba-tiba, pintu kayu ukiran ruangan VIP terbuka lebar dari dalam.

"Ada apa ini? Kenapa bising sekali di depan pintu?" Suara berat Danu, sang pemilik restoran lama, bergaung dari dalam ruangan.

"Ini, Tuan Danu, ada anak sekolah yang—"

Namun ucapan Amelia terhenti mendadak begitu sepasang mata Danu menangkap sosok Repan yang berdiri tegap di depannya.

"Ah, Tuan Repan... Anda rupanya sudah datang. Mari silakan masuk, Saya dari tadi sudah menunggu kehadiran Anda," ucap Danu sangat hormat seraya membungkukkan badannya.

Sepasang mata Amelia membelalak lebar. 'APA?! Tuan Danu... tunduk dan sehormat itu sama anak SMA ini?!'

"Aku tadi mau langsung masuk, tapi Mbak ini melarang dan menghalangi jalanku," pukas Repan tenang namun santun.

Danu seketika menoleh tajam mengintimidasi ke arah Amelia.

"Amelia! Sudah Saya bilang tadi akan ada tamu sangat penting yang datang! Kenapa kamu malah bersikap lancang menghalanginya?!"

"A-aku... mohon maaf sebesar-besarnya, Tuan Danu..." Amelia terbata-bata, raut wajah cantiknya berubah pucat pasi.

"Bukan kepada Saya kamu harus minta maaf. Tapi kepada pemilik baru sekaligus CEO dari restoran ini!" bentak Danu tegas.

'APA?! Dia... CEO baru restoran ini?! DAN DIA MASIH ANAK SMA?!' Amelia terpaku kaku, seluruh persendian tubuhnya seolah mendadak membeku. 'Bodohnya aku!'

Amelia buru-buru membungkukkan badannya dalam-dalam hingga membentuk sudut 90 derajat tepat di hadapan Repan.

"Tuan Repan! Saya memohon maaf sebesar-besarnya! Saya benar-benar tidak tahu dan menyesali perlakuan lancang saya tadi!"

Repan menatapnya tenang.

"Baiklah... tidak apa-apa, Aku maafkan. Tapi mungkin... Aku perlu mempertimbangkan kembali posisi Kamu sebagai manajer di sini. Restoran ini sepertinya butuh orang yang lebih jeli."

Tubuh Amelia gemetaran hebat. 'Dia... CEO yang sangat tegas! Hanya karena satu kekeliruan, dia langsung mempertimbangkan untuk mencopot jabatanku?!'

Amelia tetap tertunduk kaku, tak berani menegakkan kepalanya sedikit pun sampai Repan dan Steven mengayunkan langkah memasuki ruangan VIP.

Suasana di luar restoran tetap berjalan ramai... namun bagi Amelia, rasanya seolah-olah dunia baru saja runtuh menghantam dirinya.

1
Ahmad Wela
dua duanya aja biar seru.
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏🙏
Hary
cerita anjing... skip and out
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!