NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang Pewaris Kaya

Istri Kontrak Sang Pewaris Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Perjodohan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Maysha

Karena terjebak utang keluarga yang menumpuk, Anya terpaksa menerima tawaran menjadi istri kontrak Arga, seorang pewaris perusahaan terkaya yang dikenal dingin dan tak pernah percaya pada cinta. Perjanjian mereka hanya berlaku satu tahun: tidak ada ikatan batin, tidak ada rasa sayang, dan akan berakhir begitu waktunya habis. Namun seiring berjalannya hari, kehadiran Anya perlahan mencairkan hati yang sudah lama membeku. Akankah hubungan yang diawali dengan perjanjian ini berakhir dengan perpisahan, atau justru tumbuh menjadi cinta yang tak terpisahkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Maysha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Rahasia Masa Lalu yang Terungkap

Beberapa hari setelah semua masalah dengan keluarga Baskara selesai, suasana di rumah besar keluarga Wijaya terasa kembali damai dan jauh lebih hangat dari sebelumnya. Tidak ada lagi bisik-bisik miring, tidak ada tatapan curiga, dan tidak ada lagi batasan yang memisahkan Anya dari anggota keluarga lainnya. Ia kini benar-benar diterima bukan hanya sebagai istri Arga, tetapi sebagai putri yang dihormati, disayangi, dan dianggap memiliki tempat yang setara di dalam rumah itu.

Namun, di balik ketenangan yang terlihat sempurna itu, ada satu hal yang membuat pikiran Anya tidak sepenuhnya tenang. Sejak ia membereskan tumpukan berkas-berkas lama beberapa hari lalu untuk melengkapi bukti dalam konferensi pers, selembar amplop cokelat yang terselip di antara dokumen-dokumen itu terus terngiang di pikirannya. Amplop itu terlihat sudah sangat tua, kertasnya menguning, dan sudut-sudutnya sudah sedikit rapuh dimakan usia. Ia menyimpannya rapi di laci meja kerjanya, menunggu waktu yang tepat untuk membukanya dengan hati-hati.

Sore itu, langit berwarna jingga keemasan, dan sinar matahari yang mulai meredup masuk melalui celah jendela ruang kerja. Arga harus pergi ke kantor untuk menyelesaikan laporan akhir serta menenangkan kembali suasana di lingkungan bisnis setelah gejolak yang terjadi. Dengan suasana yang sepi dan tenang, Anya merasa inilah saat yang tepat untuk membuka rahasia yang tersimpan selama puluhan tahun itu.

Dengan jantung yang berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya, ia mengeluarkan amplop itu dari dalam laci. Tertulis di bagian luarnya tulisan tangan yang sudah agak pudar namun masih terbaca jelas: “Untuk keturunan, jika saatnya tiba.” Anya menarik napas panjang, lalu perlahan membuka lipatannya. Di dalamnya terdapat beberapa lembar kertas perjanjian yang ditulis dengan tinta hitam yang mulai memudar, serta sebuah surat pribadi yang ditujukan kepada anak dan cucu dari kedua keluarga.

Semakin ia membaca baris demi baris kalimat yang tertulis, wajahnya semakin memucat dan tangannya mulai gemetar. Dokumen itu ternyata berisi perjanjian resmi yang dibuat lebih dari dua puluh lima tahun yang lalu, antara ayahnya — Rian, yang sudah meninggal dunia saat Anya masih berusia remaja — dan kakek Arga, Tuan Wijaya Senior, pendiri sekaligus pemilik pertama perusahaan Wijaya Group.

Isinya menjelaskan bahwa kedua orang tua itu dulunya bukan sekadar kenalan, melainkan sahabat karib sekaligus mitra usaha yang membangun perusahaan itu bersama-sama dari nol. Mereka berjanji untuk saling mendukung dalam suka maupun duka, dan membagi hak serta tanggung jawab secara adil. Namun, di tengah perjalanan usaha yang mulai berkembang pesat, terjadi sebuah peristiwa yang memisahkan mereka selamanya. Hilangnya sebuah dokumen penting yang menjadi dasar kepemilikan lahan dan proyek besar saat itu, membuat hubungan persahabatan mereka hancur dalam sekejap. Ayah Anya dituduh sebagai pelakunya tanpa bukti yang cukup kuat, dan karena merasa sakit hati serta tidak dipercaya, ia memilih mundur secara paksa dan membawa keluarganya pergi menjauh, memutuskan semua hubungan dengan keluarga Wijaya.

Sebagai tanda bahwa persahabatan dan janji di masa muda tidak boleh dilupakan begitu saja, mereka membuat perjanjian tambahan. Jika suatu hari nanti keturunan dari kedua keluarga ini bertemu kembali, maka perselisihan yang terjadi harus diselesaikan dengan damai, dan ikatan yang pernah terputus itu harus disatukan kembali untuk melunasi janji yang belum selesai.

Anya terduduk lemas di kursi, matanya terbelalak tak percaya. Ia tidak menyangka bahwa pertemuan dan pernikahannya dengan Arga bukanlah sekadar kebetulan semata, atau hanya kesepakatan yang dibuat untuk saling membantu. Ternyata, di balik semua itu ada benang merah yang sudah terjalin sejak lama, bahkan sebelum ia dan Arga lahir ke dunia.

“Kenapa Ayah tidak pernah menceritakan hal ini? Mengapa Ibu juga menyimpannya rapat-rapat selama ini?” gumam Anya dengan suara lirih, penuh rasa bingung dan terkejut.

Tanpa membuang waktu lagi, ia segera menyimpan kembali dokumen itu dengan hati-hati, lalu berjalan tergesa-gesa menuju rumah kecil tempat ibunya tinggal. Ia ingin mendengar penjelasan langsung dari Bu Lina, agar tidak ada lagi keraguan atau kesalahpahaman yang mengganggu hatinya.

Begitu tiba di sana, Bu Lina sedang duduk di teras sambil merapikan bunga-bunga di pot. Melihat wajah putrinya yang terlihat pucat dan gelisah, ia segera berdiri dan menyambutnya dengan cemas.

“Ada apa, Nak? Kenapa wajahmu terlihat begitu kaget?” tanya Bu Lina sambil memegang bahu Anya.

Anya tidak menjawab langsung, ia hanya mengeluarkan amplop tua itu dan meletakkannya di atas meja kayu di teras. “Ibu, saya menemukan ini di antara berkas-berkas lama milik Ayah. Apa arti semua tulisan ini? Mengapa Ibu dan Ayah tidak pernah menceritakan bahwa Ayah pernah memiliki hubungan sedekat itu dengan keluarga Wijaya?”

Begitu melihat amplop itu, wajah Bu Lina berubah seketika. Matanya langsung berkaca-kaca, seolah terlempar kembali ke masa lalu yang penuh kenangan pahit dan menyakitkan. Ia menarik napas panjang, lalu mengusap dadanya perlahan untuk menenangkan perasaannya.

“Jadi akhirnya kamu menemukannya juga, Anya,” ucap Bu Lina dengan suara yang lirih dan bergetar. “Ibu sudah berniat menyimpannya selamanya, supaya kamu tidak terbebani oleh luka dan kesalahpahaman yang sudah berlalu puluhan tahun ini. Tapi ternyata takdir membawa kamu kembali ke keluarga itu, jadi memang sudah waktunya Ibu menceritakan semuanya tanpa disembunyikan lagi.”

Dengan suara yang perlahan namun jelas, Bu Lina mulai membuka lembaran masa lalu yang sudah tertutup rapat selama bertahun-tahun. Ia bercerita bagaimana Rian, ayah Anya, dan Tuan Wijaya Senior memulai usaha dari garasi rumah yang sempit, bekerja keras siang dan malam, saling melengkapi kelebihan dan kekurangan satu sama lain. Mereka berjanji akan membangun kekayaan bukan untuk diri sendiri saja, tetapi untuk masa depan anak cucu mereka kelak.

Namun, kebahagiaan dan kesuksesan itu tidak berlangsung lama. Saat perusahaan mulai meraih kepercayaan pasar dan mendapatkan proyek besar, terjadi insiden yang mengubah segalanya. Dokumen perjanjian kerjasama dan bukti kepemilikan lahan yang sangat berharga hilang begitu saja dari brankas. Semua bukti yang ada saat itu mengarah kepada Rian, dan tanpa kesempatan untuk membela diri dengan baik, ia dituduh sebagai pengkhianat yang ingin mengambil keuntungan sendiri.

“Ayahmu merasa sangat sakit hati, Nak. Ia tidak menyangka sahabat yang ia percayai sepenuhnya bisa langsung menuduhnya tanpa menyelidiki lebih dulu. Karena itu, ia memilih pergi membawa kami menjauh, membawa sebagian hak yang menurutnya pantas ia terima sebagai hasil kerja kerasnya selama bertahun-tahun, dan berjanji tidak akan kembali lagi sampai kebenaran terungkap,” lanjut Bu Lina sambil menyeka air mata yang menetes di pipinya.

“Sebelum pergi, mereka membuat perjanjian itu. Keduanya berjanji, jika suatu hari nanti keturunan mereka bertemu kembali, maka perselisihan itu harus diselesaikan dengan damai. Ayahmu berpesan agar dokumen ini disimpan, tapi tidak boleh dibuka atau diceritakan selama belum ada tanda-tanda pertemuan itu terjadi. Ia tidak ingin kamu hidup dengan beban masa lalu yang bukan kesalahanmu.”

Mendengar penjelasan itu, Anya tertegun dalam diam. Perlahan, kepingan-kepingan teka-teki mulai menyatu dalam pikirannya. Ia mengerti sekarang mengapa jalan hidupnya justru membawanya ke rumah Wijaya, bertemu Arga, dan akhirnya menikah dengannya. Ini bukan sekadar kebetulan semata, melainkan jalan yang sudah digariskan takdir untuk menyelesaikan luka lama dan memulihkan kembali persahabatan yang pernah terputus.

“Jadi, pernikahan saya dan Arga ini bukan hanya kesepakatan yang kami buat sendiri? Ada ikatan lain yang sudah ada jauh sebelum kami lahir?” tanya Anya dengan suara bergetar.

“Begitulah kenyataannya, Nak,” jawab ibunya lembut sambil menggenggam tangan putrinya. “Tapi ingat satu hal yang paling penting: janji masa lalu itu hanya menjadi jembatan yang mempertemukan kalian berdua. Cinta, kepercayaan, dan rasa sayang yang tumbuh di antara kalian sekarang adalah milik kalian sendiri, bukan karena kewajiban dari orang tua. Itu yang paling berharga dan tidak bisa diganggu gugat oleh siapa pun.”

Saat percakapan itu berlangsung, suara langkah kaki terdengar mendekat. Arga baru saja pulang dari kantor dan mendengar dari pembantu bahwa Anya sedang berada di rumah ibunya. Ia masuk dengan wajah yang tenang, namun segera menyadari ada suasana yang berbeda dan terasa berat di udara.

“Kenapa wajah kalian terlihat begitu serius? Apakah ada hal yang mengganggu pikiran kalian?” tanya Arga sambil duduk di samping Anya, lalu menatap wajah istrinya dengan perhatian penuh.

Anya mengangkat wajahnya, lalu dengan tangan yang sedikit gemetar ia menyerahkan amplop tua itu kepada Arga. “Bacalah ini dulu, Arga. Saya baru saja mengetahuinya dari Ibu. Ternyata ada rahasia besar yang selama ini tersembunyi di balik pertemuan kita, dan bahkan di balik berdirinya perusahaan keluarga kita.”

Arga menerima amplop itu dengan rasa penasaran, lalu mulai membaca isinya dengan saksama. Seiring matanya bergerak membaca setiap kalimat, ekspresinya berubah dari rasa ingin tahu menjadi keterkejutan yang mendalam. Ia juga tidak pernah mendengar cerita ini dari ayahnya atau kakeknya sebelumnya. Selama ini, topik tentang masa awal perusahaan selalu dihindari dan hanya disebut sekilas saja.

Setelah selesai membaca, Arga menatap Anya dan Bu Lina dengan pandangan penuh tanya. “Jadi, selama ini ada kesalahpahaman besar yang menjadi alasan kedua keluarga terpisah selama puluhan tahun? Ayah dan Kakek tidak pernah menceritakan hal ini kepadaku sama sekali.”

“Mereka menyimpannya sebagai luka yang tidak ingin dibuka kembali, Nak,” jawab Bu Lina dengan lembut. “Masing-masing menyimpan rasa sakit dan prasangka, sehingga tidak ada yang berani melangkah untuk mencari kebenaran.”

Arga dan Anya sepakat bahwa rahasia ini tidak boleh disimpan lagi. Jika dibiarkan, suatu saat nanti bisa saja menimbulkan kesalahpahaman baru. Malam itu, mereka memutuskan untuk membicarakan hal ini secara terbuka dengan Tuan Wijaya dan Nyonya Wijaya.

Begitu melihat dokumen dan mendengar penjelasan lengkapnya, wajah Tuan Wijaya langsung berubah pucat. Ia terdiam dalam waktu yang cukup lama, matanya menerawang seolah kembali ke masa muda yang penuh amarah dan kekecewaan. Ia menghela napas panjang, terasa seperti beban berat yang terangkat dari pundaknya setelah sekian lama dipendam.

“Jadi selama ini dokumen itu masih ada dan kebenaran belum mati,” ucapnya perlahan dengan suara yang terasa berat. “Ayahku selalu berpesan bahwa janji itu harus dijaga, tapi aku membencinya karena merasa keluarga kami dikhianati. Selama lebih dari dua puluh tahun, aku menyimpan rasa curiga dan dendam yang ternyata tidak berdasar sama sekali.”

Ia menatap Anya dengan pandangan yang kini penuh rasa menyesal dan hormat. “Maafkan aku, Anya. Selama ini aku sempat meragukanmu, menilai latar belakangmu dengan pandangan yang salah, tanpa menyadari bahwa kalian adalah keluarga yang juga mengalami penderitaan karena kesalahpahaman ini.”

Keesokan harinya, mereka bersama-sama menelusuri arsip lama yang tersimpan di gudang perusahaan. Setelah memeriksa satu per satu catatan keuangan, surat-menyurat, dan laporan keamanan masa itu, akhirnya ditemukan juga bukti yang menjelaskan kejadian sebenarnya. Ternyata dokumen yang hilang dulu diambil oleh pesaing usaha yang ingin menjatuhkan perusahaan mereka, lalu meninggalkan jejak yang mengarah kepada ayah Anya untuk memecah belah persahabatan mereka. Semua tuduhan itu hanyalah rekayasa licik yang berhasil memisahkan dua keluarga yang seharusnya bersatu.

Mendengar kebenaran itu, Tuan Wijaya merasa sangat bersalah. Ia berdiri di hadapan Bu Lina dan Anya dengan kepala tertunduk dalam. “Aku meminta maaf yang sebesar-besarnya. Selama puluhan tahun kita hidup terpisah karena kebohongan orang lain. Kita telah menyia-nyiakan waktu dan kesempatan hanya karena tidak saling percaya.”

Bu Lina hanya tersenyum lembut, tanpa menyimpan rasa sakit atau dendam sedikit pun. “Sudah berlalu, Tuan. Luka itu sudah kering, dan sekarang kebenaran sudah terungkap. Kita tidak perlu mengulanginya lagi. Yang terpenting sekarang adalah masa depan anak-anak kita.”

Malam itu, di bawah langit yang penuh bintang dan angin sore yang sepoi-sepoi berhembus di taman, Arga dan Anya berdiri berdampingan memandang ke arah kolam ikan. Arga memegang tangan istrinya dengan erat, merasakan ikatan yang kini terasa semakin kuat dan tak terpisahkan.

“Dulu aku pikir pernikahan kita hanyalah kesepakatan biasa, lalu berubah menjadi cinta yang tulus, dan sekarang ternyata ada benang merah takdir yang sudah terjalin jauh sebelum kita lahir,” ucap Arga dengan suara lembut namun penuh keyakinan. “Tapi percayalah, Anya. Terlepas dari janji apa pun yang dibuat oleh orang tua kita, aku mencintaimu karena dirimu sendiri, karena kebaikan hatimu, keteguhanmu, dan ketulusanmu. Itu bukan kewajiban, tapi pilihanku sepenuhnya.”

Anya menoleh dan tersenyum, matanya bersinar penuh kebahagiaan dan ketenangan. “Saya juga demikian, Arga. Masa lalu hanyalah jalan yang mempertemukan kita, tapi masa depan kita adalah milik kita sendiri. Kita akan membangunnya dengan cinta, kepercayaan, dan kebenaran yang sudah kita temukan hari ini.”

Rahasia besar itu akhirnya terungkap, dan justru membawa kedamaian yang sempurna bagi kedua keluarga. Tidak ada lagi beban yang tersembunyi, tidak ada lagi prasangka, hanya jalan yang terbuka lebar untuk mereka melangkah maju bersama, membawa warisan kebaikan dari masa lalu menuju masa depan yang cerah dan penuh berkah.

Bersambung..

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!