Di dunia tempat kekuatan kultivasi menjadi ukuran harga diri dan masa depan, Riu Han lahir sebagai anak dari Klan Riu yang terhormat—namun membawa takdir yang dianggap sia-sia. Sejak usia empat tahun, ia dinyatakan memiliki saluran energi yang tersumbat, membuatnya sama sekali tidak mampu menyerap dan menyalurkan energi alam. Di tengah pandangan mencemooh dan belas kasihan, ia terus berusaha meski tahu jalannya seolah sudah tertutup rapat.
Hingga suatu hari, di balik pohon Kayu Keabadian yang berusia ribuan tahun, ia menemukan sebuah ruangan rahasia yang tersembunyi selama berabad-abad. Di sana, udara terasa lebih kental dan damai, serta menyimpan jejak kekuatan kuno yang tak terduga. Apa yang awalnya hanya menjadi tempat pelarian, perlahan mengungkapkan sebuah warisan agung yang telah lama ditunggu—satu-satunya harapan yang bisa membalikkan takdirnya, membuka jalan menuju puncak kekuatan, dan mengungkap rahasia yang tersembunyi di balik dunia kultivasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Langsung Menjadi Murid Dalam
Mereka memacu langkah kuda dengan perlahan, menyesuaikan irama dengan jalan setapak yang berkelok-kelok. Bagian luar Gunung Pedang memang sangat curam dan berbatu tajam, membuat siapa pun yang melintas harus berhati-hati. Namun semakin mereka naik ke atas, pemandangan berubah drastis. Bagian tengah gunung dikelilingi hutan yang sangat rimbun, dengan pepohonan tinggi yang menjulang ke langit dan udara yang terasa sejuk serta kaya akan energi alam. Sedangkan di puncaknya, pemandangan itu sungguh bagaikan taman impian—tanah yang rata, padang rumput hijau lembut, bunga-bunga berwarna-warni yang tak pernah layu, dan aliran air jernih yang berkilauan terkena sinar matahari. Tempat yang membuat siapa pun yang melihatnya pasti ingin menetap di sana selamanya.
Sesampainya di gerbang utama sekte, dua orang murid penjaga yang berdiri tegak di sana langsung memberi hormat dalam-dalam.
“Salam hormat, Tetua Hu!” seru mereka bersamaan.
Jing Hu hanya mengangguk pelan sebagai balasan, lalu melangkah masuk tanpa berhenti. Sambil berjalan menyusuri jalan setapak yang dihiasi batu pualam, ia mulai menjelaskan struktur organisasi di Sekte Pedang kepada Riu Han yang berjalan di sampingnya.
“Di sini, tingkatan murid dibagi menjadi empat lapisan utama: Murid Pelayan, Murid Luar, Murid Dalam, dan yang tertinggi adalah Murid Inti. Murid Pelayan adalah tingkatan yang paling dasar, namun jangan pernah meremehkan mereka. Jika mereka mampu menunjukkan prestasi yang menonjol, pintu kenaikan pangkat selalu terbuka lebar—bisa langsung diangkat menjadi Murid Luar, bahkan dalam kasus luar biasa bisa melompat menjadi Murid Dalam. Begitu pula dengan Murid Luar, mereka juga memiliki kesempatan yang sama untuk naik ke tingkatan yang lebih tinggi. Semuanya bergantung pada usaha, bakat, dan pencapaian masing-masing.”
Jing Hu berhenti sejenak, lalu menatap Riu Han dengan senyum bangga. “Perlu kau ketahui, setiap murid yang diterima di Sekte Pedang, sekecil apa pun kedudukannya, sebenarnya adalah yang terbaik di antara yang terbaik di daerah asalnya. Itulah sebabnya, meski seorang Murid Pelayan dari sekte kita pindah ke sekte kelas dua manapun, ia biasanya langsung diterima sebagai Murid Dalam. Inilah yang membuat semua sekte lain sangat segan dan menghormati kita. Murid Sekte Pedang tidak pernah merasa rendah diri, tidak peduli seberapa kecil gelar yang mereka sandang.”
Setelah menjelaskan hal-hal dasar itu, Jing Hu langsung membawa Riu Han menghadap para tetua sekte untuk melaporkan kedatangannya dan status yang akan diberikan. Setelah mendapatkan persetujuan bulat, Riu Han secara resmi berada di bawah perlindungan dan bimbingan langsung Jing Hu.
Setiap tetua di Sekte Pedang memiliki wilayah gunung pribadi yang menjadi tempat tinggal dan pusat pengajaran bagi murid-muridnya. Gunung-gunung itu dinamai sesuai nama akhir sang tetua. Maka, Riu Han pun dibawa menuju bagian tengah Gunung Hu.
“Berdasarkan bakatmu, sebenarnya kau sangat layak untuk langsung diangkat menjadi Murid Inti,” ujar Jing Hu pelan saat mereka berjalan menuju kediaman baru. “Namun gelar Murid Inti bukan sekadar soal bakat—ia harus didukung oleh prestasi nyata yang telah diraih demi nama sekte. Kau belum memiliki kesempatan untuk menunjukkan kemampuanmu di hadapan semua orang, jadi menjadi Murid Dalam adalah langkah yang paling tepat dan adil untuk saat ini. Nanti, saat kau sudah cukup kuat dan memiliki pencapaian yang gemilang, gelar itu akan datang dengan sendirinya.”
Gunung Hu tidak memiliki banyak murid. Hal ini sama sekali bukan karena Jing Hu lemah atau tidak dihormati—sebaliknya, justru karena wibawanya yang sangat tinggi dan sifatnya yang selektif dalam memilih murid, ditambah kesibukannya yang sering berkelana ke berbagai penjuru benua. Hanya ada tujuh orang Murid Dalam yang sudah diterima sebelumnya, dan kini dengan kehadiran Riu Han, jumlahnya menjadi delapan orang. Di bawahnya ada tiga puluh Murid Luar dan enam puluh Murid Pelayan. Hingga saat ini, Gunung Hu belum memiliki Murid Inti—bukan karena tidak ada yang mampu, melainkan karena Jing Hu belum menemukan sosok yang benar-benar ia yakini layak untuk menjadi murid pribadinya.
Setelah memperkenalkan Riu Han kepada para pengurus wilayah, ia langsung diantar menuju kediamannya sendiri di bagian tengah gunung.
Di sana, Riu Han berkenalan dengan saudara seperguruan tertua di Gunung Hu, Pah Long. Remaja berusia enam belas tahun itu memiliki tubuh tegap dan tatapan mata yang tenang namun tajam. Sebagai murid terkuat di wilayah ini, ia sangat dihormati oleh semua orang. Saat ini, tingkat kekuatannya sudah mencapai tingkat sembilan ranah Panglima—sebuah pencapaian yang sangat jarang dicapai pada usia yang masih sangat muda. Tugas utamanya adalah membantu membimbing adik-adik seperguruan lainnya saat Jing Hu sedang sibuk dengan urusan sekte.
Gunung Hu juga satu-satunya wilayah yang tidak memiliki instruktur pembantu khusus. Bukan karena kekurangan orang, melainkan karena Jing Hu sendiri yang menolaknya dengan tegas. Selama ia berada di gunung, dialah yang akan mengajar langsung. Jika ia harus pergi, maka Pah Longlah yang akan mewakilinya.
Rata-rata murid di sini berusia sepuluh hingga lima belas tahun, sehingga Pah Long menjadi yang paling tua, sedangkan Riu Han adalah yang paling muda. Namun, suasana di sini sangat hangat dan akrab. Semua saling menyapa dengan ramah, saling membantu saat berlatih atau mengalami kesulitan. Ini adalah hasil dari aturan ketat yang diterapkan Jing Hu: persaudaraan di antara murid harus lebih kuat dari apa pun, dan saling menjatuhkan adalah pelanggaran berat yang tidak akan dimaafkan.
Setelah selesai berkenalan dengan beberapa murid, Riu Han yang merasa sangat lelah setelah perjalanan panjang pun berpamitan untuk beristirahat.
“Sepertinya Gunung Hu adalah tempat yang sangat baik. Murid-muridnya pun begitu ramah dan tidak sombong,” gumamnya pelan sambil berbaring di tempat tidur yang empuk. Rasa lelah yang menumpuk membuatnya segera terlelap dalam tidur yang sangat nyenyak.
Keesokan paginya, saat sinar matahari baru saja menembus celah jendela, terdengar suara ketukan pelan namun jelas di pintu kediamannya.
Tok... tok... tok...
“Junior Riu Han, apakah kau sudah bangun?” tanya suara anak laki-laki dari luar.
“Sudah, Senior Luo. Tunggu sebentar ya,” jawab Riu Han sambil segera bangkit dan merapikan pakaiannya. Ia sudah mengenali suara itu sebagai salah satu murid dalam yang ditemuinya kemarin.
Saat pintu terbuka, terlihat sosok anak berusia sekitar sepuluh tahun dengan wajah sederhana dan senyum yang tulus. Dialah Luo Jin, yang saat ini telah mencapai tingkat satu ranah Perwira.
“Selamat pagi, Junior. Aku di sini untuk menemanimu berkeliling,” ujar Luo Jin sambil menunjuk ke sekeliling. “Sebagai Murid Dalam, kau berhak memiliki kediaman pribadi seperti ini. Murid Luar juga memiliki tempat sendiri, hanya saja ukurannya tidak seluas ini dan perlengkapannya lebih sederhana. Sedangkan Murid Pelayan, biasanya berbagi tempat tinggal berempat dalam satu rumah.”
Riu Han tersenyum dan membungkuk sedikit. “Terima kasih banyak, Senior Luo. Tapi apakah ini tidak mengganggu waktu latihanmu? Aku tidak ingin menyusahkanmu.”
Luo Jin tertawa kecil sambil menggelengkan kepala. “Tenang saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kakak Pah Long dan yang lain sedang sibuk dengan tugas masing-masing atau latihan di tempat khusus, jadi kebetulan aku punya waktu luang. Lagipula, Tuan Jing Hu sudah berpesan agar kami menyambutmu dengan baik. Ayo, mari kita mulai dari halaman latihan utama, lalu aku akan tunjukkan tempat pengambilan air, kebun obat, dan tempat di mana kita bisa meminjam kitab teknik.”
Mereka pun berjalan beriringan menyusuri jalan setapak yang dipenuhi rumput hijau. Luo Jin menjelaskan setiap detail dengan sabar: mana jalan yang menuju ke tempat berbahaya yang dilarang untuk dikunjungi murid baru, di mana letak aula utama sekte, hingga aturan-aturan kecil yang perlu diperhatikan di Gunung Hu. Riu Han mendengarkan dengan saksama, mencoba mengingat setiap petunjuk agar tidak tersesat nantinya.
Sambil berjalan, Riu Han menyadari satu hal lagi. Udara di sini jauh lebih kental dengan energi alam dibandingkan tempat mana pun yang pernah ia kunjungi. Setiap kali ia menarik napas, tubuhnya terasa segar dan ringan. Ia semakin yakin bahwa keputusannya untuk datang ke sini adalah langkah yang paling tepat. Di tempat seperti inilah, ia bisa mengejar ketertinggalannya, memperkuat fondasinya, dan perlahan-lahan membuktikan bahwa ia bukanlah anak yang dulu dianggap cacat dan tidak berguna.
Lanjut Up Thor 💪💪