NovelToon NovelToon
TIDAK ADA MAAF

TIDAK ADA MAAF

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Sinopsis Ringkas

Kayla selalu menjadi wanita sempurna—cantik, pintar, dan selalu juara sejak kecil. Namun setelah menikah muda dengan pria yang dicintainya, Adrian, hidupnya perlahan berubah. Demi menjadi istri yang baik, Kayla mengorbankan impian, penampilan, dan dirinya sendiri.

Sayangnya, semua pengorbanan itu justru membuat Adrian bosan.

Saat Adrian mulai berselingkuh dengan Bianca, Kayla tetap bertahan… sampai akhirnya ia lelah menjadi satu-satunya orang yang memperjuangkan pernikahan mereka.

Setelah dua tahun penuh luka, Kayla memilih bercerai.

Tak ada yang menyangka bahwa setelah pergi dari Adrian, Kayla kembali bersinar. Ia melanjutkan kuliah, meraih karier impian, dan berubah menjadi wanita yang begitu mempesona.

Di saat Adrian mulai menyesal dan mati-matian ingin mendapatkannya kembali, hadir Julian—CEO muda sekaligus kakak senior kampus yang diam-diam telah lama mencintai Kayla.

Namun hati Kayla sudah terlalu hancur untuk percaya pada cinta lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hal-Hal Kecil yang Hilang

Jam dinding di ruang tamu sudah menunjukkan pukul sembilan lewat tiga puluh malam, dan untuk kedua kalinya malam ini, Kayla mematikan kompor gas di dapur. Panci berisi sup ayam hangat yang sejak sore ia siapkan dengan teliti itu kini sudah tak lagi mengeluarkan uap panasnya. Aromanya masih tercium harum memenuhi ruangan, namun kehangatannya perlahan meredup, sama seperti harapan yang selama ini ia simpan.

Kayla berdiri diam beberapa detik di depan panci itu, menatapnya kosong, sebelum akhirnya mengambil sebuah mangkuk dan menuangkan isinya. Hanya satu mangkuk. Bukan dua.

Karena sekarang, ia mulai terbiasa. Terbiasa menyiapkan segalanya berdua, tapi menikmatinya sendirian.

Di ruang tengah, televisi dibiarkan menyala dengan suara kecil, hanya sebagai pengisi keheningan, agar apartemen ini tidak terasa terlalu sunyi dan sepi. Namun suara orang-orang yang tertawa atau berbicara dari layar itu sama sekali tidak terdengar masuk ke telinganya. Pikirannya terlalu penuh, terlalu riuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah terjawab.

Kayla membawa mangkuk sup itu ke meja makan, lalu duduk perlahan di kursi biasanya. Di hadapannya, kursi makan milik Adrian terlihat kosong. Kosong dan diam.

Lagi.

Entah sejak kapan pemandangan kursi kosong itu mulai terasa biasa dan wajar baginya. Dulu, rasanya mustahil terjadi hal seperti ini. Dulu, mereka selalu memastikan makan malam bersama, seberapa sibuk pun Adrian bekerja, seberapa lelah pun tubuhnya.

Ia masih ingat betul satu kejadian di masa lalu. Waktu itu Adrian baru saja pulang dari perjalanan dinas jauh, tiba di rumah tengah malam, tubuhnya lelah luar biasa. Tapi ia tetap duduk di meja makan hanya karena tak mau melewatkan momen makan malam pertama Kayla setelah istrinya belajar memasak.

Waktu itu, rasa sup buatannya terlalu asin, hampir tak bisa dimakan. Tapi Adrian tetap menghabiskannya sampai tetes terakhir sambil tersenyum lebar dan berkata, “Enak kok, paling enak sedunia.” Padahal wajah tampan itu jelas sekali sedang menahan rasa aneh di lidahnya. Malam itu Kayla tertawa sampai menangis terharu karena perhatian suaminya.

Sekarang…

Bahkan sekadar duduk semeja dan bertatapan mata pun terasa sulit sekali didapatkan.

Suara notifikasi pesan masuk dari ponsel memecah lamunannya. Kayla seketika tersentak, jantungnya berdegup kencang berharap itu kabar dari Adrian. Ia cepat mengambil benda pipih itu di atas meja.

Namun nama yang terpampang di layar bukan nama suaminya. Melainkan Celine.

Pesan. Celine

Coba buka Instagram sekarang.

Jangan kaget ya, siap-siap dulu.

Perasaan buruk dan gelisah langsung menyelinap masuk ke dada Kayla. Tangannya perlahan gemetar saat membuka aplikasi itu. Jari-jarinya bergerak lambat menekan ikon aplikasi, dan tak lama kemudian, matanya terhenti kaku pada sebuah unggahan berupa story dari akun resmi kantor Adrian yang diunggah oleh salah satu rekan kerjanya.

Foto itu memperlihatkan suasana makan malam bersama seluruh tim kantor yang tampak meriah. Ada banyak orang di sana, duduk mengelilingi meja panjang, tertawa, bersulang, dan terlihat sangat akrab serta hangat.

Namun mata Kayla langsung terpaku pada satu sudut foto itu.

Di sana, Adrian duduk bersebelahan dengan Bianca.

Terlalu dekat. Bahkan terlihat sengaja.

Wanita itu tersenyum manis sekali, lengannya dengan santai dan akrab memegang lengan kemeja Adrian, menempelkan tubuhnya di sisi pria itu.

Dan Adrian…

Adrian juga tersenyum. Senyum yang lepas, santai, dan sangat bahagia. Tidak ada sedikit pun raut wajah yang merasa keberatan, canggung, atau ingin menjauh.

Kayla menatap foto itu cukup lama, sampai layar ponselnya kembali gelap. Dadanya perlahan terasa dingin, dingin hingga ke tulang-tulangnya.

Jadi ini alasannya.

Jadi ini alasan kenapa Adrian belum pulang sampai jam segini.

Bukan lembur kerja. Bukan ada masalah mendadak. Bukan sibuk mengurus proyek.

Melainkan makan malam bersama orang lain. Bersama wanita itu.

Ponselnya kembali bergetar di tangannya. Sebuah pesan baru masuk. Kali ini nama pengirimnya membuat jantungnya serasa berhenti berdetak.

pesan. Adrian

Aku makan di luar sama tim kantor. Jangan tungguin aku ya, makan saja dulu.

Kayla tertawa kecil. Sangat pelan, hampir tak terdengar.

Entah kenapa rasanya begitu lucu, begitu menyedihkan sekaligus.

Karena pesan itu datang terlambat. Datang… tepat setelah ia melihat semuanya dengan matanya sendiri.

Tangannya perlahan turun, menjatuhkan ponsel itu ke atas meja dengan lemah. Nafsu makannya yang sedikit tersisa tadi hilang seketika, lenyap ditelan rasa sakit yang menyebar di seluruh dada.

 

Pukul sebelas malam, suara kunci diputar akhirnya terdengar. Adrian pulang.

Kayla masih duduk diam di sofa ruang tamu, memegang sebuah buku tebal yang sudah sejak lama terbuka di halaman yang sama, tanpa satu pun kalimat yang benar-benar ia pahami atau baca. Begitu mendengar suara pintu terbuka, ia langsung menoleh cepat.

“Kamu belum tidur?” tanya Adrian santai sambil masuk dan melepas jas kerjanya.

“Belum. Nunggu kamu,” jawab Kayla pelan.

Adrian hanya mengangguk sekilas. “Harusnya nggak usah nunggu. Capek tahu.”

Kalimat itu terdengar biasa saja, terdengar seperti perhatian. Namun nada bicaranya tetap dingin, datar, dan tak berisi rasa hangat apa pun.

Kayla diam-diam memperhatikan wajah suaminya dari tempat duduknya. Pria itu terlihat sangat santai malam ini. Bahkan raut wajahnya terlihat jauh lebih hidup, lebih ceria, dan lebih segar dibandingkan beberapa hari terakhir saat berada di rumah.

Dan entah kenapa, melihat perbedaan itu justru membuat hati Kayla semakin sakit dan perih.

“Kamu makan apa tadi?” tanyanya memulai, suaranya bergetar sedikit.

“Hm?” Adrian menoleh sekilas.

“Katanya makan sama tim kantor. Di mana? Enak tempatnya?”

“Oh… biasa saja. Di restoran dekat kantor,” jawabnya asal sambil berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum.

Kayla menggenggam buku di pangkuannya dengan sangat erat, seolah benda itu adalah satu-satunya penopang dirinya saat ini. Ia menarik napas panjang, lalu akhirnya memberanikan diri mengucapkan pertanyaan yang paling ditakutinya.

“Bianca juga ikut, kan?”

Pertanyaan itu membuat langkah Adrian berhenti sebentar di depan kulkas. Hanya sebentar. Sangat singkat.

“Iya. Dia ikut semua tim,” jawabnya tenang.

Nada bicaranya tetap normal. Tidak gugup. Tidak panik. Tidak ada rasa bersalah.

Namun justru ketenangan dan kebiasaannya itulah yang membuat Kayla merasa dirinya semakin kecil, semakin tak berarti, dan semakin tersisihkan.

“Kalian… kelihatan dekat sekali tadi di foto,” ucap Kayla pelan, mencoba menahan air matanya.

Adrian menoleh perlahan ke arahnya, dahinya sedikit berkerut.

“Apa?”

“Aku lihat unggahan di akun kantor tadi. Kalian duduknya dekat sekali.”

Keheningan menyelimuti ruangan sejenak. Adrian mengembuskan napas kecil, napas yang terdengar seperti rasa malas atau jengkel.

“Kay… tolong jangan mulai berpikir macam-macam atau overthinking deh,” ucapnya lembut tapi tegas.

Overthinking.

Lagi-lagi kata itu. Lagi-lagi perasaannya, kekhawatirannya, dan ketakutannya dianggap berlebihan, dianggap hanya imajinasi, dianggap masalah yang ia buat-buat sendiri.

“Aku cuma nanya saja kok,” jawab Kayla menunduk.

“Nanya atau nyari masalah?”

Kalimat singkat itu langsung membuat Kayla terdiam seribu bahasa. Ia tak bisa menjawab apa pun.

Adrian berjalan mendekat, lalu duduk di sofa seberang tempat istrinya berada, memberi jarak.

“Dengar ya. Bianca itu rekan kerja biasa. Kita sering rapat bareng, sering diskusi, sering keluar bareng soal pekerjaan. Wajar kalau kita akrab dan dekat. Kamu jangan bikin hal sepele jadi besar.”

Kayla menunduk dalam. Ia tahu, seharusnya ia percaya pada suaminya. Seharusnya ia percaya pada ikatan pernikahan mereka. Tapi ada sesuatu, sesuatu yang samar namun kuat, yang terasa berbeda. Dan insting seorang wanita jarang sekali salah.

“Aku nggak bilang kamu salah,” ucap Kayla pelan, suaranya hampir hilang. “Aku cuma… aku cuma ngerasa aja.”

“Ngerasa apa?”

“…ngerasa akhir-akhir ini kamu jauh banget sama aku. Jauh banget sama kita.”

Untuk beberapa detik Adrian tidak menjawab. Ia hanya menatap istrinya dengan tatapan yang justru terlihat lelah, lelah menghadapi Kayla, lelah mendengar hal ini.

“Aku capek kerja capek-capek tiap hari, Kayla. Otak aku pening mikirin pekerjaan, mikirin masa depan kita. Aku butuh ketenangan di rumah, bukan pertanyaan begini terus,” jawabnya dingin.

“Aku tahu… aku ngerti kok…”

“Nah. Jadi jangan bikin semuanya makin ribet dan susah ya.”

Kalimat itu terasa seperti sebuah pintu yang ditutup pelan tepat di depan wajahnya. Kayla langsung kehilangan seluruh keberanian dan semangat untuk bicara lagi.

Beberapa detik kemudian Adrian berdiri dari sofa.

“Aku mandi dulu. Mau tidur, ngantuk,” katanya singkat.

Dan sekali lagi…

Percakapan mereka selesai tanpa benar-benar selesai. Masalah itu tergantung begitu saja, tak terurai, tak selesai.

 

Malam semakin larut. Hening kembali menguasai seluruh ruangan.

Lampu kamar sudah dimatikan, hanya menyisakan cahaya bulan yang masuk samar dari balik tirai jendela. Adrian sudah tertidur lelap, memunggunginya seperti kebiasaan buruk yang kini menjadi rutin. Punggung lebar itu terlihat jauh, dingin, dan tak lagi bisa ia jangkau.

Di sisi lain kasur, Kayla masih terbaring diam dengan mata terbuka lebar dalam kegelapan. Ia menatap punggung pria yang dulu begitu dicintainya itu, menatap bayangan orang yang dulu berjanji akan menjaganya seumur hidup.

Perlahan, tanpa suara, air matanya jatuh membasahi bantal. Ia menahan isak tangisnya agar tidak terdengar.

Karena Kayla sadar benar…

Hal yang paling menyakitkan dalam sebuah hubungan bukanlah saat seseorang pergi meninggalkan kita.

Melainkan saat seseorang itu masih ada di sini, masih tinggal satu atap, masih tidur satu kasur…

namun tidak lagi terasa bersama kita.

 

1
Uthie
Bakalan luluh lagi gak kamu Kay 😜
Uthie
rasain 😜
falea sezi
laki serakah dikira pusat dunia istrimu cm. kamu🤣 wahai tukang selingkuh
Agus Tina
Baru sadar kau Adrian, memang orang akan selalu menggebu2 ketika mengejar sesuatu tapi akan lupa setelah mendapatkannya, bahkan terkadang malah menyia2kan yg sudah m3njadi miliknya bahkan ada yg berusaha untuk menggapai lagi sesuatu yg berbeda ...
Agus Tina
Ceritanya bagus ...
Titien Prawiro
Tinggal kabur sono k Luar Negri biar suamimu klabakkan. apa mungkin tambah senang klo kamu tinggal.
wiwi: sabar sabar🤭
total 1 replies
Titien Prawiro
Balas omongan Suamimu Kayla, kamu juga jgn dekat2 sama Bianca
wiwi: iya kak🤣
total 1 replies
Uthie
Penasaran bagaimana keputusan Kayla . apakah akan tetap mempertahankan.... atau kah.. melepaskan 😏😏😏😏
Uthie: oke 👍😘😘🤗
total 2 replies
Uthie
Laki egois 😡
harus nya lebih banyak lagi tadi di balikin kata-kata soal kedekatan antara laki dan perempuan kepada si Adrian yg kemarin dia lebih parah deketnya sama si ulet Bianca itu 😡😡👍
Titien Prawiro
Kasih gebrak kan untuk Kayla thor, melawan Adrian gitu atau diemin jgn diajak bicara. meremehkan istri penurut.
Titien Prawiro
Kamu masih muda Kayla, sebelum terlambat mending selidiki suamimu, kalau dia selingkuh lepaskan, dan raihlah cita2mu. jgn mengharap suami gk jujur.
Titien Prawiro
Lelaki klo sdh berubah pasti ada sesuatu. gercep gitu lho.
wiwi: iya kak🤭
total 1 replies
Titien Prawiro
Selidiki jgn lemot gitu, nanti menyesal.
wiwi: makasih udah mampir🙏
total 1 replies
Titien Prawiro
Kalau aku suami seperti itu diemin saja, jgn diladeni apapun itu sarapan minum bahkan jgn diajak bicara, diamkan saja. pengumuman tahu reaksinya.
Titien Prawiro: pengin tahu kok jadi tulisan bisa pengumuman.
total 1 replies
Titien Prawiro
coba selidiki, cobalah intai di kantornya, atau sewa detektif swasta, biar lekas tahu kelakuan suamimu. punya perempuan lagi.
falea sezi
bukti uda ada ss sebagai bukti cerai🤣
falea sezi
cerai aja kay laki mu paleng jg selingkuh
wiwi: iya nih kak🤭
total 1 replies
Agus Tina
Mampir dan di awal cerita bagus ... lanjjut
Uthie
lanjuuttttt lagiiiii Thor 🔥🔥🔥
wiwi: iya kak🤭
total 1 replies
Uthie
Kadang seseorang itu gak nyadar, kalau diri nya juga melakukan hal yg sama😡

dan saat hal tsb di lakukan oleh pasangan nya, dia gak terima..dan merasa sakit!!
tapi sebenarnya jauhh sebelumnya, dia sendiri melakukan hal tsb jauhhh lebih menyakitkan 😡😡
wiwi: betul banget itu kak😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!