NovelToon NovelToon
Teratai Di Atas Abu

Teratai Di Atas Abu

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Akademi Sihir
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Teratai Di Atas Abu

Setelah Klan Teratai Suci dihancurkan oleh Menara Darah Hitam, Lian Hua menjadi satu-satunya yang selamat dari malam penuh darah itu. Dengan meridian rusak dan bakat yang dianggap rendah, ia tumbuh di tengah hinaan dunia persilatan.

Namun di balik liontin teratai peninggalan klannya, tersembunyi kekuatan kuno yang mampu mengguncang dunia kultivasi.

Di antara dendam, pengkhianatan, dan perang antar sekte, Lian Hua menapaki jalan kultivasi demi mengungkap kebenaran kehancuran klannya—dan membalas semua darah yang telah tertumpah.

Karena bahkan di atas abu kehancuran… teratai tetap bisa mekar kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Teratai Di Atas Abu

Bab 32 — Pelelangan Seribu Roh

Di pusat Kota Langit Utara, berdiri gedung megah bertingkat tujuh, beratap emas dan berhias ukiran naga berkelok. Ini adalah Balai Seribu Roh, tempat pelelangan terbesar dan paling bergengsi di seluruh wilayah utara. Barang-barang yang dijual di sini bukan benda biasa, melainkan pusaka kuno, ramuan langka, senjata sakti, hingga catatan sejarah yang sudah hilang ratusan tahun. Hanya orang berkedudukan tinggi atau yang memiliki kekayaan luar biasa yang boleh melangkah masuk ke dalamnya.

Lian Hua datang bersama Tetua Bai dan beberapa murid inti lain. Di dalam ruangan luas yang penuh wewangian itu, sudah berkumpul ratusan tokoh berpengaruh: tetua sekte besar, pedagang kaya raya, pendekar kelana, hingga utusan kerajaan. Suasana sunyi dan berat, dipenuhi hawa kewibawaan dan persaingan yang tak terucap.

“Barang yang dipertarungkan hari ini semuanya berharga,” bisik Tetua Bai pelan di sampingnya. “Namun ada satu benda yang dirahasiakan hingga akhir. Kabar burung mengatakan, benda itu berkaitan dengan zaman kuno, sesuatu yang bisa mengubah peta kekuasaan dunia persilatan.”

Lian Hua mengangguk, matanya mengamati sekeliling dengan waspada. Di sudut ruangan, ia melihat kelompok orang berpakaian seragam hitam, berwajah dingin dan tak berperasaan. Di dada mereka terpasang lencana berbentuk mata melotot — simbol yang sama persis dengan yang ia temukan di jenazah pembunuh dulu. Jantungnya bergetar hebat. Itu dia... perwakilan Menara Darah Hitam, muncul secara terang-terangan di tempat umum, seolah tak takut diketahui siapa pun.

Pelelangan berlangsung lama. Satu per satu barang langka terjual dengan harga fantastis. Hingga akhirnya, pembawa acara berjalan ke tengah panggung, mengangkat sebilah bungkusan kain kuning yang disegel lilin tua. Wajahnya serius, suaranya menggelegar memenuhi ruangan.

“Dan sekarang, barang terakhir, sekaligus barang paling berharga yang pernah masuk ke Balai Seribu Roh dalam seratus tahun terakhir. Benda ini ditemukan di gua terpencil di Pegunungan Kabut, tersimpan dalam peti besi kuno bertuliskan aksara yang sudah tak digunakan ribuan tahun lalu.”

Ia membuka kain pembungkusnya perlahan.

Di atas nampan kayu hitam, terhampar selembar kulit hewan yang sudah mengeras namun masih utuh. Di atasnya terlukis garis-garis gunung, lembah, sungai, dan tanda-tanda lokasi dengan tinta berwarna merah tua yang belum pudar sedikit pun. Di bagian tengah peta itu, tergambar sebuah bangunan megah berbentuk bunga mekar, dan di bawahnya tertulis empat kata besar yang membuat darah Lian Hua seolah berhenti mengalir:

Reruntuhan Klan Teratai Suci.

Suara desiran heboh langsung menyapu seluruh ruangan. Para tetua sekte saling pandang tak percaya. Nama klan itu hanyalah legenda, kisah masa lalu yang nyaris dilupakan. Tak ada yang tahu letak persis kediaman leluhur itu, yang konon tenggelam bersama kehancuran klan ribuan tahun silam. Dan sekarang, peta yang menunjuk ke sana ada di depan mata.

“Benda ini adalah peta jalan menuju lokasi asli kediaman Klan Teratai Suci,” lanjut pembawa acara. “Menurut catatan yang menyertai, di sana masih tersimpan warisan terbesar klan itu: ilmu puncak, pusaka sakti, dan harta tak ternilai yang dikubur saat klan itu runtuh. Siapa pun yang memilikinya, bisa menguasai kekuatan yang dulunya membuat seluruh dunia persilatan segan.”

Tangan Lian Hua menggenggam erat pinggiran kursi hingga kayunya berderak. Matanya menatap lekat-lekat peta itu, hatinya berdebar kencang antara harap dan cemas. Itu adalah tanah leluhurnya, tempat asal-usulnya, tempat di mana sisa-sisa sejarah dan kekuatan bangsanya tertanam. Ia harus memilikinya, tak peduli berapa harganya. Itu adalah haknya, warisan darahnya.

Namun ia sadar, lawannya bukan sekadar orang kaya biasa. Di seberang ruangan, pemimpin kelompok berjubah hitam itu berdiri perlahan. Wajahnya tertutup kain, hanya sepasang mata yang bersinar jahat dan penuh nafsu mengerikan.

“Mulailah penawaran,” ucap pembawa acara. “Harga dasar: seribu keping emas murni.”

“Seribu lima ratus!” seru seorang pedagang kaya.

“Dua ribu!” sahut tetua Sekte Pedang Langit.

Harga terus melonjak naik dengan cepat, mencapai angka yang tak terbayangkan bagi orang biasa. Namun suara dingin dari arah kelompok berjubah hitam itu memotong semuanya.

“Sepuluh ribu keping emas.”

Suasana seketika hening. Angka itu begitu besar hingga membuat banyak orang menahan napas. Tak ada yang berani menawar lagi. Sepuluh ribu keping emas cukup untuk membeli separuh kekayaan Kota Langit Utara.

Pemimpin kelompok itu tersenyum dingin, matanya melirik sekilas ke arah Lian Hua, seolah ia tahu persis siapa pemuda itu dan apa yang dirasakannya.

“Klan Teratai Suci... kekuatan mereka seharusnya sudah lenyap dari bumi ini,” ucapnya pelan namun cukup terdengar di ruangan sunyi itu. “Sisa-sisa peninggalan mereka adalah milik kami. Sejak dulu, hingga selamanya. Tak ada yang berani merebut apa yang menjadi hak Menara Darah Hitam.”

Lian Hua bangkit hendak berteriak menawar, namun tangan Tetua Bai menahan lengannya kuat-kuat.

“Jangan bodoh,” bisik Tetua Bai tegas namun cemas. “Kita tak punya kekayaan sebanyak itu. Dan jika kau tampakkan keinginanmu terlalu jelas, jati dirimu akan terbongkar di sini, di depan ribuan saksi mata. Kau akan mati sebelum sempat melangkah keluar pintu ini.”

Lian Hua menahan amarahnya hingga giginya bergemeretek. Ia melihat peta itu perlahan diambil oleh utusan Menara Darah Hitam. Ia melihat mereka pergi dengan langkah angkuh, membawa petunjuk menuju tanah leluhurnya, membawa harapan satu-satunya untuk memulihkan kejayaan klannya.

Dan di balik rasa marah dan kecewa, satu ketakutan besar tumbuh di hatinya.

Mereka punya peta itu. Mereka tahu lokasinya.

Mereka akan pergi ke sana. Bukan untuk menghormati sejarah, tapi untuk menghancurkan sisa apa pun yang masih tersisa, untuk mengeruk kekuatan yang ada di sana demi kejahatan mereka, dan untuk memastikan tak ada jejak lagi yang tertinggal dari Klan Teratai Suci.

Lian Hua berdiri diam di tengah ruangan yang mulai kosong. Matanya tajam dan dalam, berkilat penuh tekad yang makin membara.

Kalian mengira kalian sudah menang? Kalian mengira benda itu sudah jadi milik kalian? batinnya bergemuruh penuh sumpah setia darah.

Kalian boleh membawa peta itu. Tapi ingatlah... aku adalah darah daging klan itu. Tanah itu mengenali langkahku, udara di sana mengenali napasku, dan warisan di sana menunggu kedatanganku, bukan kedatangan kalian.

Ia menatap punggung musuhnya yang menjauh.

Kalian akan pergi ke sana. Dan aku pun akan menyusul. Di reruntuhan kediaman leluhurku... di situlah kita akan menyelesaikan segala hutang masa lalu. Di situlah kita akan melihat siapa yang berhak mewarisi, dan siapa yang akan menjadi abu di bawah kaki teratai.

Hari itu, di Balai Seribu Roh, Menara Darah Hitam memenangkan penawaran. Namun tanpa mereka sadari, mereka juga baru saja memberi tahu jalan persis ke tempat di mana pertempuran penentuan nasib itu akan terjadi. Dan Lian Hua... kini tahu persis ke mana ia harus pergi setelah turnamen ini selesai.

1
Tamima II
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Tamima II
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍 bantai... 💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Tamima II
🥲🥲🥲🥲💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Tamima II
💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔
Tamima II
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚
Tamima II
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Tamima II
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Tamima II
orang yang di anggap sangat terhormat yang sebenar nya manusia biadap 😆😆😆😆😆😆
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Tamima II
harus.... 👍👍👍👍👍👍👍👍👍
💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Tamima II
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Tamima II
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!