Ghea mengira masalah terbesarnya adalah menjaga resto kecilnya, Kedai Raos, tetap bertahan di kota yang tenang untuk membangun bisnis pertamanya. Sampai kerusuhan hebat dan pengalaman nyaris mati membawa orang asing misterius ke dalam hidupnya.
Ghani—yang dikenal di kalangan intelijen elit sebagai Sam—adalah pria yang pendiam dan memiliki ketelitian yang mematikan. Sebagai agen tingkat tinggi untuk organisasi rahasia Garda Biru, ia seharusnya hanya berlibur singkat untuk mengunjungi neneknya. Ia seharusnya tidak menyelamatkan seorang wanita yang tangguh dan mandiri dari kerumunan massa. Ia tentu saja seharusnya tidak tinggal.
Dirinya yang masuk ke dalam hidup Ghea, akankah menyeret Ghea ke dalam dunia bahayanya? Akankah Ghea bersedia menanggung bahaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Dua koper hijau dan hitam sudah berdiri tegak di ruang tamuku seolah mengatakan kami siap untuk melakukan perjalanan. Dalam imaginasiku aku memulai perjalanan baruku sebagai mahasiswi di Universitas Majapahit jurusan managemen bisnis Fakultas Ekonomi. Tapi keraguan bahwa apakah aku bisa melupakan Ghani sepenuhnya setelah kuliah adalah sesuatu yang hadir di dalam diriku. Otakku berkata jika aku harus menjauhinya, karena pria ini berbahaya, pekerjaannya mengancam, dan perburuan adalah makanannya. Tapi jauh di lubuk hatiku, perhatiannya, tatapan matanya, suara lembutnya, kekhawatirannya membuatku sulit untuk mengusirnya dari hatiku.
Aku mencoba membuka aplikasi travel yang bersembunyi dalam layar ponselku. Aku ingin memesan penerbangab ke Yogjakarta untuk esok hari. Rencanaku esok pagi berangkat, sore mulai terbang dari bandara di Manawe. Tapi entah mengapa layar ponsel itu seolah mengejekku. Kursor berwarna merah di aplikasi maskapai terus berkedip, menampilkan tulisan yang sama untuk kesepuluh kalinya: ‘Mohon maaf, kursi untuk penerbangan hari ini telah habis terjual.’
Aku melempar ponsel ke atas kasur dengan kasar. Napasku memburu, dadaku terasa sesak oleh rasa frustrasi yang meluap-luap. Pria bersenjata, tembakan, Ghani si pembunuh terus saja mengisi pikiranku. Ketakutan dan kerinduan silih berganti menguasai pikiran dan hatiku. Tapi sayangnya tembakan itu memiliki akar yang jauh lebih kuat diingatanku daripada sekadar tatapan kasih dari Ghani. Aku harus keluar dari sini, dari Tora-Tora yang memberikanku kedamaian 3 tahun terakhir, dan dari tempat aku bertemu dengan seseorang dimana aku benar-benar bisa bersandar.
Aku mencoba sekali lagi, kali ini dengan rute yang lebih panjang dan harga yang tidak masuk akal. Hasilnya nihil. Jemariku gemetar saat mengetik ulang kode verifikasi yang entah kenapa terasa semakin rumit. Gagal. Jaringan sibuk. Tiket habis.
"Sial," umpatku pelan.
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata. Ini bukan sekadar soal tiket pesawat,tapi ini soal kewarasan. Aku butuh tempat baru, suasana baru, lingkungan baru, tempat baru yang akan membawaku melupakan Ghani, dan itu adalah Jogja, tempatku akan memulai belajar, bukan hanya soal akademik, tapi juga..belajar melupakan masa lalu.
Karena pesawat menolak membawaku pergi, aku beralih ke situs pemesanan bus. Jariku bergerak lebih liar di layar. Layar berubah, menampilkan daftar panjang keberangkatan bus malam menuju terminal terdekat dari Jogja. Tidak ada kemewahan kelas bisnis yang tersisa, hanya kursi. Tidak apa-apa. Siapa peduli soal kenyamanan saat jiwamu sedang dalam pelarian?
Klik.
Pembayaran berhasil.
Aku mengembuskan napas panjang, membiarkan tubuhku luruh ke atas kasur. Tiket digital itu muncul di layar, selembar bukti perjalanan yang akan membawaku pergi sejauh mungkin dari sini dalam waktu empat hari. Itu memang bukan penerbangan satu jam yang nyaman, tapi setidaknya itu adalah tiket keluar.
Aku menatap langit-langit kamar yang pengap, mencoba menenangkan detak jantungku yang masih liar. Aku akan pergi besok malam. Tanpa pamit pada siapa pun, tanpa menoleh ke belakang. Aku tidak tahu apakah Ghani akan menyadari kepergianku, atau apakah dia akan mencoba menghentikanku lagi dengan tatapan matanya yang memabukkan itu. Tapi satu hal yang pasti, bus itu akan membawaku pulang, ke tempat di mana aku bisa bernapas kembali, jauh dari pria itu dan segala bahaya yang dibawa auranya.
Akhirnya koper-koper itu tertata rapi dalam hatchback putihku. Aku memutari mobil itu, mobil yang sudah menemaniku dalam puluhan bulan. Jariku berjalan bergesekan dengan bodi mobil seiring dengan pikiranku yang membangkitkan ingatanku bersamanya.
Aku masuk ke dalamnya. Inilah terakhir kali aku berada dalam pangkuan hangat jok kulit sintetisnya. Kubelai lingkaran hitam besar yang terpampang di depanku, dimana telapak tanganku menggenggam erat untuk mengarahkan roda. Kupandangi setiap sudutnya seolah membawaku melakukan perjalanan lintas waktu kembali ke masa lalu.
Kugenggam tuas transmisi itu, kuinjak pedal rem, dan mesin meraung halus saat kugiring tuas itu dari mode N ke mode D dan selamat tinggal rumahku, selamat tinggal Galaxy Residen no 12. Aku akan merindukanmu.
Mobil itu kuarahkan ke pantai Kreya. Pantai yang penuh kenangan. Pantai dimana aku pernah hampir kehilangan nyawaku karena rasa cemburuku pada Ghani. Pantai dimana aku melihat nada khawatir kedua kalinya Ghani padaku
Aku berdiri menatap langit, langit cerah, matahari yang menapaki garis horizon. Kota ini, keceriaan disini, kehangatan mereka, penerimaan semuanya seolah mengikat kakiku untuk jangan beranjak darisini.
Ghani.. Ghani.. Ghani.. Nama itu yang selalu terucap jauh direlung hatiku.
Dorr.. Dorr.. Dorr.. Suara itu yang selalu bersemayam dalam pikiranku.
Hatiku mengalah, logikaku lebih kuat daripada perasaanku. Aku akan melupakannya.
Kumasukkan kedua tanganku di saku jaket. 1 benda masing-masing ada di saku itu. Kuambil dan kubuka genggaman tanganku hingga tersembullah dua benda itu. Inhaler biru di tangan kiriku, inhaler yang dibawakan Ghani lusa kemarin di pulau karang itu. Batu kecil hitam, batu yang diberikan Ghani saat "kencan" kami pertama di pulau Re. Benda-benda itu yang diberikan olehnya saat upayanya menjagaku, melindungiku.
'Maafkan aku Ghani, hati dan perasaan kita mungkin sama, tapi jalan kita sangat jauh berbeda. Aku tahu kamu punya impian akupun juga punya impian sendiri. Jika memang suatu saat kita bertemu lagi, biarkan takdir yang berbicara. Jika sampai disini, anggap saja aku telah mati.'
Aku berbalik, berjalan mencari tempat dimana hari itu Ghani menyelamatku saat asmaku kambuh di mobilku. Kususuri pasir itu dengan harapan, harapan bahwa setelah ini aku bisa melupakannya, dan memulai segalanya dengan lebih baik.
Aku berjongkok setelah kutemukan tempat itu. tanah berpasir itu kugali, kugali dengan ranting yang kutemukan tadi. Menggali dan terus menggali hingga kurasa cukup dalam. Batu hitam dan inhaler itu kumasukkan galianku. Ponselkupun yang sudah aku rendam dalam air menyusul mereka dan menjadi yang terakhir. Aku tak ingin Ghani menemukanku. Aku ingin dunia kami benar-benar terpisah.
'Selamat tinggal Ghani'
Aku mulai mengembalikan butiran pasir itu ke tampat semula, hingga tiga benda itu hilang ditelan pasir pantai yang seolah mengatakan untuk menghapus semua kenanganku tentang dia. Berakhir. Kisah kami hanya sampai disini.
Aku beranjak pergi, berjalan dengan harapan dan do'a semoga aku bisa menjalani hari beratku tanpanya dengan lebih baik. 'Ingatlah wahai diriku sendiri, jika dia telah memilih jalannya sendiri, dia tidak ingin bersamamu, dia tidak ingin mengukir cerita indah bersamamu. Dia telah memilih untuk menjadi gelap, dia sudah memutuskan untuk menjadi hitam, dia ingin menjadi bayangan yang namanya bahkan tak pernah tercatat dalam daftar kependudukan manapun. Dia tidak sesayang itu pada dirimu. Dia tidak secinta itu denganmu. Dia tidak ingin lagi menggenggam tanganmu penuh cinta, lalu untuk apa kamu harus terus memikirkannya? Dirimu sendiri lebih layak untuk dicintai olehmu.’