NovelToon NovelToon
Transmigrasi Si Jagoan Silat: Maaf Bos, Gue Bukan Mesin Pembuat Anak!

Transmigrasi Si Jagoan Silat: Maaf Bos, Gue Bukan Mesin Pembuat Anak!

Status: tamat
Genre:Transmigrasi / Action / Wanita perkasa / Fantasi Wanita / Balas Dendam / Komedi / Tamat
Popularitas:82.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

Siti Alesia, anak jawara silat yang tewas konyol, terbangun di tubuh Permaisuri Alessia—wanita lemah yang dijadikan "mesin pembuat anak" dan ditindas hingga mati oleh selir licik.
​Tapi mereka salah sasaran. Alesia bukan wanita yang bisa menangis! Dengan mulut pedas dan jurus Golok Seliwa, ia mengobrak-abrik aturan kolot istana. Selir yang meracuninya? Dibanting sampai encok! Ibu Suri yang galak? Dibuat kicep lewat diplomasi sambal terasi!
​Raja Magnus yang sedingin es dan sekaku kanebo kering pun dibuat meleyot. Sang penguasa kini sadar; istrinya bukan lagi pajangan, melainkan macan betina yang siap membelah siapa pun yang berani menyentuh harga dirinya.
​"Bang Magnus, jangan kaku-kaku amat! Mending latihan silat sama gue, biar otot lu kaga karatan!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: RACUN DALAM MANISAN DAN SUMPAH DI BAWAH REMBULAN

elah kepulangan Putri Seraphina, atmosfer Istana Orizon terasa jauh lebih ringan bagi Alesia. Tidak ada lagi lirikan sinis dari si "Mbak Sabun Cuci Muka" atau parfum menyengat yang tertinggal di setiap sudut koridor. Namun, bagi Lily, ketenangan ini justru adalah pertanda badai yang lebih besar.

​"Gusti Permaisuri, mohon berhenti sejenak. Biarkan hamba yang mencicipi manisan ini terlebih dahulu," cegah Lily saat Alesia hendak memasukkan sepotong buah plum berlapis gula ke dalam mulutnya.

​Alesia mengerutkan dahi, tangannya menggantung di udara. "Buset dah, Ly. Ini cuma plum dari dapur utama. Masa iya koki kita mau ngeracunin gue? Gue kan pelanggan setia mereka, tiap malem mesen nasi goreng tambahan."

​Lily mengambil piring kecil itu dengan tangan gemetar. "Hamba mohon, Yang Mulia. Setelah kejadian di lapangan panah, Ibu Suri terlihat sangat tenang. Terlalu tenang. Di istana ini, ketenangan seorang penguasa yang sakit hati adalah racun yang paling mematikan."

​Lily mengeluarkan sebuah jarum perak kecil dari balik bajunya. Dengan sangat hati-hati, ia menusukkannya ke dalam cairan gula yang menyelimuti buah plum tersebut. Detik berikutnya, napas Lily tercekat.

​Ujung jarum perak itu perlahan berubah warna menjadi kehitaman.

​Alesia terbelalak. Jantungnya berdegup kencang. "Gila... beneran ada racunnya? Ini mah bukan main-main lagi, ini mah niat pembunuhan berencana namanya!"

​"Racun Ular Hitam," bisik Lily, wajahnya pucat pasi. "Tidak akan membunuh seketika, namun akan membuat jantung melemah perlahan sampai korbannya terlihat seperti mati karena sakit biasa dalam waktu tiga hari."

​Alesia langsung membanting piring manisan itu ke lantai hingga hancur berkeping-keping. "Sialan! Emak lu bener-bener ya, Bang Magnus! Udah dikasih hati malah minta ampela!"

​Baru saja Alesia hendak melabrak keluar, pintu paviliun terbuka. Magnus melangkah masuk dengan wajah yang sangat gelap. Ia melihat pecahan piring dan buah plum yang berserakan di lantai, lalu menatap jarum perak di tangan Lily.

​"Jadi, itu benar," suara Magnus terdengar sangat rendah, mengandung amarah yang tertahan.

​"Bang! Lu liat sendiri kan? Mak lu mau bikin gue jadi almarhumah!" seru Alesia, emosinya meluap. "Gue diem aja pas dihina, gue diem aja pas dicurangin manah, tapi kalau udah main racun begini, gue kagak bisa diem lagi!"

​Magnus berjalan mendekati Alesia, ia memegang kedua bahu istrinya itu, mencoba menenangkannya. "Aku tahu. Aku baru saja mencegat pelayan dapur yang membawa manisan ini. Dia sudah mengaku bahwa perintah itu datang dari kediaman Ibu Suri."

​Alesia tertawa hambar, matanya berkaca-kaca karena marah sekaligus takut. "Terus? Lu mau gimana? Dia emak lu, Bang. Lu mau hukum dia? Lu mau masukin dia ke penjara bawah tanah?"

​Magnus terdiam cukup lama. Matanya menatap tajam ke dalam manik mata Alesia. "Aku sudah memindahkan Ibu Suri ke biara suci di perbatasan pegunungan utara. Mulai sore ini, dia tidak lagi memiliki hak untuk menginjakkan kaki di ibu kota."

​Alesia tersentak. "Lu... lu mengasingkan emak lu sendiri?"

​"Dia sudah melewati batas, Alessia," ucap Magnus tegas. "Menghina permaisuriku adalah satu hal, tapi mencoba mengambil nyawamu adalah pengkhianatan terhadap takhta. Aku adalah Raja sebelum aku adalah seorang putra."

​Magnus menarik Alesia ke dalam pelukannya, mendekapnya dengan sangat erat seolah-olah ia bisa kehilangan wanita itu kapan saja. "Maafkan aku. Maafkan aku karena lingkungan ini begitu kejam untukmu."

​Alesia menyandarkan wajahnya di dada Magnus, menghirup aroma kayu cendana yang menenangkan dari jubah suaminya. "Gue cuma pengen hidup tenang, Bang. Gue cuma pengen kita bisa makan nasi goreng bareng tanpa perlu takut ada racun di dalamnya."

​"Aku berjanji," bisik Magnus. "Mulai hari ini, aku sendiri yang akan memastikan setiap makanan yang masuk ke mulutmu adalah aman. Tidak akan ada lagi yang bisa menyentuhmu."

​Lily yang melihat pemandangan itu perlahan mundur, keluar dari kamar untuk memberikan privasi bagi pasangan itu. Ia menyeka air mata di sudut matanya, merasa lega sekaligus sedih melihat beban yang harus dipikul rajanya.

​Malam harinya, suasana di Paviliun Mawar sangat sunyi. Rembulan bersinar terang, memantulkan cahayanya di kolam ikan koi yang jernih. Alesia duduk di tepi teras, kakinya berayun-ayun kecil.

​Magnus datang membawa nampan berisi dua mangkuk sup hangat. "Aku sendiri yang mengawasi koki memasak ini. Dan aku sudah mencicipinya sepuluh menit yang lalu."

​Alesia tersenyum tipis, menerima mangkuk itu. "Makasih, Bang. Lu jadi kayak food tester pribadi gue sekarang."

​Mereka makan dalam keheningan yang nyaman. Tempo malam itu terasa sangat lambat, seolah waktu sengaja berhenti untuk memberikan mereka ruang bernapas setelah rentetan drama yang melelahkan.

​"Bang," panggil Alesia setelah menghabiskan supnya.

​"Ya?"

​"Kalau suatu saat nanti... gue beneran harus balik ke tempat asal gue, lu bakal gimana?"

​Pertanyaan itu membuat gerakan tangan Magnus terhenti. Ia meletakkan mangkuknya, lalu menatap langit malam. "Jika takdir memang harus membawamu kembali, maka aku akan mencari cara untuk ikut bersamamu."

​Alesia tertawa kecil. "Dih, jangan ngaco. Di Depok kagak ada istana, Bang. Lu mau tinggal di mana? Di kontrakan tiga petak? Terus lu mau kerja apa? Jadi tukang ojek pengkolan?"

​Magnus menoleh, senyum tipis terukir di bibirnya. "Aku tidak peduli. Jika di negerimu aku harus menjadi tukang ojek—apa pun itu—selama aku bisa melihatmu setiap pagi, itu sudah cukup bagiku."

​"Lu beneran udah bucin tingkat dewa ya, Bang," goda Alesia, menyikut lengan Magnus.

​"Bucin?" Magnus mengernyitkan dahi. "Apa itu kosakata baru dari negerimu?"

​"Iya. Budak Cinta. Artinya orang yang udah kaga punya logika kalau udah urusan perasaan," jelas Alesia sambil nyengir.

​Magnus menarik tangan Alesia, mengecup telapak tangannya yang kini sudah benar-benar sembuh dari luka cermin. "Kalau begitu, aku adalah Bucin pertama di Orizon. Dan aku tidak malu mengakuinya."

​Alesia merasakan hatinya menghangat. Ia merasa sangat beruntung, meskipun ia terlempar ke dunia yang berbahaya, ia menemukan satu hati yang benar-benar tulus menjaganya.

​"Bang, gue punya janji," ucap Alesia tiba-tiba, suaranya menjadi lebih serius.

​"Janji apa?"

​"Gue janji bakal bantuin lu beresin semua tikus-tikus di kerajaan ini. Gue bakal pake cara gue sendiri, cara anak Rawa Belong. Kita bikin Orizon jadi tempat yang beneran aman, biar ntar kalau kita punya... eh, maksudnya kalau kita udah tua nanti, kita bisa pensiun dengan tenang."

​Magnus tertawa renyah, ia menarik Alesia ke dalam pelukannya lagi, menyelimuti tubuh wanita itu dengan jubah besarnya agar tidak kedinginan oleh angin malam. "Aku pegang janjimu, Permaisuriku. Mari kita bereskan kerajaan ini bersama-sama."

​Di bawah sinar rembulan Orizon, dua jiwa dari dunia yang berbeda itu saling mengikat janji. Bukan lagi soal politik, bukan lagi soal takhta, tapi soal cinta yang tumbuh di antara desingan panah dan aroma racun plum yang hampir saja memisahkan mereka.

1
Zaskia 🐼
Ini ngobrolnya pakai bahas Indonesia ala betawi atau bahasa inggris?
Memyr 67
𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗄𝗎𝗇𝗈 𝗌𝗈𝗄 𝗍𝖺𝗎, 𝗆𝖾𝗋𝖾𝗄𝖺 𝗒𝗀 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝗇𝗀𝖾𝗋𝗍𝗂, 𝗅𝖺𝗇𝗀𝗌𝗎𝗇𝗀 𝗇𝗎𝖽𝗎𝗁 𝗌𝖾𝖾𝗇𝖺𝗄𝗇𝗒𝖺
Memyr 67
𝗅𝖺? 𝗄𝖾𝗇𝖺𝗉𝖺 𝗃𝖺𝖽𝗂 𝗌𝗂𝗍𝗂 𝖿𝖺𝗍𝗂𝗆𝖺𝗁 𝗇𝖺𝗆𝖺𝗇𝗒𝖺? 🤣🤣🤣🤣
Memyr 67
𝗃𝖾𝗇𝖽𝗋𝖺𝗅 𝗄𝖺𝖾𝗅? 𝗂𝗍𝗎 𝗄𝖺𝗇 𝗄𝖺𝗄𝖺𝗄𝗇𝗒𝖺 𝗆𝖻𝖺𝗄 𝗋𝗈𝗌𝖾 𝗒𝗀 𝖽𝗂𝖺𝗌𝗂𝗇𝗀𝗄𝖺𝗇? 𝗄𝗈𝗄 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝗃𝖺𝖽𝗂 𝖺𝗃𝗎𝖽𝖺𝗇 𝗄𝖾𝗉𝖾𝗋𝖼𝖺𝗒𝖺𝖺𝗇 𝗋𝖺𝗃𝖺?
Ariska Kamisa: sudah tobat kak, dan jadi mengabdi sama raja dan ratu
total 1 replies
Memyr 67
𝗇𝗒𝖾𝗌𝖾𝗄 𝗄𝖺𝗇, 𝗂𝖻𝗎 𝗍𝗂𝗋𝗂 𝖽𝖺𝗇 𝗌𝖾𝗅𝗂𝗋 𝗆𝖺𝗇𝗃𝖺? 𝖺𝗉𝖺 𝗂𝖻𝗎 𝗍𝗂𝗋𝗂 𝗆𝖺𝗀𝗇𝗎𝗌 𝗂𝗇𝗂 𝖺𝖽𝗂𝗄𝗇𝗒𝖺 𝖻𝖺𝗉𝖺𝗄 𝗌𝗂 𝗋𝗈𝗌𝖾?
Memyr 67
𝖺𝖽𝖺 𝖺𝗉𝖺 𝗂𝗇𝗂? 𝗂𝖻𝗎 𝗌𝗎𝗋𝗂 𝗌𝖺𝗆𝗉𝖺𝗂 𝗌𝖾𝗀𝗂𝗍𝗎 𝖻𝖾𝗇𝖼𝗂𝗇𝗒𝖺 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝖺𝗅𝖾𝗌𝗁𝗂𝖺 𝗌𝖺𝗆𝗉𝖺𝗂 𝖻𝖾𝗋𝖺𝗆𝖻𝗂𝗌𝗂 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝗆𝖾𝗇𝗒𝗂𝗇𝗀𝗄𝗂𝗋𝗄𝖺𝗇 𝖺𝗅𝖾𝗌𝗁𝗂𝖺.
Memyr 67
𝖺𝗐𝖺𝗅 𝗒𝗀 𝗆𝖾𝗇𝖺𝗋𝗂𝗄. 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗎 𝖻𝖾𝗋𝗂𝗄𝗎𝗍𝗇𝗒𝖺 𝗍𝗒𝗉𝗈 𝖻𝖾𝗍𝖾𝖻𝖺𝗋𝖺𝗇 𝗌𝖺𝗆𝗉𝖺𝗂 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝗇𝗀𝗈𝗍𝖺𝗄, 𝖺𝗄𝗎 𝗅𝖺𝗇𝗀𝗌𝗎𝗇𝗀 𝖻𝖺𝖻𝖺𝗒.
Ariska Kamisa: terimakasih kak 🙏🙏🙏
total 1 replies
S.E.L.A.M
Nyanyian putri duyung ?
S.E.L.A.M
Lah kok ketemu org betawi lain 🤣
Ariska Kamisa: itu lah kejutannya kak 🤭🤣
total 1 replies
S.E.L.A.M
Kacian, jasa lily & mita dilupakan 🤭
S.E.L.A.M
Lalu ketemu sama si doel & mandra 🤣
S.E.L.A.M
Rempela / ampela maksudmu thor ?
Ariska Kamisa: eh... terimakasih kak atas kejelianmu, kayanya aku ngeblank saat itu🤭🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Neng Alifa
Et dahh 🤭
S.E.L.A.M
Lucu puolll
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak 🙏🙏🙏
total 1 replies
S.E.L.A.M
Siluman kuda lumping 🤭
S.E.L.A.M
Plesetan dari kameha meha ya 🤣
Ariska Kamisa: iya... 🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
S.E.L.A.M
Krupuk kalo masuk angin mah melempem bkn kaku namanya 🤭
S.E.L.A.M
Untung namanya ga diganti jadi MAKNYUS 🤣
Kan jadi mantep puol 👍
Ariska Kamisa: waah... iya ya.. itu lucu parah ..🤣🤣🤣
total 1 replies
Erick Erx
ibu suri udah dong ,,, insyaf😄
Dede Bleher
mpok siti banyak tugas juga ya 🤣
Ariska Kamisa: memang kak, mpok siti pengen ngubah dunia disitu lebih modern 🤭🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!