seorang anak yang harus menjadi korban perceraian orang tua nya,hidup dengan nenek dan kakek dengan begitu banyak cemoohan dari orang orang maupun teman-teman nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pena merpati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10
Setelah membantu ibu nya membereskan semua nya,Eka pun pergi ke kamar dan merebahkan tubuh nya.
Eka menghela nafas panjang,sekarang ia sudah lega dengan semua permasalahan nya,sekarang ia hanya perlu mempersiapkan diri untuk menikah dengan Arif bulan depan.
"Huffff,,,aku tidak menyangka bahwa aku sanggup untuk sampai di titik ini sekaran"
"Sungguh sebenarnya tidak mudah untukku sampai di titik ini,tapi aku tidak boleh menyerah aku masih ada Aira yang masih membutuhkan ku"
"Sekarang aku hanya perlu memikirkan masa depan ku dengan mas Arif,dan mengarungi bahtera rumah tangga dengan nya. Semoga saja aku tidak akan gagal kembali seperti dulu. Dulu aku memang salah karena aku berselingkuh dari mas Rudi tapi aku lelah dan juga tertekan dengan keluarganya mas Rudi,mereka bahkan selalu memandang aku sebelah mata karena aku hanya lah orang miskin berbeda dengan keluarganya mas Rudi"
"Hmmm sudahlah yang lalu biarlah berlalu,yang terpenting saat ini adalah masa depan tidak perlu melihat kebelakang lagi. Akan aku jadikan masa lalu ku sebagai pengajaran "
"Hahhh lebih baik sekarang aku tidur,agar besok bangun lebih pagi dan menyiapkan sarapan untuk Aira "
"Aira,nak ibu sangat menyayangi mu ibu melakukan ini semua untukmu ibu tidak ingin kamu kehilangan kasih sayang seorang ayah. Biarkan lah jika ayah mu melupakan mu tanpa bertanggung jawab menafkahi mu karena kamu masih punya ibu,ibu akan melakukan semua nya untuk mu "
Eka pun mencium kening Aira yang sedang tertidur lelap,akhir nya Eka pun tidur dengan memeluk sang putri tercinta.
Pagi pun tiba,Eka pun membuka mata nya dengan perlahan ia melihat jam di ponsel nya dan ternyata sudah jam lima, akhirnya ia memutuskan segera bangun dan bergegas ke dapur untuk memasak.
Saat di dapur ternyata di sana sudah ada sang ibu,Eka pun menghampiri ibu nya.
"Ibu,sini biar Eka saja yang memasak"
"Ya sudah ini,ibu mau membangunkan bapak mu dulu "
"Oh ya di mana Aira,apa masih belum bangun"
"Belum bu,nanti setelah ini selesai aku akan membangunkan nya "
"Baiklah ,ibu tinggal sebentar"
Setelah selesai memasak dan menata makanan di meja makan,Eka pun kembali ke kamar dan membangunkan putri nya yang masih asik dengan mimpi nya meskipun hari sudah semakin siang.
Eka pun membuka jendela kamar nya agar udara pagi dan sinar matahari bisa masuk.
Eka lalu menghampiri Aira dan duduk di tepi ranjang.
"Sayang ayo bangun ,ini sudah siang nanti kau telat pergi ke sekolah"
"Emhhh ibu aku masih mengantuk " ucap Aira sambil menarik selimut nya
"Ayo bangun nak ini sudah siang"
Aira pun masih enggan membuka matanya,akhirnya Eka pun hanya bisa menghela nafas nya karena putrinya ini memang sudah jika di bangunkan.
Akhirnya Eka pun memiliki ide agar putrinya ini lekas bangun .
"Aira ayo bangun,ini sudah jam 7 jika kau tak bangun juga maka ibu akan menyirami dengan air dingin sekarang juga"
"Satu,,dua,,tiii....."
Dengan segera Aira pun duduk dan membuka mata nya yang masih terasa berat itu.
"Tidak jangan,ini Aira sudah bangun ibu".
"Sekarang pergi mandi karena ini sudah hampir jam tujuh"
"Ohh baru juga jam tujuh "
Aira pun terdiam sesaat,lalu kemudian ia membolakan matanya.
"Apa jam tujuh,ibu kenapa tidak membangunkan Aira. Aira akan terlambat "
"Eh eh ibu sudah membangunkan kamu dari tadi nak,tapi kamu malah sibuk dengan mimpi mu itu"
"Cepat mandi jika kau tak ingin terlambat sayang"
Dengan segera Aira pun berlari ke kamar mandi,tanpa membawa handuk serta seragam sekolah nya.
"Ibuu tolong ambilkan handuk Aira lupa membawa nya"
"Dasar anak itu,dia itu sudah besar tapi tetap saja seperti anak kecil"
Setelah drama ibu dan anak itu,kini Aira selesai bersiap hingga ia makan pun dengan cepat karena ia memiliki jadwal piket di kelas.
"Pelan-pelan Aira nanti kau tersedak"ucap nenek Aira
"Aira buru-buru nek,Aira ada jadwal piket "
"Makanya jangan bangun siang,kau itu sudah besar Aira"
"Iya-iya,Aira berangkat dulu nenek,kakek,ibu"Aira pun menyalami dan segera berlari agar cepat sampai di sekolah
"Ya hati-hati"
"Lihatlah Eka,Aira sekarang sudah besar bukan ibu rasa baru kemaren ibu menggendong nya,ibu merawatnya saya kau tidak ada tpi sekarang ia sudah sangat besar"
"Ibu benar,tapi bagiku Aira tetaplah putri kecilku"
"Teruslah perhatikan Aira nak,ia sudah banyak menanggung beban meskipun ia tidak pernah mengucapkan nya tapi bapak yakin bahwa Ira sebenarnya sangat terpukul dengan ini semua " nasehat ayah eka
"Iya bapak mu benar nak,meskipun Aira diam bukan berarti dia tidak tau apa-apa "
"Eka akan berusaha pak,bu. Aku selalu merasa bahwa di sini aku lah yang paling tersakiti tapi aku lupa bahwa putriku pasti juga merasakan hal lebih menyakitkan. Di balik senyum cerianya pasti Aira juga sangat merindukan kasih sayang ayah nya "
"Mas Rudi juga,dia sama sekali tidak pernah berniat menemui Aira bahkan ia melupakan tanggung jawab nya sebagai seorang ayah,harusnya ia tidak melupakan tanggung jawab nya sebagai seorang ayah dan tetap menafkahi aira bagaimana pun tidak ada yang nama nya mantan anak"
"Sudah,yang terpenting sekarang adalah membuat Aira bahagia"
"Iya bu,aku juga tidak berharap bahwa mas Rudi itu menafkahi aira,aku juga masih sanggup untuk menyekolahkan putriku hingga lulus sekolah kelak,tapi jika suatu saat nanti Aira menjadi orang sukses jika mas Rudi mendekat kepada Aira aku adalah orang pertama yang akan melarang nya,aku tidak akan terima dia tidak turut andil dalam mendidik Aira bahkan membiayai Aira tapi jika benar suatu saat dia mendekat aku tidak perduli jika harus bertengkar dengan mas Rudi"
"Sudah jangan menyimpan dendam,jika memang Rudi tidak mau melakukan tanggung jawab nya bapak juga masih sanggup membiayai sekolah Aira kok"ucap ayah Aira
"Bapak mu benar, sudah jangan membahas itu lagi jika hanya membuat kamu emosi"ucap ibu eka
"Ibu benar,ini masih sangat pagi lebih baik kita membicarakan hal yang penting dari pada membahas hal yang hanya membuat emosi saja"
"Bapak sudah selesai makan,bapak akan berangkat kesawah dulu "
"Baiklah nanti ibu akan menyusul bapak ke sawah ibu akan membereskan ini dulu"
"Tidak usah Bu,biar Eka yang akan membersihkan ini".
"Baiklah,ibu akan ikut bapak ke sawah dulu nanti agak siang ibu pulang jadi tidak perlu mengantarkan makanan ke sawah"
"Baiklah Bu"