Dunia akan hancur ketika kita tidak menemukan pemilik hati yang sebenarnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sonya_860, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Suasana di lapangan SMA C****AKRA BUANA pagi ini benar-benar mencerminkan definisi "neraka dunia" bagi para siswa. Matahari Senin seolah-olah sedang menumpahkan seluruh amarahnya ke bumi. Teriknya tidak lagi sekadar hangat, melainkan menyengat, menyayat kulit, dan membuat seragam putih yang mereka kenakan terasa seperti setrikaan panas yang menempel di tubuh.
Padahal, jam di pergelangan tangan baru menunjukkan pukul delapan lewat sedikit, namun rasanya matahari sudah tepat berada satu jengkal di atas ubun-ubun.
Sudah satu jam lebih upacara bendera ini berlangsung, dan tanda-tanda akan berakhir masih nihil. Kaki-kaki para siswa sudah mulai mati rasa, sendi-sendi lutut terasa goyah karena menopang beban tubuh terlalu lama. Kerongkongan mereka kering kerontang, sejauh mata memandang hanya ada fatamorgana air dingin yang menari-nari di pikiran.
"Aduh duhhh, kaki gue rasanya mati rasa deh," keluh seorang siswi di barisan kelas XI.
"Pak Agus ini pidato apa ceramah haji sih? Nggak kelar-kelar! Telinga gue udah berdenging dengerin teori motivasi yang nggak masuk akal itu," timpal yang lain.
"Iya, mana gue nggak paham lagi yang tuh guru omongin di depan. Calon istri? Masa depan? Cita-cita? Apaan tuh? Gue aja nggak punya cita-cita," sahut seorang gadis bernama Rea yang berdiri tepat di samping Ziva.
Ziva, yang sejak tadi sibuk mengatur napas agar tidak pingsan, langsung menoleh dengan ekspresi cengo. Matanya berkedip beberapa kali, seolah baru saja mendengar pernyataan paling absurd abad ini.
"Lah, seriusan lo nggak punya cita-cita, Re?" tanya Ziva dengan nada tidak percaya.
Rea mengangguk santai, wajahnya terlihat pasrah di bawah terik matahari. "Beneran, gue nggak punya cita-cita."
"Lah, bego! Tujuan lo hidup di dunia ini buat apa njir kalau nggak punya cita-cita?" seru Ziva syok.
"Napas." Singkat, padat, jelas, dan sangat menusuk. Jawaban Rea membuat Ziva ingin sekali menjedotkan kepalanya ke bahu Karlota yang ada di depannya.
Ziva membulatkan matanya, memandang Rea seolah-olah temannya itu adalah makhluk asing dari planet lain. "Heh! Kalau nggak napas ya nggak bisa hidup lah, aneh lo! Gue itu nanyanya cita-cita! Lo di masa depan mau jadi apa gitu lho, biar hidup lo ada tantangannya!" kesal Ziva.
"Nggak tahu gue mau jadi apa. Yang penting gue ikutin alur aja, kayak air mengalir," ucap Rea acuh tak acuh.
"Lah, kalau alurnya belok ke jurang, lo juga ikutan belok? Kalau alur lo di masa depan jadi maling jemuran, lo mau juga ikut jadi maling?" cecar Ziva penasaran, imajinasinya mulai meliar ke mana-mana.
Rea melotot, menatap Ziva yang memandangnya dengan wajah polos tanpa dosa. "Ck, ya kagak lah! Ya kali orang secantik gue mau jadi maling, apa kata ibu gue nanti? Yang ada gue dikutuk jadi cucian basah!"
"Lah, siapa tahu aja kan? Makanya jangan cuma ikut alur, bisa-bisa nanti alur lo belok ke jalan yang salah, kan ngeri," nasihat Ziva sok bijak, padahal ia sendiri sering tersesat di mall.
Rea memutar bola matanya malas. "Emang lo sendiri punya cita-cita? Jangan-jangan cita-cita lo juga aneh."
"Ouh, gue? Gue mah punya cita-cita dong! Sangat spesifik dan terarah!" Ziva menunjuk dirinya sendiri dengan bangga, meskipun keringat mulai bercucuran di pelipisnya.
Rea memandang Ziva skeptis. Sebagai bendahara kelas satu yang galaknya melebihi penjaga neraka kalau sedang menagih uang kas, Rea punya tebakan sendiri. "Jangan bilang lo cita-citanya mau jadi debt collector?"
"Ye! Ya bukanlah! Gue nggak minat jadi tukang tagih utang profesional, yang ada nanti gue sama nasabahnya malah gelut nggak kelar-kelar karena gue nggak mau kalah. Ogah!"
"Terus cita-cita lo jadi apa, Ziv?" tanya Rea yang mulai terbawa rasa penasaran. Sementara itu, Karlota yang berdiri di depan mereka hanya diam, mencoba menahan emosi karena kepalanya sudah mulai berdenyut akibat panas.
"Cita-cita gue itu... mau jadi istrinya pak CEO kaya raya! Aamiin!" ucap Ziva dengan senyum lebar, matanya menerawang membayangkan laki-laki tampan, tinggi, dan berdompet tebal yang akan menjemputnya dengan mobil mewah.
"Yah, walaupun gue belum tahu mukanya gimana, tapi menghayal dulu kan gratis."
Rea memandang Ziva dengan ekspresi yang lebih cengo dari sebelumnya.
"Kasih paham, Kar," ucap Rea pada Karlota, merasa tak sanggup lagi meladeni kegilaan sahabatnya itu.
Karlota akhirnya membuka suara tanpa menoleh, suaranya terdengar berat karena lelah. "Heh, Ziva. Lo mau jadi istri CEO? Inget ya, CEO zaman sekarang kalau nggak udah punya istri, ya minimal udah punya tunangan. Lo mau jadi istri kedua? Atau pelakor? Lagian gimana mau jadi istri orang hebat kalau di kelas kerjaan lo cuma molor?"
"Jangan ya dek ya, jangan..." timpal Rea sambil tertawa kecil, mengejek khayalan tingkat tinggi Ziva.
Ziva mendengus kesal, memalingkan wajahnya. "Tauk ah males! Kita tidak kawan! Kalian nggak mendukung masa depan gue yang cerah!"
"Uluh-uluh, temen bocil gue ngambek nih," goda Rea sambil menoel-noel pipi Ziva yang mulai memerah karena panas dan kesal.
"Karlota, Rea nakal! Ziva nggak suka!" adu Ziva dengan nada manja, berlindung di balik punggung Karlota.
"Udah, jangan ganggu," lerem Karlota singkat. Ziva langsung menjulurkan lidahnya pada Rea, merasa menang karena dibela oleh 'benteng' pertahanannya.
Lima menit berlalu dalam keheningan yang menyiksa. Di depan sana, Pak Agus masih asyik dengan mikrofonnya, membicarakan tentang integritas dan kedisiplinan yang seolah-olah tidak ada ujungnya.
Ziva, yang dasarnya memang tidak bisa diam, mulai merengek lagi. "Ini semua salah Karlota! Kenapa tadi nggak boleh bolos aja sih? Kaki Ziva capek banget, Kar... rasanya mau copot," bisiknya dengan suara bergetar.
Sebenarnya, Ziva adalah orang yang paling beruntung di barisan itu. Mengapa? Karena tubuhnya yang mungil dan pendek, ia berbaris di belakang Karlota dan diapit oleh siswa-siswa lain yang jauh lebih tinggi. Tubuh mungil Ziva terlindungi dari sinar matahari langsung karena terhalang oleh punggung Karlota yang tegap. Ia berada di area 'teduh' di tengah lapangan yang membara.
"Bentar lagi kelar, Ziv. Jangan protes mulu. Lo nggak liat make-up gue udah luntur gara-gara panas? Lah elo enak, kehalang tubuh gue yang kayak raksasa ini," ketus Karlota. Ia merasa gerah lahir batin, sementara sahabatnya yang 'terlindungi' itu malah paling banyak mengeluh.
Ziva cengengesan, menyadari bahwa dirinya memang mendapat perlindungan gratis. "Hehe, sori Kar. Tapi pokoknya jam pertama nanti kita harus bolos! Titik nggak pakai koma!"
"Iya, iya, kita bolos nanti. Gue juga udah nggak sanggup masuk kelas kalau otaknya udah mendidih gini," setuju Karlota akhirnya.
"Nah, gitu dong! Ini baru Karlota Salsabila, sahabat sejati Ziva!" Ziva girang, semangatnya kembali pulih sejenak.
Namun, kegembiraan itu hanya sesaat. Suara Pak Agus di depan sana bukannya mereda, malah makin meninggi, berpindah dari satu topik ke topik lain yang makin tidak jelas rimbanya. Kuping Ziva rasanya sudah mulai panas dan berdengung. Ia melirik ke sekeliling; semua orang tampak menderita, bahkan ada beberapa siswa yang wajahnya sudah sepucat kertas.
Gue harus melakukan sesuatu. Sekarang juga! batin Ziva nekat. Ia tidak mau pingsan hanya karena mendengarkan ceramah yang lebih lama dari durasi film layar lebar.
Ziva mengambil napas dalam-dalam, mengatur suaranya agar terdengar sealami dan se-histeris mungkin. Lalu...
"HUWAAA!!! TOLONGGG!!! ADA ULARRR KOBRAAA!!!"
Teriakan melengking itu membelah kesunyian lapangan, mengalahkan pengeras suara Pak Agus. Seketika, barisan yang semula rapi seperti susunan bata, langsung bubar berantakan. Kata "ular" adalah pemicu kepanikan massal yang paling efektif.
"HUWAAA ULARRR!!!"
"MAMA TOLONGGG!!! MANA ULARNYA?!"
"ARRGHH!! GUE TAKUT ULARRR!"
Kepanikan menyebar seperti api yang tersiram bensin. Para siswa berlarian ke segala arah, saling tabrak, saling dorong. Lapangan yang tadinya hening berubah menjadi medan perang.
"AWAS WOY! ULARNYA LARI KE SITU!!!" teriak Ziva lagi, sambil menunjuk ke arah panggung podium tanpa ada apa pun di sana.
"PAK AGUSSS!!! AWAS KAKI BAPAK KE PATOK ULAR DI BAWAH PODIUM!!!" teriak Ziva lagi dengan nada yang sangat meyakinkan.
Pak Agus, yang semula berdiri gagah di depan mik, langsung melompat turun dari podium dengan gerakan yang luar biasa gesit untuk orang seusianya. Ia berlari zigzag tak beraturan dengan wajah pucat pasi, jubah gurunya berkibar-kibar ditiup angin kepanikan.
Para guru lain tak kalah heboh. Mereka yang tadinya duduk rapi di bawah tenda, kini sudah berdiri di atas kursi, beberapa bahkan ikut lari masuk ke dalam gedung sekolah. Tidak ada yang sempat berpikir jernih. Siapa yang akan mengecek keberadaan ular jika semua orang sibuk menyelamatkan nyawa masing-masing?
Di tengah kekacauan itu, Ziva menarik tangan Karlota dan Rea. "Ayo kabur! Sekarang!" bisiknya sambil menahan tawa yang hampir meledak.
Ketiganya berlari menjauh dari lapangan, menyelinap di antara kerumunan manusia yang panik.
Sementara di sudut parkiran, sesosok pria yang baru saja tiba menatap kerusuhan itu dengan dahi berkerut.
Mahendra, sang murid baru, melepaskan helmnya perlahan. Matanya yang tajam menangkap sosok gadis mungil yang tadi pagi ia lihat di koridor. Ia melihat Ziva sedang tertawa kecil sambil berlari menjauh, tampak sangat puas dengan kekacauan yang ia ciptakan.
Mahendra menyipitkan mata. Ia tahu betul tidak ada ular di sana. Ia hanya melihat seorang gadis nakal yang baru saja membubarkan upacara paling membosankan di dunia dengan satu teriakan bohong.
"Ziva..." gumam Mahendra pelan, menyebut nama yang ia dengar dari bisik-bisik siswa tadi pagi. Sudut bibirnya terangkat sedikit. "Menarik. Benar-benar perusak suasana yang berisik."
Kini, lapangan SMA CAKRA BUANA kosong melompong dalam waktu kurang dari dua menit, menyisakan Pak Agus yang masih gemetaran di ruang guru dan Ziva yang sukses memulai misi bolosnya dengan cara yang sangat spektakuler.
Namun, Ziva tidak sadar bahwa sejak saat itu, sepasang mata Mahendra tidak akan pernah melepaskan pandangannya dari setiap gerak-geriknya. Posesivitas Mahendra mungkin berawal dari rasa penasaran pada si pembuat onar yang menggemaskan ini.