Di dunia di mana kekuatan kultivasi menentukan segalanya, di mana kemampuan dan kekuasaan menjadi ukuran keberhasilan, ada seorang pemuda yang namanya perlahan mulai menancapkan akarnya dan menimbulkan getaran di seluruh wilayah. Dia adalah Xiao Xuan—pria yang tenang, penuh perhitungan, dengan tatapan mata yang tajam yang bisa menilai setiap situasi dalam sekejap, namun menyimpan kelembutan dan perlindungan yang hanya terlihat bagi orang-orang yang dia sayangi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23.Riak di Balik Tirai yang Tenang
Kota Glory perlahan-lahan membalut lukanya. Setelah badai besar yang melumat perimeter luar mereda, ketenangan yang semu kembali merayap di sepanjang jalanan berbatu giok. Bagi Xiao Xuan, hari-hari pasca-perang ini berjalan dalam ritme yang teramat santai—sebuah kemewahan yang jarang dia dapatkan. Agenda utamanya saat ini hanyalah menikmati secangkir teh hangat di paviliun pribadi sembari menunggu pengumuman resmi penerimaan murid baru Akademi Shenglan yang akan dirilis dalam satu minggu ke depan.
Namun, di sudut lain kota, ketenangan Xiao Xuan adalah badai kerja keras bagi pihak lain.
**Kediaman Resmi Penguasa Kota**
Malam telah melarut, namun pilar-pilar perak di ruang kerja Penguasa Kota Ye Zong masih memantulkan cahaya lilin yang benderang. Demi mengeksekusi lima pilar strategi yang digagas oleh Xiao Xuan dalam pertemuan tempo hari, pria paruh baya itu tidak menyentuh tempat tidur selama beberapa malam berturut-turut. Jika Xiao Xuan berada di sana dan melihat kegigihan ini, dia mungkin akan terkekeh sarkas dan membatin bahwa bahkan seekor keledai di ladang pun tidak seharusnya dipaksa bekerja sekeras Penguasa Kota saat ini.
*Krieeek...*
Pintu kayu cendana yang berat itu terbuka perlahan tanpa menimbulkan suara yang mengejutkan. Ye Ziyun melangkah masuk dengan anggun, sepasang jemari lentiknya membawa nampan perak berisi semangkuk sup ginseng yang masih ngepulkan aroma hangat yang menenangkan.
"Ziyun? Ini sudah lewat tengah malam, mengapa kau belum beristirahat?" Ye Zong meletakkan kuas tintanya, mengurut pangkal hidungnya yang terasa lelah.
"Aku melihat lentera di ruang kerja Ayah masih menyala dari arah taman, jadi aku datang untuk memastikannya," Ye Ziyun meletakkan mangkuk sup itu di sudut meja, lalu merapikan jubah luar yang tersampir di bahu ayahnya dengan gerakan yang teramat lembut. "Meskipun urusan pemulihan kota itu krusial, Ayah juga harus menjaga kesehatan tubuh. Ini sup ginseng yang kuseduh sendiri, minumlah selagi hangat."
Melihat perhatian dari putri kecilnya, ketegangan di wajah tegas Ye Zong seketika mencair. Kehangatan yang tulus mengalir di dadanya.
"Ayah, apakah ada kendala besar yang terjadi dalam beberapa hari terakhir? Mengapa Ayah sampai mengabaikan waktu istirahat seperti ini?" tanya Ye Ziyun, matanya yang jernih menyiratkan kecemasan yang mendalam.
"Ada banyak hal yang harus ditata, namun semuanya adalah kabar baik bagi masa depan kota kita, kau tidak perlu cemas," Ye Zong menyesap sup ginseng tersebut. Bayangan tentang figur Xiao Xuan yang tenang namun mematikan saat mendominasi ruang dewan agung mendadak melintas di benaknya, memicu seulas senyum tipis di bibirnya.
Ye Zong meletakkan mangkuknya, lalu menatap putrinya dengan pandangan dewasa yang penuh arti. "Ziyun... bagaimana pandangan pribadimu terhadap Tuan Muda Xiao Xuan? Apakah kau... memiliki ketertarikan padanya?"
Pertanyaan yang teramat lugas itu seketika membuat tubuh Ye Ziyun menegang. Rona merah muda yang pekat langsung menjalar dari leher hingga ke sepasang pipinya yang mulus. "Ayah! Apa yang Ayah bicarakan? Aku tidak... aku hanya..."
Gadis itu menundukkan kepalanya, jemarinya meremas ujung lengan jubahnya dengan gugup, kehilangan seluruh kata-kata.
Melihat reaksi tersebut, Ye Zong terkekeh rendah. "Begitu rupanya. Selera putriku ternyata memang tidak sembarangan. Jangan khawatir, selama kau memiliki niat, Ayah dan Kakekmu akan membuka jalan terbaik untukmu. Aku bahkan sudah mengirim pesan rahasia kepada Wakil Kepala Sekolah Ye Sheng di Akademi Shenglan untuk menempatkanmu di kelas yang sama dengan Xiao Xuan jika saatnya tiba. Selama Ayahmu ini masih memegang otoritas, aku tidak akan membiarkan klan lain mendahului langkah kita."
Ye Zong berdiri, menepuk bahu putrinya dengan ekspresi yang beralih menjadi serius dan penuh perhitungan taktis. "Namun Ziyun, kau juga harus meningkatkan kewaspadaanmu terhadap gadis-gadis dari klan lain. Xiao Xuan terlalu bersinar dan luar biasa untuk diabaikan. Sainganmu kelak bukan hanya Shen Qingqiu dari Keluarga Suci; kau bahkan harus bersiap menghadapi manuver dari faksi-faksi besar lainnya. Jika kau hanya diam dan bersikap naif, kau akan tertinggal di belakang."
"Aku... aku mengerti, Ayah. Aku akan mengingatnya," bisik Ye Ziyun dengan suara yang hampir tenggelam. Tanpa berani menatap mata ayahnya lebih lama, gadis itu berbalik dan berlari keluar ruang kerja dengan jantung yang berdebu hebat dan wajah yang membara.
Di sisi lain kota, atmosfer yang hampir serupa sedang bergejolak di dalam kediaman utama Keluarga Suci.
Di dalam ruang diskusi yang tertutup rapat, aroma dupa gaharu menguar pekat. Seluruh jajaran tetua tingkat tinggi dari garis keturunan langsung duduk dengan sikap tegap, menanti kalimat pertama dari Patriark Shen Hong yang duduk di kursi kebesaran.
"Semuanya, mata-mata kita telah mengonfirmasi bahwa Tuan Muda Xiao Xuan akan memasuki Akademi Shenglan begitu gerbang akademik dibuka minggu depan," Shen Hong membuka suara, nadanya rendah namun sarat akan penekanan yang mutlak. "Oleh karena itu, agenda tunggal pertemuan kita hari ini adalah: mengerahkan seluruh sumber daya klan untuk mendukung cucu perempuanku, Shen Qingqiu, dalam memenangkan perhatian dan hati Tuan Muda Xiao Xuan."
Mendengar namanya disebut dalam konteks asmara di depan forum resmi klan, Shen Qingqiu yang sejak tadi duduk di sudut ruangan tidak lagi mampu menahan rasa malunya. Dengan wajah yang merah padam, gadis itu bangkit dan bergegas melangkah keluar ruang sidang sembari menutupi wajahnya dengan lengan jubah.
Melihat siluet gadis muda itu menghilang di balik pintu, para tetua klan tidak bisa menahan tawa rendah mereka yang bergemuruh. Sungguh seulas dinamika dari seorang gadis yang tengah jatuh hati!
"Guru Shen Xiu," Shen Hong mengalihkan pandangannya pada seorang wanita anggun di barisan depan. "Ambil posisi mengajar di Akademi Shenglan semester ini. Pastikan kau berada di sana untuk memberikan dukungan tersembunyi bagi Qingqiu jika diperlukan. Dan Shen Yue, kau juga akan masuk ke akademi yang sama. Tugasmu adalah mengawasi setiap pergerakan gadis lain di sekitar Xiao Xuan—terutama putri Penguasa Kota, Ye Ziyun. Laporkan setiap riak sekecil apa pun pada kakakmu."
Shen Hong mengelus jenggot berubannya, namun sorot matanya yang dewasa masih menyiratkan sedikit kegelisahan. Setelah menimbang dengan intuisi tajamnya, pria tua itu memutuskan untuk melangkah lebih jauh. Pada siang hari yang sama, dia mengadakan pertemuan empat mata yang teramat rahasia dengan Xiao Tian di sebuah restoran mewah milik faksi Keluarga Suci.
"Tetua Xiao Tian, sebuah kehormatan besar bagi orang tua ini atas kesediaan Anda untuk hadir memenuhi undangan singkatku," Shen Hong mengangkat cawan giok berisi arak spiritual kualitas tertinggi, lalu meneguknya hingga tuntas dalam satu tarikan napas sebagai bentuk penghormatan paling murni.
Xiao Tian yang duduk di seberangnya hanya tersenyum tipis, gestur tubuhnya santai namun tetap memancarkan wibawa seorang eksekutif puncak Keluarga Xiao. "Patriark Shen terlalu sungkan. Keluarga Suci dan Keluarga Xiao saat ini berada di atas perahu takdir yang sama. Terlebih lagi, Anda adalah salah satu sosok yang mendapat apresiasi khusus dari Tuan Muda kami. Bagaimana mungkin aku tidak menghormati undanganmu?"
"Aku tidak berani, tidak berani. Di masa depan, orang tua ini masih membutuhkan banyak bimbingan dan dukungan dari Tetua Xiao Tian," Shen Hong merendahkan suaranya, kembali mengisi cawan milik Xiao Tian dengan tangannya sendiri.
"Kukira, Patriark Shen tidak mungkin mengajakku duduk di ruangan sunyi ini hanya untuk sekadar menikmati arak dan kudapan sore," Xiao Tian menatap lurus ke dalam netra rubah tua itu dengan senyuman penuh arti. "Jika ada ganjalan di hatimu, bicaralah dengan lugas. Selama itu berada dalam batas kewenanganku, aku pasti akan memberikan jalan. Namun jika itu melampaui batasku, aku yakin pria dewasa sekelas Patriark Shen pasti bisa memahami posisiku."
"Luar biasa! Lurus dan tanpa basa-basi! Aku selalu menyukai karakter tegas Anda, Tetua Xiao Tian," Shen Hong menepuk meja dengan pelan, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Ini menyangkut urusan pribadi yang jika ditarik lebih jauh, juga berdampak pada masa depan aliansi kita. Aku memperhatikan sebuah anomali kecil pada diri Tuan Muda Xiao Xuan... dia tampaknya terlalu dingin dan kurang memiliki ketertarikan pada pesona wanita. Ini adalah perkara serius! Di dunia kultivasi kita, kegagalan untuk meneruskan garis keturunan adalah salah satu bentuk kelalaian terbesar bagi sebuah klan agung. Kebetulan, cucu perempuanku, Shen Qingqiu, memiliki rasa kagum yang teramat mendalam pada Tuan Muda. Bakat kultivasi dan paras wajahnya pun tidak akan memalukan jika bersanding di sisi beliau. Oleh karena itu, aku ingin memohon bantuan dari Tetua Xiao Tian untuk memberikan sedikit dorongan atau rekomendasi di telinga Tuan Muda jika momentumnya tepat. Keluarga Suci pasti akan mengingat kebaikan ini dengan balasan yang setimpal."
Mendengar pemaparan itu, Xiao Tian sempat tertegun sejenak sebelum akhirnya menghela napas panjang, mengecap rasa pusing yang sama yang selama ini menggelayuti kepalanya. Masalah asmara Xiao Xuan memang menjadi teka-teki tersendiri bagi internal klan Xiao. Di Kota Glory ini, tidak banyak gadis yang memiliki kualifikasi spiritual maupun kedudukan sosial yang layak untuk bersanding dengan tuannya. Shen Qingqiu sejujurnya memang telah masuk ke dalam daftar kandidat potensial yang diam-diam dia awasi.
"Pandangan Patriark Shen tidak salah. Mengenai perkara ini... aku berada di pihak yang sama denganmu," ucap Xiao Tian akhirnya, memberikan lampu hijau yang teramat berharga bagi Shen Hong.
Sementara pembicaraan rahasia itu berlangsung, dinamika di bawah permukaan Kota Glory kian memanas secara senyap. Keluarga Angin-Salju dan Keluarga Suci—dua raksasa klan puncak—diam-diam mulai menggelontorkan sejumlah besar koin emas spiritual dan permata kuno untuk menyuap para pelayan serta penjaga gerbang luar Kediaman Utama Keluarga Xiao. Tujuan mereka hanya satu: menggali informasi sekecil apa pun mengenai hobi, makanan favorit, hingga preferensi wanita yang disukai oleh Xiao Xuan demi mencuri start dalam memenangkan hati sang pemuda.
Pihak keamanan internal Keluarga Xiao yang mendeteksi pergerakan ini memilih untuk menutup sebelah mata atas perintah Xiao Tian, membiarkan aliran uang tersebut masuk ke kantong para pengawal bawah selama tidak menyentuh area rahasia klan.
Dengan demikian, sebuah konfrontasi tak kasatmata yang sarat akan intrik asmara, gengsi politik, dan masa depan kekuasaan resmi dimulai di bawah langit Kota Glory yang tenang. Sebuah panggung catur baru telah digelar, dan setiap faksi sedang mengasah bidak tercantik mereka untuk mendekati sang singa muda.