Hidup Angel yang semula tenang berubah menjadi menakutkan setelah melihat sesuatu yang tak seharusnya. Setiap malam, tidur nyenyaknya harus terganggu oleh mimpi-mimpi aneh yang membuatnya terbangun tengah malam. Anehnya, mimpi itu hilang setelah ia bertemu William, generasi ke-3 dari Xun Yi Group tempat ia bersekolah dan bekerja. Sebagai tokoh utama di mimpinya, apakah ini ada kaitannya dengan berakhirnya mimpi yang ia alami selama ini? Meskipun William tidak melakukan apapun terhadapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Li Qiqiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
~ Kehadiranmu di hidupku adalah hal paling tiba-tiba yang Tuhan berikan padaku. ~
Butuh waktu lama untuk menenangkan Angel, kehadirannya yang tiba-tiba membuat Angel sedikit kewalahan mengontrol emosinya. William merasa hal itu sangat wajar, karenanya ia menerima semua perlakuan Angel terhadapnya.
William mengangkat Angel yang tertidur di sofa ruang tamu menuju kamarnya. Meletakkan Angel di kasur dengan perlahan agar tak menganggu tidurnya. Lalu menyelimutinya dan mencium keningnya.
Netranya mengelilingi kamar, memandang satu persatu bingkai berisi potret Angel sedari bayi hingga sebesar sekarang. Gadis cantik dengan mata bulat, bibir tipis, serta hidung yang tak terlalu bangir. Semua seolah terasa pas di wajah mungilnya. Kulitnya yang putih bak porselen menambah kesan malaikat yang sesuai dengan namanya.
Baru kali ini William begitu memuja makhluk ciptaan Tuhan yang begitu indah nan sempurna. Dan mata bulat itulah yang berhasil memerangkapnya dalam pusara keinginan tanpa akhir. Keinginan untuk terus berada di samping Angel, keinginan untuk memilikinya, dan keinginan untuk terus melindunginya.
William menatap wajah ayu Angel yang terlelap layaknya anak kecil. Tangannya mengelus puncak kepala Angel perlahan hingga sesekali mencipta lenguhan kecil dari bibir Angel yang membuat William tersenyum tipis.
William mati-matian menahan diri untuk tidak langsung menerjang Angel. Hanya sesekali ia mencium dahi Angel karena gemas.
Tanpa sadar, tangan William yang semula berada di rambut, perlahan turun membelai dahi, mata, hidung, dan bibir. Daging tipis berwarna merah muda, William sungguh penasaran bagaimana rasanya. Apakah manis seperti apel? Ataukah manis dengan sedikit asam seperti buah leci? Entah apapun itu sungguh menggoda iman William untuk menabrak batasan yang ia tetapkan.
Angel begitu terlelap hingga ia tak merasa terganggu dengan jempol William yang sedari tadi mengelus bibir miliknya. William yang semula duduk dengan tegak, perlahan mencondongkan badannya, setengah menghimpit badan Angel. Tangannya yang bebas menahan beban tubuhnya agar tidak ambruk di atas Angel. William medekatkan kepala, tatapan matanya mengarah intense ke bibir mungil Angel.
Berhasil.
Ia mendaratkan bibirnya ke atas bibir Angel. Ia berhasil menerobos batasan yang ia tetapkan untuk melindungi Angel atas dirinya. Bibirnya membelai lembut bibir Angel, melumatnya perlahan dengan penuh perasaan.
Jam di dinding menunjukkan pukul 2, sinar mentari masuk melalui celah-celah ventilasi dan jendela kaca. AC yang dihidupkan sedari tadi seharusnya mampu membuat ruangan menjadi sejuk. Namun tidak bagi William. Lumatan-lumatan yang ia berikan pada Angel malah membuatnya semakin kepanasan.
Sangat tidak aman.
"Ahh...." Angel yang masih tertidur tanpa sadar mengeluarkan lenguhan kecil di sela ciuman membuat William semakin bersemangat dan menerobos masuk untuk menyapa lebih dalam.
Ini tidak benar... Ucap William dalam hatinya.
Ia khawatir Angel akan terbangun dan melihatnya melakukan perbuatan tak senonoh ini, lalu tak mau bertemu dengannya.
Saat William memutuskan untuk menarik diri, Angel yang masih dalam keadaan tak sadar malah menyambut ciuman William. Ia membuka mulutnya sedikit, mempersilahkan lidah William untuk masuk dan mengabsen yang ada di dalamnya.
Ciumannya semakin dalam dan penuh hasrat, lidah William membimbing milik Angel untuk mengikuti tempo yang William ciptakan, mencipta pertarungan sengit nan epik disertai bunyi kecipak air liur mereka yang menyatu.
Wajah William memerah, dadanya naik turun, serta bagian dirinya yang lain mulai meminta lebih. Dan Angel masih semangat dalam permainan tanpa sadar ini. Sementara William dengan senang hati mengikutinya.
Tangan William yang mulai bergerak, perlahan menyingkap pakaian milik Angel. Dinginnya AC langsung menyerang kulit putih polos milik Angel dan membuatnya perlahan membuka matanya.
Ternyata kenikmatan yang sedari tadi ia rasakan berasal dari dunia nyata? Bukan alam mimpi?
Seketika Angel memegang tangan William, lalu menggigit bibir William.
"Aw!" kaget William, sontak ia menjauhkan badannya dari Angel.
"Kau..." Angel berkata lirih, ia menatap William penuh kecewa.
"Kau berkata akan melindungiku bahkan dari dirimu sendiri?" Angel menarik selimut, menenggelamkan dirinya secara penuh.
"Maafkan aku... Awalnya aku hanya ingin mengecup bibirmu. Namun, bibirmu terasa begitu manis dan aku tak bisa menahan diriku. Kumohon maafkan aku Angel," ucap William memohon.
Suara tangis Angel yang teredam oleh selimut menjelaskan betapa ia marah dan kecewanya pada William. Tak tinggal diam, William mencoba memeluknya sambil merapalkan kata maaf berkali-kali. Namun Angel mengabaikannya.
William tahu ia salah. Dan ia akan melakukan apapun agar Angel memaafkannya.
***
Entah sudah berapa lama mereka berada dalam posisi tak mengenakkan. Samar-samar suara tangis Angel masih terdengar meski teredam selimut yang melingkupinya. Sementara William sudah berada di atas kasur dan memeluk Angel yang seakan pasrah pada apa yang dilakukan William terhadapnya.
"Sampai kapan kau akan seperti ini Angel? Hari mulai gelap dan kau belum mengisi perutmu sama sekali. Kumohon, setidaknya makanlah sesuatu." William bangkit dari rebahnya, keluar untuk menemui Dimas yang ia perintahkan untuk membeli makanan.
Tak lama setelah William menghilang, Angel menyingkap selimut, ia bangun lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Ia menatap dirinya melalui cermin, pandangannya jatuh pada bibir yang beberapa waktu lalu melakukan ciuman seperti di film-film yang ia tonton.
Jemarinya menyentuh bibirnya perlahan. "Hebat sekali kau Angel, akhirnya apa yang ada dalam mimpimu menjadi kenyataan. Ciuman yang hebat dan penuh gairah," lirihnya pada diri sendiri tersirat nada penuh penyesalan.
Meskipun ia tak menyangka kejadiannya akan secepat ini, namun ia sudah menduganya sejak ia tidur dalam dekapan pria itu sepanjang malam. Dan baru saja ia menyadari bahwa sejak bertemu dengan William, ia tidak lagi bermimpi aneh hingga membuatnya terbangun dini hari.
Sebegitu berpengaruhnya Pak William terhadap mimpi itu? tanyanya dalam hati.
Sebenarnya Angel tidak berani menduga-duga, tapi faktanya memang demikian. Dan baru saja ia merasakan ciuman itu, persis seperti yang impikan selama ini.
Angel membasuh wajahnya, mencoba menyadarkan dirinya untuk tidak berpikir yang di luar jangkauannya. Angel tidak berani membayangkan apapun.
***
Setelah merapikan dirinya, Angel ke ruang makan ia melihat William sudah menunggunya dengan beberapa makanan yang sudah ia siapkan.
"Makanlah, ini semua makanan kesukaanmu." William menyodorkan piring yang sudah terisi nasi ke depan Angel.
Ia mengangguk sambil mengulas senyum kecil. "Terima kasih."
Mereka makan dalam diam. Tak ada yang memulai pembicaraan, William yang tak henti menatap Angel menyuapkan makannya dan Angel yang menyadari bahwa ia tengah diperhatikan.
Untuk beberapa saat, Angel mencoba tak peduli. Ia dengan hikmat menikamati hidangan yang ada di depannya. Sesekali bibirnya akan menyunggingkan senyum saat ia mengunyah makanannya.
Namun ia tak tahan juga. "Saya akan menganggap ciuman tadi tak pernah terjadi..." ada jeda yang tercipta. Angel bingung bagaimana mengatakannya dengan tanpa membuat William marah. "Saya tahu bapak hanya terbawa suasana sesaat. Dan saya harap kita tak perlu bertemu lagi di masa depan."
Sendok yang William pegang berhenti beberapa senti di depannya. Ia menatap Angel tak percaya. Bagaimana bisa ciuman penuh gairah tadi dianggap tak pernah terjadi?
"Aku khawatir kau akan kecewa, bahwa aku tidak akan bisa memenuhi harapanmu Angel," sahut William berusaha tenang.
"Saya sudah memiliki orang lain di hati saya, Pak. Jauh sebelum pertemuan kita saat itu."
"Kau pikir aku peduli, Angel? Lagipula kalian belum bersama. Jadi tak masalah jika aku mengejarmu."
Di tengah perbincangan yang semakin panas itu, tiba-tiba terdengar suara pintu yang dibuka. Hanya dirinya dan Darren yang tahu pin rumah ini. Jangan-jangan....
Darren muncul dengan raut wajahnya yang marah. Matanya menatap tajam sepupunya.
***