Balas dendam adalah hidangan paling nikmat, tapi juga yang paling memabukkan.
Lima tahun lalu, Zara dijual, dihina, dan diinjak harga dirinya oleh kerabat sendiri. Diselamatkan sekaligus ditempa oleh Garda, ia berubah menjadi Zevana Ardhani—wanita cerdas, berkuasa, dingin, dan mematikan yang hidupnya hanya punya satu tujuan: Balas Dendam.
Namun segalanya goyah saat Arka hadir. Pemuda tulus dan polos—anak musuh terbesarnya—mencintainya tanpa syarat, perlahan mencairkan hati beku yang ia bangun bertahun-tahun.
Di tengah pusaran kebencian yang memberi kepuasan sesaat layaknya efek dopamin… Zevana dihadapkan pada pilihan terberat yaitu antara terus memburu kehancuran, atau berani berhenti demi cinta yang menawarkan kesembuhan sejati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Key Kastara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Watak!
"I-ini? Maksudnya investasi tanpa bagi hasil?" gagap Reno dengan netra membulat.
"Ya? Apa nominalnya kurang?" tanya Zevana sembari menggulir layarnya.
"Ya ampun! Bukan gitu–nggak, maksudnya apa Anda yakin?" tanya Reno dengan wajah terkejut.
"Saya sudah melihat latar belakang perusahaan dan kinerja Pak Reno beberapa hari terakhir. Saya merasa yakin kita bisa bekerja sama. Jadi, silakan baca dulu persyaratannya, siapa tahu kita bisa bekerja sama dengan baik," desak Zevana masih dengan senyuman khasnya.
"Kemitraan, tanpa bagi hasil perusahaan, hubungan politik, dan—" Reno menggantung ucapannya lalu menatap Zevana dengan telinga memerah.
"Apa ini maksudnya pertunangan politik seperti itu?" tanya Reno dengan ekspresi tak percaya.
Zevana mengangguk lalu melebarkan senyum hingga kedua matanya menyipit.
"A-apa Anda tertarik sama saya?" tanya Reno percaya diri.
"Apa terlihat sekali?" tanya balik Zevana.
Grep!
Tanpa diduga Reno langsung meraih lalu menggenggam tangan Zevana.
"Sudah saya duga! Sepertinya kita memang serasi!" seru Reno semringah.
"I-iya. Saya pikir ini adalah opsi tambahan, tapi jika Anda setuju, kita akan mulai saling menandatangani," gagap Zevana sembari mencoba melepaskan genggaman Reno yang semakin kuat.
"Baik, tinggal ditandatangani saja kan?" tanya Reno penuh semangat.
Zevana mengangguk lalu menarik diri. "Silakan dibaca dulu, saya sepertinya harus ke toilet sebentar," ucap Zevana undur diri.
Dengan langkah tergesa Zevana menuju toilet.
"Ck! Sial, menjijikkan, dasar orang gila. Bikin eneg saja," dengus Zevana setelah tiba di depan wastafel toilet.
Ia pun membasuh lengannya cukup lama, menggosok-gosokkan kedua tangannya hingga busa hampir memenuhi bak wastafel.
"Hah... alasan apa biar cepat pergi ya," desahnya frustrasi.
Membayangkan pertemuannya dengan orang yang pernah menjadi traumanya bukanlah hal mudah, apalagi ia harus mengajukan hal yang konyol dan nekat seperti kemitraan dan pertunangan politik. Itu terlalu berlebihan, tapi Zevana tetap melakukannya demi pembalasan dendam yang total.
Sepuluh menit terasa belum cukup lama bagi Zevana yang sejujurnya enggan bertemu tatap dengan Reno. Namun bagi Reno itu terlalu lama hingga ia menyusul Zevana ke depan toilet wanita.
"Ya ampun! Pak Reno?" seru Zevana terkejut.
"Maaf, saya khawatir Bu Zevana kenapa-napa, jadi saya menyusul," ungkap Reno seadanya.
Zevana pun dengan canggung berjalan bersama menuju meja mereka. Di atas meja sudah tersaji dua gelas besar es kopi dan kue cokelat pesanan Zevana.
"Minum dulu, Bu," tawar Reno sembari menyodorkan gelas ke hadapan Zevana.
"Di sini, sudah saya tandatangani. Tinggal bagian Bu Zevana saja." Reno menyodorkan berkas yang sudah dibubuhi tanda tangannya dengan antusias.
"Lucu sekali, dia bahkan tidak membaca seluruh persyaratannya," batin Zevana sembari mengambil berkas dari tangan Reno lalu menandatanganinya.
"Setelah ini kita mau ke mana?" tanya Reno seolah mereka resmi memiliki hubungan.
"Ah, maaf. Rasanya canggung kalau terlalu formal. Aku panggil nama saja ya? Setelah ini kan kita akan resmi bertunangan. Aku juga harus mengenalkan kamu ke orang tuaku secara formal," usul Reno.
"I-iya." Zevana mengalihkan pandangan lalu menarik lengannya yang lagi-lagi digenggam oleh Reno.
Mengalihkan perhatian, ia pun beralih pada gelas es kopi yang mulai mencair. Namun belum sempat es kopi itu diteguknya, tiba-tiba seseorang menepisnya hingga...
Prang!
Gelas terpental hingga pecah dan berserakan di atas lantai.
"Apa-apaan ini!" teriak Reno murka.
Zevana mematung saking terkejutnya, lalu menoleh pada orang yang menepis gelasnya.
"Pak Arka?" tanya Zevana kikuk.
"Ma-maaf, Bu, saya—"
Brak!
Reno menghentakkan meja lalu meraih kerah baju Arka.
"Bajingan! Apa maksudmu?" tanya Reno naik pitam.
"Harusnya saya yang bertanya. Apa yang Anda masukkan ke minuman Bu Zevana? Kamu pikir saya tidak melihat? Di sini juga ada CCTV!" balas Arka sembari menepis cengkeraman Reno yang langsung terhuyung.
Mendengar hal itu, Zevana menoleh kepada Reno yang langsung tergagap.
"I-itu, itu cuma butiran cokelat! Choco Granule! Dasar bodoh!" kilah Reno membuat suasana kafe tiba-tiba ricuh oleh orang yang langsung berkerumun sambil berbisik-bisik.
Beberapa orang bahkan mulai memotret, membuat Arka spontan menutupi wajah Zevana dengan buku menu.
"Cukup. Arka, sepertinya kamu salah paham. Sebaiknya kita pergi dulu, saya malu," ucap Zevana sembari menarik Arka.
"Dan, Reno. Kita perlu bicara nanti," tegas Zevana.
"Ze—" Reno mencoba menarik lengan Zevana namun Arka menatapnya tajam.
"Saya agak lelah dan kurang enak badan. Kita bahas lagi nanti ya?" bujuk Zevana membuat Reno mau tak mau melepaskannya.
"Sialan! Asal lu tahu, dia itu sekarang calon tunangan Gua!" teriak Reno membuat Arka seketika menoleh ke arah Reno dan Zevana secara bergantian.
"Saya bisa jelaskan. Kita ke kantor dulu sekarang," desak Zevana sembari mengemas laptop dan tasnya lalu tergesa meninggalkan kafe tanpa melepaskan cengkeramannya dari tangan Arka yang ia seret paksa ke tempat parkir.
Sepanjang perjalanan Zevana bungkam. Sementara Arka yang kini membawa mobil Zevana, terlihat khawatir hingga berkali-kali melirik ke arah Zevana yang duduk di sampingnya.
"Sa-saya tidak berniat mengikuti Bu Zevana. Tapi tadi tiba-tiba Pak Bani meminta saya menyusul Bu Zevana karena ada hal mendesak yang harus dirapatkan, katanya. Jadi saya langsung naik taksi mengikuti mobil Bu Zevana, karena telepon saya tidak diangkat," terang Arka penuh penyesalan.