NovelToon NovelToon
Bukan Menantu Pilihan Umi

Bukan Menantu Pilihan Umi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Perjodohan
Popularitas:466
Nilai: 5
Nama Author: Mrs. Fmz

Apakah selembar kain jilbab cukup untuk menghapus masa lalu yang dianggap cacat?
Bagi Hana, pernikahan adalah gerbang lembaran suci. Namun, kenyataan menamparnya begitu menginjakkan kaki di kediaman suami. Sebagai wanita modern, ia dinilai miskin ilmu agama dan tidak bernasab terhormat. Sang Umi pun menganggapnya sebagai perusak masa depan putra kesayangan.
Kini, Hana harus menghadapi penolakan dingin dan upaya mertua mengembalikan kekasih lama suaminya. Ia hanya ingin bertahan demi membuktikan keikhlasan berbenah diri.
Jika gagal, Hana akan kehilangan pria tercinta sekaligus merelakan kesehatan jiwanya hancur. Di tengah jepitan konflik, sang suami dipaksa memilih antara bakti orang tua atau melindungi belahan jiwanya.
Akankah ketulusan Hana melunakkan kerasnya hati sang Umi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Ujian Mengaji Yang Sengaja Diatur Umi

Ujian mengaji yang sengaja diatur Umi Kalsum mendadak diumumkan lewat pengeras suara musala pada malam sebelum Hana memutuskan pergi meninggalkan pondok pesantren secara sepihak. Pengumuman mendadak itu seketika memicu kepanikan luar biasa di kalangan santriwati senior yang tahu bahwa Hana tidak memiliki latar belakang pendidikan surau yang kuat laksana Sarah. Langkah kaki Hana terhenti tepat di depan serambi utama sewaktu Umi Kalsum yang duduk di kursi roda memandangnya dengan sorot mata meremehkan yang sangat tajam. Di samping wanita tua itu, Sarah sudah berdiri anggun sambil mendekap selembar kitab suci berbalut kain sutra hijau tua dengan senyuman penuh kepalsuan.

"Seorang istri ustaz harus mampu memimpin simakan hafalan para santriwati besok pagi, atau kamu memang tidak pantas menyandang gelar menantu di rumah ini," ujar Umi Kalsum dengan suara bariton yang berat.

Hana mengeratkan pegangan pada nampan kayu yang ia bawa, mencoba menahan gejolak amarah yang mendadak membakar dadanya. "Umi, semenjak awal pernikahan saya sudah jujur mengenai keterbatasan ilmu agama saya, mengapa ujian umum ini diadakan secara mendadak?"

"Jika kamu merasa keberatan dengan tradisi mulia keluarga kami, silakan letakkan kembali jilbab panjangmu dan pergilah ke kota asalmu," sahut Sarah memotong percakapan dengan nada menyindir.

Pernyataan lugas dari Sarah laksana hantaman badai yang meruntuhkan sisa sisa kesabaran Hana yang selama ini ia rawat di sudut sajadah. Hana memandangi sekeliling halaman pondok yang mulai dipadati oleh ratusan pasang mata santriwati yang menatapnya penuh rasa bersalah sekaligus penasaran. Tekanan sosial yang diciptakan oleh sang mertua sengaja dirancang untuk mempermalukan dirinya secara terbuka sebelum berkas perceraian resmi diajukan ke pengadilan kota. Tanpa membalas perkataan wanita itu lagi, Hana membalikkan tubuh lalu melangkah cepat menuju kamar pengantinnya yang terasa kian asing dan mencekam.

Di dalam kamar yang sepi, Hana langsung bersujud di atas lantai ubin yang dingin laksana es, membiarkan air mata duka mengalir tanpa sanggup ia bendung lagi. Ia menyadari bahwa jebakan yang dibuat oleh Umi Kalsum bukan sekadar ujian kemampuan melafalkan ayat suci, melainkan sebuah skenario halus untuk menjatuhkan harga diri keluarganya. Rasa cemas kian mencekik rongga dadanya sewaktu ia memandangi tumpukan kitab suci yang tersusun rapi di atas meja kayu jati dekat ranjang. Waktu yang tersisa hanya beberapa jam sebelum fajar tiba, sementara lidahnya belum sepenuhnya fasih melafalkan kaidah hukum bacaan yang rumit.

Pintu kamar mendadak terbuka perlahan, menampilkan sosok Azzam yang masuk dengan langkah lunglai dan wajah yang tampak sangat kusut penuh beban pikiran. Azzam mendekati istrinya yang masih tertelungkup, lalu duduk berlutut di samping tubuh Hana dengan memancarkan aura kesedihan yang mendalam.

"Hana, bangkitlah, saya akan menemanimu belajar memahami setiap kaidah bacaan itu hingga fajar menyingsing esok pagi," bisik Azzam seraya mengulurkan tangannya yang gemetar.

Hana menepis jemari suaminya secara perlahan, kemudian bangkit berdiri sambil mengusap sisa air mata yang membasahi pipinya yang pucat. "Bantuan yang Anda tawarkan sekarang terasa sangat hambar, Ustaz Azzam, setelah Anda membiarkan ibu Anda menghina kekurangan saya di depan umum."

"Saya tidak bermaksud mengabaikan perasaanmu, Hana, namun posisi saya sebagai anak kandung sekaligus pemimpin pondok ini sungguh berada di ujung dilema yang kejam," rintih Azzam dengan tatapan mata yang hancur.

"Dilema Anda selalu mengorbankan kehormatan saya sebagai istri sah, maka biarkan saya menghadapi ujian zalim ini dengan cara saya sendiri," tegas Hana dengan suara yang bergetar.

Keteguhan sikap Hana membuat Azzam terdiam seribu bahasa, merasakan perih yang teramat dalam akibat jarak batin yang kian membentang lebar di antara mereka. Azzam akhirnya memilih duduk di sudut ruangan, mengawasi istrinya yang mulai membuka lembaran kitab suci dengan jemari yang masih gemetar hebat menahan tekanan psikologis. Sepanjang malam yang sunyi, hanya terdengar suara lirih Hana yang mengeja huruf demi huruf suci secara berulang kali demi mengejar kesempurnaan hukum tajwid. Udara malam yang menusuk tulang seolah menjadi saksi bisu atas perjuangan seorang wanita kota yang sedang berjuang mempertahankan martabat dirinya dari kepungan fitnah kaum pesantren.

Ketika fajar menyembul di balik ufuk timur, pelataran utama pondok pesantren sudah dipadati oleh ratusan santriwati yang duduk bersila membentuk lingkaran besar. Umi Kalsum berada di barisan terdepan bersama para pengurus senior yayasan, siap bertindak sebagai dewan penguji yang akan menentukan nasib kehormatan Hana. Sarah duduk di sebelah kanan Umi Kalsum dengan wajah penuh percaya diri, memegang sebuah buku catatan kecil untuk mencatat setiap kesalahan pelafalan yang mungkin dilakukan oleh rivalnya. Kebisingan suara bisikan para santriwati mendadak reda sewaktu Hana melangkah keluar dari koridor asrama dengan mengenakan gaun muslimah hitam yang berwibawa.

Hana berjalan dengan kepala tegak, menatap lurus ke arah mimbar kayu tempat penguji berada tanpa menunjukkan rasa takut sedikit pun di wajah ayunya. Azzam berjalan beberapa langkah di belakangnya, bertindak sebagai saksi bisu yang dadanya terus bergemuruh oleh rasa khawatir yang luar biasa atas keselamatan mental sang istri. Hana mengambil tempat duduk di tengah pelataran, berhadapan langsung dengan sorot mata tajam Umi Kalsum yang tampak tidak sabar untuk memulai persidangan spiritual tersebut.

"Mulailah membaca bagian surat yang telah ditentukan oleh Sarah, dan pastikan tidak ada satu pun kesalahan dalam hukum mad yang kamu lafalkan," perintah Umi Kalsum penuh ketegasan yang dingin.

Hana menarik napas panjang, membuka kitab suci di pangkuannya lalu mulai melantunkan bait bait ayat suci dengan suara yang merdu namun sarat akan kegetiran batin. Pada beberapa ayat pertama, pelafalan Hana terdengar sangat lancar dan fasih hingga membuat beberapa pengurus senior mengangguk manggut kagum akan kemampuannya. Namun, ketika memasuki bagian hukum bacaan yang rumit, Sarah tiba tiba mengangkat tangannya tinggi tinggi guna memotong jalannya simakan hafalan tersebut.

"Berhenti, pelafalan huruf luar yang kamu suarakan barusan jelas jelas salah dan bisa mengubah makna suci dari ayat tersebut," seru Sarah dengan nada suara yang sengaja dikeras keraskan agar didengar seluruh hadirin.

Umi Kalsum langsung memukulkan tongkat kayunya ke lantai paving block dengan keras, memandang Hana dengan raut muka yang dipenuhi kemarahan yang meluap. "Sudah Umi duga sejak awal, wanita kota yang dibesarkan dalam lingkungan modern tidak akan pernah mampu menjaga kesucian tradisi hafalan pondok kita ini."

"Saya hanya melakukan satu kesalahan kecil karena tekanan situasi yang tidak adil ini, Umi, mengapa hal itu dijadikan dasar untuk menghakimi seluruh hidup saya?" bela Hana dengan mata yang mulai berkaca kaca.

"Kesalahan sekecil apa pun dalam urusan kitab suci adalah bukti nyata bahwa kamu tidak memiliki berkah untuk menjadi bagian dari keluarga suci ini," bentak Umi Kalsum tanpa mempedulikan perasaan menantunya lagi.

Hantaman kata kata yang kejam dari sang mertua menjadi titik balik yang menghancurkan seluruh sisa rasa hormat Hana terhadap institusi pesantren tersebut. Di tengah riuhnya bisikan para santri yang menyudutkan dirinya, Hana bangkit berdiri secara perlahan lalu menutup kitab suci di pangkuannya dengan sebuah gerakan yang sangat tegas. Ia memandangi Umi Kalsum, Sarah, dan kemudian beralih kepada Azzam yang hanya bisa terpaku membisu di tempat duduknya tanpa mampu memberikan pembelaan nyata. Wanita muda itu menyadari bahwa ruang pemaafan telah tertutup rapat, dan satu satunya jalan keselamatan adalah melangkah pergi sejauh mungkin dari tempat yang beracun ini.

Hana membalikkan tubuhnya membelakangi mimbar ujian, melangkah mantap menuju gerbang luar tanpa memperdulikan panggilan histeris dari beberapa santriwati yang bersimpati padanya. Azzam akhirnya tersadar dari keterpakuannya, lalu berlari cepat mengejar langkah kaki istrinya yang kian menjauh membelah kabut pagi yang mulai menipis di jalan desa. Penolakan yang akhirnya menjelma kata kata kasar dari mulut sang ibu terus terngiang di dalam kepala sang ustaz muda, melahirkan sebuah penyesalan terbesar dalam sejarah hidupnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!