NovelToon NovelToon
The Professor’S Karma

The Professor’S Karma

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:11.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

​"Jangan berharap terlalu tinggi, Aruna. Mahasiswi seperti kamu hanya akan menjadi sampah di industri ini."

​Kata-kata tajam dari Baskara Dirgantara, dosen jenius yang berhati es, masih terngiang jelas di telinga Aruna. Di London, Baskara adalah hakim yang menghancurkan kepercayaan dirinya. Namun, sebuah tragedi besar memaksa Aruna kembali ke tanah air dengan rahasia yang ia simpan rapat-rapat, jantungnya sedang perlahan berhenti berdetak.

​4 Tahun Kemudian, Aruna bukan lagi mahasiswi yang bisa diremehkan. Ia adalah pewaris tunggal yang siap mengambil alih kekuasaan. Namun, tepat saat ia mencoba berdiri tegak, sosok Baskara kembali muncul. Bukan lagi sebagai pengajar, melainkan sebagai pria yang mendadak muncul di setiap sudut hidupnya mengawasi setiap geraknya, memonitor setiap helaan napasnya, dan menunjukkan dominasi yang tidak masuk akal.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 ​Goyahnya Sang Pengendali

Aroma bubur ayam dengan taburan daun bawang dan kecap asin yang gurih perlahan memenuhi sudut ruang perawatan VVIP. Aruna duduk bersandar di ranjangnya dengan draf laporan keuangan sekunder Prawijaya Group yang terbuka di pangkuannya. Meskipun fisiknya belum pulih seratus persen, sorot matanya yang bening telah kembali memancarkan ketegasan profesional yang mutlak.

​Tok, tok.

​Ketukan konstan di pintu kayu ek itu terdengar tepat pukul delapan pagi. Sebelum Aruna sempat menyahut, pintu terbuka dan sosok Baskara Dirgantara melangkah masuk. Pria itu mengenakan setelan jas abu-abu gelap tanpa dasi, memancarkan aura dominasi mutlak seperti biasa. Namun, ada sesuatu yang berbeda di tangan kirinya sebuah keranjang buah premium berhiaskan pita satin besar berwarna merah muda lembut.

​Aruna melirik keranjang buah dengan pita merah muda menyala itu, lalu beralih menatap wajah kaku Baskara yang sekeras pahatan marmer. Kontras visual tersebut terlihat begitu janggal sekaligus menggelitik.

​"Selamat pagi, Nona Aruna," ujar Baskara, suaranya mengalun bariton dan berat, berusaha menjaga intonasi sedingin mungkin demi mempertahankan topeng esnya.

​"Selamat pagi, Pak Baskara," sahut Aruna datar, wajahnya tetap menunjukkan ekspresi biasa saja tanpa riak emosi. "Pita keranjang buah Anda... cukup menarik untuk ukuran seorang CEO Dirgantara Group."

​Mendengar celetukan santai Aruna, gerakan Baskara yang hendak meletakkan keranjang tersebut di atas nakas mendadak berhenti selama satu detik penuh. Detik berikutnya, sang CEO legendaris yang terkenal tak pernah gentar di depan draf tuntutan hukum miliaran rupiah itu menunjukkan reaksi yang teramat langka.

​Ia berdeham pendek, memalingkan wajahnya sedikit ke arah jendela untuk menyembunyikan semburat merah samar yang tiba-tiba merayap di sekitar cuping telinganya. "Rian yang memilihkan pitanya. Aku tidak punya waktu untuk memeriksa draf estetika bungkusan seperti ini," kilah Baskara cepat, suaranya naik setengah oktav dari biasanya sebuah tanda salah tingkah yang sangat kentara bagi siapa pun yang jeli memperhatikannya.

​Aruna hanya mengangguk pelan tanpa minat, kembali membalik halaman dokumen di pangkuannya seolah reaksi langka Baskara barusan tidak memiliki pengaruh apa pun pada batinnya. "Begitu. Sampaikan terima kasih saya pada Rian."

​Baskara menarik kursi di sisi ranjang, duduk dengan punggung yang kaku dan tegak. Tatapannya tertuju pada draf makanan rumah sakit di atas meja yang baru disentuh setengahnya oleh Aruna. Sesuatu di dalam batinnya kembali bergejolak, mengingatkannya pada pergulatan batin semalam tentang perasaannya yang kian membingungkan.

​"Kenapa buburmu tidak dihabiskan?" tanya Baskara, mencoba mengalihkan pembicaraan kembali ke draf kendalinya yang dingin. "Kondisi fisikmu tidak akan membaik jika kau terus keras kepala mengabaikan nutrisi medis."

​"Rasanya terlalu hambar, Pak Baskara. Lidah saya belum sepenuhnya berfungsi dengan baik," jawab Aruna tanpa mendongak dari berkasnya, nada suaranya mengalun konstan dan berjarak, seolah ada dinding kaca tebal yang membatasi eksistensi mereka.

​Baskara terdiam sejenak. Tanpa diduga oleh Aruna, pria itu mengulurkan tangan kokohnya, meraih mangkuk bubur tersebut beserta sendoknya. Baskara mengaduk bubur itu dengan gerakan yang teratur, lalu mengambil satu suapan kecil. Ia mengarahkan sendok itu ke depan bibir Aruna.

​"Buka mulutmu. Sedikit saja," perintah Baskara rendah, matanya menatap lurus pada sepasang netra bening Aruna dengan intensitas emosional yang mendalam namun tertahan.

​Jarak mereka yang mendadak terkikis membuat atmosfer di dalam kamar VVIP berubah menjadi begitu intim. Debar aneh yang sempat Aruna rasakan di dalam mobil tempo hari kembali mengetuk dinding jantungnya. Namun, dengan kendali emosi yang luar biasa, Aruna tetap memasang wajah biasa saja. Ia tidak tersipu, tidak juga menjauh secara dramatis.

​Aruna menatap sendok di depan wajahnya, lalu menatap Baskara dengan sorot mata yang sarat akan batasan profesional. "Saya bisa makan sendiri, Pak Baskara. Tangan saya tidak sedang terpasang draf gips hukum."

​Tangan Baskara yang memegang sendok seketika membeku di udara. Menyadari tindakannya yang terlalu impulsif dan melanggar garis batas trauma yang mati-matian dipertahankan Aruna, Baskara langsung menarik kembali tangannya dengan canggung. Untuk kedua kalinya dalam pagi ini, sang penguasa bisnis itu kehilangan ketenangannya.

​Ia meletakkan kembali mangkuk bubur ke atas nakas dengan bunyi dentingan yang sedikit terlalu keras karena salah tingkah. Baskara berdeham lagi, merapikan manset kemejanya berulang kali hanya untuk memberikan kesibukan pada jemarinya yang mendadak terasa salah tingkah.

​"Aku... aku hanya memastikan mitra bisnisku tidak pingsan lagi sebelum draf revisi bursa efek selesai ditandatangani," ujar Baskara dengan kalimat pembelaan korporat yang terdengar dipaksakan, berusaha mati-matian mengembalikan topeng egonya yang mulai terkelupas.

​"Saya mengerti, Pak Baskara. Perhatian korporat Anda sangat saya hargai," sahut Aruna tenang, suaranya tetap datar tanpa riak, benar-benar memperlakukan tindakan manis Baskara layaknya sebuah draf agenda rapat biasa yang tidak bermakna personal.

​Aruna sengaja menahan batas itu dengan kuat. Meskipun di sudut hatinya ada rasa hangat yang perlahan merayap melihat sisi manusiawi Baskara yang salah tingkah demi dirinya, memori kelam masa lalu di London tetap menjadi jangkar pengingat yang kokoh. Bagi Aruna, bersikap biasa saja adalah satu-satunya perisai terbaik untuk melindungi harga dirinya dari potensi rasa sakit yang baru.

​Baskara bangkit berdiri dari kursinya, menyadari bahwa ia tidak boleh terburu-buru mendesak egonya maju ke dalam ruang trauma Aruna. Pria itu mengancingkan jas abu-abu gelapnya dengan gerakan yang perlahan kembali teratur, mengunci rapat seluruh kebingungan emosionalnya di balik wajah esnya yang kembali kaku.

​"Aku harus kembali ke menara Dirgantara untuk memeriksa draf laporan kuartal. Rian akan tetap berjaga di selasar luar," kata Baskara dingin, suaranya kembali konstan tanpa cela. "Pastikan kau menghabiskan sisa makananmu, Aruna."

​"Hati-hati di jalan, Pak Baskara," jawab Aruna singkat tanpa menoleh saat Baskara melangkah lebar menuju pintu keluar.

​Begitu pintu kamar tertutup rapat, Aruna perlahan menurunkan berkas di pangkuannya. Ia menatap keranjang buah berpita merah muda di atas nakas, lalu mengembuskan napas panjang yang sarat akan dilema batin yang rumit. Laga taktik korporasi di luar sana mungkin telah mereda, namun permainan sabar di antara mereka baru saja memasuki babak baru, di mana Baskara kian goyah oleh perasaannya sendiri, sementara Aruna tetap berdiri kokoh mempertahankan garis batas di antara mereka dengan ketenangan yang mematikan.

1
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💋🅹🆄🅽👻ᴸᴷ
Hi hi gemes bgt, Ade tp unik jdx, 1 lari, 1 mengejar 🤭👍🥳
Anonim
lanjut ka 😍
Desi Santiani
apa sbnrnya isi flasdisk itu, apaa ad hubungannya sikap bagaska saat dlondon terhadap arunaa ?
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💋🅹🆄🅽👻ᴸᴷ
Aduh, jd bulan-bulann para warga 🤭🤦🙈
Anonim
cerita author x ini tak kalah menarik seru bgt 🥰🥰
Ra H Fadillah: halo terima kasih atas bintang 5 nya semoga kamu selalu suka dengan ceritanya ya 💞😉
total 1 replies
Anonim
jadi kepo thorrr
Anonim
ceritanya seruuuuuu😍
Desi Santiani
apa sebenarnya isi flasdisk itu, apa rahasia bagaskara yg selama ini pura2 jahat n kejam krna adanya tekanan atau apa, ahh dbuat skot jantung bacanya
Desi Santiani
semakin seruu thor
Desi Santiani
semangat trus thor up nyaa 😍💪
Desi Santiani
semakin seruuu, dtunggu selalu thor update kisah mereka😍
Desi Santiani
terima kasih thor, untuk up kisah mereka dgn lgsg bbrp bab, selalu dtunggu cerita mereka, sehat selalu thor /Heart/
Ra H Fadillah: Sama-sama 😉 Semoga kamu suka dengan ceritanya !
total 1 replies
Desi Santiani
semangat up nya trus thor, alur ceritanya sgt seru
Ra H Fadillah: Terima kasih, senang sekali melihat komentar mu yang sangat positif 😉 💞
total 1 replies
Ra H Fadillah
Terima kasih sudah bantu ngeramein💕 Semoga betah terus marathon bacanya ya!😇
Desi Santiani
up lg thor... ceritanya keren
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💋🅹🆄🅽👻ᴸᴷ
Mantap, Aruna, tunjukkan 'pesona'mu 🔥🔥🔥
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💋🅹🆄🅽👻ᴸᴷ: Cama², Ade, Siap, kami tunggu, udh gk sabar liat 'Karma' utk yg udh nyakitin Tuan Putri ❤️🤗😘
total 2 replies
Anonim
sepele bgt ni dosen 😡
Anonim
masuk tata rias aja lu michel 😡
Anonim
wahhhh 💞 cerita baru lagi dri author kesygn 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!