Setelah menjadi istri Ardiaz Kavian, Tya semakin tahu karakter orang-orang di keluarga besar Kavian. Sebagai seorang insan yang biasa hidup tenang meski ekonomi pas-pasan, kini dirinya harus terbiasa dengan pasang surut permasalahan di keluarga suami yang tidak kekurangan harta tapi miskin ilmu agama.
"Yang penting suami dan mertua baik, yang sirik biarkan saja berisik."
MENANTU IBU 2
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Bekasi Yang Ku Rindu
"Thanks infonya, Pak. Jangan lupa update keadaan Ayah." Diaz mengakhiri telepon dengan ekspresi datar. Hubungan ayah dan ibunya telah berakhir. Tetapi hubungan anak dan ayah selamanya tidak akan putus. Maka dari itu, ia pernah berpesan pada Yandi untuk melapor jika ada masalah yang menimpa sang ayah.
"Ada kabar apa, Bey?" Tya sedari tadi duduk di ujung ranjang sambil memperhatikan Diaz. Yang terdengar hanya ucapan sang suami yang menanggapi dengan jawaban pendek-pendek.
Diaz menghampiri dan menarik tangan Tya hingga berdiri saling berhadapan. Melingkarkan kedua tangan di pinggang ramping istrinya itu sambil berkata, "Pak Yandi bilang kalau Ayah dapat video dan foto soal perselingkuhan Tante Selly. Tadi malam Ayah marah besar sampai mengeluarkan kata cerai. Talak tiga, katanya."
"Aduh. Aku harus bilang innalillahi atau alhamdulillah untuk nasib Tante Selly?" Tangan Tya terulur mengusap kerah kemeja Diaz yang sudah siap berangkat ke kantor.
"Bilang, mampus!"
"Nggak ah. Aku nggak berani bilang mampus."
"Itu barusan apa." Diaz menggigit dagu Tya dengan gemas. Erangan manja sang istri memancing burung dalam sangkar menggeliat. Duh, masih puasa.
Tya hendak mundur tetapi Diaz tidak mengurai belitan di pinggang. Justru mengetatkan pelukan di bagian pinggang ke bawah. Jadi merasakan ada yang mendadak mengeras tapi bukan es batu.
"Pak Yandi bilang tadi malam agak chaos. Tante Selly histeris tidak terima dicerai dan diusir Ayah. Sampai si Leon keluar kamar. Dia jadi tahu masalah yang terjadi. Akhirnya Ayah gak jadi ngusir Tante Selly karena Leon memelas. Jadinya Ayah yang keluar sambil bawa barang berharga yang tersisa karena sebagiannya udah hilang diambil istri kesayangannya itu tanpa izin."
Kali ini Tya tidak mau berseloroh. Jelas sekali ada luapan kebencian di nada bicara Diaz saat menyebut kata 'istri kesayangan'. Ia melihat jelas perubahan air muka suaminya itu.
Dalam sesi pillow talk Diaz pernah bercerita jika ada masa hatinya ingin membenci Ayah yang tidak pernah adil baik terhadap istri dan antar anak. Istri kedua dan anak-anaknya dimanja sementara anak dan istri pertama dididik menjadi pencetak mesin uang.
Tetapi kemarahannya itu selalu mampu diredam oleh Ibu yang mengajak berakit-rakit ke hulu berenang-renang ketepian. Hasil kerja keras bersama terbukti dengan penguasaan bisnis yang pondasinya menancap kuat. Terlebih tambang emas sudah balik nama kepemilikan atas nama Ardiaz Kavian, itu yang diperjuangkan seorang ibu untuk hak sang anak.
Punya tambang emas itu potensi keuntungan finansial nya sangat besar, perlindungan terhadap inflasi serta kepemilikan aset safe haven yang nilainya cenderung stabil atau naik saat ekonomi tidak pasti.
Granada Suri. Seorang wanita tangguh, cerdas dan visioner yang menyerap skill bisnis dari suami yang tidak menjadikannya ratu satu-satunya. Ia korbankan kebahagiaan diri demi putra semata wayangnya—belahan jiwa yang menjadi alasannya sanggup bertahan berumah tangga dengan Hilman Kavian.
"Jangan bete, sayang." Tya mengecup bibir Diaz. "Kalau berangkat ke kantor sambil bad mood, bisa menurunkan fokus, bisa salah ambil keputusan, jadi sensi, akhirnya marah-marah nggak jelas sama karyawan. Jangan ya Bey, ya."
Diaz menempelkan hidungnya dengan hidung Tya. Perlahan digesek-gesekkan. "Ikut ke kantor aja yuk, Yang. Biar semangat terus seharian."
"Nggak. Yang ada malah nggak produktif seharian. Tanganmu suka kemana-mana kalau lagi kerja di rumah juga." Tya mencibir. Diaz tergelak. Dan ujung-ujungnya ritual sedot bibir dulu sebelum keluar kamar.
"Bey, aku boleh cerita ke Ibu soal kabar Tante Selly?" Tya mengusap bibirnya yang menyisakan basah.
"Boleh. Tapi tanya dulu apa Ibu mau dengar atau tidak."
"Oke." Tya mengalungkan tangan di lengan Diaz usai keluar dari kamar. Sama-sama menuju lantai bawah untuk sarapan.
***
Planet Bekasi, I'm coming!
Tya tersenyum lebar begitu mobil memasuki Bekasi. Meskipun hawa panasnya serasa matahari berada di atas kepala, tetapi kota kelahirannya ini sangat dirindukan karena ia mendapat kesempatan pulang ke rumah. Kangen bertemu keluarga dan bestie yang suaranya selalu didengar setiap subuh.
Tentunya, pulang ke rumah menjadi agenda terakhir setelah dinas bersama Ibu Suri. Tya baru pertama kali menyambangi toko emas sang mertua yang berada di mall Bekasi. Nama 'Permaisuri Gold' terpampang mewah di depan toko yang luas dengan keamanan tingkat tinggi—setiap etalase disorot kamera CCTV. Setiap kali menyambangi toko emas, sopir akan ikut yang berperan sebagai bodyguard.
Beberapa hari menemani kerja Ibu Suri, Tya sudah paham pengecekan saat sidak, ikut duduk bersama memeriksa laporan di tempat. Tentunya sudah diajari bagaimana membangun kharisma dan wibawa seorang pemimpin. Selain teori, ia pun belajar dari teladan sang mertua.
"Bu, pernah ada nggak manajer atau pegawai toko yang korupsi uang atau mencuri emas?" Tya berkesempatan mengungkapkan rasa penasarannya dalam perjalanan menuju Geranium Cafe. Waktunya meeting dengan klien yang akan membeli emas cukim.
"Pernah tapi bukan di toko. Karena kalau hilang satu perhiasan maka yang bertanggung jawab ya manajer. Ditambah ada tim monitoring yang tugasnya khusus memantau CCTV. Yang korupsi itu di pabrik. Untung ada Pak Husain yang bantu mengubah sistem keamanan." Jelas Suri. Menyebut nama Husain, mendadak timbul rindu ingin berjumpa lagi dengan teman masa kecilnya itu.
Bentuknya tak seindah logam mulia yang dicetak dan memiliki sertifikat terstandar, cukim yang merupakan emas non sertitikat yang dibawa Tya bentuknya seperti potongan coklat Silverqueen. Sama-sama emas 24 karat. Klien yang membeli adalah pemilik toko emas lokal untuk dilebur menjadi perhiasan.
Kembali menapak langkah di teras Geranium Cafe, membuat Tya tersenyum simpul. Teringat kembali kenangan menikah yang lokasinya di cafe milik sang dalang itu.
Akhirnya, waktunya beristirahat setelah bertemu klien yang membeli 200 gram cukim dengan transaksi pembayaran lewat transfer. Ruang privasi di lantai dua menjadi tempat bersantai Tya dan sang mertua sambil menikmati makan siang yang terlambat karena selama perjalanan kenyang oleh makanan dan minuman di mobil.
"Tya, coba tanyakan Susan pengen minuman apa dari Geranium gitu. Sekalian buat Bisma dan Nesha." Suri tidak sungkan akan ikut ke rumah Tya. Silaturahmi sekaligus ingin melihat toko kue Susan yang buka di rumah sejak kemarin.
Tya menurut. Mengirim daftar menu terlebih dahulu lalu mengetik pesan. Tak butuh waktu lama, tiga nama minuman sudah dipilih.
"Eh, itu yang punya warung kasih juga, Nak. Siapa ya namanya lupa lagi."
"Mpok Iyam, Bu."
"Nah iya. Sukanya apa kira-kira ya. Kopi atau jus? Nanti ditambah pastry."
"Kopi aja, Bu. Mpok Iyam suka minuman ice coffee."
Setelah tiga kantong oleh-oleh siap, mobil kembali mengaspal menuju ke rumah Tya. Panas terik di luar terlindungi oleh kesejukan AC di dalam mobil. Tya tak perlu turun saat bersiap melewati warung. Karena Mpok Iyam berada di luar sedang merapikan galon air mineral.
Pemilik warung yang menjadi pusat infotainment itu begitu girang melihat Tya dan menerima bingkisan. Tak lupa menyalami Suri dengan tangan gemetar. Merasa excited.
Tya menatap rumah yang kini di depan mata setelah mobil terparkir di pekarangan. Berbinar melihat bentuk jendela ruang tengah yang telah berubah menjadi etalase kaca yang estetik dengan tulisan menggantung di sisi kanan tembok, "Dapur Mini Bundanes"
"Tante Tya!" Nesha berjingkrak girang lalu berlari menyambut kedatangan Tya. Bundanya pun muncul dari dalam luar rumah.
Senyum Tya merekah lebar dan memeluk sang keponakan dengan riang. Tapi mendadak senyumnya menggantung begitu melihat sosok yang berdiri di samping kiri Susan. Kaget.
Tya memperhatikan Ibu Suri yang berpelukan dengan Susan. Ada was-was andai saja sang mertua kemudian bertanya pada ...
"Ini siapa ya?"
Tya menggigit bibir. Belum selesai berandai-andai, kekhawatirannya terbukti.
"Salam kenal, Bu. Aku Rizky."
Sehat selalu 🤲🏻
Pak Husein kan..yg sebenarnya punya pekerbunan sawit itu?
Koi rela menunggu ibu suri sampai segitunya pak?
cerita dong pak..🤭😄
Ada something sama pak Husein ini pasti, semoga segera bersatu ya..ibu suri dan pak Husein😁