Cuma niat periksa batu ginjal, si komandan dingin malah "salah dibuka celananya" oleh dokter magang sok berani.
Satu kalimat "saya tanggung jawab", dan Keisha resmi jadi istri kontrak Sang Komandan Meriam—pewaris konglomerat Prawira yang paling ditakuti.
Perjanjiannya: tidak boleh saling sentuh.
Kenyataannya: komandan berhati es itu **tak pernah tahan semalam pun**.
"Katanya kontrak, Pak?"
"Kontraknya," bisiknya sambil menariknya mendekat, "mulai malam ini kita tulis ulang."
Yang mereka kira dokter miskin, ternyata putri konglomerat Wijaya yang hilang.
Yang dikira pernikahan palsu, ternyata jerat paling manis.
**Nyonya Meriam sudah pulang—dan sang serigala tak akan melepasnya lagi.**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Bab 18
Rahasia Bu Yati
Arya tidak menjawab pertanyaan Keisha.
Ia hanya berkata, "Kita bicara setelah aku pulang," lalu pergi membawa tas hitamnya.
Dua hari berlalu tanpa percakapan itu.
Keisha tetap bekerja di RSUD Bandung. Ia memeriksa pasien, menulis instruksi perawatan, berdiskusi dengan perawat, dan mengunjungi Anindita setiap malam. Rutinitasnya tidak berubah, tetapi kini ada satu kebiasaan baru yang memalukan.
Di samping ranjang Anindita, Keisha membacakan perubahan hasil pemeriksaan seperti biasa. Kondisi Mama tetap stabil, tanpa kemunduran baru. Setelah laporan medis selesai, Keisha malah bercerita tentang rumah Dago, sarapan gosong, dan suami yang pergi ke markas tanpa menjawab satu pertanyaan pun.
"Keisha bukan menunggunya, Ma," katanya sambil mengusap punggung tangan Anindita. "Keisha cuma perlu tahu kapan dia pulang supaya pembagian rumah jelas. Itu urusan kontrak."
Monitor tetap berbunyi dengan irama sama.
"Kalau Mama bisa dengar, jangan tertawa."
Ia baru menyadari betapa konyol pembelaannya ketika perawat yang memeriksa infus menahan senyum. Keisha pura-pura sibuk membaca catatan, tetapi telinganya telanjur panas.
Ia memeriksa ponsel setiap kali layar menyala.
Pada malam pertama, pesan Arya masuk pukul delapan lewat dua puluh.
Sudah makan?
Keisha membalas sambil berdiri di depan mesin minuman rumah sakit.
Sudah. Kamu?
Balasan datang dua menit kemudian.
Sudah. Jangan minum kopi saat perut kosong.
Keisha menatap gelas kopi yang baru jatuh dari mesin, lalu memasukkannya ke tempat sampah karena merasa diawasi dari jarak yang tidak diketahui.
Malam kedua, pesannya masuk lebih larut.
Pulang jam berapa?
Keisha mengetik bahwa ia bukan tahanan yang harus lapor, menghapusnya, lalu menjawab jujur.
Sekitar jam sepuluh. Ada pasien yang harus dipantau.
Hati-hati di jalan. Kabari Bu Yati.
Tidak ada kata rindu. Tidak ada emoji. Bahkan titik di akhir pesannya terasa seperti perintah. Namun Keisha membaca empat kata pertama dua kali sebelum mengunci layar.
Rumah Dago terasa berbeda tanpa Arya. Lebih luas, lebih dingin, dan terlalu rapi. Syal Keisha masih berada di sofa, tetapi tidak ada tangan yang diam-diam menyusun majalah di sampingnya.
"Bu Keisha mencari Pak Arya?" tanya Bu Yati pada malam ketiga.
Keisha yang sedang melirik pintu langsung mengambil potongan pepaya. "Tidak. Saya hanya memastikan pintunya terkunci."
"Sudah saya kunci sejak setengah jam lalu."
"Saya memastikan Bu Yati sudah memastikan."
Bu Yati tersenyum dan menuangkan teh hangat. "Pak Arya memang membuat orang khawatir kalau pergi tanpa penjelasan. Sejak kecil begitu."
Keisha menahan cangkir. "Sejak kecil dia memang suka merahasiakan pekerjaannya?"
"Sejak kecil beliau dididik untuk tidak membawa beban keluar. Kalau lelah, diam. Kalau sakit, bilangnya cuma lecet. Kalau punya masalah, semua dibereskan sendiri."
"Siapa yang mendidiknya seperti itu?"
"Keluarga ini keras soal tanggung jawab. Almarhum Eyang Kakung lebih keras lagi. Pak Arya harus selalu bangun paling pagi, nilainya harus baik, dan tidak boleh mengeluh hanya karena nama keluarga membuka banyak pintu."
Keisha teringat cara Arya melipat selimut, memeriksa kunci, dan meminta maaf setelah menyadari ia telah merendahkan tawaran kontrak. Mungkin ketegasannya bukan sekadar sifat buruk. Mungkin itu baju zirah yang dipakai terlalu lama.
"Dia pernah memperlakukan orang lain seperti ini?" tanya Keisha sebelum sempat menahan diri.
Alis Bu Yati terangkat.
"Maksud saya, membiarkan barang berantakan dan mengirim pesan soal makan."
Bu Yati mengaduk tehnya perlahan. "Pernah ada seseorang dari masa lalu. Namanya Vanya. Tapi ceritanya tidak berakhir baik."
Nama itu sudah pernah Keisha dengar dari Ratna, perempuan yang hendak dijodohkan kembali dengan Arya sebelum dirinya muncul.
"Kenapa?"
"Bukan hak saya menceritakan luka Pak Arya." Bu Yati menatapnya lembut. "Saya hanya tahu, setelah itu beliau sulit percaya pada perhatian yang banyak kata tetapi sedikit bukti."
Keisha menunduk pada ponselnya. Arya memang tidak punya banyak kata. Ia meninggalkan sup, menghangatkan air, memberi Keisha kamar utama, lalu pergi tanpa menjelaskan bahaya yang mungkin sedang dihadapi.
Ponsel itu kembali menyala, tetapi hanya pesan dari grup rumah sakit.
Kekecewaan kecil yang muncul membuat Keisha kesal kepada dirinya sendiri.
Ia menelepon Bu Sukma dari kamar.
"Bu," katanya setelah berbasa-basi terlalu lama, "kalau seseorang mulai menunggu pesan dari suami kontraknya, itu masih normal, kan?"
Tawa Bu Sukma terdengar di seberang. "Normal untuk orang yang mulai peduli."
"Saya tidak bilang peduli."
"Kamu menelepon hampir tengah malam untuk menyangkalnya."
Keisha merebahkan diri dan menutup wajah dengan bantal. "Dia menyebalkan, tertutup, dan mungkin tentara."
"Mungkin?"
"Saya melihat seragam. Dia juga pergi ke markas."
Bu Sukma terdiam sejenak. "Berarti ada hal besar yang belum ia jujurkan. Kamu berhak meminta penjelasan. Tapi jangan lupa, Kei, perjanjian kalian punya batas satu tahun. Kenali perasaanmu sebelum kebiasaan membuatmu menganggap semuanya akan menetap."
Setelah telepon berakhir, kalimat itu tinggal di dada Keisha.
Satu tahun.
Rumah ini, pesan singkat, dan suara langkah Arya di halaman memiliki tanggal kedaluwarsa.
Malam keempat, pesan Sudah makan? tidak datang.
Pukul sembilan lewat. Sepuluh. Hampir tengah malam.
Keisha mematikan lampu, menyalakannya lagi, lalu memeriksa jaringan ponsel. Ia mencoba tidur, tetapi setiap suara mobil dari jalan membuat matanya terbuka.
Pukul satu lewat tujuh belas, nomor asing menelepon.
Keisha segera duduk. "Halo?"
Beberapa detik hanya ada napas berat dan bunyi logam beradu di latar belakang.
Lalu suara Arya terdengar serak.
"Ada sedikit masalah. Aku mungkin telat pulang."