Rizky Pratama adalah lambang kegagalan; hidup miskin, sering dipecat, dan selalu sial, sampai sebuah kecelakaan tragis merenggut segalanya. Namun, maut justru membawakannya keajaiban berupa Liontin Dewi yang menyatu dengan tubuhnya, memulihkan lukanya secara instan dan melambungkan kecerdasannya di atas rata-rata manusia. Lebih gila lagi, liontin itu memberinya kemampuan mengendalikan tanaman, dari mempercepat pertumbuhan, menemukan herba langka, hingga menciptakan varietas obat ajaib yang belum pernah ada sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
BRAK.
Codet menggebrak meja kayunya dengan sangat keras hingga gelas kopi hitam di atasnya nyaris terjatuh ke lantai.
"Kau pikir kau sedang menawar harga ikatan sayuran di pasar pagi hah?" bentak Codet dengan suara seraknya yang menggelegar.
Suasana warung kopi yang tadinya berisik dipenuhi obrolan mendadak hening dan semua pasang mata pengunjung langsung tertuju ke arah meja mereka berdua.
Tiga orang pria berbadan kekar yang sejak tadi duduk minum di meja sebelah langsung berdiri serempak dan mengepung meja Rizky.
Mereka adalah anak buah bayaran Codet yang memang sengaja disiapkan untuk mengintimidasi calon pembeli yang keras kepala dan pelit.
"Bayar lima puluh juta itu padaku sekarang juga, atau kau tidak akan pernah bisa keluar dari gang pelabuhan ini hidup-hidup," ancam Codet sambil mencabut sebilah pisau lipat dari sakunya.
SRING.
Bilah pisau yang diasah sangat tajam itu memantulkan cahaya lampu remang tepat di depan wajah datar Rizky.
Salah satu preman berbadan kekar yang berdiri di belakang Rizky juga sengaja menyingkap jaketnya memamerkan gagang pistol rakitan di pinggangnya.
"Wah wah, sepertinya saya masuk ke dalam kandang serigala yang salah malam ini," sindir Rizky sama sekali tidak terlihat panik sedikit pun.
"Cepat serahkan dompet dan ponsel pintarmu anak sombong, jangan sampai bajumu yang bersih ini berlumuran darah kotor," paksa preman yang membawa pistol itu menepuk pundak Rizky.
Otak super jenius Rizky kembali bekerja dengan kecepatan kilat untuk menganalisa kelemahan fisik musuh-musuhnya dalam radius jarak dua meter.
Ia bisa melihat dengan sangat jelas tangan preman pembawa pistol itu sedikit gemetar karena ternyata tidak terbiasa memegang senjata api.
Sedangkan Codet sendiri memiliki tarikan napas yang sangat pendek dan berbunyi mengi, menandakan paru-parunya sudah rusak parah akibat nikotin.
"Bang Codet, apakah Anda tidak sadar bahwa Anda sedang mengidap penyakit asma kronis tingkat lanjut?" ucap Rizky tiba-tiba memecah ketegangan maut tersebut.
Codet yang sedang bersiap menodongkan pisaunya ke leher Rizky mendadak menghentikan gerakannya dengan raut wajah kebingungan.
"Apa maksudmu bicara omong kosong begitu anak gila? Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan kita," gertak Codet berusaha menutupi keterkejutannya.
"Bibir Anda terlihat pucat kebiruan karena kekurangan suplai oksigen, dan setiap kali Anda menarik napas selalu ada bunyi decit yang tertahan di dada kiri."
Rizky menjelaskan diagnosis kilatnya dengan suara yang sangat tenang dan berwibawa layaknya seorang dokter spesialis pernapasan senior.
"Jika Anda terlalu memaksakan diri untuk marah dan berteriak keras, saluran udara Anda bisa menyempit total tertutup dalam hitungan detik."
Seolah alam semesta mengamini ucapan Rizky, Codet tiba-tiba terbatuk hebat dan memegangi dadanya dengan ekspresi sangat kesakitan.
UHUK UHUK.
Wajah preman paruh baya itu seketika memerah padam keunguan karena kesulitan luar biasa menarik napas panjang.
"Bos Codet, Bos tidak apa-apa?" tanya preman kekar di sebelah kanan yang mulai panik melihat atasannya tersedak udara kosong.
"Bantu aku ambil alat hisap di saku jaketku, cepat bantu aku," erang Codet dengan suaranya yang nyaris tak terdengar keluar.
Preman itu buru-buru merogoh semua saku jaket kulit Codet namun wajahnya semakin memucat saat tangannya tidak menemukan apa pun di sana.
"Alat hisapnya tidak ada di saku Bos, sepertinya benda itu tertinggal di atas meja rumah kontrakan," lapor preman itu dengan nada ketakutan.
Codet merosot jatuh dari kursi kayunya dan berlutut lemas di atas lantai tanah warung dengan napas yang semakin tersengal-sengal putus asa.
Ketiga anak buahnya bingung setengah mati tidak tahu harus berbuat apa melihat bos besar mereka meregang nyawa karena kehabisan napas.
"Kalian punya dua pilihan sangat mudah sekarang," ucap Rizky santai sambil menyilangkan kakinya menyender ke sandaran kursi.
"Pilihan pertama, biarkan bos kalian mati perlahan karena gagal napas di lantai warung kopi yang kotor ini."
Rizky menatap tajam ke arah tiga preman kekar yang kini keberanian palsu mereka sudah menciut habis tak tersisa itu.
"Pilihan kedua, berikan alamat lahan beracun itu padaku secara gratis sekarang, dan aku akan menyelamatkan nyawa bos kalian dalam waktu satu menit."
"Ba-baiklah kami setuju, kami akan berikan alamatnya, tapi tolong selamatkan nyawa Bos Codet segera," mohon preman pembawa pistol dengan suaranya yang ikut bergetar.
Ia merogoh saku celananya dalam-dalam dan mengeluarkan secarik kertas kusam beserta sebuah kunci gembok berkarat lalu menyerahkannya pada Rizky.
"Bagus sekali keputusannya, ini baru namanya kesepakatan bisnis cerdas yang adil dan menguntungkan kedua belah pihak."
Rizky menerima kertas dan kunci gembok itu lalu menyimpannya ke dalam saku dalam jaketnya dengan aman.
Ia kemudian berdiri tenang dan berjalan mendekati tubuh Codet yang sudah mulai kehilangan kesadarannya di atas lantai.
Rizky mengambil sebuah botol air mineral bersegel dari atas meja terdekat dan membukanya dengan satu gerakan cepat.
Ia merogoh saku celananya secara sembunyi-sembunyi dan mengeluarkan sebutir Pil Pemulih Vitalitas yang memang sengaja ia bawa untuk berjaga-jaga.
Rizky mencubit sedikit saja ujung pil itu agar hancur menjadi serbuk halus, lalu memasukkan serbuk emas itu ke dalam botol air mineral.
Cairan bening di dalam botol tersebut seketika berubah warna menjadi sedikit kekuningan dan mulai memancarkan hawa hangat yang samar.
"Tahan bagian belakang kepala bos kalian, aku akan meminumkan obat cair khusus ini padanya sekarang," perintah Rizky tegas pada para preman.
Mereka segera menuruti perintah mutlak itu dan menahan kepala Codet yang sudah lunglai tak berdaya.
Rizky meminumkan air campuran obat itu secara perlahan-lahan ke dalam mulut Codet yang terbuka menganga.
GLEG GLEG.
Cairan hangat itu langsung mengalir membasahi tenggorokan keringnya dan menyerap super cepat ke dalam sel-sel paru-paru Codet yang rusak.
Efek pemulihan sel ajaib yang luar biasa dari pil itu bekerja seketika untuk meredakan seluruh peradangan parah di saluran pernapasannya.
Hanya butuh waktu kurang dari satu menit sesuai janjinya, Codet langsung menarik napas panjang dengan sangat lega seperti ikan yang kembali masuk ke dalam air segar.
HAAAH.
Dada Codet naik turun dengan gerakan teratur dan warna bibirnya perlahan kembali menjadi merah normal.
"Astaga naga, cairan apa yang baru saja kau berikan padaku anak muda? Napasku belum pernah terasa seringan ini selama sepuluh tahun terakhir," ucap Codet dilanda keheranan luar biasa.
Ia bangkit berdiri tegak tanpa bantuan anak buahnya dan menepuk-nepuk dadanya sendiri dengan rasa tak percaya.
"Itu adalah ramuan herbal pernapasan khusus buatanku, efeknya hanya akan bertahan selama satu bulan untuk menahan asma bawaanmu," bohong Rizky mulus agar Codet tidak mencurigai pil ajaibnya.
Rizky membalikkan badannya dan bersiap melangkah pergi meninggalkan warung kopi yang perlahan kembali sunyi tersebut.
"Alamat dan kuncinya sudah saya terima Bang Codet, anggap saja obat cair tadi sebagai bayaran lunas dari saya," kata Rizky tanpa menoleh sedikit pun ke belakang.
Codet dan ketiga anak buah kekarnya hanya bisa menatap punggung pemuda misterius itu dengan pandangan mata penuh rasa segan dan kagum.
Mereka akhirnya sadar sepenuhnya bahwa pemuda berpakaian rapi itu bukanlah orang sembarangan yang bisa diperas apalagi ditindas di pasar gelap ini.
Rizky berjalan kembali menyusuri gang becek pelabuhan sambil membuka lipatan secarik kertas kusam di tangannya.
Di bawah cahaya lampu jalan yang temaram kuning, otaknya dengan sangat cepat merekam alamat yang tertulis buram di kertas tersebut.
Jalan Industri Kawasan Blok C4, Bekas Pabrik Kimia PT Nusantara Emas.
"Tempat yang sangat sempurna dan sunyi untuk menyambut kelahiran bencana dari sistem ini," gumam Rizky menepuk saku celananya yang berisi kotak besi pelindung Biji Teratai Es Kematian.
Senyum tipis penuh perhitungan licik kembali menghiasi wajah tampan sang calon Raja Obat di bawah gelapnya langit malam kota.