"Raka Laksana — yatim piatu, detektif gagal, ditertawakan semua orang. Sampai malam itu, sebuah sistem bangkit dalam dirinya: “Sistem Penghakiman”. Mata Dosa yang bisa membaca dosa siapa pun. Buku Penghakiman yang bisa menjatuhkan hukuman di hadapan seluruh negeri. Kekuatan yang tak dimiliki polisi, jaksa, atau hakim mana pun.
Menyamar sebagai konsultan biasa di Satreskrim Kota Elang Biru, Raka membongkar kasus demi kasus — pembunuhan, sindikat perdagangan manusia, konspirasi elite — sambil menyembunyikan identitas aslinya sebagai eksekutor bayangan. Sistem terus naik level, skill terus bertambah, dan setiap penjahat yang lolos dari hukum biasa... tidak akan lolos dari tangannya.
Tapi ada satu kasus yang tak pernah bisa ia lupakan: dua puluh tahun lalu, kedua orangtuanya difitnah dan dihancurkan oleh **Keluarga Halim** — konglomerat paling berkuasa di kota ini. Setiap kasus yang ia selesaikan membawanya selangkah lebih dekat pada kebenaran itu.
Dan pada hari penghakiman tiba, seluruh bangsa akan menyaksikan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Darma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Bab 21: Hari Pertama di Satreskrim
Sirene belum menyala ketika Raka masuk ke mobil Satreskrim.
Dimas duduk di kursi depan, memegang radio. Yudha menyetir sendiri, wajahnya lurus ke jalan. Di belakang, Raka duduk bersama seorang anggota muda yang sejak pagi masih memandangnya seperti melihat barang baru di kantor.
Ponsel Raka bergetar.
Pesan Kribo masuk.
— Gue di warnet. Andi bilang kalau butuh CCTV publik, kirim koordinat. Jangan sok kuat lihat mayat. Kalau mau muntah, minggir dulu. Profesional bukan berarti tahan bau.
Raka mengetik singkat.
— Siap, Bro.
Lalu panel sistem yang tadi muncul di kantor kembali berkedip di pikirannya.
【Kasus #002 dimulai.】
【Kategori awal: Pembunuhan.】
【Batas waktu: 20 hari.】
【Poin Penghakiman: 0.】
Angka nol itu terasa lebih berat di mobil yang melaju cepat menuju TKP.
Ia tidak punya cadangan untuk Penghakiman Diam-Diam. Tidak ada ruang untuk keputusan boros. Kalau kasus ini lebih buruk daripada kasus Dewi, ia harus menyelesaikannya dengan mata, otak, tim, dan prosedur.
Yudha melirik lewat kaca spion. "Pertama kali ikut TKP sebagai bagian tim?"
"Ya, Pak."
"Kalau mual, keluar garis polisi. Kalau melihat sesSatu, bicara padaku atau Dimas. Jangan menyentuh apa pun. Jangan jadi pahlawan."
"Clear, Pak."
Anggota muda di samping Raka berdeham pelan. "Komandan, biasanya konsultan ikut dari kantor dulu. Lihat foto. Tidak langsung TKP."
Yudha tidak menoleh. "Biasanya tidak ada konsultan yang menemukan jasad bayi di lubang septik dalam kasus pertamanya."
Mobil hening.
Dimas menunduk, pura-pura memeriksa radio, tapi sudut mulutnya naik.
Di kursi belakang, anggota muda itu akhirnya memperkenalkan diri dengan suara lebih rendah. "Bayu. Unit lapangan."
"Raka."
"Aku tahu." Bayu menatap keluar jendela, lalu menambahkan, "Kalau nanti di TKP aku terdengar kasar, jangan baper. Aku pernah lihat orang baru muntah di atas jejak sepatu pelaku. Sejak itu aku tidak percaya orang baru."
Raka mengangguk. "Kalau aku hampir muntah, aku akan memilih arah yang tidak merusak bukti."
Bayu meliriknya, lalu tertawa pendek meski berusaha menahan. Ketegangan di kursi belakang turun sedikit.
Raka tidak merasa menang. Ia hanya merasa standar yang menempel padanya makin tinggi. Satu kasus bagus bisa membuat orang memperhatikan. Kasus kedua yang gagal bisa membuat mereka berkata kasus pertama hanya keberuntungan.
Sebelum panggilan darurat itu, hari kesembilan belas sebenarnya dimulai cukup biasa.
Pagi tadi, Yudha memberi Raka meja resmi di sudut ruang penyelidikan. Mejanya jelek, kakinya agak miring, dan lacinya macet. Label kecil bertuliskan RAKA LAKSANA — KONSULTAN KHUSUS menempel di depannya. Kribo sempat datang membawa flashdisk dan kabel, lalu langsung dimarahi Andi karena meletakkan minuman dekat komputer.
"Kalau kopi tumpah ke CPU kantor, aku akan membunuhmu secara administratif," kata Andi datar.
Kribo menatapnya kagum. "Bang Andi, ancamanmu kering tapi elegan. Aku hormat."
Anehnya, dua menit kemudian mereka sudah membicarakan format metadata CCTV dan perangkat penyimpanan murah yang sering dipakai toko kecil.
Dimas melihat itu dan bergumam, "Dua orang aneh menemukan bahasa masing-masing."
Kemudian ujian kecil datang.
Dimas meletakkan berkas lama di meja Raka. Kasus pencurian gudang elektronik tiga bulan lalu. Kamera mati, barang hilang, pelaku tidak diketahui. Di permukaan, itu hanya berkas dingin yang dipakai untuk menguji anak baru.
"Kalau sempat," kata Dimas. "Lihat. Jangan pakai teori konspirasi."
Raka membuka foto TKP.
Mata Dosa tidak selalu perlu melihat wajah langsung. Kadang foto yang cukup jelas membawa sisa rasa, seperti noda yang tidak hilang dari kain.
Di salah satu foto, seorang petugas keamanan gudang berdiri di tepi frame. Di atas kepalanya, angka samar muncul.
【Indeks Dosa: 63/100】
Angka itu belum menunjuk pembunuh. Nilainya terlalu tinggi untuk saksi biasa.
Raka menahan reaksi dan meneliti foto lain. Ada jejak sepatu di debu gudang, sol kanan dengan retakan berbentuk huruf V. Jejak serupa muncul dekat panel listrik, titik tempat kamera dimatikan. Dalam laporan, petugas keamanan itu mengaku tidak pernah meninggalkan pos.
Dua jam kemudian, Raka menyerahkan catatan ke Dimas.
"Pelaku kemungkinan orang dalam. Fokus ke petugas keamanan bernama Toni. Cek sepatunya, akses kunci cadangan, dan rekening dua minggu setelah kejadian. Kamera dimatikan dari panel, bukan rusak sendiri."
Dimas membaca tanpa ekspresi.
Lima menit kemudian, ia berdiri dan masuk ke ruang Yudha.
Satu jam setelah itu, Dimas keluar dan hanya berkata, "Not bad."
Bagi Dimas, itu mungkin setara tepuk tangan berdiri.
Bagi Raka, itu cukup.
Namun ujian tidak berhenti di sana. Anggota muda bernama Bayu, yang sejak pagi paling sering meliriknya, menyodorkan satu foto lain dari berkas yang sama.
"Kalau memang jeli," katanya, "ini apa?"
Foto itu menunjukkan lorong belakang gudang. Hampir kosong. Hanya ada kardus, noda air, dan bayangan pagar.
Raka melihatnya tiga detik.
"Pertanyaannya kapan."
Bayu mengerutkan dahi.
Raka menunjuk noda air di lantai. "Laporan bilang hujan turun jam sepuluh malam. Tapi di foto ini noda sudah hampir kering saat tim datang jam sebelas. Artinya pintu belakang dibuka sebelum hujan deras, bukan setelah kamera mati. Pelaku sudah di dalam lebih awal."
Ruangan kecil itu hening sebentar.
Dimas mengambil foto itu, menatap lagi, lalu mengumpat pelan. "Benar."
Bayu tidak langsung meminta maaf. Ia hanya mengambil kembali fotonya dan berkata lebih rendah, "Oke."
Sekali lagi, itu cukup.
Lalu telepon kantor berdering.
Mayat di Jalan Pahlawan.
Sekarang, mobil Satreskrim memasuki Distrik Surya bagian lama. Toko-toko mulai tutup. Lampu jalan berkedip. Gang sempit di depan mereka sudah dipenuhi warga yang berkerumun di balik garis polisi sementara.
Bau itu datang bahkan sebelum Raka turun.
Busuk.
Tajam.
Bukan bau tikus mati seperti kata warga. Lebih berat, lebih lembap, menempel di tenggorokan.
Kribo benar. Profesional bukan berarti tahan bau.
Dimas turun lebih dulu. "Area steril! Semua warga mundur. Jangan ada yang merekam dekat garis."
Yudha mengambil sarung tangan dan menatap Raka. "Mulai sekarang, dengarkan sebelum bergerak."
Raka mengangguk.
Dimas menambahkan dari samping, "Dan jangan merasa harus membuktikan diri di TKP pertama. TKP bukan panggung. Orang mati tidak butuh pertunjukan."
Kalimat itu tajam, tapi tidak merendahkan. Raka menerimanya sebagai aturan, bukan hinaan.
"Saya paham."
"Bagus," kata Dimas. "Kalau kamu melihat detail, beri tahu. Kalau hanya merasa ada yang salah, tahan dulu sampai kita punya dasar. Komandan suka intuisi, tapi jaksa suka bukti."
Raka mengingat angka nol di panelnya. Malam ini, ia memang hanya punya bukti.
Di kepalanya, sistem berdetak seperti jam.
【Hari ke-1 dari 20.】
Di depan gang gelap itu, Raka menarik napas pendek.
Di belakang garis polisi, seseorang masih mencoba mengangkat ponsel untuk merekam. Bayu langsung menepis tangannya dan berkata tajam, "Turunkan. Itu korban, bukan konten."
Raka menatap punggung Bayu. Tadi orang itu meragukannya. Sekarang orang yang sama menjaga martabat korban yang belum mereka kenal. Tim ini tidak ramah, pikir Raka. Tapi mungkin memang tidak perlu ramah untuk menjadi benar.
Hari pertamanya sebagai bagian Satreskrim baru benar-benar dimulai.