Aris hanyalah seorang petugas instalasi pipa bawah tanah yang dibayar murah untuk melakukan pekerjaan kotor yang dihindari semua orang. Namun, upah rendahnya tidak sebanding dengan apa yang ia temukan.
Seekor tikus yang berubah setelah meminum tetesan air dari pipa.
Tubuhnya mengeras lalu meledak tapi sisa tubuhnya masih bisa bergerak.
Apakah benar hanya tetesan air itu yang membuat tikus itu berubah?
Bagaimana dengan manusia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Catnonimous, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 : Sosok tak di kenal
Pagi harinya, Aris dan Liora sudah berada di rumah sakit. Di dalam tasnya, Aris menggenggam plastik kecil berisi sampel kerak yang ia ambil dari gorong-gorong kemarin. Mereka langsung menuju ruangan Dokter Ferdi.
Dokter Ferdi menyambut mereka dengan wajah yang tampak lelah. Aris segera meletakkan sampel plastik itu di atas meja.
"Dok, tolong periksa ini. Kami menemukannya di bawah gorong-gorong, menempel pada bangkai tikus yang kondisinya sama persis dengan Pak Jaya," ujar Aris tanpa basa-basi.
Ferdi mengerutkan dahi, mengambil plastik itu dengan pinset. "Kenapa kalian di gorong-gorong? sedang apa?" tanya dokter Ferdi.
Aris tidak menjawabnya, hanya bertatapan dengan Liora.
"Tikus? Baik, saya akan coba uji lab." lanjut dokter Ferdi
Sambil menunggu dokter Ferdi menyiapkan alatnya, Aris bertanya dengan suara pelan, "Dok, tentang Pak Jaya... apakah dia sudah dikuburkan? Saya ingin mengunjungi makamnya. Meskipun belum lama kerja disana, tapi dia salah satu orang yang saya kenal."
Dokter Ferdi menghentikan kegiatannya sebentar. "saya baru tiba tadi malam setelah beberapa hari di luar kota. Saya belum sempat mengecek status administrasi pemulangan jenazah. Coba kalian tanyakan ke bagian administrasi atau langsung ke petugas penjaga kamar mayat di lantai bawah."
......................
Aris dan Liora segera berjalan menuju area basement, tempat kamar mayat berada. Bau disinfektan di sini terasa lebih tajam dan menyesakkan. Di sana, mereka menemui seorang petugas pria paruh baya yang sedang merapikan berkas.
"Permisi, Pak. Saya ingin tanya soal jenazah Pak Jaya, pemilik toko besi yang dibawa ke sini beberapa hari lalu," tanya Aris.
Petugas itu mendongak, lalu memeriksa catatan di mejanya. "Oh, jenazah itu? Sudah dibawa pulang dua hari yang lalu Mas."
Aris tersentak. "Dibawa pulang?"
"iya, ada empat orang pria. Mereka bilang mereka kerabat dekatnya," jawab petugas itu santai.
Aris menoleh ke arah Liora dengan wajah penuh kebingungan. "Kerabat dekat? Tapi tetangga-tetangganya bilang Pak Jaya hidup sebatang kara. Dia tidak punya siapa-siapa lagi."
"Bapak yakin mereka kerabatnya? Apa mereka membawa surat-surat?" sela Liora curiga.
Petugas itu menghela napas, tampak sedikit tidak nyaman. "Mereka membawa dokumen lengkap, meskipun saya tidak sempat mengecek semuanya dengan teliti. Soalnya, mereka kelihatan sangat... galak. Semuanya memakai kemeja hitam rapi, tubuhnya tegap-tegap, dan bicaranya sangat ketus.
Mereka tidak mau banyak ditanya, langsung membawa jenazah itu ke dalam mobil ambulans pribadi mereka."
Aris merasakan firasat buruk merayap di dadanya. "Ciri-cirinya seperti apa lagi, Pak?"
"Wajahnya kaku, Mereka bukan seperti orang yang sedang berduka," tambah petugas itu lagi.
"oh ya sudah, terima kasih Pak." Aris dan Liora berjalan keluar dari area kamar mayat dengan langkah gontai. Di parkiran rumah sakit, mereka berhenti sejenak untuk mengatur napas.
"Liora, ada yang tidak beres," bisik Aris. "Pak Jaya tidak punya kerabat, terus mereka siapa?"
Liora mengangguk, wajahnya terlihat bingung dan tegang.
Setelah itu, mereka kembali ke ruangan dokter Ferdi.
"Dok, sudah di uji?" tanya Aris.
"belum, butuh 24 jam untuk mengetahui apa ini sebenarnya." jawab Dokter Ferdi.
Liora langsung bertanya tentang Pak Jaya yang di bawa oleh orang tak di kenal.
"Dok, jenazah Pak Jaya katanya sudah ada yang bawa. Tapi kami tidak tahu siapa mereka."
Sambil mengerjakan sesuatu di meja uji, Dokter Ferdi menjawab pernyataan Liora tanpa berbalik badan.
"Ya bagus, keluarganya masih ada yang mengenali dia. Kalau terlalu lama disini juga tidak baik"
Aris dan Liora saling bertatapan, mereka heran dengan sikap dan bicaranya Dokter Ferdi yang sangat santai.
"tapi dok, Pak Jaya tidak punya kerabat siapapun" ujar Aris.
Dokter Ferdi kemudian berbalik, bersandar di pinggir meja uji sambil melipatkan tangan di dadanya.
"kita tidak tahu apakah dia benar-benar sendiri atau memiliki keluarga. Apakah Pak Jaya cerita? Yang jelas, semakin cepat jenazah di ambil semakin baik, mengingat kondisi Pak Jaya yang.... Kamu lihat sendiri kan, saya khawatir terjadi pembusukan dan justru mengganggu kenyaman rumah sakit ini."
"untuk sampel yang kamu bawa, saya akan periksa secepat mungkin dan nanti akan saya berikan hasilnya. Dan maaf hari ini saya masih banyak pekerjaan yang harus selesai jadi dengan segala hormat, bisa tinggalkan ruangan ini?"
Aris dan Liora bingung dengan ucapan Dokter Ferdi. Akhirnya mereka pun meninggalkan ruangan tersebut.
......................
Aris dan Liora berjalan menuju parkiran rumah sakit. Pikiran mereka tertuju pada empat orang berkemeja hitam yang membawa jenazah Pak Jaya. Aris merasa aneh karena selama bekerja, ia tidak pernah mendengar Pak Jaya menyebutkan soal saudara. Selain itu, sikap Dokter Ferdi yang terkesan tidak peduli karena alasan dinas luar kota juga membuat Aris bertanya-tanya. Sebagai dokter yang menangani kasus tersebut, seharusnya Ferdi lebih teliti mengenai jenazah tersebut.
"Orang-orang itu mungkin bukan kerabat nya Pak Jaya kalau dari cerita petugas tadi," kata Aris sambil menyalakan motornya.
"Iya, dan Dokter Ferdi juga terlalu santai menanggapi jenazah yang di ambil tanpa prosedur jelas," sahut Liora.
......................
Keesokan paginya, Aris membuka toko besi seperti biasa. Setelah mengangkat rolling door, ia duduk di kursi kasir dan membuka ponselnya. Di halaman utama media sosial, beredar berita tentang isu darurat air bersih di beberapa sektor kota. Berita itu menyebutkan adanya kontaminasi yang belum diketahui jenisnya, dan warga diminta untuk tidak mengonsumsi air tanah secara langsung.
Aris berjalan ke depan toko untuk menghirup udara pagi. Di sana, dua tetangganya, Pak RT dan seorang bapak bernama Pak Heru, sedang berdiri berbincang sambil menikmati sinar matahari. Aris menghampiri mereka.
"Pagi, Pak. Tumben sudah kumpul di sini," sapa Aris.
"Pagi, Ris. Baru buka?" jawab Pak RT.
"Iya, Pak. Oh iya, saya mau tanya. Kemarin saya ke rumah sakit, kata petugas di sana jenazah Pak Jaya sudah diambil keluarganya. Bapak-bapak di sini pernah lihat atau kenal saudara beliau?" tanya Aris.
Pak Heru mengernyitkan dahi. "Saudara? Setahu saya dia memang sendiri sejak dulu. Tidak pernah ada orang yang datang menjenguk, bahkan pas hari raya besar pun sepi-sepi saja. Kok tiba-tiba ada yang mengaku keluarga?"
"Itu yang saya bingung, Pak. Katanya ada empat orang kesana," jelas Aris.
Pak RT menggelengkan kepala. "Mungkin saudara jauh yang kita tidak tahu. Tapi lebih baik fokus ke masalah air sekarang, Ris. Kamu sudah baca berita? Air di gang kita mulai bau besi dan agak keruh. Orang-orang di balai kota bilang ini darurat air bersih."
"Saya sudah baca, Pak. Makanya saya khawatir, apalagi setelah apa yang saya lihat,.........." jawab Aris tapi bicaranya langsung terhenti.
"lihat apa Ris?" tanya Pak RT.
"oh itu, kemarin saya juga lihat air di dalam juga sama keruh, bau juga..." jawab Aris sedikit panik karena takut tetangganya menanyakan sesuatu lebih jauh.
"oh itu, jangan-jangan ini gara-gara proyek pipa baru yang asal-asalan itu. Sekarang semua orang jadi susah kalau mau minum atau mandi," keluh Pak Heru.
Aris terdiam mendengarkan keluhan tetangganya. Ia teringat rekaman kecoa dan tumpukan tikus di gorong-gorong. Isu darurat air ini terasa jauh lebih serius.
...****************...